ATA KEO DAN KUWU SI’E

Kuwu Si’e

Orang Nagekeo khusus dipesisir selatan biasa membuat garam sendiri. Garam berwarna putih dan mungkin paling putih di planet ini. Garam itu diproduksi di sebuah gubuk yang namanya KUWU SI’E (pondok si’e). Kata kuwu diwilayah ini selalu dikaitkan dengan dua macam industri rumah tangga. Yaitu tempat menyuling arak disebut kuwu tua dan tempat memasak garam disebut kuwu si’e. Kuwu selalu memanjang dari timur ke barat mengingkuti garis pantai. Ada pertimbangannya. Pada siang hari ada angin laut yang cukup kencang. Demikian pada malam hari berhembus angin darat, yang sejuk dan dingin. Karena itu dua sisi ini tertutup. Pintu biasa berada di belahan timur atau barat. Hampir tidak ada pondok memasak garam yang mempunyai pintu sisi utara atau selatan.

Proses Produksi

Proses memasak garam adalah dengan merebus air laut hingga kering dan menghasilkan endapan berupa butir-butir garam halus berbentuk kristal putih. Karena hasil produksi sangat sedikit, maka orang harus terus menambah air laut setiap kali air mulai berkurang. Api harus terus menyala sehingga wadah air terus mendidih dan menguapkan air. Semua air laut yang dimasak dari pagi akan dikeringkan pada sore hari. Sisa-sisa endapan garam akan kelihatan seperti bubur atau seperti gumpalan blerang aktif di gunung berapi. Dalam keadaan ini orang harus terus mengayu seperti menggoreng. Terus menggerakan serbuk garam agar benar kering dan tidak hangus. Kemudian serbuk-serbuk putih garam halus dikumpulkan ditengah wadah seperti gunung kecil kemudian disendok keluar keatas wadah berupa pelepah pinang (mbao) yang dibentuk khusus untuk itu. Garam akan disimpan dalam mboda sie ( satu wadah dari anyaman daun lontar). Tempat penyimpanan akhir garam biasanya di bawah kolong rumah persis di bawah tempat dapur masak. Tempat itu biasanya aman. Karena orang Nagekeo biasa membuat kotak segi empat yang cukup luas didalam rumah panggung untuk perapian. Didalam kotak itu diisi tanah dan kemudian diatas tanah itu didirikan tungku untuk masak. Karena tempat itu dibuat cukup luas sehingga bisa didirikan beberapa tungku diatasnya..

Wadah untuk memasak berupa lembaran seng yang di bentuk kotak persegi empat. Untuk memudahkan pemanasan maka digunakan wadah dengan ukuran paling panjang sekitar150 x 75 cm. Wadah untuk merebus air dipasang di atas tungku yang agak tinggi sekitar 50 cm. Disamping tungku ada tempayan-tempayan besar berisi cadangan air laut.

Tungku dibuat memanjang untuk dapat memasukkan kayu tanpa dipotong.

Tungku itu harus cukup untuk memuat kayu dan selalu menyala untuk bisa menguapkan air laut sehingga tertinggal kristal garam. Air laut biasanya diambil dengan bambu-bambu besar (bheto) yang terdiri dari dua ruas minimal. Air laut dibawa ke kuwu disimpan dalam tempayan besar atau wadah kayu berbentuk perahu. Saat terbaik mengambil air laut adalah pada saat pasang naik. Pada saat pasang naik jarak kuwu dengan bibir pantai menjadi lebih dekat. Pada saat air pasang penuh biasa ombak tidak besar. Pada saat laut dalam kondisi paling tenang orang mengambil air laut. Caranya dengan membenamkan bambu kelaut dengan posisi menghadap ke darat. Bambo tersebut akan terisi kemudian dibawa ke kuwu. . Kuwu sie harus selalu dekat dengan bibir pantai supaya orang dengan mudah mengambil air laut. Pada waktu mengambil air laut ibu-ibu biasa dengan mengenakan kain terkadang tanpa baju. Mereka mengikat kain diatas dada dan menutupi payudara. Ketika mengambil air laut pakaian mereka menjadi basah karena mereka untuk mengambil air laut mereka harus membenamkan bamboo kedalam air laut. Laki perempuan maupun anak –anak membantu tugas ini.

Pekerjaan memasak garam ini memang berat. Memasak garam biasa dilakukan setelah musim panen sampai musim tanam. Pada saat musim tanam semua harus berhenti. Pada saat musim tanam orang kekebun dan ketika pulang dari kebun mereka membawa kayu bakar. Kayu bakar dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Selain untuk keperluan masak di rumah sebagian terbesar disiapkan untuk bahan bakar memasak garam.

Pekerjaan mamasak garam adala sebuah usaha yang membutuhkan ketekunan dan kerja keras. Orang harus bergadang sepanjang malam menunggu air berkurang dan terus ditambah. Setiap hari minimal dua kali sehari mengambil air laut. Mengeringkan garam pagi untuk usaha memasak air laut semalam dan mengeringkan garam sore untuk memasak sehari penuh. Garam biasa disimpan dalam sokal dari anyaman daun lontar berbuntuk lonjong seperti bantal guling. Umumnya orang kampung menyimpan garam yang banyak itu di kolong rumah persis dibawah tungku dapur. Dapur orang kampung biasa dalama rumah. Mereka membuat kotak segi empat yang cukup luas kemudian ditaruh tanah dan kemudian dibuat tungku diatas tanah diatas balai-balai rumah. Karena persis dibawah lokasi tungku, maka terhindar dari jatuhnya air. Maklum saja orang didesa bisa menuang air dari atas rumah ke bawah kolong.

Waktu dan tenaga untuk garam halus berwarna putih bersih. Hasilnya sangat sedikit. Kini tidak ada lagi usaha ini. Kuwu sie telah lenyap. Sisa-sia bangunan sepanjang bibir pantai sudah habis digerus ganasnya ombak laut sawu. Semuanyaa tinggal cerita.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s