GUA MARIA CISANTANA

Di salah satu persimpangan jalan tengah kota Kuningan terpampang penunjuk jalan “GUA MARIA”. Saya langsung teringat akan tempat ziarah orang Katolik pada bulan Mei dan Oktober. Setiap tahun pada bulan Mei dan Oktober Gereja Katolik mengajak umatnya untuk memberikan penghormatan istimewa kepada Maria. Maria yang dipilih Allah menjadi bunda Yesus. Malaikat Gabriel datang dan mewartakan kabar bahwa Maria terpilih menjadi ibu seorang anak laki-laki bernama Yesus. Maria menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak ilahi dan berkata:” Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Tanpa peduli apa akibatnya dia menyetujuinya.  Perjalanan menjadi ibu Yesus ternyata tidak mudah. Dicibir sebagai gadis hamil di luar nikah andaikan Yoseph tidak mau mendampinginya. Melahirkan di kandang binatang. Mengungsi bersama bayi ke Mesir. Ditinggalkan Yesus sendirian ketika Yesus mulai mengajar. Dan Maria menyaksikan anaknya dihina, diarak-arak serta disalibkan. Maria menjadi seorang ibu penuh duka (mater dolorosa). Maria membawa Yesus ke dunia dan menjadi penyelemat manusia.

Hari Minggu 12 Juli 2009 saya berada di Tanjungkerta, Kecamatan Luragung, 28 km dari kota Kuningan. Saya mencari tempat beribadat dan atas dasar petunjuk “GUA MARIA” saya meluncur seorang diri ke sana. Dari kejauhan saya melihat sebuah rumah joglo ada salib diatasnya. Saya yakin ini gereja. Di samping rumah sakit Boromeus ada gerbang, tidak ada parkiran. Tapi ada sebuah mobil terparkir persis di samping gerbang. Ada tiga lelaki menjaga gerbang masuk. Saya menyapa dari mobil dan menanyakan apakah ini gereja katolik. Mereka meyakinkan saya bahwa ini gereja katolik, dan meminta saya memarkir mobil di jalan menuju rumah sakit. Ibadat telah dimulai. Gamelan Sunda menggema dalam ruangan mengiringi nyanyian umat. Seluruh ibadat dalam bahasa Sunda. Saya mengikuti ibadat sampai selesai. Pada akhir misa saya menghubungi romo pemimpin ibadat untuk melakukan pengakuan dosa. Saya sadar diri jauh dari sempurna. Dan kemudian saya meneruskan perjalanan menuju gua Maria.

 Setelah mencari informasi saya menuju Cisantana. Saya baru tahu desa itu . Dan atas petunjuk tukang ojek saya menuju ke tempat parkir terdekat dengan biaya  Rp. 5.000,-. Saya memberinya tanpa dia minta. Ketika saya akan menuju gua seorang ibu langsung menggenggam dua pak lilin mengejar saya dan terus mengikuti saya. Saya menghindar tetapi tidak bisa dia terus saja mengikuti. Wanita itu mengaku bernama Yulia akhirnya menjadi pemandu ziarahku. Kami mulai dari taman Getzemani dan melalui 14 stasi kisah sengsara sampai ke puncak. Aku melakukan doa singkat di setiap stasi. Perjalanan cukup jauh, mendaki melalui jalan berbatu.  Dan setelah selesai jalan salib  ada gua Maria dan tempat ibadat terbuka. tidak jauh dari sana ada kepela dengan tabernakel.  Saya sempat memuaskan dahaga dengan minum air segar di kran dekat gua. Ada gelas aqua, dan saya memanfaatkannya.  Pemandu mengarahkan jalan melalui tempat penjualan benda-benda rohani. Ada kerja sama antara pemandu dengan mereka. Saya ke rumah teman di Tanjungkerta sebelum  kembali ke Jakarta. Aku bersyukur mendapat kesempatan istimewa itu.  Yang menentukan adalah apakah aku menjadi manusia baik, pewarta sukacita dan damai,  walau ada yang menganggap agamaku jelek.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s