KOMUNIKASI DENGAN KERABAT DI DESA

Hampir setiap hari saya selalu mengadakan kontak telepon dengan saudara saya di kampung. Saya biasa menghubungi saudara saya Anton. Dia adalah adik laki-laki kami termuda, yang tinggal dan menikah, berkeluarga serta menetap di kampung. Pendidikannya cuma SMP dia seperti orang desa pada umumnya dimatangkan oleh keadaan. Dia seperti sangat matang dan dewasa dalam berpikir. Namun terkadang muncul sifat kekanakannya, dia mudah emosi. Dia memang salah satu anggota keluarga saya yang paling emosional.

Apa sih yang dibicarakan dengan orang di kampung (desa). Disela kesibukan di kota Metropolitan yang  penuh masalah, ternyata bicara dengan orang desa terasa hidupku membumi. Saya rasa tidak melayang di udara. Saya merasa menjadi manusia biasa yang bahagia. Tidak ada topik yang luar biasa. Terkadang hanya bertanya lagi dimana?  Jawaban macam-macam. Lagi kebun, atau lagi memikul kelapa atau lagi bersama tamu, saudara sekampung yang lagi berkunjung. Biasanya saya usahakan untuk bicara juga dengan tamu sekedar melepas rindu.  Basa basi bicara dengan orang di kampung ternyata menjadi pengalih perhatian dan pelepas beban kerja. Yang paling menyenangkan adalah terkadang mendengar lagi hal-hal yang sangat sepeleh. Bagi mereka merupakan sesuatu yang luarbiasa, pada hal bagi kita orang kota bukan sebuah persoalan luar biasa. Jaringan telepon seluler telah memungkin itu semua. Saya selalu mengikuti perkembangan terakhir tentang kampung halaman.

Jaringan telepon kabel di Nagekeo sampai saat belum ada. Nagekeo memang masih jauh tertinggal. Selain telekomunikasi telepon, sebahagian besar wilayah nagekeo masih belum terjangkau listrik. Beruntung ada jaringan telepon selular. Menara telepon sudah ada di Maundai. Jadi untuk wilayah Keo Tengah tidak ada masalah dengan sinyal telepon. Keo Tengah sudah lebih beruntung, karena sebahagian wilayahnya sudah mendapat penerangan listrik. Listrik menyala dari jam 17.30  sampai Jam 6.00 pagi. Pada hari minggu ada kebaikan listrik menyala sampai jam 12.00 siang. Semua kegiatan yang berhubungan dengan listrik, seperti menyeterika pakaian, menyetrom (charge) telepon genggam harus dilakukan pada malam hari. Sayang masyarakat masih merasa terbebani bila membayar listrik. Yang menjadi masalahnya adalah mereka tidak memiliki penghasilan tetap. Selama beberapa bulan di kampung saya sering mendengar mereka mengeluh membayar tagihan listrik, pada hal sangat murah, pemakaian mereka murni hanya untuk penerangan yang sangat terbatas.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s