MEREKA TIDAK LUGU LAGI

Hasil  PILKADA bupati Nagekeo yang pertama adalah terpilihnya Yohanes Samping Aoh sebagai bupati kepala daerah secara definitip. Dia sekarang menjadi bupati pilihan demokratis yang pertama. Ketika perhelatan PILKADA  berlangsung Nagekeo diramaikan dengan kampanye dan sosialisasi para Cabup dan Wabup. Yang disaksikan adalah riuh rendahnya suara mendukung para calon yang sedang berkampanye.

Peristiwa serupa beulang ketika para CALEG yang berjubel muncul seiring dengan besarnya jumlah partai politik. Ada partai yang mengusung calon lebih dari 5 orang  untuk satu Daerah Pemilihan (DAPIL). Alhasil jumlah akumulasi untuk 44 partai bisa ditebak. Ada juga  kakak beradik atau kerabat dekat maju menjadi CALEG  melalui pintu Parpol yang berbeda. Itu berarti masih mempunyai pemilih dari kelompok yang sama. Hasilnya sudah bisa ditebak. Setiap CALEG mendapat suara, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk mendapat kursi di dewan.

Menarik untuk menyimak situasi kampanye dan sosialisasi figur dan visi misi baik calon bupati atau Calon legislatif.  Kunjungan ke kamp;ung bertemu dengan orang-0rang yang sedang berkumpul untuk bertatap muka dengan para calon  merupakan cara terbaik mengukur apa yang dikatakan Yudoyono “elektabilitas” (layak pilih) seorang kandidat.  banayak para kandidat yang merasa optimis bahwa orang-orang berkumpul memberikan dukungan. Hal ini dapat diketahui dari kehangatan dialog  kandidat dengan warga.  Berdasarkan pengalaman PILKADA dan PILEG di Nagekeo, harapan para kandidat untuk mendapatkan suara ternyata tidak seperti yang dipikirkan. Dari hasil pemungutan suara ternyata jumlah suara tidak sebanding dengan jumlah orang yang pernah mendengar kampanye atau tatap muka. Mengapa? Karena memang masyarakat kita tidan lugu lagi. Mereka mempunyai pilihan sendiri. Mereka datang bertgemu dan mendengar serta berdialog namun itu belum menjadi ukuran bahwa kelak mereka akan memilih.  Ini sesungguhnya fakta bahwa masyarakat benar bebas dan demokrasi dalam memilih.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s