PEO LAMBANG PEMERSATU MASYARAKAT ADAT NAGEKEO

PEO DI WOROWATU, KEO TENGAH

Peo mempunyai arti dasar yaitu mengelilingi atau mengitari. Karena itu kalau orang mengatakan semua bersumber atau mengharapkan dari satu orang, maka orang Keo mengatakan hanya mengitari satu saja (peo pu tungga woe ha nggae).Peo adalah sebuah monumen yang melambangkan kesatuan adat suatu masyarakat keo. Bentuk bangunan peo sangat sederhana. Yaitu berupa tiang kayu yang bercabang dua. Jenis kayu yang dipilih ialah kayu embu, saya tidak tahu nama Indonesianya, tetapi batang kayu ini berbunga kuning, berbuah polong berkulit hitam. Pohon ini bisa tumbuh di atas lahan yang sangat kritis.

Enda atau Yenda adalah sebuah bangunan tempat pemujaan dan membawa persembahan kepada leluhur. Biasa disebut sao enda, sao yenda. Disebut sa’o karena merupakan bangunan rumah. Bangunan dibuat terpisah dari Peo berupa tonggak kayu bercabang dua (kaju saka rua). Diatas ujung cabang tiang kayu biasa di tempatkan patung burung, memperlihatkan kekuatan merangkul. Dalam rumah Enda biasa ditempatkan patung kuda dari kayu. Yang menonjol dari patung ini adalah ada manusia yang menungganginya (ana jeo) dan kejantanan kuda ditonjolkan dengan alat kelamin kuda jantanyang panjang. Badan kuda dihiasi dengan ukiran bersahaja, dengan menempelkan pecahan kaca atau manik-manik  pada patung kayu.

Saat ini Peo dan enda disatukan. Contoh seperti Peo di Kayo, Maukeli, Kecamatan Mauponggo. Satu rumah kerucut langsung dibangun melindungi monumen kayu (Peo). Masa lalu ketika belum mengenal semen, semuanya dibangun sangat bersahaja dengan ditancapkan dalam tanah. Karena itu daya tahan peo sangat terbatas. Akibatnya selalu ada usaha untuk membangun kembali monumen tersebut.

Perkampungan adat biasanya terdiri dari orang-orang yang mempunyai pertalian keluarga.  Rumah pertama yang menjadi tempat asal usul keturunan dijadikan sebagai rumah induk atau sa’o pu’u. Sa’o pu’u biasanya dibangun dengan ukuran yang cukup besar. Makanya disebut juga sa’o mere (rumah besar).   Perkampungan adat Keo biasanya dibuat segi empat, yang membuat mereka membagi kampung menjadi :  atas (rede udu) bawah (ridi eko) sebelah timur (bhisu mena) dan sebelah barat (bhisu rade).Kampungan Wajo, di kecamatan Keo Tengah mungkin merupakan kampung yang paling unik . Rumah-rumah mengitari atau melingkari Peo.Perkembangan keluarga berjalan terus. Kampung baru harus dibangun sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Maka ada pertumbuhan kampung baru yang disebut ‘boa”(mbo’a). Boa adalah kampung baru (nua muri). Karena itu semua kampung yang mempunyai sebutan muri (baru)berarti merupakan sebuah pemekaran kampung.

