MOSADAKI PONGGA RORE MOSADAKI

Mosadaki  artinya pemuka, orang terhormat dalam masyarakat adat Nagekeo. Seorang mosadaki berarti seorang terpandang di tengah masyarakat. Sebagai seorang terpandang, dia dikenal dan dianggap baik oleh warga masyarakat. Mosa mengandung arti jantan, perkasa, atau memiliki kekuatan (power). Daki (laki) bisa berarti laki-laki  dan bisa juga berarti mengait atau merangkul. Seorang mosadaki harus seorang yang berpengaruh dan memiliki jiwa merangkul kebersamaan dengan orang lain.  Mosadaki yang baik adalah mosadaki yang mampu menjadi penengah yang baik (mosa ta punu ndena). Mosadaki yang mampu memberikan petuah dan contoh dalam kehidupan. (mosa ka waka, daki minu  na’u). Sebaliknya adalah mosa ka daki pesa (mosadaki yang  menghadiri acara hanya untuk makan dan minum enak). Sebuah cap negatif dan memalukan.

Kebesaran mosadaki diperlihatkan dengan cara mosadaki. Mosadaki selalu mengadalkan pelayanan dan pengorbanan. Kebesaran dilihat dari pengorbanan. Apa yang dilakukan (pongga rore). Pongga rore artinya menyembelih. Masyarakat Nagekeo membuktikan kebesarannya melalui pongga rore (menyembelih hewan). Besar kecil perbuatan pongga rore, menjadi ukuran nilai keterpandangan seorang mosadaki. Hal ini tentu tidak jauh berbeda dengan gaya bisnis orang kota. Bila anda sesungguh seorang berada, pengusaha atau manajer besar, buktikan saja melalui bagaimana cara etertain (menghibur/traktir). Gaya, tempat dan besarnya biaya merupakan ukuran kebesaran seorang.  Yang berbeda adalah mosadaki melakukan tindakan hanya sekedar memberi dan meludeskan. Sementara dalam dunia bisnis tindakan selalu pamrih. Memasang umpan besar untuk mendapat tangkapan yang jauh lebih besar untuk menutupi biaya.  Dan hasilnya kemiskinan selalu menyertai mosadaki, sampai tidak bisa membiayai kuliah anak. Bagi para pelaku bisnis dengan semakin banyak uang masuk rekening, biaya sekolah anak tidak jadi masalah. Mosadaki ketika menjadi harga diri dan gengsi ternyata menjadi malapetaka bagi keluarga.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s