Orang Nagekeo Memancing Ikan

Memancing ikan sesungguhnya merupakan budaya dunia dimana saja. Tetapi saya mengamati ada kekhasan orang Nagekeo, khusus didaerah pesisir selatan (ata mau). Ata mau (orang pantai) di Nagekeo adalah masyarakat yang berdiam di pesisir selatan Nagekeo. Karena berdiam di penggir laut atau dalam bahasa setempat “mau” maka kita bisa menjumpai nama-nama seperti Maunura, Mauembo, Maunua. Maubengga, Mauromba, Mauara, Maundai, Mauwedu, Mauponggo, Mauwaru, Maukeo, Maukota, Maukeli, Maumbawa. Ini adalah nama lokasi yang terletak di pesisir Selatan.

Inilah cara dan kebiasaan orang pesisir (ata Mau) memancing:

1. Eto atau ngati : memancing dengan menggunakan kail kecil yang dikaitkan pada wundu (tali) berupa benang yang dipilin dan diberi zat perekat kulit pohon (do uma) yang digosok pada tali kemudian dijemur dan menjadi kering sehingga agak keras dan berwarna kecoklatan. Biasanya menggunakan bambu sebagai tempat mengikat tali pancing. Saat ini sudah menggunakan senar plastik. Eto biasa dilakukan dengan melempar mata kail berumpan ke laut. Tali pancing diikatkan pada bambu atau kayu (fau). Saat terbaik memancing adalah pada pasang surut. Pada saat surut kita bisa melihat karang-karang laut yang sedang tumbuh bergerak, disela batu-batu besar ada genangan air laut yang biasa dihuni oleh ikan. Pada sat pasang surut bibir pantai menjadi lebih jauh kelaut, dengan demikian kita lebih dekat dengan cerukan yang menjadi hunian ikan. Umpan biasanya berupa umang, jenis keong darat yang berkaki. Keong sejenis ini banyak terdapat dipinggir pantai dibalik batu sekitar hutan pandan laut.

Eto juga bisa dilakukan dengan menggunakan sampan kecil. Bila menggunakan sampan maka tali pancing akan dililitkan pada kumparan kayu. Untuk eto ikan dalam sampan, maka tali pancing harus lebih besar dan panjang untuk mencapai dasar laut.

2. Gegi: Gegi adalah cara memancing sambil berenang. Pemancing menggunakan kacamata renang melihat ikan yang lagi menggigit umpan. Sambil menatap ke dasar laut, tangan kanan memegang tali pancing yang dililitkan pada kumparan kayu. Pemancing menarik atau mengangkat tali pancing untuk mengundang ikan menikmati umpan. Gegi dilakukan pada siang hari. Anak-anak sekolah biasa melakukan ini pada hari libur atau hari Minggu.

4. Dodu : Adalah memancing dengan tali pancing sebesar  pangkal lidi dan memakai mata pancing yang besar. Umpan berupa sayatan daging ikan. Untuk Mata pancing berumpan akan dibawa berenang sejauh mungkin kelaut. Pemancing menunggu di darat. Ini khusus untuk menangkap ikan-ikan berukuran besar seperti kakap merah. Bila ada ikan maka untuk menarik pancing tidak bisa sendiri, perlu bebarapa orang untuk menghindari cedera tangan karena hentakan dan tarikan ikan cukup kuat. Agar tali pancing tidak terhampar ditanah, maka tali pancing diberi penyanggah kayu sehingga tali pancing terangkat dari permukaan tanah dan permukaan laut agar mudah memantau gerakan tali pancing bila ada ikan yang memakan umpannya. Bila dapat ikan suasana sangat menggembirakan. Banyak yang ikut senang. Ikan besar biasa tidak dimakan sendiri. Setelah dimasak akan dibagi ke tetangga, yang juga umumnya bersaudara.

Memancing tidak rutine. Juga tidak dianggap sebagai hobi. Memancing lebih terdorong oleh suasana hati saja. Karena penduduk wilayah selatan Nagekeo pada dasarnya bukan nelayan. Mata pencaharian utama adalah bertani. Mencari ikan hanya sesekali saja. Kebutuhan ikan biasa disuplai oleh orang-orang dari pulau Ende atau pendatang yang bermukim di pinggir pantai.

Aktivitas memancing semakin ditinggalkan ketika kebiasaan membom yang menghancurkan terumbu karang dan semua biota laut. karena itu kini keindahan terumbu karang menjadi langka untuk dinikmati. Ikan dibom dengan menggunakan dinamit yang diisi dalam botol atau kaleng. Setelah api disulut pada sumbuh setelah beberapa detik teerdengan bunyi cisssss…. kemudian dilemparkan pada lokasi gerombolan ikan. Pembom biasa mengintai dimana ada kelompok besar ikan berada. Gerakan ikan akan terlihat diatas permukaan laut. Pembom tahu apakah kumpulan itu banyak ikan atau tidak, dilihat dari gelap terangnya ke dasar laut. Karena laut di pulau Flores sangat jernih.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s