ISTERI DAN KETENANGANKU

Isteriku mengagetkan saya ketika mengetuk ruang kerjaku.  Dia masuk dan bercerita bahwa dia tidak tahu saya tidur disampingnya. Dia selanjutnya seperti hujan gerimis bercerita macam-macam. Saya menghantar seorang teman tadi malam, setelah kembali saya menjelajah dunia maya. Kemudian tidur setelah rasa berat di pelupuk mataku. Ketika terbangun jam 03.30 saya langsung menuju ruang komputer. Saya menyalakan lampu dan menghidupkan komputerku. Diruang kecil berukuran 280 x280 cm aku betah duduk, padahal penuh barang. Sebuah rak besi lima susun penuh buku. Ada komputer dan printer. Saya lebih sering menggunakan laptop Acer. Satu meja kerja, satu meja komputer diatasnya ada sebuah mesin fax. Jangan pernah anda menoleh ke lantai. Ada mesin pencuci mobil tergeletak., Kursi plastik segi empat tanpa sandaran tersusun beberapa biji, satu kursi kayu kecil, yang diambil dari ruang makan dan kursi kantor 2 buah, yang sedikit lebih nyaman untuk duduk,  serta masih seabarek barang bertumpuk, mungkin lebih pas  kalau dibilang berserakan dilantai. Masa betah, sumpek dan penuh barang seperti tidak terurus. Semuanya saya tidak peduli.

Konsentrasi saya hanya pada laptopku, yang kupakai buat membuka internet, mencari ide baru dengan membaca dari internet, menulis posting di blog saya yang ada beberapa.  Blog-blog saya ada yang tidak menunjukkan identitas  jelas. Saya sedang belajar. Belajar komputer, belajar bersilancar di dunia net, belajar bahasa, dan yang membuat saya lebih takut keahuan adalah saya lagi belajar menulis.  Ini sebenarnya cuma sebuah contoh saya adalah pendukung budaya malu, yang sudah berurat akar dalam budaya bangsaku. Orang Jepang bunuh diri karena malu. Harakiri tak akan  pernah a saya lakukan walau saya menjunjung budaya malu. Saya takut mati dan lebih takut lagi karena imanku mengajarkan hidup ini milik Tuhan. Aku tak punya wewenang atas nyawa diriku. Membuat kesalahan sampai sangat memalukan tak pernah membuat pikiran bahwa harakiri terlintas dibenak.  Orang Indonesia memiliki budaya malu tinggi, dan aku seorang dari warga bangsa Indonesia, pasti keikutan.  Itu adalah budaya, Seperti korupsi, yang tidak pernah bisa dibabat gara-gara itu adalah busaya. Seperti akar alang-alang, dia akan segera bertumbuh subur lagi walau lahan pernah dibakar untuk tasnam kacang  ijo seperti orang Nagekeo (kemba mbue kaju). Menteri-menteri dan pejabat  tinggi negeri ini mengajarkan warganya bahwa malu  itu ada. Kalau tidak ada nanti dibilang tidak punya kemaluan. Lebih memalukan. Karena dianggap tidak punya aurat eh maaf urat malu. Namun kenyataan tak ada seorang pejabat mengundurkan diri, apalagi gantung diri, atau terjun bebas di jurang gaya mantan presiden Korea Selatan hanya karena malu. Pejabat Indonesia selalu punya topeng baja di wajah menutupi rasa malu. Hanya yang punya urat malu dijidat, tetapi siapa dan kapan ada orang seperti itu mengundurkan diri dari jabatan karena kesalahannya. Tunggu sampai jaman kuda gigit besi dan kucing (malu malu kucing) semuanya bertanduk.

Budaya malu Indonesia, adalah budaya rasa takut ketahuan bego, walau memang tolol. Karena itu banyak orang takut bicara bahasa Inggeris. Takut salah. Malu ketahuan bodohnya. Untuk urusan  bahasa asing seharusnya tidak usaha tonjolkan urat malu. Tutup dan lupakan perasaan malu. Rasional sajalah. Bahasa asing, ya jelas bukan bahasa ibu. Kalau salah dimaklumi. Semakin banyak praktek semakin maju. Kesalahan adalah guru terbaik. Yang tahu salah, ya perbaiki dan belajar. Semakin diasah semakin tajam.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s