Seleksi Alam Seleksi Allah

“Ada apa lagi! Saya kira saya sudah selesai dengan Om. Kalo begini lagi Om secara tidak langsung mengajak saya untuk kurang ajar dengan Om, jangan marah Saya kalao Saya tdk sedikitpun menghargai Om. Saya harap jangan bermain Api di Sini.OKE”  Ini bunyi pesan singkat di telepon genggam saya dari seorang yang berdasarkan tali kekerabatan keluarga dianggap keponakan.  Karena memiliki waktu cukup saya mendampinginya dalam banyak urusan bisnisnya. Dia yang mengajak saya. Fasilitas pribadi berupa kendaraan yang saya setir sendiri dan juga semua biaya menjadi tanggungan saya. Pertemuan kami selalu di hotel berbintang. Hampir seharian kami berada di sana. Biaya entertain tanpa instruksi saya mengambil inisiatif untuk merogoh kantong termasuk untuk biaya pribadinya. Peran tokoh saya adalah pelobi. Bila omong berapi-api. Dia terkenal temperamen, tetapi dihadapanku dia santun sekali.  Harapan kami adalah usahanya berhasil. Dari hari ke hari dia selalu membuka lembaran pertemuan baru. Tidak pernah ada klosing atas sebuah kasus. Harapan demi harapan seperti terbuka  namun terus menganga kosong melompong. Dia mengharapkan  kami dapat  selalu bekerja sama.

Enam bulan berlalu. Hasil nihil. Biaya terus membengkak sebesar saya mampu membiayai. Saya pernah mengeluhkan bahwa persediaan kas  terus menipis tanpa dipulihkan. Akhirnya saya memutuskan hubungan kami  karena berbagai pertimbangan. Alasan terutama adalah perbedaan karakter. Bila berhadapan dengan siapa saja dia selalui menggurui. Karena pendidikan yang kurang dia tidak  tahu menempatkan diri. Dia suka sekali untuk memperlihatkan keunggulannya termasuk siap mengambil resiko demi orang lain. Berbagai kelebihan yang dia tonjolkan sebetulnya memamerkan kekurangannya. Atas dasar itu saya menghindari pertemuan. Saya kemudian berusaha menasehatinya dan dia membalasnya dengan kasar melalui pesang singkat (SMS) diatas.

Sesudah pesan kasar diterima, saya berusaha berjumpa dengannya. Dan menurut seorang teman , dia berteriak dan memarahi termasuk memberi gambaraa negatif tentang pribadi saya. Dia berusaha santun dihadapanku. Sesudahnya kami masih ingin membuat janji untuk melakukan kegiatan bersama. Dua kali dia merobah jadwal seenaknya. Dan dia kemudian kami tidak bersama lagi.

Tujuan kebersamaan kami adalah untuk dapat bekerja sama dalam bisnis. Bisnis yang baik diawali dengan perkenalan dan pertalian sahabat baik. Pada mulanya kami baik. Tetapi waktu menguji kebersamaan kami. Dan bisnis bersama kami belum menghasilkan apa-apa. Rekan bisnis saya sudah berani omong kasar dan kurang santun sebelum semua berhasil. Saya berpikir pada saat dia tidak memiliki apa-apa sudah begitu menganggap diri luar biasa, bagaimana nantinya bila dia memiliki sesuatu atau saya sempat menerima sesuatu darinya dan  memanfaatkan. Saya tidak berusaha menyeleksi dan memilih untuk tidak berkongsi. Ada satu yang harus dipahami pasti ada hikmah dalam semua tutur dan tindak. Karena seleksi alamiah tersirat seleksi Allah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s