Suatu keluarga besar yang telah berkembang biak dan menjadi suatu kesatuan secara perlahan memperlihatkan kemandirian. Dalam berbagai urusan mereka memiliki otonomi untuk mengatur serta mengurus semua kepentingan bersama. Mereka memiliki wilayah hukum sendiri.  Pernyataan kemandirian dinyatakan dengan membangun tanda atau lambang persatuan dalam sebuah  wilayah yang secara otonomi mengatur hidup matinya keluarga besar. Mereka mempunyai sebuah sistim pemerintahan adat sendiri. Peraturan-peraturan adat timbul dari kebiasaan-kebiasan keluarga besar yang diwariskan secara turun temurun. Peraturan tidak tertulis tetapi diteruskan secara turun temurun dan berlaku sesuai dengan masalah yang dihadapi. Sebuah keputusan sebagai solusi adat dalam satu kasus bila dianggap baik dan  berlaku apabila masyarakat menerimanya. Banyak peraturan adat timbul dalam acara duduk  makan bersama (nado mere). Pembicaraan adat biasa timbul pada saat para pemuka adat (mosa daki/mosa laki) berkumpul bersama untuk menyelesaikan satu masalah. Masalah-masalah adat , yang berkaitan dengan peraturan adat berupa adat perkawinan, kelahiran, kematian ,  pembangunan rumah baru, membuka kebun baru (woka) dan sanksi atas penyimpangan atau pelanggaran dalam adat istiadat kehidupan bersama. Berbagai kearifan adat tumbuh sejalan dengan perkembangan masyarakat adat.

Peo paling baru di pesisir selatan Nagekeo adalah peo di kampung Kayo, Maukeli, Kecamatan Mauponggo. Kampung ini dulunya dihuni oleh orang Bengga, yang kemudian berkembang biak dan memiliki tradisi. Setelah merasa sangat kuat, mereka merasa perlu untuk mengukuhkan kemandirian mereka dengan mendirikan Peo.  Dengan adanya peo, mereka mempunyai hak otoritas independen untuk mengatur dan mengurus rumah tangga hidup bersama sebagai satu komunitas  yang mempunyai kedaulatan hukum adat.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged . Bookmark the permalink.

20 Responses to PEO LAMBANG PEMERSATU MASYARAKAT ADAT NAGEKEO

  1. kris bheda says:

    Om…jao tidak bosan-bosa komentar kalau datang ke blog ini…jao penasaran sekali dengan khasanah adat dan budaya kita reta nua…jao tidak tahu apa isi muatan lokal di sekolah-sekolah kita reta nua…semoga tentang adat dan budaya kita….jao anjurkan ke om semoga suatu saat..om bisa bukukan tulisan om ini…luar biasa

  2. tanagekeo says:

    @Kris: Terima kasih atas dorongannya.
    Saya selalu kunjungi blogmu. Sebaliknya blogmu sangat inspiratif buatku.

  3. mosadaki says:

    ada keanehan yg terjadi di keo saat ini. suatu saat ada seorang pejabat yg sangat idealis…. terpaksa sy marah, alasannya karena materi muatan lokal… seperti kata orang keo “dako sada sepe” awalnya kami hanya bercerita tentang pembangunan di nagekeo, eh tdk sengaja mencubit persoalan pendidikan yg menurut sy sangat tdk meresponsi potensi lokal. mungkin terlalu jauh berbicara muatan lokal… mengapa SMA Negeri Keo tengah harus berstatus sekolah umum? apakah tdk bisa diubah mejd SMK, dengan jurusan pemanfaatan lahan kering serta jurusan teknologi penangkapan (perikanan). tapi itulah hasilnya kalau kebijakan selalu dibumbui project orienteed…

  4. lazarus ruslan ua tunga says:

    Pa Christ bisa tolong add konsep keselamatan yang sifatnya teologis yang ada dalam adat mau ato adat sekitarnya.

  5. yanto wawo mauponggo says:

    jao sangat bangga jadi anak nagekeo yang mempunyai adat istiadat serta kekayaan alam yang berlimpah jao juga mendukung komentar kae kris semoga kebudayaan kita tersebar ke luar negri.salam sejahtra dari jao,SMAK SYURADIKARA ENDE

  6. frid loy mauponggo says:

    salam bwt anak2 nagekeo khususnya mauponggo untuk slau menjaga keindahan alam memberikan yang terbaik untuk semua.jao dari SMAK SYURADIKARA

