Pengalaman di Ngada dan Nagekeo

Saya masih ingat ketika pertama kali saya pulang kampung bersama isteri dan Meta anak saya.  Karena  Bandara Ipi tidak bisa digunakan karena tergenang air hujun., kami terbang dari Kupang ke Maumere. Kami akhirnya menempuh jalan darat ke Ngada.

Menyewa mobil dari Waioti ke Ende. Dan dari Ende kami mencari kendaraan lain ke Bajawa. Perjalanan darat waktu itu tidak nyaman. Di antara Lio dan Ende ada longsoran tanah.  Isteri dan anak saya mengagumi bagaimana orang Flores membantgu dorong modil yang terjebak longsoroan tanpa bayar.  Perjalanan darat dari Ende ke Bajawa ternyata lebih berat medannya. Jalan di wilayah Ndora masih merupakan jalan berbatu. Perjalanan ditempuh dengan kecepatan rendah. Melelahkan. Dalam kegelapan anak saya bertanya :”sudah dekat atau masih jauh?” Waktu Pak Adrianus Dengi teman seperjalanan kami mengatakan sebentar lagi. Pertanyaan anak saya yang lelah dan bosan berulang berkali-kali. Di Raja isteri saya ingin buang air kecil. Seorang warga berbaik hati sambil memegang lampu petromax menghantar isteri saya ke sebuah kamar kecil. Kamar kecil itu penuh dengan puteri malu. Dan isteri saya merasa tidak bisa buang air kecil ditempat tersebut dengan penerangan lampu tanpa air.  Isteri dan anak saya heran karena saya katakan orang membuang hajat di kali atau di balik batu besar.

Kami ke Bajawa menempuh jalan algernatif tidak melalui Boawae. Dan ternyata lebih banyak masalah. Dalam kegelapan dan cuaca kabut kami sampai di Bajawa. Pak Adi sudah menyiapkan 2 selimut baru yang dibeli di Ende. Beruntung isteri saya membawa titipan dari Amandus sebuah jaket untuk Bapaknya Silvester. Dia diselamatkan dari hawa dingin mengnggigit di Bajawa malam itu. Urusan Jaket ini sempat membuat isteri saya lebih heran. Ketika kami samp;ai di kampung saya Mauromba, bapak kecil saya Frans (kakak dari bapa Silvester) minta jaket itu. Dan Bapa Frans katakan tidak apa, saya kakaknya. Sama saja. Isteri saya heran bisa begitu. Saya membenarkan bapa Frans yang mengambil jaket itu. Dari Bajawa kami menuju Mauponggo dengan sebuah jeep tua dan selanjutnya naik perahu motor ke Mauromba. Kami harus buru-buru dari Maumbawa ke Meuponggo agar tidak ketinggalan kapal.  Hari itu cuaca sangat bersahabat sehingga isteri dan anak saya bisa menikmati perjalanan laut. Aair laut sangat jernih sehingga bisa melihat ikan dibawah laut dan pohon-pohon kecil ditebing di bibir pantai antara Mauponggo dan Mauwedu begitu mempesona.  Air terjun dari kedi Dewa lumayan mempesona. Kami sampai di Mauromba setelah berhenti di Maunlori, Maundai dan Mauara.

Bulan Agustus 2008 saya berada di Flores melewati Maumere saya naik bus Mangarai sampai Raja. Di Raja persis dipetigaan Dorameli, saya dijemput dengan mobil ke Romba. Perjalanan darat di Flores saat ini sangat menari. Jalannya mulus. Pemandangannya indah. Kalau dulu sepanjang jalan Boawae Bajawa terdapat banyak rumah kumuh, sekarang kita bisa menikmati wajah baru. Rumah dengan atap lenga (belahan bambu besar) sudah tidak kelihatan lagi. yang ada adalah bangunan permanen sehat. Ciri budaya bangunan bajawa masih dipertahankan dengan membangun atap agak berkerucut tinggi. Dan rumah-rumah dengan atap berciri budaya ini mencerminkan posisi pemilik dalam masyarakat adat.

Kota Bajawa semakin tertata indah. Jalan-jalannya bersih. Pasarnya lebih terkelola. Ada bank BRI dan BNI. Disana sini ada komoditi pertanian seperti kakao  cengkeh  dan vanili. Saya sempat melihat satu kantor koperasi yang bagus dekat pastoran MBC. Ada beberapa studio foto dan hotel-hotel kelas Melati.

Sepanjang jalan Dora Meli Maunori bisa kelihatan pemandangan bagus. Ada banyak pohon cengkeh dan kakao. Di Mabhambawa, Puu Wada dan Mbeku kita bisa lihat kakao dan cengkeh dijemur di pinggir jalan. Dibeberapa tempat orang menjemur kopra di sebahagian badan jalan aspal.  Ada perubahan  kasat mata disepanjang jalan dari Raja sampai Mauromba. Malam tidak lagi gelap gulita  setelah pelita disingkir listrik dari PLN pada malam hari.  Ada menara Telkom di beberapa tempat sehingga bisa berkomunikasi telepon.  Hidup di Ngada dan Nagekeo semakin asyik aja.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pengalaman di Ngada dan Nagekeo

  1. budhi says:

    Kita sama teman, aku juga pernah tugas di kab bajawa. sungguh ramah sekali masyarakat ngada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s