BERTAMU BUKAN MEREPOTKAN

Seminggu lalu keponakan saya Edel menelpon ingin membawa anak-anaknya berlibur ke Jakarta. Edel sekarang bekerja di sebuah rumah sakit di Bandung. Kedua anaknya ingin jalan-jalan melihat beberapa obyek wisata di Ancol. Seorang adiknya yang menikah dengan orang Lio datang  dari Surabaya dan sedang berada Bandung.  Rencananya mereka akan datang pada hari Kamis 18 Juni 2009.  Pada hari Rabu, karena ada informasi yang saya perlukan, kami berkomunikasi via telepon. Ketika ditanya apakah mereka jadi datang ke Jakarta dan menginap di rumah, Edel mengatakan mereka langsung ke tempat tujuan wisata dan tidak menginap di rumah. Alasan Edel tidak menginap di rumah, karena katanya mereka datang berenam. Terlalu banyak untuk menginap di rumah kami. Ada kesan bahwa Edel sadar ini terlalu merepotkan kami.

Dalam budaya orang Flores, menerima tamu betapapun merepotkan dipandang sebagai kehormatan dan menyenangkan. Ini berasal dari akar budaya yang selalu membanggakan “sao mere tenda dewa” (rumah besar dan berbalai panjang). Orang Keo selalu bicara tentang skop yang luas. Udu mere eko dewa ( Kepala besar dan berekor panjang) menggambarkan pertalian yang sangat besar dan berbatas luas. Pada suatu hajatan, orang Keo akan sangat kecewa bila undangan atau tamu sangat sedikit. Pada saat-saat duka, dimana ada kamatian ukuran kekerabatan luas dilihat dari betapa banyaknya orang yang datang turut dalam perkabungan. Orang Keo tetap berusaha melayani semua orang yang datang ke tempat perkabungan dengan menyediakan makan minum. Ada kerepotan disana. Tetapi ada dukungan dan kebahagiaan dialami yang berduka atau yang didatangi.

Ada pepatah bilang “tak ada mawar yang tak berduri”. Keindahan ada di tangkai penuh duri. Saya sering berkunjung ke keluarga sederhana. Dalam kesederhanaan mereka selalu berusaha menyajikan sesuatu buat tamu. Ketika saya bekerja di pabrik pakaian jadi, banyak anak buah saya, umumnya wanita sederhana, bila pulang dari kampung mereka membawa oleh-oleh. Oleh-oleh yang dibawahnya pasti bukan buatan sendiri atau ibunya. Mereka membelinya dari uang mereka yang sangat minim. Ketika mereka memberikan oleh-oleh terpancar sukacita membungkus susah karena sesungguhnya ketika mereka kembali dari kampung mereka tidak memiliki uang lagi. Seorang sahabat sangat sukacita menerima tamu. Keba hagiaan yang menerima tamu adalah bisa menyuguhkan sesatu. Memasak air minumpun pasti menyalakan gas atau kompor. Pasti ada kerugian. Ada kerepotan. Tetapi kerepotan dan kerugian hanyalah bagian dari jalan menuju sukacita. Karena kebahagiaan bertemu sahabat, atau anggota keluarga merupakan sebuah sukacita. Dan setiap sukacita atau kebahagiaan pasti memerlukan pengorbanan. Tidak ada kesenangan tanpa usaha. Tidak kesenangan tanpa korban. Tidak ada mawar tanpa duri.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s