AKU KE BADUI KARENA BAPAK RAPIUDIN

Suatu saat tanpa rencana saya melewati pemukiman padat di Cikoko, Pengadegang, Jakarta Selatan.. Saya melewati sebuah rumah sederhana. Rumah itu tidak berubah selama tiga puluh tahun kecuali pagar yang sedikit berobah. Keluarga bapa Rapiudin asal Rangkas saya kenal ketika saya memulai pengembaraan di Jakarta. Keluarga itu begitu baik dan ramah kepada siapa saja. Penuh dengan keterbukaan dan ketulusan.

Saya mengenal kelurga ini karena pacar dari kerabat sedesa saya tinggal di rumah kontrakan milik keluarga bapa Rapiudin. Karena itu saya sering mengunjungi rumah ini hampir setiap hari selama lebih dari 6 bulan. Saya pernah mengajak seorang teman kuliah saya Cyrillus S. Belen ke rumah ini. Saya pernah mengagumi Cyrillus S. Belen waktu itu karena dia bisa menulis di surat kabar. Ibu Rapiudin melayani kami dengan penuh keramahan , menyajikan minum dan berusaha mengajak kami makan. Kami memang tidak makan di rumah itu.. Tetapi keramahannya mengagumkan teman saya. Dia heran bahwa masih ada keluarga baik seperti ini di tengah kota besar Jakarta yang individualistis. Kesan dan kekaguman teman saya selalu membekas dalam diri saya.

Berkali-kali Bapa Rapiudin mengajak saya untuk mengunjungi desanya di Leuwidamar tak jauh dari perkampungan Badui. Suatu kali saya akhirnya sempat mengunjungi kampung itu karena saya ingin melihat perkampungan dan masytarakat asli Badui. Saya masih ingat hari itu adalah hari raya idulfitri. Setelah menyaksikan orang melakukan sholat Ied di Rangkas, saya berangkat ke Leuwidamar. Disana saya mengunjungi rumah famili bapa Rapiudin. Mereka sudah kenal saya ketika mengikuti acara pernikaha puteri Bapa Rapiudin. Keluarga ini menyambut saya dengan penuh suka cita dan keramahan tulus. Karena hari itu hari besar mereka menyiapkan makanan agak istimewa. maka mereka mengusulkan agar saya harus membawa bekal. Tetapi saya menolak, karena sebagai anak desa Keo di Flores, saya tidak terlalu biasa bawa bekal. Umumnya orang Flores tidak membawa bekal ketika bepergian.. Bila bepergian kami tahu kira-kira dimana akan singgah dan di rumah kerabat orang bisa makan tanpa bayar. Itu dulu, tetapi kini sudah jualan di pinggir jalan.

Badui adalah satu daerah cagar budaya. Setiap orang yang datang ke sana harus ada ijin. Karena saya orang asing, maka saya meminta surat pengantar dari Kepala Kecamatan. Dan Bapa Camat begitu entusias memberikan saya surat keterangan. Berbekal surat keterangan dan bekal nasi rending menu hari raya yang terpaksa dibawa, saya pergi ke Badui. Perjalanan kaki sangat jauh. Sekitar jam 5 sore saya tiba di Badui Luar. Saya memasuki pintu masuk wilayah melaui Kadeuketuk. Jalan sedikit menanjak. Di perbatasan perkampungan Badui, saya bertemu dengan dua orang muda berbadan tegap. Berkulit bersih. Mereka mempunyai hobi naik gunung (hiking). Mereka mengatakan prihatin karena saya sendiri. Medannya berat, kata mereka. Tetapi kalau saya berani, katanya silahkan.

Saya memasuki kampung dan berbelok ke kanan. Di jalan ada beberapa perempuan pergi ke tempat pemandian umum. Salah seorang gadis bersarung tetapi tidak penuh menutupi payu daranya. Saya memandangnya sekejap, tetapi dia merasa risih dengan pandangan saya lalu mengangkat sarungnya dan menutupi tubuhnya.

Saya melanjutkan perjalanan ke rumah kepala desa untuk melapor diri dan juga mencari penginapan. Mereka memanggil nama kepala kampong itu dengan nama Jaro. Saya bertemu Jaro. Saya tidak banyak bicara dan menyerahkan surat pengantar dari Bapa Camat. Dia membuka surat itu, menatap lama surat itu dan menyimak isinya. Kemudian dia menyodorkan buku tamu dengan sopan. Ada sebuah buku tamu berupa buku tulis ukuran folio bergaris. Disana ada tertera nama-nama para pengnjung dan kesan-kesan. Sampai sekarang saya masih ingat salah satu catatan dari seorang pengunjung, yang kalau saya tidak salah adalah seorang dosen dari ITB. Dia menulis bahwa tujuannya adalah untuk melongok ka kolot. Saya tidak paham artinya. Tetapi saya ingat kata kolot atau primitip. Saya pikir pasti orang Badui adalah masyarakat aneh dan kolot alias primitip. Dan sungguh mereka masih dalam alam primer. Kehidupan mereka memang menggambar terminology yang saya pahami. Tetapi ternyata kolot berarti kampung leluhur.???

