PELAJAR DAN PASIEN SAMA DARURAT

Hari ini keponakan saya Agustina Wea pertama kali menghirup udara asrama puteri di Ende. Tadi pagi Bapaknya Anton menghantar sampai asrama. Penerimaan keponakan saya menjadi siswi SMU Syuradikara dan penghuni asrama sedikit istimewa. Hal ini hanya bisa terjadi di Flores. Saya merasa bersyukur karena itu.

Menerima seorang anak dalam institusi pendidikan hampir mirip dengan menerima seorang pasien dalam keadaan darurat masuk rumah sakit. Yang menentukan adalah rasa kemanusiaan orang  yang  punya wewenang. Dan dalam hal ini pengurus sekolah atau rumah sakit.

Sedikit beda kasus pasien dan murid sekolah. Seorang menderita penyakit dan sakit pasti tidak direncanakan. Tetapi dalam dunia modern orang dapat merencanakan persiapan untuk menghadapi keadaan darurat waktu sakit. Menyimpan uang atau ikut asuransi adalah cara untuk menghadapinya.  Namun umumnya orang tidak siap menghadapi situasi darurat, karena penyakit secara mendadak mendatangi seorang.
Dalam urusan masuk sekolah, pada dasarnya sudah diketahui dari awal oleh orang tua maupun anak. Tetapi bagi masyarakat sederhana, khusus penduduk di desa Witurombaua, mengurus anak melanjutkan pendidikan sama daruratnya dengan menghadapi pasien. Mereka tidak siap. Berbeda dengan orang kota dan berpendidikan. Orang tua sudah merencanakan dan menyiapkan dan melalui tabungan atau asuransi. Saudara saya Anton seperti warga masyarakat kebanyakan tidak siap untuk membiayai pendidikan anak. Nampak semuanya darurat dan mendadak.

Sebuah keberuntungan bagi Astin, karena dia bisa masuk sekolah dan tinggal diasrama atas kebaikan dan rasa kemanusiaan orang yang mempunyai wewenang. Saya menghubungi bendahara sekolah dan asrama, yang kebetulan mereka adalah orang biara.  Urusan uang bisa ditunda, tetapi sang anak sama seperti pasien harus dilayani. Pendidikan harus terus berlangsung. Bruder, bendahara sekolah dan Suster pengelola asrama memberikan keringanan kepada kami untuk mendahulukan keselamatan sekolah Astin dari urusan penyelesaian keuangan.  Terima kasih kepada orang yang berhati mulia, sehingga kami mendapat keringanan ini.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s