SATE DOMBA AFRIKA

Rabu sekitar jam 2.00 siang ada telepon dari kerabat saya Aron dari Kantor Dinas Perindustrian Mbay, Nagekeo, Dia sedang berurusan di dinas perindustrian Jakarta. Kami berjanji bertemu di Hotel Millenium malam ini. Saya menunda makan malam karena ingin makan bersama. Ketika sedang mendekati hotel, Aron menegabarkan dia masih berurusan, ada pertemuan dengan Dirjen. ADa rasa kesal, mengapa tidak mengabarkan jauh sebelumnya. Saya langsung kembali dan melewati Jl. Prof Dr. Satrio Kuningan.

Kepulan asap malam itu menyebarkan aroma daging bakar. Sedap…. rasanya. Sungguh mengundang laparku. Dan perutku semakin terasa lapar saja. Saya menoleh ke kiri di rumah No. 248A, Karet Kuningan ada tertulis SATE DOMBA AFRICA. Saya tidak bisa memarkir mobil persisi dekat warung karena ada beberapa mobil. Saya terus maju agak jauh dan memarkir kendaraan. Dan saya pun mampir ingin menikmati apa rasanya sate domba Afrika.

Paling depan ada panggangan 100 x50 cm diatas wadah tertutup besi-besi kecil seperti jaringan. Arang terus membara dibantu kipas angin yang terus menghembus bara api. Saya terus mengambil tempat duduk disebuah meja kecil. Pelayan-pelayannya terdiri dari dua orang laki. Ibu pemilik warung berkulit cerah terus mengajarkan anak di meja yang lain menulis aksara China Mandarin, saya paham itu karena seorang anak saya bergagah-gagahan belajar bahasa Mandarin yang tidak berkelanjutan. Seorang pelayan laki-laki tidaka rapih menyodorkan saya menu makan. Ada sate domba, sate pisang, soup domba , pisang goreng nasi putih serta aneka minuman dan aneka juice. Saya memilih segera sate domba. Sang pelayan menganjurkan apa perlu pisang. Saya tanya pisang macam apa. Gorengan pisang ditambah bumbu mayones, katanya. Saya menolak karena takut terlalu banyak untuk ruang tengah saya. Saya hanya pilih sate domba dan teh hangat . Saya pilih teh hangat, karena saya pikir daging domba , yang masuk dalam kelompok “longo umba” (kambing berbau prengus), kelompok hean mamah biak pasti berkolestrol tinggi. Siapa tahu teh hangat bisa sedikit meredam.

Menunggu persiapan bakar sate kambing ternyata sedikit lama. Asap terus mengepul. Dari jauh saya melihat sang juru masak mengangkat satu panci dalam keadaan tertutup mengguncang-guncangkan secara terbalik beberapa kali rupanya untuk mengocok, menggodok potongan daging bersama bumbu. Sementara satu orang lagi terus saja memotong daing dengan bunyi agak keras. Setelah agak lama menunggu pelayan menyajikan nasi. Dan masih menunggu lagi. Perutku semakin lapar. Untuk tidak bikin malu saya menyembunyikan kekesalan saya. Tetapi wajah saya agak tegang. Sepasang kekasih di depan saya terus menikmati santapan daging sambil berbicara. Daging masih disiapkan. Saya terus saja menatap nasi di depan. Sempat timbul ide untuk berpura-pura ke mobil sebentar dan terus ngeloyor pergi. Ide jahil ini tidak jadi dilakukan karena kemudian satu piring bulat besar bersisi jenis menu utamaku. Potongan-potongan daging doimba, ada sepotong tulang pada ruas dekat lutut dan sedikit potongasn kecil tualang rusuk. Daging ibakar itu ditaburi irisan bawang bombay segar cukup banyak untuk ukuran orang Indonesia apa lagi para ibu yang suka menjauhi bawang. Pelayan laki-laki dengan jenas kumal datang mendekat menanyakan apa saya mau bikin bumbu sendiri atau perlu bantuan. Saya akhirnya meminta bantuannya. Dia amembuka piring ketil dari melamin berbentuk segi empat yang sudah disiapkan disetiap meja. Di meja saya ada empat buah. dia mengambil satu kemudian menyendok cabe tumbuk yang sudah tersiap. Dia menuangkan kecap kemudian dia menyemperotkan cairan putih mayones. Pak silahkan aduk. Saya mengaduknya. Saya menanyakan bagaimana cara mencampuri bumbunya. Ternyata bumbu dibuat pisah kita mengambil gdaing kemudian mencocokan ke bumbu baru di emmm… sedap benar.

Sate domba sesungguhnya daging domba yang sudah dimasak dan berbumbu. Daging domba itu kemudian dipotong-potong dan dipanggang lagi. Sang pelayan menanyakan saya bagaimana …..sedap? Saya tidak bisa membohongi rasa saya. Biasa saja kataku. Saya jadi ingat ketika saya makan daging domba dalam sebuah acara rapat Desan di kantor DPRD Kabupaten Nagekeo di Mbay. Waktu itu ada pemaparan visi dan misi para calon Bupati persis sehari sebelum mulai kampanye. Sate domba Afrika tidak seenak daging domba orang Mbay.

Aku bayar untuk satu porsi sate domba , nasi dan teh tawar hangat Rp. 40.000,- Itulah biaya untuk 100% halal Low colestrol menus seperti tertulis dalam bon Sate Domba Afrika. Ketika saya bayar sang pemilik merangkap kasir menyodorkan kartu dan mengatakan mungkin berminat mereka bisa melayani menghantar ke rumah. Saya kembali ke rumah dan timbul ide bisnisku dan mencetuskan Sate Domba Mbay Enak Sekali.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in DAPUR KAMPUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s