DUNIA TANAH

Akhir-akhir ini saya berurusan dengan dunia tanah, dunia jual beli tanah. Omong-omong tentang tanah saya teringat kata bapa saya,  bahwa anak-anak harus sekolah dan pintar. Kalau tidak pintar akan diberikan warisan tanah dan kelapa di kampung. Dan lagi katanya tanah di kampung tidak pernah bertambah luas, sedangkan manusia terus bertambah.  Kalau orang sekolahan pasti tahu itu hukum Maltus. Bagi bapa, yang hanya duduk  di kelas tiga sekolah rakyat mengalami bahwa banyak orang berhantam untuk memanjat pohon kelapa yang sama, karena keterbatasan lahan.  Tinggal di desa? Tunggu dulu. Hal itu berarti harus bertanggungjawab atas urusan adat. Bagi orang Nagekeo, adat tidak saja sebagai peraturan tetapi sebagai kewajiban yang membebani. Ada ongkos untuk mendapatkan kehormatan. Karena itu demi menjaga kehormatan, seorang harus selalu memberi dan memberi termasuk pada saat paling krisis sekalipun. Lahir, menikah, membangun rumah, membongkar ladang, meninggal, seluruh lingkaran kehidupan adalah lilitan adat yang mematikan gerakan hidup ekonomi. 

Pilihan saya dan saudara laki-laki  sebanyak 6 orang rajin ke sekolah. Dan kami membuktikan diri kami tidak jadi orang dalam kategori bodoh menurut ayahku. 5 orang ada di Jakarta dan seorang berada di Papua. Ketika bapa sakit keras kami datang dan menyatakan sekarang kami masing-masing sudah mempunyai tanah dan rumah sendiri. Bapa tersenyum lemah dan untuk beberapa saat kuat lagi. Mungkin itu merupakan kebanggaan bapa, dia merasa benar atas ucapan-uacpannya. Kami harus terus bekerja, mencari lahan baru dan tidak saling berhantam memperebutkan lahan kecil yang sama.

Kemarin sore saya dan teman berada di salah satu ujung barat Pulau Jawa. Persisnya di daerah Bojonegara, Banten, tidak jauh dari kota Cilegon. Kami meninjau lokasi di bibir pantai. Ada yang ingin membeli lahan itu untuk membuat satu pabrik minyak sawit dan membangun pelabuhan lautnya sendiri. Kami mendapat order dari pembeli atau dengan kata keren disebut investor. Mereka ingin menanamkan modal dengan membeli aset tidak bergerak lalu menanamkan modal lebih besar lagi membangun kegiatan usaha. Sejak Banten menjadi sebuah propinsi, ada gerak pembangunan besar-besaran di zona ini. Pembangunan membutuhkan lahan. Karena itu ada yang berspekulasi adanya gerak naik harga tanah. Mereka mereka-reka kelak tanah akan berharga mahal.  Maka terjadilah tanah-tanah dibeli oleh para spekulan tanah. Para spekulan menguasai tanah-tanah masyarakat. Masyarakat menjadi penjaga dan pengolah tanah. Para pemilik tanah baru atau spekulan ini menjadi orang kuat dan tidak pernah muncul ke depan. Bila ada yang ingin membeli lahan, maka orang yang kita hadapi adalah para calo tanah. Para calo tanah ini memahami perencanaan pembangunan. Mereka menentukan harga jual tanah sesuai dengan gejolak pembangunan. Para calo tanah disebut sebagai biang atau biyong oleh orang setempat. Para pemilik tanah asli tinggal segelintir orang saja. Sebahagian terbesar tanah dimiliki para spekulan dan pemilik pertama hanya jadi penggarap atau penjaga tanah. Anak tuan tanah menjadi budak di atas lahan miliknya sendiri. Sudah garisnya petani selalu menjadi orang  yang berada di pinggirin, yang tak akan pernah mau dilirik para lulusan perguruan tinggi. Petani selalu bersentuhan dengan tanah tanpa memiliki bahkan sejengkalpun. Mereka menjadi penumpang di atas lahan rumahnya sendiri.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in TANAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s