PULSA MENGUAP DI KAMPUNG MAUROMBA

Kampung kami Mauromba berada persis di bibir pantai selatan. Hempasan ombak laut Sawu yang bersahut-sahutan kedengaran jelas sampai ke tempat tidur. Pasti saudaraku seasal  akan segera paham tempat tidurnya adalah ruang dan meja makan. Itulah balai dari bambu yang begitu mengkilat karena bertahun-tahun digunakan. Itulah tempat pertemuan, tempat makan dan tempat tidur.  Isteri saya sempat mengagumi balai serbaguna ini. Ketika membasuh tangan sebelum dan sesudah makan tak perlu repot. Tuangkan saja air, tempat makan tetap kering karena air akan terus lolos ke kolong rumah melalui sela bambu. Ayam-ayam kampung , anjing  juga turut bersantap remah makanan yang jatuh kekolong. Tulang daging tinggal dicemplungkan dan giliran sahabat kita, sang pemburu dan penjaga , anjing peliharaan berterima kasih menyambut  sambil mendengus dengan sekali lahap. Ibu-ibu berbibir merah yang selalu memamah sirih pinang dengan leluasa meludah melalui sela bambu. Tak butuh wadah penampung.

Kalau mau ditanya apa bukti bahwa kampung kumuh ini sudah maju. Kehidupan masyarakat  masih seperti biasa. Karena adat dan budaya mengungkung mereka terpaku di tempat. Listrik sudah masuk kampung. Tetapi hanya kampung Mauromba Wena. Umamere ke atas masih belum terjangkau. Yang paling menonjol adalah penggunaan telekomunikasi. Sejak Maundai menjadi ibukota Kecamatan ada perubahan di wilayah ini. Sebuah menara telekomunikasi  tegak berdiri menjulang tinggi di wilayah penuh pohon kelapa. Para nelayan dan pelaut berterima kasih karena bila  malam tiba tiang tinggi ini menjadi landmark, penunjuk arah.

Pengunaan telepon genggam sudah semakin banyak. Sedikit orang yang bisa mengoperasikan pesawat telepon genggamnya dengan baik. Selebihnya hanya menerima dan menelpon. Dalam rangka menghemat banyak yang tidak sering menggunakan telepon. Bisa dianggap menghemat, tetapi sesungguhnya tidak ada kebutuhan untuk menggunakan telepon. Karena jarang digunakan ada yang tidak tahu  persediaan pulsanya. Ini kesempatan yang dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang lebih trampil mengutak-utik alat canggih ini. Saya ingat saudara saya Bart Uma mencari informasi. Mengapa pulsanya habis. Dia menyangka kalau terlalu lama menyimpan pulsa, maka pulsa akan menguap dan hilang. Ternyata seorang anaknya memanfaatkan kesempatan dengan mentransfer pulsa ke HPnya sendiri. Hanya di Mauromba ada pulsa menguap. Bukti bahwa orang Mauromba belum maju dalam pemahaman teknologi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s