Saya memang sedikit mencari tahu tentang masyarakat ini. Katanya mereka adalah salah satu masyarakat di Indonesia yang menolak teknologi modern. Tidak ada radio, televise dan mereka juga tidak mekan daging bintang berkaki empat.

Orang Badui adalah masyarakat tradisional yang punya harga diri dan berbangga jadi orang Badui, ini sebuah patriotisme pikirku. Mereka punya alasan. Legenda Badui menuturkan bahwa  mereka  ditakdirkan dan berada di pusat jagad. Kanekes Salah satu kampung dianggap sebagai cikal bakal dan pusat kontrol jagad raya. Karena itu mereka merasa harus hidup baik. Kehidupan bersih diri adalah hidup yang dikehendaki Allah, kebobrokan mereka akan merusak tatanan jagad.

Sebelum melepas penat berjalan kaki dalam rote yang panjang dan berat, saya menikmati makan malam bersama kepala kampung, sang Jarot. Kami bertukar makan. Saya memberikan rendang daging sapi lebaran dan dia menyerahkan ikan asin bersama pete bakar kehadapan saya. Ikan asin yang sedikit lapuk merupakan menu khas yang disukai. Orang Badui tidak makan daging hewan berkaki empat. Tetapi Jarot dari Badui Luar adalah orang yang diperbolehkan dan mereka memang sudah dipisahkan dari Badui Dalam . Pemisahan terjadi karena mereka termasuk kelompok yang melanggar adat termasuk makan hewan berkaki empat. Masyarakat Badui luar selalu berpakaian hitam sementara yang berpakaian putih adalah orang Badui Dalam yang masih menjaga tradisi dan adat istiadat secara ketat.

Pengalamam tak pernah dilupakan adalah seperangkat gamelan yang mengiringi tidur saya di keheningan malam. Ketika sadar pada tengah malam dunia serasa berhenti. Kerasukan pikiran pusat jagat ada di sini, kesunyian semakin menjadi. Senyap. Aku terbaring dalam keheningan. Dan segera lelap lagi.

Ketika akan memasuki kampung Badui seorang gadis menuju ke pancuran segera menutup dada melihat tatapan aneh saya. Pandangan saya terlalu terarah dan penuh rasa aneh. Ketika hari makin gelap saya bertemu seorang gadis hitam manis bersarung batik biru hitam ciri khas masyarakat Badui. Kamera segera saya arahkan. Tak saya duga seorang bapa mengacungkan goloknya mengusir saya. Anak gadisnya tidak boleh dipotret. Dalam perjalanan ke Badui Dalam , Cibeo saya disuguhkan daging buah durian ditempatkan diatas bantal berminyak tak tercuci. Terakhir bertemu dengan puhun (kepala suku) badui. Sekali lagi saya dicegat oleh penjaga kampung karena menyelonong masuk dan mengambil gambar. Semuanya menjadi kenangan manis menutupi beban berat penatnya jalan kaki melewati bukit dan lembah. Ketika aku ingin membuang air kecil di sungai, pemanduku menasehati jangan buang disitu, ini sungai untuk air minum. Akupun segera menutup ristluiting dan berpindah menyirami pohon besar. Nampaknya seperti banyak aturannya, tetapi semuanya dipandang dari sisi manfaat bersama. Melakukan semuanya untuk diri sendiri. Mereka sadar diri. Sebuah kearifan yang perlu diteladani.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to AKU KE BADUI KARENA BAPAK RAPIUDIN

  1. Cerita yg menarik. Saya pernah berkunjung Baduy beberapa bulan yg lalu. Saya beruntung krn ditemani oleh salah satu dosen senior yg sudah puluhan kali menggunjugi Baduy. Sudah ada ikatan emosional yg sangat kuat antara beberapa teman dosen dengan masyarakat Baduy. Saya sangat mengagumi sifat ketulusan dan kebaikan hati mereka saat menerima tamu. Setiap bulan , kami dikunjungi oleh Pak Ailin (mengantar pesanan madu dll). Hal menarik lainnya yakni pada saat kami mengantar mahasiswa/i Jurusan Manajemen Perjalanan utk studi lapangan di Baduy (3 hari 2 malam). Akan selalu ada cerita menarik tentang anak-anak kota yg baru menemukan kehidupan di “dunia lain” (mandi tanpa sabun, sikat gigi tanpa odol, BAB di sungai dll). Sungguh sebuah pengalaman yg sangat menarik.

  2. tanagekeo says:

    Saya disangka orang Arab karena warna kulitku yang gelap dan hidungku yang sedikit lebih maju. Karaban itu membuat saya akrab dengan seorang ibu haji yang duduk berdempetan ketika pulang ke Rangkas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s