  7. fridloy mauponggo says:

    jao sangat bangga jadi anak nagekeo yang mempunyai adat istiadat serta kekayaan alam yang berlimpah jao juga mendukung komentar kae kris semoga kebudayaan kita tersebar ke luar negri.salam sejahtra dari jao,SMAK SYURADIKARA ENDE

  8. yantowawo mauponggo says:

    jao sangat bangga jadi anak nagekeo yang mempunyai adat istiadat serta kekayaan alam yang berlimpah jao juga mendukung komentar kae kris semoga kebudayaan kita tersebar ke luar negri.salam sejahtra dari jao,SMAK SYURADIKARA ENDE

  9. Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih 🙂

  10. bonefasius tango says:

    seperti yang telah dikomentari oleh jao punya ka’e – ka’e diatas, jao sangat setuju. mungkin jao tambahkan sedikit kalau bisa tulisan om ini tentang budaya adat khususnya peo harus di buat dalam bentuk buku, sehingga masyarakat luas khususnya teman – teman mahasiswa yang berasal dari nagekeo dan sekitarnya tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan sumber tentang peo dalam melaksanakan penelitian. terima kasih kami ucapkan buat om yang telah menulis sekilas peo dalam blog ini. semaga makin sukses dalam tulisan selanjutnya. thanks

  11. tanagekeo says:

    @Bone Tango: Terima kasih atas tanggapannya. saya sudah baca satu buku sederhana yang menulis tentang adat masyarakat Kei. Saya terinspirasi untuk sekali waktu mengumpulkan berbagai data tentang hal yang sama.

  12. remi paja, says:

    nga’o ata nagekeo juga… yang sya herankan tuh, kenapa masyarakat nagekeo ada yang menjual kekayaan adat?????

  13. Tanagekeo says:

    @ Remi, Saya termasuk orang yang sangat meyesal bahwa semua itu bisa terjadi. Peo adalah lambang persatuan. Peo juga mempunyai nilai sakral sejak proses pemotongan pohon hingga tegaknya Kaju Saka (Peo).

    Ongga saite, ana embu koo sai ta dima todo fea lewo.

  14. Del Adolorata siu. says:

    Salam buat om sekeluarga. Terima kasih om, banyak sekali pelajaran yg dapat jao petik dari blogx om, sebagai anak mau Lomba, jao sangat bangga, karena dgn adax blog ini banyak sekali manfaatx bagi para generasi nagekeo saat ini. Saya selalu setia mampir di blogx om, setiap ada kesempatan. Maju terus om, Nagekeo sangat membutuhkan karya-karya putra terbaiknya seperti om. from (Del Asiki Papua.)

  15. Tanagekeo says:

    Del, tabe woso. Jao sena miu dhat dado blog te. jao oa angge ndeka miu sadha ladho ena te, mae ghewo tau nee pata pede (komentar). Sama ke pata kita. tabe woso.

  16. Kasianus Tue says:

    salam hangat Nagekeo….
    melalui BLOg ini sya sangat mendukung kalau misalnya,hal2 seperti ini perlu ada buku bacaan KTK dan Mulok di setiap sekolah, dari tingkat SD – SMA.hal ini bagi saya sangat positif sekali mengandung nilai pendidikan bagi generasi Nagekeo masa depan,jangan sampai dibilangi anak nagekeo ngomong tentang budaya tidak ngerti…
    terima – kasih
    salam hangat dariku…
    @nst – Nunukan

  17. Tanagekeo says:

    @ terima kasih woso negha sadha ladho ndia blog te

  18. Figo Acm says:

    peo dan enda(sisi sastra masyarakat adat keo tengah)…ide untuk buat skripsi…hehehehe

  19. tina says:

    maaf kaka mengganggu,,mau tanya apa arti dari madhu,,tolong jelaskann,,,

  20. kami anak asli keturunan ana embu kedhi koto, wuji, orang pertama di nagekeo, kami mungkin sudah dilupakan mohon kakak mus gore anggota dprd perjuangan sebagai anak keturunan kedhi koto,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s