AELAME MASAKAN KHAS KEO TENGAH

Setiap daerah pasti memiliki sesuatu yang unik. Di wilayah Keo Tengah, khusus di daerah pesisir selatan Nagekeo memiliki sejenis bubur yang unik. Sudah terbiasa ditelinga kita kata-kata seperti bubur ayam, bubur manado dan bubur sumsum, penduduk daerah minus Keo Tengah ada jenis bubur disebut aelame atau tabha lame. Sepanjang pengetahuan saya jenis ini hanya ada di daerah ini. Kalau kini jenis masakan ini sudah memasuki wilayah Aesesa dan Maumbawa, itu karena ada perpindahan penduduk Keo Tengah, yang ingin bertanam padi. Wilayah pesisir sangat gersang, penduduk daerah ini  rajin dan kreatif, termasuk dalam mengolah masakan seadanya untuk menyambung kehidupan. Kalau ada cerita orang bahwa bubur ayam adalah jenis masakan hemat etnis Tionghoa, maka aelame atau tabhalame merupakan masakan hemat etnis Nagekeo pesisir selatan, Keo Tengah dan Nangaroro.

Aelame adalah masakan penuh air(ae)yang ditambah santan kelapa (lame). Isinya bisa macam-macam jenis. Aelame mempunyai berbagai jenis sebutan sesuai dengan kandungan utama masakan. Ada utawona lame (daun kelor), uta a’e lame (daun pepaya), uta mbue  lame (daun kacang),  mbue lame (kacang), dan masih banyak lagi jenisnya. Di dalam masakan ini bisa ada beras, jagung atau ubi-ubian dan kacang tali. Penyebutan jenis menunjukkan bahwa dalam masakan tersebut mempunyai  kandungan terbanyak. Dalam memasak , biasa direbus dulu bahan baku yang lebih keras , disusul dengan yang lebih mudah matang dan paling akhir adalah yang paling lunak. Bila telah semuanya telah matang,  terakhir dimasukkan santan kelapa dengan banyak air serta ditambah garam secukupnya.

Masakan aelame biasa disajikan siang hari. Selain mengenyangkan masakan ini juga memuaskan dahaga karena banyak airnya. Masakan ini sesungguhnya jenis makanan sehat karena mengandung gizi tergantung jenis bahan baku yang ingin diolah. Karena masakan ini merupakan masakan hemat pada masa sulit, jenis masakan ini sudah mulai ditinggalkan. Orang-orang pesisir Keo Tengah dan Nagaroro sudah memilih nasi sebagai menu utama harian mereka. Anak-anaknya sudah tidak berselera menikmati masakan aelame, karena memang tidak terbiasa dicicipi. Aelame  sesungguhnya bisa dipertahankan sebagai jenis masakan khas dan dipromosikan seperti masakan hemat ala China, bubur ayam. Saya dan isteri sangat sering menikimati bubur China seperti bubur ikan (bubur laota), bubur bebek , bubur komplit dengan beberapa jenis campuran. Aelame, tabha lame dengan berbagai campuran. Sebuah kenangan keunikan yang membanggakan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in DAPUR KAMPUNG and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to AELAME MASAKAN KHAS KEO TENGAH

  1. fr. Nus Ndoa says:

    terima kasih telah mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil dulu. kayaknya aelame merupakan susu ‘dancow’ saya ketika masih bayi…hahaha

  2. John Minggu says:

    Makasih banyak tlh mengingatkan ja’o semasa reta nua(kodinggi).
    Nambu te ja’o ndia Papua(sorong),datu masakan sejenis tabha lame tp bhn bakunya dari sagu dan biasa dsbt “papeda”.
    Harapan ja’o”semoga masakan ini(ae lame/tabha lame)bs dipertahankan sbg suatu keunikan keo tengah.

  3. nando doke says:

    ida emba kabar, dhatu dau Cijantung oo?

  4. Tanagekeo says:

    Jao dhatu ndia Cijantung…moo jejo nuka emba wadi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s