KAMPUNG HALAMANKU DI DUNIA MAYA

Ketika saya ke Jakarta untuk pertama kali, banyak orang menanyakan saya berasal dari mana. Pada saat Flores disebut mereka minta lihat uang dolar. Mereka pikir Flores itu ada di Amerika. Banyak orang yang tidak tahu dimana Flores. Sampai hari ini banyak orang Indonesia yang sesungguhnya tidak tahu persis dimana pulau ini berada. Saya selalu bilang kabupaten kami, waktu itu Ngada sama besar dengan pulau Bali. Itu baru satu kabupaten. Belum kalau omong tentang jumlah bahasa daerahnya, yang begitu banyak. Mereka mengagumi katanya orang Flores pada bisa bahasa Inggeris. Tetapi kalau omong Indonesia rada aneh. Maklum orang Flores bahasa Indonesia belajar di sekolah. Dan bahasa yang dipakai sangat baku, dengan tata bahasa yang sempurna. Lafal bahasa juga berbeda.

Kemajuan teknologi telah membuat semua isolasi dan keterasingan dapat diatasi. Tinggal siapa yang dapat memanfaat teknologi itu. Pengenalan teknologi komputer sangat menolong, paling kurang untuk saya. Ketika saya bekerja ada gadis-gadis manis yang mengoperasikan komputer merasa mereka menjadi segalanya.  Terdorong rasa ingin tahu yang besar, secara diam-diam saya belajar komputer. Tulisan ini pun bisa melanglang dunia maya karena komputer.

Rasa kesal dan kecewa atas ketidaktahuan orang luar  Flores tentang tanah tumpah darahku, saya bayar lunas. Saya belajar membuat blog sebagai media pewartaan bahwa Flores adalah pulau yang ada di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung saya juga memperkenalkan desaku yang berada di sudut yang tidak terjangkau transportasi. Saya berusaha supaya nama Maunori, Maundai, Mauromba, Kedimali dan sebagainya mendunia. Dan caranya menulis semuanya dalam blog. Kalau saya suka mencatat nama-nama  kampung dan desa di Nagekeo tidak lain hanya obat penenang rasa kecewa atas pertanyaan teman non Flores dimana kampungku. Bae lebih baik tana Flores lebih bae.Dan pasti Mauromba lebih baik……Semburan sinar surya pagi dari balik Ngadu Tangi dan Pulau Ende dan rona merah di kaki langit laut Sawu selalu bikin kangen bale kampung.  Kalau ada yang jual pesona sun rise (pesona terbit matahari pagi)dan sun set (indah sinar surya sore), maka aku bangga karena kampungku segalanya melimpah tanpa biaya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to KAMPUNG HALAMANKU DI DUNIA MAYA

  1. Rosa says:

    iya Om…masa ada yang bilang Flores di Kalimantan..

  2. tanagekeo says:

    @Rosa: Benar.. sumpah masih ada yang bilang Flores di Kupang atau di Bima…. Lama-lama Flores bikin negara sendiri. Biar gaya kalau bepergian harus punya paspor.

  3. Rosa says:

    hehehe..iya Om..kalau merngenai bahasa,,
    semakin lama tinggal di Jakarta kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar semakin berkurang…

  4. tanagekeo says:

    @ Rosa: Yang penting kalau pulang kampung tau diri. Jangan pake bahasa prokem sama orang desa di Keo, nanti dibilang suka pamer..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s