OLEH-OLEH NAGEKEO

Sebulan lalu saya pergi ke Kuningan di wilayah Luragung. Pada hari Minggu saya mencari tempat ibadah dan akhirnya pergi ke Cisantana berjarak sekitar 20 Km. Karena daerah ini baru, saya harus bertanya dan juga beberapa kali  salah pilih jalan alias nyasar. Ini ternyata ada  hikmah. Saya menikmati berbagai pemandangan yang  saya anggap menarik untuk diketahui. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat. Itulah keraifan kuno, orang belajar dari pengalaman. Melihat dan percaya. Atau menyaksikan untuk yakin. Di Cisantana saya menyaksikan satu bukit dimana Kekatolikan begitu signifikan ditengah masyarakat Muslim Kuningan. Kalau mau dibilang militan, mungkin orang Kuningan termasuk militan dalam keislamannya. Mereka sangat muslim. Mesjid mesjid megah di wilayah ini menjadi bukti nyata betapa Islam membudaya di wilayah ini. 

Disepanjang jalan raya di kota Kuningan yang bersih itu, terdapat begitu banyak toko serba ada serta kios-kios makanan khas kuningan. Banyak makanan penganan untuk oleh-oleh dijajakan dibanyak kedai. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah jejeran ember-ember plastik berwarna gelap dan tertutup. Pada kulit luar ember diberi stiker menarik. Mungkin ini adalah yang paling menonjol, khas penganan yang dapat kita bawa dari Kuningan. Ember plastik ini berisi tape ketan yang terbungkus daun. Rasanya segar dan enak. Kalau ditanya apa yang terbaik dibawa dari Kuningan sebagai oleh-oleh, tape ketan bisa menjadi salah satu dari yang ada.

 Ipar saya mempunyai seorang teman yang akan ke Flores menemani Romo Frans Doi Pr, untuk sebuah acara retret. Apakah Romo Frans yang akan melakukan retret atau akan mendampingi sejumlah orang yang melakukan retret tidak jelas untuk saya. Retret adalah sebuah kegiatan rohani, dimana seorang atau sekelompok orang berusaha mengundurkan diri dari keramaian, melakukan doa dan permenungan secara pribadi atau kelompok. Bila berkelompok biasa didampingi atau dibimbing oleh orang-orang yang kompeten, dalam hal ini  biasa seorang pendeta, romo atau pastor Katolik.

Adik ipar saya bertanya pada isteri saya apa oleh-oleh yang terbaik dari Nagekeo? Sebuah pertanyaan dari seorang yang tidak pernah tahu Flores, apalagi Nagekeo. Orang Nagekeo sendiri masih terbiasa menyebut diri orang Watuapi, Mbay atau Boawae atau Maunori. Nagekeo masih membutuhkan waktu untuk menyatukan pandangan, sikap dan rasa memiliki wilayah ini. Harus terbentuk budaya wilayah, yang menjadi ciri pengenalnya.  Olahan makanan termasuk hasil karya budaya. Lalu apa oleh-oleh dari Nagekeo? Isteri saya menganjurkan adiknya minta madu Riung dan ikan asin Maunori. Ikan asin dari Maunori. Masih adakah yang lebih spesifik oleh-oleh dari perkampungan Nagekeo? Nagekeo memang tertinggal dan belum bergerak maju. Nagekeo masih sepi!! Perlu ada pemikir-pemikir dan pebisnis untuk mendorong Nagekeo maju.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in EKONOMI, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s