Berlindung dibalik Cadar Identitas

Blog-blog saya berangkat dari keinginan belajar memanfaatkan kemajuan teknologi. Banyak hal yang saya tidak tahu. Tidak saja dari sisi tekonologi tetapi juga dari sisi penulisan merupakan hal-hal yang baru bagi saya. Ada rasa ketimuran yang ingin selalu tampak manis dan benar membuat saya telah meluncurkan beberapa blog dengan nama samaran. Saya tidak berani mengekspos diri dengan jelas.

Menulis dengan baik dan benar merupakan target yang masih jauh dari jangkauan. Menyembunyikan identitas merupakan cara menutupi kekurangan. Saya jadi teringat sebuah peristiwa di kota Ende. Ada seorang wanita mandi tanpa busana di kamar beratapkan langit. Dia gelagapan ingin menutupi tubuhnya ketika sebuah kendaraan truck memuat banyak lelaki melewati jalan. Sekilas timbul ide dalam benak si pemilik tubuh polos. Dua telapak tangannya merupakan sarana yang siap digunakan. Tetapi terlalu kecil untuk seluruh tubuh. Beberapa titik di tubuh manusia , khusus wanita ada kaitan dengan rasa malu. Karena ada beberapa titik yang perlu ditutup dan pasti dua telapak tangan tak cukup untuk menutupinya, maka yang paling baik biarkan semua terbuka, dan wajah yang biasanya selalu dibuka, justeru itu menjadi pilihan untuk ditutupi. Menutupi wajah membuat tidak ada yang mengenal pemilik badan tanpa busana.

Menutupi identitas diri adalah perbuatan yang saya lakukan dengan sengaja. Kalau tulisan tidak berbobot dan jauh dari akal sehat, saya terhindar dari penilaian. Orang tidak mengenal identitas saya. Wajah saya tertutup. Saya tidak perlu malu.

Akhir-akhir ini mengangkat beberapa ungkapan dalam bahasa daerahku. Tujuannya supaya bisa menuai hubungan dengan sesama orang sedaerah. Sedikit demi sedkit saya membuka tempat asalku melalui tulisan tentang kampung halaman. Ternyata buah dari itu saya harus siap membuka wajahku dan juga harus siap pikul tanggungjawab atas apa dan cara bagaimana kukatakan. Cemeti itu terus memecut saya belajar lebih serius lagi. Semakin saya belajar, semkin kuat kesadaranku bahwa saya masih menghadapi rentang jalan yang masih terlalu panjang…..

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s