TEKANAN DARAHKU 200/90

Jangan bikin naik darah kata orang Flores. Itu artinya bikin marah. Rupanya ada kaitan antara tekanan darah dan kemarahan. Ternyata tidak seluruhnya benar. Tekanan darah saya tidak ada kaitan dengan kemarahan.  Saya tidak memiliki banyak pengetahuan tentang hal-hal medis. Suatu malam, saya diundang makan malam di rumah keponakan saya Wilhelmina Bhudhe di Nuamuri. Mina adalah seorang guru SMP di Daja. Undangan makan malam orang di desa kami, pasti ada hidangan istimewa. Hidangan istimewa harus ada daging. Dan malam itu seekor ayam jago jadi korban. Saya sebut korban, karena bila ada tamu selalu ada yang disembelih.   Di desa tidak ada daging kiloan yang dijual, semua daging selalu segar.  Saya tidak sendirian , ada bapa Gaspar Wala dan bapa Alo Pao menemani  makan malam. Sesudah makan malam, saya menyandarkan badan saya ke belakang ditopang kedua tangan. Kami duduk bersila di balai. Tiba-tiba ada rasa neyeri pada lengan atas tangan kiri saya. Persendian di bahu saya terasa sangat sakit. Saya tidak mengeluh dan kembali ke rumah. Karena saya harus ke Mbay pagi jam 4.30 WIT, kesakitan dibiarkan tanpa mengeluh. Beruntung ada yang menyetir mobil yaitu keponakan saya Ance putera Anton Mere. Ance sangat sopan dan baik, tidak seperti cerita orang-orang yang mengenalnya pada masa kecil.

Persendian bahu  dan lengan kiri atas terus bertambah nyeri. Di Mabhambawa saya minta bapa Archi mengurut. Karena badan jadi berminyak, saya  hanya mengenakan baju kaus di dalam mobil sampai di Mbay. Rasa sakit dari hari ke hari terus bertambah. Beberapa orang telah secara sukarela mengurutnya. Bahkan saya sempat dibantu seorang yang katanya orang pintar. Dia mengambil  beberapa lembar daun dari halaman rumahnya. Tanaman itu dalam bahasa daerah wunu pudu. Bapa itu sedikit berkomat kamit, kemudian menggosokkan daun itu pada lengan yang sakit, meludahi telapaknya sendiri dan digosokkan pada lenganku. Ada keraguan dalam hati. Karena katanya ada “angin”. Memang di desa, kita bisa terbawa arus mistik, mejik dan percaya sia-sia. Sempat terbawa pikiran, jangan-jangan karena saya terlalu vokal ketika ada pertemuan pembangunan kapela Romba. Karena katanya kita tidak boleh menyela pembicaraan para pemuka adat. Dukun daun wunu pudu  menasehati saya untuk balut lengan yang sakit dengan 7 lembar daun jarak pagar. Sempat saya lakukan semalam. Sakit tidak pernah reda. Saya terus mengadakan perjalanan untuk berbagai urusan. Sampai suatu saat kesakitan tidak bisa tertahan, saya berinisiatif ke dokter. Saya ke poliklinik Danga. Itu satu-satunya sebuah rumah sehat di Mbay, sebuah ibu kota Kabupaten. Saya didiagnosa tekanan darah tinggi. Dan dikatakan 200/80. Tekanan darah yang normal adalah 120/80, yang saya baru tahu hari ini, ketika secara tidak sengaja berselancar di dunia maya.  Saya agak cemas. Menelpon isteri di Jakarta, yang langsung bereaksi memaksa saya agar cepat kembali. Saya mulai mengurangi konsumsi daging terutama daging babi, yang lakukan dengan susah payah. Ada peringatan dari segi kesehatan untuk mengurangi, tetapi urusan selera (foko mbua) susah menolak. Kata saya terlalu dekat sehingga susah menolaknya.

Ada berbagai petunjuk dalam artikel-artikel yang saya baca  dari Internet hari ini. Setiap hari saya baca artikel-artikel dalam bahasa Inggeris sekedar memahami bahasa.  Ada seorang memiliki  tekanan darah tinggi tetapi kini dia 120/75 dan dia menjelaskan bagaimana dia menurunkan tekanan darah tanpa obat. Dari bebrapa artikel yang saya baca secara kebetulan itu, saya ringkaskan dengan dua cara, JAGA MAKAN dan JANGAN STRESS. SANTAI SAJALAH.  Benar juga, sekarang tekanan darah sedikit turun dan rasa nyeri lengan sudah hilang termasuk  rasa kaku dan sedikit mati rasa (stroke ringan ) pada lengan kiriku.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s