Kembali ke KEO

Dengan mengendarai mobil saya melakukan perjalanan seorang diri dari Jakarta ke Flores. Dan tujuan akhir saya adalah Mauromba. Perjalanan memakan waktu satu minggu. Ada kelelahan dan kepuasan. Sempat tersesat di Sumbawa besar. Perjalanan di pulau Jawa cukup menyenangkan. Dengan membawa peta saya dengan mudah mencari jalan. Petunjuk jalan di Jawa cukup sangat mempermudah. Sedangkan di pulau lain di Nusatenggara Barat dan Timur tidak ada petunjuk jalan yang memadai. Dan saya akhirnya sempat tersesat di Sumbawa Besar. Saya juga harus berkali kali mencari informasi pada orang di sepanjang jalan untuk bisa mencapai Lombok Timur. Saya juga mengalamai kesulitan keluar dari kota Ruteng.

Perjalanan ini saya lakukan untuk memenuhi hasrat saya untuk balik dan menetap didaerah asal saya. BERBUAT DAN BERBAGI. Itu yang terngiang di benak saya. Saya ingian berbuat sekecil apa saja selama itu berguna dan saya ingin berbagi pengalaman, berbagi sukacita dan keberuntungan kalau bisa.

Apa yang dicari di Nagekeo? Ini pertanyaan banyak orang yang ku jumpai. Tetanggaku menganggap saya sudah mencapainya di Jakarta. Berkecukupan makan dan memiliki tempat berteduh layak adalah sebuah kepuasan.  Berbagai kritikan teman membuat saya ingin balik ke daerah. Saya selalu bermain aman. Saya hanya mencari makan dan membiayai sekolah anak dan kehiduupan keluarga.

Saya mengawali perjalanan saya dengan mengunjungi makam kakek saya Clemens Dombo Sina di Boamau. Dan ternyata di sana saya mengawali pernyataan dan sikap saya bagaimana saya harus berbuat di Nagekeo. Adik bungsu bapa saya Herman Mbusa menyembelih seekor babi dan mengundang kaum lelaki sekampung. Kami makan malam bersama sebagai tanda merangkul kembali seorang anggota yang telah lama tidak pernah masuk kampung. Kanggo a’o.  Karena mereka tahu bahwa saya ingin kembali dan menetap di Nagekeo serta turut dalam pemilihan anggota legislatif untuk kabupaten, mereka memberondong saya dengan berbqagai pertanyaan. Mereka mengajak saya berpik ir lebih banyak. Warga kampung ini menjamin dukungan untuk saya.

Ketika tiba di kampung halaman saya di Romba, saya memarkir mobil  di bibir pantai karena terhalang batu-batu sebagai pembatas antar halaman. Setelah lebih dari seminggu saya berinisiatif membuka jalan menuju rumah dengan membuka batu-batu (kota).  Saya meminta ijin pada Om Usman Bake dan dia mengatakan tidak apa. Ayah saya yang tergolek lemah mendengar deru mobil dan menyadari bahwa ada kendaraan untuk pertama kali berada di halaman rumah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s