Berhitung Utang Di Kota

Oprah Winfrey salah satu pesohor Amerika berkulit hitam. Dia bagaikan  batu intan hitam yang terasah.  Semakin banyak sudut dan sisi semakin bersinar. Dan Oprah kini tidak saja bersinar sendiri, kemilaunya membuat banyak orang  turut menikmati kelap kelipnya. Acara bincang-bincang di layar kaca yang dipandunya membuka mata dan mengasah akal serta membuka wawasan.  Terakhir ada talk show tentang kartu kredit (credit card). Kartu ini telah mensihir banyak orang masuk ke sebuah pola hidup konsumsi tanpa kendala. Orang dapat berbelanja tanpa uang di tangan. Karena tak ada kendala maka hidup dengan besar nyali tak terkendali. Dalam obrolan bersama Oprah Winfrey terangkat fakta bahwa sebahagian terbesar orang Amerika yang bekerja hidup terlilit hutang. Besar pasak dari tiang. Hidup tak pernah pas. Kartu kredit telah menjerat bahkan melilit seluruh hidup  dengan hutang yang tak tertanggungkan sampai akhir hayatnya. Karena belanja dalam bentuk hutang selalu lebih daripada penghasilan. Dalam acara obrolan itu ada  seorang nara sumber dari sebuah lembaga keuangan menganjurkan agar menyimpan dana ekstra paling sedikit sebanyak 8 bulan penghasilan. Uang jaga-jaga. Cadangan penyelamat pada saat tidak ada penghasilan termasuk mencicil hutang kartu kredit.

Budaya kartu kredit sudah melanda masyarakat kota tidak hanya kelas atas. Bank-bank begitu gencar memasarkan kartu kredit kepada masyarakat termasuk kepada masyarakat kelas sederhana. Banyak buruh pabrik dengan penghasilan pas-pasan juga jadi incaran. Menghitung utang tentu tidak hanya pemilik  kartu kredit. Ketika saya mendapat kepercayaan banyak di tempat kerja, ada beberapa kerabat  terbawa. Sebuah pengalaman dengan kerabat saya.  Menghadapi kesulitan hidupnya, saya mengajak kerja. Pertama saya pinjamkan mesin ketik kantor untuk dia berlatih di rumah kos. Dan pada saat melamar saya juga berbasa basi mengetest kemampuannya. Masa itu komputer dan mesin ketik elektrik masih belum ada. “Ini baru abang sendiri sudah keringatan, bagaimana kalau orang lain yang test,” demikian uangkapnya ketika pertama kali masuk dunia kerja. Karena KKN dia saya luluskan dan masuk kerja. Setelah tiga hari bekerja karyawan baru hilang. Ketika masuk lagi saya mencari tahu alasannya. Dia bercerita betapa sulitnya hidup karena tidak ada uang makan. Dia bersama temannya sering tidak tahan mendengar ajakan mari makan basa basi sahabat-sahabat penumpang rumah petakan.  Saya mengatakan keduanya bagaikan ayam mati di lumbung padi. Kenapa tanyanya pada saya. Saat itu saya memberi solusi dan mengatakan bahwa datang ke warung makan katakan semua akan dibayar setelah gajian. Keesokkan harinya sang adik mengatakan ” sudah kak”. Maksudnya sudah boleh makan dengan bayaran belakangan. Dan dia sudah menimbun hutang sejak mulai bekerja.

Perusahaan kami adalah sebuah pabrik boneka yang kemudian menjadi perusahaan pakaian jadi. Sebagai salah satu penanggungjawab saya masih ingat kesulitan menghadapi hari pembayaran gaji. Betapapun sulitnya harus ada uang. Keterlambatan sehari saja akan mengundang amukan karyawan. Masalahnya hampir sebahagian besar karyawan pabrik  harus menyelesaikan utang ke warung-warung  dan juga biaya sewa kamarnya.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s