GOSIP IBU ARISAN

Hari ini Kamis  6 Agustus 2009, jam 11 pagi, isteriku baru pulang dari arisan ibu-ibu. Isteriku langsung menuju ruang kerjaku. Sesungguh bukan ruang kerja, pantasnya disebut ruang komputer. Aku sedang asyik main game. Sebagai sahabat ngobrol sambil memikirkan macam-macam tidak jelas. Terkadang pikiranku melayang jauh sampai kampung, terkadang mumet memikirkan hari-hari esok. Semuanya melewati sekelebat tetapi seperti sedang mengontrol segala sesuatu yang kalau dilakukan butuh waktu tidak sedikit.

Bagaimana Tejo, kata isteri saya. Tejo adalah anak  tetangga saya yang sudah berkeluarga. Dia sebetulnya anak angkat seorang gadis perawat asal Semarang. Perawat baik hati, mantan suster biara ini mengangkat seorang anak bayi. Ketika akan menulis nama ayahnya, Yustin serta merta menulis nama Paulus seorang frater. Dan ternyata sang suster memang ketarik berat sama frater. Jadilah keduanya kemudian menikah dan mendapat momongan pertama sang bayi terlantar ini. Tejo beberapa saat lalu datang kepadaku, dan mulanya ingin dicarikan pekerjaan, menyusul dia berterita tentang kehidupannya yang malang. Dia minta pinjam uang. Saya hari itu tidak beruntung, Tetapi kata isteri saya hari ini, Tejo sudah berkeliling kepada begitu banyak keluarga tetangga. Dia hidup kurang lurus, alias bengkok, jauh dari apa yang disebut baik, apalagi kejujuran. Pada hal saya sempat berpikir untuk menempatkan di kantor kami nanti. Saya lalu ingat  ceritanya, dia ingin pulang ke Jawa (Jawa Tengah) dan butuh uang transport.  Terkadang dalam percakapan dia menyebutkan bahwa dia dan isteri pindah ke Jakarta, karena tak tahan akan perlakuan iparnya, yang takut akan penguasaan rumah mertua Tejo. Saya mulai ragu, dan saya mengatakan padanya, maaf, hari ini Tejo datang ke alamat yang salah. Saya sedang tidak punya uang. Sebuah bahasa basi, alias basa basi untuk mengatakan saya tidak mau memberikan kepada seorang yang membohongi saya.

Gosip isteri saya terus berlanjut. Yaman tetangga kami yang sudah malang melintang, makan asam garam mengutang sana sini. Anak betawi yang satu ini bukan main dikenal dengan banyak utang yang tak bisa dikembalikan. Seorang anak gadisnya baru saja dinikahkkan. Kini sedang hamil muda. Katanya sering kesurupan. Banyak yang gosipkan bukan kesurupan atau  kemasukan setan kampung atau roh gentayangan. Dia tertekan karena untuk menutup malu Yaman, anak mantunya ketiban beban. Dan Ayu yang sedang  hamil malu terhadap sang  suami. Dan rasa malu yang terpendam tak terungkap. Bagai dapur magma dalam gunung berapi, rasa malu itu ingin meletus dan akhirnya  keluar bagai orang kesurupan. Kata-kata yang keluar dari mulut ayu persis seperti aliran magma panas berlari berkelok-kelok tak berarah. Ayu kesurupan berat.  Naman Yaman memang  sudah habis ditutup kesalahan dalam memenej keluarga dan utang tetangga ini. Dia sampai jual rumahnya dan pindah ke tempat lain, tetapi ketika ayahnya yang tuan tanah meninggal dia menempati rumah induk milik babenya. Orang betawi punya kebiasaan berkumpul. Mereka membangun rumah berdempetan, dan semua anak cucu buyut bersatu hampir dibawah satu atap dengan berbeda kamar. Saya jadi ingat kakek saya Ta’a Gudhu di Mauromba. Rumahnya bertiang tinggi. Ayah dari ibu saya mempunyai  3 orang  isteri.  Sah saja jaman itu. Rumah itu masih menampung keponakannya Tolo Ito, serta ibunya yang adalah saudari dari kakek, yang tetap mendiami rumah yang sama  sampai  beranak bercucu. Om saya Tolo Ito juga membawa serta seorang keponakan Ame Tolo Wea. Dan bukan main itu rumah padat dan selalu ramai dengan tangisan anak-anak menunggu asupan makan yang tidak tahu jam berapa. Anak-anak pada masa itu menyusui ibunya sampai beberapa tahun. Sebuah kearifan lokal,  yang membuat mereka jarang melahirkan, juga sebagai cara mendapat pasokan makan halus bagi bayi. Karena itu jangan heran melihat payu dara ibu-ibu masa itu memanjang bagai kipas tipis dengan puting panjang karena setiap kali disedot anak-anak  mereka, yang sudah bergigi.  Pemandangan itu menjadi biasa, karena banyak ibu menyusui bayi dengan mengangkat habis baju bodongnya, tanpa kutang. Terkadang mereka membiarkan dada terbuka sambil mengejar ayam.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s