HAKIM DAN AKU

Tak pernah sekali pun saya berurusan dengan hakim. Sedikit membuka aib keluarga, saya berurusan dengan hakim gara-gara adik ipar saya wanita cerai dengan suaminya. Keduanya pernah begitu mesrah bersanding dan mengucapkan janji nikah katholik. Masa lalu cuma tinggal sebuah kisah. Begitu tegas bersebrangan, cinta tidak sekedar jadi cemburu, tetapi cinta jadi benci berantakan dan berpisah. Iman mereka tidak ampuh rekat mempersatukannya. Sang suami memuluskan jalan dengan pindah agama, dan boleh nikah lagi. Sang isteri pertamanya, yang adik ipar saya terdepak dalam tekanan. Keputusan pengadilan milik gono gini dibagi dua. Tetapi sang suami yang egoist melakukan banding. Kembali keputusan tetap sama.  Saya jadi berurusan dengan hakim pengadilan negri Bekasi.  Semuanya dalam rangka melakukan eksekusi paksa atas milik gono gini.

Atas usulan seorang hakim di pengadilan lain kami diperkenalkan dengan sorang hakim di pengadilan Bekasi. Halaman kantor Pengadilan Negeri Bekasi begitu sempit. Disampingnya ada Kantor POLRES Bekasi.  Ruang parkir mobil sangat tebatas. Memasuki pintu ada loket jaga dengan tulisan TAMU HARAP LAPOR.  Ada beberapa orang berdiri.  Sekilas terbayang ketidakteraturan dalam gedung Penegak Hukum paling berwibawa. Pilar dari Trias Politica terkesan rapuh. Memasuki ruang dalam lebih jorok lagi. Terus ke belakang ada ruang tunggu para hakim. Semuanya nampak keasliannya karena toga hakim memang hanya busana. Kepribadian mereka ternyata tidak seanggun toga.  Para hakim ternyata hanya manekin, robot atau tiang mati tempat gantung toga.

Saya dan adik ipar mamasuki ruang sempit paling belakang. Ruang kecil 2 x 3 m berjejal bebeapa hakim di kursi kumal dan meja dekil. Saya  berjumpa dengan orang yang di tunjuk untuk melayani. Kami mengontak seorang relasi teman kami yang juga hakim. Mereka saling bicara. Dan kami dibantu. Dengan sedikit informasi memadai, kami kembali. Saya diminta datang lagi besoknya.

Kedatangan pada hari berikutnya (Selasa) ternyata hanya membicarakan tentang biaya eksekusi. Angka yang tidak sedikit untuk kami ditetapkan di sebuah meja warung nasi yang masih sebangungan dengan tempat duduk sang hakim.   Saya janjikan Senen berikutnya kami akan membayar. Rabu Sore sang hakim, manekin, robot gantungan jubah menelpon saya. Minta kalau bisa hari Jumat. Jumat  saya datang langsung diarahkan ke ruang sempit di warung nasi. Sambil tunggu saya berbasa basi membayar secangkir kopi susu hangat, yang tidak sempat diminum habis. Karena sang hakim masih lama saya pergi ke luar dan menunggu di dalam mobil, sambil menikmati kesejukan AC ditengah terik matahari  Jumat 10 Okt0ber 2008.  Sang hakim membuat foto copy surat permohonan eksekusi untuk ditandatangani adik ipar yang dilakukan secara tidak sah oleh saya. Semuanya sah karena yang mengusulkan sang hakim juga. Sang hakim menelpon saya, dia datang ke mobil saya dan saya membayar uang yang diminta.

Isteri saya terus memonitor aktivitas saya. Tiba di rumah  jam 16.30 sore hari setelah urusan passport saya.  Adik ipar melakukan komunikasi dengan sang ibu hakim pemberi referensi. Mengapa tidak bayar di loket, tegur sang ibu hakim. Namanya uang katanya lagi.  Semuanya telah saya lakukan  karna bapak hakim itu adalah referensi ibu hakim.  Ada rasa tak nyaman juga. Saya kembali menelpon bapak hakim. Telepon tidak diangkat. Gagal komunikasi. Saya hanya punya pegangan kwitansi yang saya tulis untuk pembayaran Proses Eksekusi dan diganti dengan kata Amaning(?) dengan kopi permohonan yang ditandatangani adik ipar secara ilegal oleh tanganku sendiri.  Inilah pengalaman pertama Aku dan Hakim.

Omong-omong tentang bangunan  PILAR HUKUM salah satu dari tiga pilar demokrasi (Trias Politica), saya jadi kenal sama polis yang juga tidak lebih dari tiang bambu keropos, bolong apa saja bisa masuk ditengahnya. Sekali saya mengajak isteri saya memasuki satu kantor Pengacara di daerah Cempaka Putih. Ruang ruko lantai dasar berjejal meja dengan sejumlah manusia berwajah muram. Mereka ternyata semuanya adalah Pengacara, sang pembela keadilan dan kebenaran. Waktu itu saya ingin urus sebuah perkara. Perusahaana tempat saya bekerja mengirim barang ke salah satu perusahaan di Inggeris. Barangnya ternyata bisa kjeluar dan di jual sebelum dokumen asli datang. Dan perusahan kami tidak bisa menerima pembayarannya. Para manekin hukum dan tonggak toga tidak bisa mengurusnya. Isteri saya tidak percaya bahwa dia sedang berada di sebuah ruang para pakar. Ternyata mereka juga kolom bambu rapuh tidak tahan dimakan rayap. Hukum diperdagangkan demi hidup yang harus diperpanjang.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s