MENGAPA KEMBALI KE DAERAH?

Tadi malam temanku Samuel Bhala menelpon saya. Dia menanyakan beberapa hal tentang kampung halaman kami Keo Tengah. Samuel dan seluruh keluarga besarnya telah pindah. Semua saudara-saudaranya telah pindah dari kampung. Satu orang pindah dan berusaha di Lewoleba, pulau Lembata dan semua yang lain berada di Jakarta. Kedua orang tuanya menghadap Tuhan di Jakarta ketika sedang berkunjung. Dan rumah mereka di kampung dihibahkan pada biara suster. Mereka benar meninggalkan kampung halaman, tempat kelahiran mereka. Saudara-saudaranya menjalani kehidupan layak di Jakarta.

Saya mengatakan kepadanya saya berniat kembali ke daerah. Saya telah memulai khidupan di daerah lebih dari dua bulan. Dari segi kenyaman memang semuanya jauh dari pada apa yang dialami di Jakarta. Jakarta memang bukan bandingannya dengan Keo Tengah, kabupaten Nagekeo. Transportasi, Listrik, telekomunikasi, informasi, akomodasi dan segalanya serba kekurangan. Apa yang dicari disana?

Pertanyaan mengapa kembali ke daerah merupakan sebuah pertanyaan sangat wajar. Ada pekerjaan tetap ada tempat tinggal yang nyaman, keluarga rukun dan baik, semua kebutuhan pokok terpenuhi dan kemudian kita melepaskan itu semuanya. Ketika saya ingin kembali ke daerah saya katakan pada rekan, pimpinan perusahaan saya bahwa saya ingin pulang ke daerah. Hal yang saya dipertanyakan kepada saya. Dan saya mengatakan saya berhutang budi orang-orang di kampung saya.

Ketika saya  berada di Mbay saya berjumpa dengan seorang teman. Blasius Riwu teman saya seorang guru. Dia berasal dari keluarga yang sangat-sangat sederhana di Mauara. Ketika kami di sekolah dasar, saya masih ingat dia pernah kelaparan dan keringat dingin (mata sile/mati lapar). Ketika dia diantar ke rumah guru, nyora guru memberikan ubi kayu rebus. Dia tertolong dengan itu. Dan ternyata nyonya penolong itu menjadi ibu mertuanya kini. Semua saudara Blasius, yang berasal dari keluarga sederhana itu kini semuanya mempunyai pendidikan dan pekerjaan yang baik. Saya tertarik dengan cerita Blasius Riwu, teman saya ini. Diaa tinggal di Mbay dan menjadi guru di sana. Dia menampung dan menolong beberapa anak. Tetapi dia sendiri tetap hidup dengan baik. Blasius telah menginspirasi saya untuk kembali ke kampung. Berbuat sesuatu sambil berbagi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s