UANG HASIL PANEN VANILI DAN CENGKEH CUMA CERITA.

Saya bertamu karena diundang minum kopi pagi,- pasti bukan coffee morning gaya orang bisnis  di salah satu rumah di Girowawo. Keo Tengah di kabupaten Ngekeo. Perhatian saya tertarik pada  salah satu pintu ada lukisan batang vanili, yang dikenal dari bentuk daunnya. Yang empunya rumah cerita berapi-api tentang bagaimana vanili telah membuat mereka meraup banyak uang. Sebagai luapan suka cita dia mengukir sulur batang dan daun vanili pada pintu rumahnya.

Orang Nagekeo khusus di wilayah kecamatan Keo Tengah dan Mauponggo menikmati berkat Tuhan melalui penan vanili dan cengkeh. Dan kini ditambah dengan kakao dan jambu mede. Dalam kehidupan harian masyarakat desa, hampir tidak ada bukti apapun bahwa mereka pernah menerima banyak uang. Kemiskinan  terbaca gamblang dari cara hidup mereka. Kalau orang omong bahwa yang abadi adalah perubahan, maka dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang sama, biasa dan permanen. Miskin, sahaja dan tidak ada perubahan istimewa.

Penduduk  Nagekeo sebetulnya adalah masyarakat agraris. Hampir semuanya adalah petani. Kalau pun ada pegawai negeri sipil, seperti guru atau pegawai kecamatan atau pemda, mereka juga tidak sepenuhnya meninggalkan kehidupan sebagai petani. Banyak dari mereka yang tetap bersawah dan memelihara ternak.  Seperti yang saya saksikan keluarga  saudara saya Nikodemus Muta dan isterinya Yosefa . Suami isteri  pegawai negeri. Keduanya bekerja sebagai guru. Tetapi mereka mempunyai ladang di Nangaroro, sawah di Mbay serta sibuk memelihara begitu banyak babi dan ayam di rumah mereka.

Rata-rata tidak ada perubahan mendasar dalam cara pikir dan kehidupan orang Nagekeo. Kalau ada pembangunan rumah permanen dari tembok  beratap seng atau genteng, tidak berarti cara pikir dan pandang mereka telah berubah.  Masyarakat Nagekeo sangat menjaga tradisi adat. Tradisi adat, yang diwarisan secara turun temurun, dijaga dengan baik oleh setiap orang bila tidak ingin dikucilkan dari pergaulan masyarakt. Pembicaraan adat tidak saja membosankan dan lama, tetapi keputusan adat selalu menguras harta. Ada kewajiban untuk memberi (ti’i pati). Kata ti’i pati berarti memberi dan berbagi. Ti’i pati yang berkaitan dengan adat adalah wajib. Itu adalah tidak saja menjadi ungkapan kasih tetapi juga  merupakan bentuk demonstrasi harga diri.  Ti’i pati dalam adat Nagekeo tidak akan pernah berhenti, terus berjalan selama hidup dalam masyarakat. Budaya ti’i pati yang berkaitan dengan adat suatu yang abadi, dan tidak berubah. Hukumnya wajib. Tidak pernah ada toleransi pada kondisi miskin atau kaya. Karena semua manusia sama di depan hukum adat.

Hukum adat sebagai tradisi selalu berkaitan dengan ti’i pati. Hal ini merupakan kewajiban yang tidak bisa ditolak. Tradisi adat adalah warisan leluhur. Melanggar adat berarti mencederai hukum sama artinya dengan  mengucilkan  diri dari pergaulan masyarakat adat. Sebagai perbuatan memberi dan berbagi, orang Nagekeo tahu apa yang terbaik dilakukan demi harga diri. Inilah yang membuat masyarakat Nagekeo tidak berubah, tinggal di tempat dan tetap masuk dalam lingkaran setan kemiskinan. Karena itu tidak heran bila jatah beras miskin merupakan jatah bagi hampir semua keluarga. Vanili, cengkeh, kakao, Jambu mede, dan kopra hanya cerita.  Mereka tetap miskin demi adat yang diwariskan turun temurun, karena  uang hasil panen hanya numpang lewat.  Semua hasil jerih payah habis untuk melunaskan utang adat.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s