HIDUP MULAI SESUDAH PENSIUN

Ketika tahun 80an sarana komunikasi di pulau Flores sangat terbatas. Jangankan Flores, orang Jakarta  mempunyai kendala memiliki telepon rumah. Ketika rumahku memiliki telepon sendiri, obat rasa rindu bapa selalu ke Ende menghubungi kami. Kedatangan bapa kami, seorang petani kelapa ke Ende mempunyai dua maksud utama. Urusan rindu dengar suara masuk urutan kedua. Urutan pertama sudah bisa ditebak. Bapa sedikit cerita masalah kehidupan mereka dan pada ujungnya bapa minta dikirimi uang.  Waktu itu perjalanan Mauromba – Ende ditempuh dengan dua cara. Naik perahu motor Mauromba – Ende atau menempuh jalan darat Nagaroro Ende dengan auto truck sementara separuh jalan Mauromba Nangaroro jalan kaki atau menumpang perahu motor.

Bapa selalu datang ke Ende dalam kekurangan uang. Ongkos perjalanan terkadang harus dengan meminjam. Bapa selalu yakin bahwa setelah pulang dari Ende mendapat ganti dari kami di Jakarta. Saya selalu bilang bapa seperti penodong saja, kami selalu harus menyerahkan uang bila dengar suara bapa. Karena memang saya selalu taka tega membiarkan bapa pulang kampung tanpa uang. Dalam ketiadaan uang bapa jalan kaki ke kantor telkom. Dia minta disambungkan dengan nomor rumah kami. Dan dia minta telepon dibayar Jakarta (collect call). Waktu itu cara seperti ini tidak banyak yang manfaatkan. Bapa dan mama diajarkan cara ini. Hasilnya tanpa mengeluarkan uang mereka sudah bisa bicara dengan anak-anak dan cucu di Jakarta. Pembicaraan dengan bapa sering sangat lama. Bukan karena bapa banyak masalah. Masalah bapa sebenarnya cuma satu. Minta uang.  Pembicaraan menjadi panjang karena kami semua ingin bicara. Masing-masing kami dalam keluarga ingin mendengar sendiri suara bapa. Setelah selesai bicara ada perundingan jumlah uang yang bapa ingin bawa ke kampung. Bapa diminta ke BRI untuk tunggu di kasir. Kami mengirim uang via telepon. Dalam waktu singkat uang sudah sampai di Ende. Waktu itu sudah luarbiasa. Kini semuanya online. Begitu uang ditransfer, kita biasa ambil dimana saja, di bank atau pun di ATM.

Apa pekerjaan anak bapa? Pertanyaan ini sering diajukan pegawai telkom kepada orang tua sederhana. Maklum bapa saya selalu mengenakan kain sarung kalau ke kantor telkom. Dan waktu itu saya ingat bapa selalu mengisap rokok lintingan daun lontar bila merokok. Kata pegawai telekom biaya telepon terlalu mahal untuk gaji pegawai kecil. Dan memang biaya telepon Indonesia termasuk mahal di dunia. Bapa memang tidak terlalu tahu dengan jelas pekerjaan saya. Kalau pun tahu dia tidak pernah merasa pas untuk katakan. Karena ketika ditanya, sang penanya selalu bilang, pegawai negerikah? Bapa selalu bilang dia tidak tahu kuli dimana.

Pegawai negeri sipil suatu kebanggaan yang luar biasa. Orang merasa sangat terjamin. Ada rasa aman. Setiap bulan terima uang dan kelak yang bikin tenang seribu hanyut adalah jaminan pensiunan. Pada usia pensiun, tinggal duduk menunggu gaji pensiun. Hasilnya sekarang kita bisa menyaksikan banyak pensiunan pegwai negeri sipil, yang duduk-duduk saja di depan rumah, merokok dan bersendagurau. Ada pula yang duduk seperti orang dungu, karena tidak ada yang diajak bicara. maklum di kampung tidak ada koran dan buku. Hidup bagai menunggu ajal yang masih terlalu lama datang dan kelelahan.  Menurut saudara saya Pius Dipu, dia menyaksikan beberapa rekan kerja khusus yang pernah menjadi pimpinan mudah lelah dan kesakitan akhirnya melepaskan segala harta termasuk simpanan pensiunannya. Dia terpaksa pergi hanya berselimut kain kapan. Dunia terlalu jenuh. Dunia terlalu hampa, membosankan.  Orang Flores, khusus orang Nagekeo perlu sadar hidup sesungguhnya dimulai setelah pensiun. Hidup mandiri, hidup kreatif, hidup menyenangkan karena terus bekerja dengan tata kelola diri. Itulah hidup berwirausaha. Berwiraswasta.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in EKONOMI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s