MEMAHAMI BEDA BUDAYA

Peristiwa ini terjadi ketika usia pernikahan saya belum setahun dan isteri saya masih hamil muda. Seorang adik saya, bujangan yang berprofesi guru. Dia datang ke Jakarta untuk mengikuti penataran guru bahasa Jerman di Goethe Institut. Dia menumpang di bedeng bilik tiga petak bersama saudara sekampung yang lain. Khusus untuk adik saya dia bergabung kalau makan. Suatu siang yang cerah saya sedang kerja dia datang makan di kontrakan kami. Isteri saya menyiapkan makan siang seadanya. Tetangga kami yang baik hati mengirim satu mangkuk kecil rujak segar. Isinya sangat sedikit. Isteri saya menyajikan makanan termasuk mangkuk kecil berisi rujak. Untuk menghormati tamu, isteri saya menyilakan adikku bersantap siang.Dan isteri saya menyusul.

Saya datang sore hari seelah jam kerja. Isteri saya seorang yang sederhana hati dan pendiam buka suara juga. Dengan suara tidak keras dia mengatakan kepadaku tentang kejadian siang hari. Isteri saya yang sedang nyidam tidak kebagian rujak. Dia bercerita bernada kesal, karena selera orang nyidam tak terpuaskan. Rujak segar dingin mengundang selara habis dinikmati adikku.

Dengan sikap seorang bapak muda saya sok alim menenangkan. Tenang…! Ini yang harus dipahami, bila kita hidup bersama. Menurut orang Flores yang disajikan harus dimakan sebanyak dia dapat makan. Karena kalau hanya sedikit yang dimakan dianggap menghina yang punya rumah. Menghabiskan pun adalah baik, karena apa yang disajikan adalah ikhlas untuk dinikmati. Adik saya memang masih dalam pemahaman itu. Karena di Flores, khususnya orang Nagekeo, kalau perlu seekor ayam atau bahkan babi dikhususkan buat tamu. Tuan rumah menikmati yang lainnya. Hal yang sangat jauh berbeda dengan budaya yang melekat dalam keseharian isteri saya kelahiran Jakarta. Masih ada hari esok, dan masih ada orang lain yang belum kebagian. Dari hari ke hari isteriku semakin memahami dan menyikapi perbedaan itu. Kami memang berbeda. Sebuah perbedaan tidak menjadi perpecahan selama itu kita pahami dan sikapi dengan arif.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s