MEMBANGUN NAGEKEO

Memasuki ibu kota kabupaten Nagekeo akan terasa bahwa nagekeo memang tertinggal. Tidak ada persiapan yang istimewa untuk sebuah ibukota kabupaten. Tidak lebih baik dari sebuah ibukota kecamatan. Masih seperti sebuah kampung, seperti dikatakan oleh Mgr. Vincetius Sensi Potokota Pr. Ada yang salah? Tanpa melihat salah benar kita melihat hikmahnya. Kita semua menarik manfaat saja. Mari berpikir positif.

Bagi yang pernah membangun rumah permanen dengan fondasi batu kali bertembok bata merah dan semen, akan tahu betapa pemborosan terjadi bila harus merenovasi atau membangun kembali. Berbagai kendala dalam merenovasi atau memperbaiki konstruksi. Penghuni bila ingin nyman maka harus pindah sementara. Untuk berbagai perbaikan, mungkin harus membongkar yang tidak perlu demi memperluas atau memperkecil. Runtuhan tembok yang tidak diperlukan ternyata menghasilkan puing sampah yang bertumpuk tidak sesederhana tembok rumah yang masif itu.Ada biaya membongkar dan membuang puing. Bagi orang kota besar yang tinggal di rumah berhimpitan paham betapa sulit dan rumit masalah ini. Karena itu bila membangun rumah orang harus berpikir dan merencanakan dengan baik. Beripikir bagaimana tentang keuangannya dan merencanakan tahap-tahap pembangunan sesuai dengan keuangannya. Bila mana keuangannya cukup maka akan dibangunkan sekali gus. Bila tidak bangunan akan dibuat secara bertahap. Dalam urusan ini yang terbaik adalah berkonsultasi dengan orang ahli dalam bidang rancang bangunan.

Berpikir positif mengahadapi keadaan Nagekeo saat ini. Nagekeo masih seperti bayi dengan tabula rasa. Nagekeo yang akan jadi ke depan adalah Nagekeo yang dikelola secara bijaksana penuh dedikasi dengan tujuan satu untuk menjadi Nagekeo yang terbaik. Perlu tenaga-tenaga pemikir yang serius membuat sebuah rencana besar ini.

Nagekeo dibangun dalam zaman kemajuan dengan wawasan baru. Saat ini dunia sudah mengalami kegerahan. Bumi makin panas, dan orang bicara tentang pembangunan berwawasan lingkungan. Melihat topographi Nagekeo maka pembangunan Nagekeo harus benar dipikirkan dengan matang. Kita butuh orang ahli yang membuat rancangan detail sehingga Nagekeo bukan dibangun dengan tambal sulam. Dia harus dipikirkan dengan proyeksi yang terjadi kedepan dengan berwawasan lingkungan.

Membangun tentu butuh biaya. Membangun Nagekeo dari APBD tentu sangat terbatas. Bila membangun Nagekeo hanya bergantung dari Anggaran Pembangunan Daerah, maka Nagekeo akan terus berada di tempat.

Nagkeo dengan Mbay sebagai Kawasan Ekonomi Terpadu, maka pembangunan Nagekeo harus dipusatkan pada 4 hal pokok, yaitu prasarana jalan, telekomunikasi, pelabuhan laut dan pelabuhan udara.

Prasarana jalan dan telekomunikasi harus menjadi prioritas. Telekomunikasi harus segera dibangun supaya mudah menarik investor untuk pembangunan pelabuhan laut dan udara serta bidang-bidang lainnya. Keterbatasan dana lokal memaksa kita berpaling kepada investor asing. Dalam percaturan dunia global semua hal ini mungkin, dan saya yakin Nagekeo akan menjadi contoh baik bagi kabupaten lain untuk mulai berkiprah dengan investor luar negeri.

Berbicara pembangunan Nagekeo dengan investasi dana dari luar negeri, kita bicara tentang pinjaman luar negeri. Kalau hal ini terjadi, dan harus bisa terjadi supaya ada akselerasi pembangunan, maka perlu kesiapan yang lebih matang.

Pada saat kita membangun dengan dana asing, maka kita masuk dalam percaturan global. Kita bawa masuk adalah cara berpikir dunia. Tindakan kita tetap lokal Nagekeo tapi wawasannya global. Dengan demikian segala yang terjadi di Nagekeo akan menjadi representasi sebuah pemikiran luas. Disini dituntut kehadiran putera daerah yang punya pengalaman dan berwawasan luas. Mengingat jumlah investasi atau pinjaman yang tidak sedikit, bahkan sangat besar untuk ukuran orang Nagekeo dan pasti berjangka panjang.

Mengelola pinjaman jangka panjang tentu mempunyai dampak luas terutama pada tanggungjawab pemerintah dan rakyat secara berkelanjutan. Maka pertama pemimpin Nagekeo sebagai penyelenggara pemerintahan tidak hanya berpikir tentang pengaturan tata cara penyelenggaraan tetapi harus sungguh seorang bermoral yang berpihak pada solidaritas dalam kebersamaaan dengan rakyat serta mendahulukan kepentingan rakyat banyak. Harus bersih dari tindakan yang egois mementingkan diri sendiri. Bila tidak maka seluruh anggaran berupa pinjaman jangka panjang akan menjadi hutang dan beban tak terbayarkan. Beban mana akan ditanggung renteng oleh pemimpin dan seluruh rakyat pada beberapa periode berikutnya.

Mengingat anggaran yang begitu besar untuk pembangunan sebuah kabupaten Nagekeo, maka perlu sebuah kekuatan pengawasan. Inilah peran salah satu pilar demokrasi, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Para anggota DPRD harus benar ikut mengkawal dan mengontrol seluruh anggaran agar tidak terjadi kebocoran demi kemajuan Nagekeo. Saya yakin Nagekeo akan menjadi terbaik ke depan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Politik, Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to MEMBANGUN NAGEKEO

  1. Nice blog….. Good luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s