Roko Nggulu Mainan Menunggui Jenazah

Sai mata? Siapa yang meninggal? Ucapan pertama yang keluar dari mulut orang Nagekeo bila mendengar bunyi letusan dari meriam bambu. Meriam bambu adalah sebatang bambu terdiri dari minimal dua ruas pada ujung bawah diberi lubang. Pada lubang selebar sekitar dua setengah senti meter dijadikan tempat menuangkan minyak tanah. Kemudian disulut api, dimatikan ditiup berkali-kali sampai panas. Bila sudah agak panas, bambu ini akan mengeluarkan bunyi setiap kali disulut api. Bila di tanah Betawi bunyi meriam bambu tanda puasa tiba, maka orang Nagekeo bunyi meriam bambu menjadi sebuah lonceng kematian.

Bunyi meriam bambu tanda ada kematian. Ada duka. Dalam waktu singkat banyak orang datang melayat. Pelayat dalam adat Keo mempunyai klasifikasi. Pelayat udu eko, nua oda  (khalayak) dan pelayat yang datang dengan  sodho nosi (undangan istimewa). Pelayat yang kedua ini terdiri dari embu mame (keluarga paman pihak ibu), ine weta ane ana (para saudari dan anak) dan tu’a eja (besan). Pelayat khusus ini akan datang dengan membawa penghargaan adat. Ada yang membawa tikar, kain dan babi, dan lain ada yang membawa hewan ternak seperti kambing kerbau bahkan emas.  Pelayat umum biasa menyerahkan sumbangan seadanya.

Pemakaman jenazah orang Nagekeo hanya bisa dilakukan bila pelayat khusus ini hadir. Pelayat khusus mutlak harus hadir. Pendundaan pemakaman biasa menunggu anggota keluarga terdekat seperti orang tua atau anak-anak. Pada masa kini orang datang dan mendoakan jenazah. Masyarakat Nagekeo pada masa lalu malam menunggui jenazah diisi dengan permainan. Bapa-bapa bermain kartu. Bisa sambil boto (berjudi), artinya menggunakan uang, yang kini sudah dilarang. Muda mudi menunggui jenazah dengan berjaga merapat sekliling jenazah. Mereka membentuk dua baris dengan jumlah yang sama pada kedua   dekat jenazah. Permainan mereka adalah roko nggulu (menyembunyikan cincin). Seorang memegang cincing dengan mengatup kedua telapak tangan kemudian dibagikan kepada teman-temannya yang bersiap dengan merapatkan kedua telapak untuk menerima cincin. Pihak lawan tanding secara bergilir akan menerka cincin berada di tangan siapa.

UMUM 108

 Saat ini permainan ini sudah tidak ada. Yang masih tersisa hanya main kartu tanpa uang sampai pagi. Sebuah permainan menyenangkan dan terkadang menegangkan akibat saling mengejek. Karena yang kalah menerima sanksi selain mengocok kartu juga menggantungkan beban pada telinga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

7 Responses to Roko Nggulu Mainan Menunggui Jenazah

  1. kris bheda says:

    roko nggulu adalah satu budaya lokal kita yang telah hilang digerus arus waktu. Saya menyebutnya sebagai ‘ketika Indonesia mengabaikan akar budanya’..miris memang mendengar pendet dicuri, angklung dimaling dan bahkan ambalat pun dilirik…tulisan di atas mengingatkan saya pada kampung halaman, tentang budaya yang mesti dijaga dan kelokalan yang mesti dilestarikan.

    om…jao senang sekali dengan foto di atas…jao kenal beberapa, sekurang kurangnya mukanya…namanya jao ghewo…trima kasih om atas informasi ini….

  2. tanagekeo says:

    Terima kasih Kris atas apresiasinya. Mo’o tau mbe’o. Piet Mbawo, Mike Jago, Pak guru Minggus, Toni Gosi, Woi Wea, Yan So’o. Modo tau ee sa’o, ne’e mae ghewo nua funi mbu’a.

  3. mosadaki says:

    jao…. sangat terkejut ketika nee ta mata…. sering terungkap kata ATA MATA, atau MATA REE…. mengapa hal itu harus terucap oleh kita… ketika seseorang meninggal selalu dibarengi dengan kata ATA, yang dalam arti org Keo adalah : Orang Lain.. Aau kata MATA REE… kalau diterjemahkan secara lurus orang meninggal jelek…. terkadang lucu…. tapi ini harus kita nggae moo mbeo… sebab ane jao ade jao om kenapa orang DAja kalau ada org yg meninggal bilang mata ree, atau ata mata…. jujur sy tdk bisa menjawabnya

  4. kris bheda says:

    om terima kasih atas informasinya…sudah lama saya kangen dengan kampung halaman, beberapa teman menanyakan seperti apakah kampung saya, jao dengan penuh keyakinan dan bangga menunjukkan kepada mereka tentang blog om…terima kasih woso om

  5. tanagekeo says:

    @Mosadaki: Saya memuat satu posting Kematian dalam Budaya Keo. Semoga jadi masukan.

  6. tanagekeo says:

    @ Kris: Terima kasih untuk promosi blog tentang nua oda kita.

  7. Hironimus says:

    Om, tolong dimuat juga, ada satu tradisi kita rade nua yang berhubungan dengan kematian, yaitu: rio raki re’e. yang biasa dilakukan setelah doa malam ke tujuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s