ADAT KEO MENUTUT SEBUAH KESABARAN

Waktu itu ada perayaan Paskah 2009  di Watunggegha. Seorang pastor tamu memimpin Misa Paskah. Sebuah slogan terpampang pada tembok di bawah kayu palang, tempat   tubuh  penuh lara terkulai tak berdaya.  Penebus segala salah dan penentu segala asa. Yesus Muri Wado. Yesus Hidup Lagi. Yesus bangkit. Bisa juga diartikan Yesus Baru (muri) kini datang lagi. Paskah meriah dengan lagu Aleluya yang paling populer setelah sebuah kisah drama mengharukan dan mengundang cucuran air mata pada Hari Jumat Agung. Kata-kata puitis dalam bahasa Keo oleh pak Bartholomeus So’o menyadarkan salah dan mencabik-cabik sanubari. Membuat semua tak kuat menahan duka. Sesenggukan mengiringi jawaban setiap doa. Air mata berkucuran sepanjang upacara.

UMUM 707

Tarian mengiringi lagu persembahan….dan Yesus Muri Wado di kaki Kayu Palang sumber rahmat.

Pada akhir upacara, saya diundang untuk duduk-duduk bersama Romo. Acara sederhana. Kami disuguhi minuman, karena tidak ada meja, masing-masing memegang gelas. Orang agak banyak. Romo tamu dan saya sudah lama memegang gelas. Tiba-tiba tamu terhormat saya ingin segera meneguk minuman. Saya memberi aba-aba minta menunda hasrat. Saya menggurui dan memberi kuliah singkat adat dan budaya Keo. Orang boleh menikmati hidangan termasuk minuman bila seluruh tamu dalam keadaan siap dan menerima hidangan. Lalu saya cerita pengalaman. Sebagai tuan rumah pada acara wafatnya bapa Arnoldus Rangga Wea, pihak keluarga besar Bero sebagai tuan rumah baru bisa mekan  setelah tamu selesai bersantap, saat  semua perabot dikumpulkan. Dan giliran kami adalah pada larut malam. Setelah semua makanan dibagi, seorang yang terakhir tegas mengatakan dia tidak mau makan daging yang ada (jao mona pesa, tungga pora manu). Di tengah malam buta, dia mengatakan hanya boleh makan daging ayam. Suatu cara meminta pada waktu yang tidak pas. Saudaraku Tinus Reja sebagai penanggungjawab keluarga Bero, segera ke dapur. Mundar mandir dengan penuh gusar. Adat dan budaya Keo mengatur kami semua supaya menunggu sampai orang terakhir mandapat porsinya. Hatiku menggerutu. Tapi adat menuntut sabar. Ahkirnya masakan mie instant sederhana datang bagi yang punya pantangan. Saya menikmati santap malam sambil memendam rasa.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s