MALAM TIRAKATAN

Hari makin sore. Saudara saya Albert beserta isteri dan anaknya Yuliana, berusia tiga tahun  masih belum juga kembali. Mereka berkunjung  untuk menyambung silaturahim demi anaknya. Berkunjung atau saling jumpa, pada akhir pekan atau hari libur  merupakan ungkapan kekerabatan dan juga sebagai pendidikan bagi anak-anak dalam pembentukan budaya keluarga. Kalau perusahaan perusahaan raksasa biasa bicara tentang pembentukan budaya usaha atau corporate culture, setiap keluarga pasti punya kebiasaan yang menjadi dasar budaya bersama. Kebudayaan dihidupkan dan ditularkan melalui tradisi keluarga, termasuk saling mengunjungi. Saya jadikan kehadiran adik saya ini sebagai alasan untuk tidak mengikuti acara Tirakatan.

Di lingkungan RT 06/RW 06 Cijantung , setiap tanggal 16 Agustus, pada malam hari kami berkumpul di rumah RT dan membaca doa, dan makan-makan. Semuanya atas swadaya masyarakat.  Yang sampai hari ini saya terkadang bertanya mengapa disebut Tirakatan? Orang kita biasa suka verbalisme. kata indah tanpa paham arti dipakai seolah itu kata sehari-hari. Beberapa hari lalu saya berada di Cilegon. Seorang calo tanah menggunakan kata relevan. Kata itu sesungguhnya tidak ada kaitan dengan apa yang kami bicarakan. Tirakatan berhubungan dengan mengundurkan diri  ke tempat sepi dan merenungkan  sesuatu. Tetapi malam tirakatan kami adalah keramaian,  penuh gaduh karena banyak anak-anak berteriak bahkan menangis.  Lalu apa masih dibilang tirakatan? Yang jelas malam ini pasti ada keramaian kecil. Ada acara sambutan panitia, renungan dan doa ditutup sambutan RT atau terkadang sesepuh. Sesepuh di wilayah kami ada orang  penduduk asli yang sudah lanjut usia.  Salah satu sesepuh kami adalah mantan jenderal yang berjabatan Kasospol Abri. Idealisme dan fanatisme nasional sering diumbar di tempat sederhana ini.  Dan tahun ini memang disederhanakan karena harus bertoleransi pada beberapa tetangga yang kurang sehat. Saya dan isteri absen, karena itu tidak mengetahui apa yang terjadi.

Suatu ketika saya pernah diminta membawakan renungan malam itu. Saya bingung sampai sore belum ada ide, lalu saya buka koran Kompas. Saya akhirnya berkisah tentang seorang ibu yang dipenjara atas titah raja kejam.  Wanita itu dibiarkan hidup tanpa makan. Bila sang wanita bertahan hidup untuk suatu periode, dia akan dibebaskan. Seorang wanita meminta  untuk bisa membuktikan kasihnya pada ibu dengan berkunjung setiap hari. Dan atas rasa kemanusiaan dia dijinkan. Tetapi dengan satu syarat bahwa dia tidak diperkenankan untuk membawa sesuatu teristimewa makanan. Pengawasan ketat. Sipir penjara wanita dengan tegas meraba seluruh badan. Termasuk kutang yang mungkin menjadi alat penyelundupan ikut digeledah. Bokong dan semua bagian paling pribadi ikut kena sensor. Atas hasil rabaan dan pengamatan kasat mata , wanita muda itu diloloskan keluar masuk ruang tahanan setiap hari. Dan setiap hari anak dari wanita itu terus mengunjungi tahanan. Sampai waktu yang ditentukan, wanita itu sehat dan segar dalam penjara. Raja mengagumi betapa luarbiasa daya tahan sang ibu.  Ada rasa kagum dan takut raja akhirnya membebaskan ibu itu. Tidak ada yang tahu rahasianya. Kecuali anak wanita yang setiap hari mengunjungi ruang tahanan. Wanita ini ternyata sedang menyusui, disana  si wanita muda tadi tidak sekedar memberi ASI tetapi memberikan ASA (air susu anak), penopang asa hidup dibalik jeruji. Sebuah bukti balas budi atas kasih ibunya. Dan  demikian kita semua seharusnya membuktikan balas budi ibu pertiwi dengan memberikan susu, kebaikan, karya kita. Kita harus membuat negeri ini sehat dan sejahtera. Bebas dari keterpurukan. Menjadikan Indonesia sebuah negeri tumpuan segala asa, pemacu darah, pembakar semangat untuk terus bekerja dan berdedikasi.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s