PIDATO KENEGARAAN OLEH PRESIDEN DI DPR TAK DIAWALI LAGU KEBANGSAAN

Anggota dewan memang tugas bicara. Kalau bisa ngotot. Kengototannya bisa dilihat kalau lagi interupsi. Seorang anggota dewan angkat tangan lantang bicara menyela. Mempertanyakan mengapa tidak ada pembukaan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada acara pidato kenegaraan pada Jumat 14 Agustus 2009.  Dan pada ujung pertemuan, laksana doa penutup meriah lagu Kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan juga.

Dalam pengalaman pribadi, saya sangat sedikit melagukan lagu ini. Upacara bendera hanya terjadi ketika saya di Sekolah Dasar. SMP, SMU dan Perguruan Tinggi, saya hampir tidak lagi menyanyikan lagu itu. Setelah bekerja dan hidup berkeluarga  menyanyikan lagu kebangsaan hanya kenangan masa kecil. Tetapi  saya tidak merasa kurang nasionalis. Nasionalisme tidak ditentukan  oleh sebuah lagu kebangsaan . Perbuatan anak bangsa dan hasil karyanya yang menjadi bukti nasionalist sejati atau tidak. Rasa nasionalis itu sesungguhnya militan. Kita siap membela bangsa ini. Siap untuk berputih tulang setelah seluruh darah membasahi tanah. Militansi harus dibuktikan dalam kehidupan harian. Tidak usah yang istimewa dan besar-besar. Meminjam istilah agama, kalau merasul, mulai dulu dalam kelompok keluarga. Mau jadi pahlawan tidak perlu sok mati di medan perang. Pahlawan muncul disetiap bidang kehidupan. Sampai saat ini  kuping kita begitu biasa dengan gelar guru, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ada pengorbanan ibu, yang mengucur darah melahirkan dan berkeringat lelah membesarkan anak bangsa tak kurang layak  diianggap sebagai pahlawan. Demikian juga para petani nelayan dan pedagang asongan yang memperlihatkan harga diri, terus mempertahankan kehidupanya, yang juga kehidupan dan ketahanan bangsa ini.  Ada perjuangan, ada ketahanan dan pasti ada harganya paling tidaka harga dirinya sendiri.

Sesorang tetangga saya, isteri seorang perwira, ketika seorang pembantunya berlilit handuk basah habis mandi tersengat listrik ketika akan menyalakan lampu, handuk terlepas dan meregang nyawa. Kata sang nyonya, lihat itu pahlawan kita. Perlakuan kepada pahlawan bangsa ini  setali tiga uang dengan ulah nyonya tetangga rumahku. Dalam keseharian betapa tidak peduli akan nyawa sang pahlawan.Sang nyonya terhormat, pemilik rumah dan majikan tidak pernah memikirkan kabel listrik telanjang membahayakan. Kehidupan pembantu rumah tangga hanya berkutat dalam rasa  dihina, disisihkan, terpinggirkan sebagai tak punya arti.  Kita juga menyaksikan banyak pejuang terlunta-lunta mengambil sendiri uang pensiun yang begitu minim. Hidup penuh duka setelah perjuangan penuh luka. Yang ada hanya lara sepanjang akhir jalan kehidupannya.

Jadi pahlawan dan pembawa semangat bisa dimana saja dan dalam bidang apa saja. Bekerja keras, disiplin menjadikan diri merdeka menentukan nasib sendiri jauh lebih penting dari sekedar menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Menjadi bangsa tidak hanya karena melagukan Indonesia Raya, atau Maju Tak Gentar, Padamu Negeri dan sejenisnya, tetapi sesungguhnya melakukan, berbuat dan membuktikan diri secara militan seorang anak bangsa. Kalau boleh bertanya apa sih yang memotivasi pelaku bom bunuh diri, sehingga siap mengorbankan diri sendiri. Secara postif kita ambil makna bahwa setelah kita memahami betapa berharganya bangsa ini, saya siap untuk merebutnya , bila perlu nyawa sendiri melayang. Vivere est militare. Hidup itu harus terus berdisiplin dan berjuang. Melagukan Indonesia Raya diperlukan sebagai pembakar semangat dan doa. Siapa yang dalam kebaktian menyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali. Mungkin karena itu banyak lagu dalam ibadah. Indonesia Raya tidak salah dilagukan pada akhir acara. Maaf anggota dewan interuptor (bukan kuroptor) ini sekedar mencari legitimasi mengapa Indonesia Raya sengaja dinaynyikan akhir acara.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s