Mbay Perawan Tak Seburuk Rupa

Suatu saat saya bertamu di rumah pak Agus Gadi Kepala Seksi Perindustrian Nagekeo di Mbay. Karena keluarga masih di Bajawa, maka kami berdua sendiri di rumahnya, yang masih setengah jadi. Ada ruang tamu sempit, sebuah kamar tidur dan sebuah dapur bersebelahan dengan ruang sempit kami duduk. Berada dalam ruang dan rumah itu, terasa berada dalam keadaan serba darurat.  Tetapi disini  adalah dapur godokan semua hal yang berkaitan dengan perindustiran dan perdagangan Nagekeo.

Ketika sedang duduk tuan rumah memanggil seorang yang sedang lewat di jalan. Seorang lelaki berbadan agak kurus, berambut lurus asal pulau Jawa.  Lelaki tersebut menggiring beberapa ekor sapi merumput. Karena saya ingin menetap di Mbay, kami minta informasi tentang rumah kontrak. Dan tamu kami ini juga diminta mensuplai makanan kecil buat minum kopi sore. Dia membawa sebungkus plastik singkong goreng yang diiris tipis. Penggembala sapi ini ternyata  menggoreng singkong  dan dijual di Mbay. Singkong gorengan dagangan dititip di kios-kios di Mbay.

Nagekeo adalah sebuah kabupaten dengan wilayah yang tidak seberapa luas. Kita bisa mengitari kabupaten ini dari utara hingga selatan dan dari batas timur hingga barat cuma hitungan jam. Ibukota kabupaten Nagekeo, Mbay juga sebuah perkampungan yang belum rampung, yang bisa dikitari tidak lebih dari 15 menit. Perkampungan ini dihuni oleh sebahagian besar orang luar Mbay. Ini memang suatu yang wajar. Sebuah ibukota kabupaten harus menjadi sebuah etalase, tempat pamer. Perkampungan atau kota Mbay menurut saya cukup punya daya pikat. Dalam permainan sepak bola, penonton selalu agak lebih pintar dalam menilai. Lihat saja para komentator sepak bola kita. Hal ini wajar karena ada jarak antara subyek dan obyek pandangan. Orang luar Mbay, Nagekeo mempunyai jarak untuk menilai Mbay.

Bagi orang yang berpandangan futuristik dan luas, maka Mbay tidak seburuk rupa saat ini. Orang Mbay, orang Nagekeo bisa dianggap sebagai pesepak bola aktif. Terlalu dekat untuk menilai. Lalu datanglah orang-orang yang melihat Mbay sebagai negeri menjanjikan. Tanpa mengumbar anti pendatang, tetapi mari kita orang Nagekeo, Mbay harus bangkit. Jangan kita hanya bisa memandang penggembala sapi dan penyedia penganan semuanya pendatang.  Tidak ada teori dan petuah terbaik, selain ayo mari anak Nagekeo, arahkan pikiran dan perhatian anda. Ma’e ghewo nua oda kita.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s