PULAU KATOLIK DENGAN WARGA ABANGAN

Hari ini Minggu, 19 Juli 2009. Aku dan isteri dibangunkan oleh alarm dari salah satu telepon genggam isteri saya. Saya bilang salah satu karena masih ada yang lain. Urusan telepon isteri saya ini terkadang membuat aku kesal. Bila bertetangga tidak membawa serta teleponnya. Sementara telepon rumah berdering tidak ada yang angkat. Lalu apa gunanya alat komunikasi. Tetapi lama-lama kami maklumi saja. Isteri saya paling kesal sama anaknya yang sering menggunakan hapenya. Dua hal yang paling tidak disukai adalah suka merobah ring tone serta menguras pulsa dengan mentrasfer ke hape sendiri. Sementara yang melakukan bermasa bodo, peduli amat, emangnya gue pikiran kata anak gaul. Biasa urusan ibu dan anak.

Setelah mandi pagi dan berpakaian rapih kami ke gereja. Isteri saya selalu diberi kesempatan mandi lebih dahulu. Sebab memang wanita membutuhkan waktu lebih untuk berpatut wajah di depan kaca. Saya baru menuju kamar mandi bila waktu sudah mepet untuk berangkat ke gereja. Karena dengan itu badan akan terasa segar. Kami beruntung, dan itu yang selalu saya ungkapkan dengan mengatakan syukur pada Tuhan, karena jarak rumah saya dengan gereja hanya sekitar 100 meter. Sejak saya mulai tinggal sendiri di Jakarta, saya selalu memperhitungkan hal-hal semacam ini. Saya berusaha menghindari penggunaan becak. Ini sebetulnya berkaitan dengan isi kantong. Mungkin bisa dibilang pelit. Bahasa dagang lebih keren dengan mengatakan lebih ekonomis. Karena orang ekonomi selalu hitung untung rugi. Saya pikir rugi pula kalau tidak bisa ngirit ongkos.

Berdoa dan mengikuti ibadah hari minggu adalah sebuah keharusan dalam kehidupan orang Katolik umumnya, teristimewa orang Flores. Dan saya, yang orang Flores selalu mengajak isteri dan anak ke gereja setiap hari minggu. Orang Flores merasa berdosa kalau tidak ke gereja hari minggu. Orang Flores merasa sangat katolik kalau sudah ke gereja. Dan itu memang caranya menunjukkan ke katolikan. Mungkin masih ingat orang-orang yang dilibatkan dengan pembunuhan Nazarudin. Ingat kasus ketua KPK Antasari, yang kini berada di bui. Ada orang Flores yang jadi pelaku atau kata keren eksekutor pembunuhan. Nyawa orang dihargai dengan uang. Nyawa tiupan nafas Allah ketika terjadi proses penciptaan dicabut para eksekutor asal Flores. Mereka lupa kalau manusia menjadi makluk paling berharga di mata Allah. Kalau dalam penciptaan makluk lain tercatat dalam kitab suci: Berfirmanlah Allah:” Jadilah ……” (Jadilah terang, jadilah cakrawala, hendaklah segala air yang dibawah langit berkumpul pada satu tempat, jadilah benda-benda penernag dll……). Ketika tuhan ingin menciptakan manusia : Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita…. Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,… dilanjutkan dengan kata-kata Allah memberkati mereka (manusia)…

Sedikit malu dan sakit mendengar orang Flores dikaitkan dengan berbagai kekerasan dan kebengisan. Temperamental itu kata yang selalu dikaitkan dengan orang Flores, yang  mengakui agamanya katolik. Suatu ketika saya dibuat malu didepan seorang pastor Jawa, Romo Hardo pr, pastor tentara, yang bertugas di Halim Perdana Kusuma. Ketika saya memperkenalkan diri orang Flores ketika di berkunjung ke lingkungan kami pada hari ulang tahun ke 30 pernikahan rekan saya Asto Budi. Dia bilang ya… Flores. Saya mengangkat muka dan bertanya mengapa? Dia mengatakan dulu orang Flores sangat Katolik. Iman diwujudkan dalam perbuatan. Tetapi kini katanya yang masih Katolik adalah pulaunya. Saya malu dan mengiyakan setelah mengoreksi diri. Mungkin benar juga. Saya jadi ingat di kampung dan beberapa bukit di Flores ditancap salib berukuran besar. Dan masih ada salib yang peling tua, yaitu Watu Krus, batu salib di pingir pantai di kebupaten Sikka. Katanya itu ditancapkan oleh orang Portugis. Mungkin waktu itu pulau ini diberkati dan dibaptis dan diberi nama Flores. Dan karenanya sampai hari ini pulau Flores masih Katolik. Dan memang tinggal pulaunya saja yang Katolik, tetapi warganya katolik abangan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s