Berguru Toleransi Pada Orang Nagekeo

Haji Kahfi orang Bekasi mengatakan yang betul islam dan berpuasa sangat sedikit. Tetapi kalau yang merayakan lebaran semuanya. Juga termasuk yang hanya Islam Katepe.

Hari Lebaran atau Idul Fitri betul bermakna Fitri. Hari itu berarti besar sesungguhnya. Orang semua ingin menunjukkan diri dengan penampilan terbaiknya. Busana, makanan kalau perlu kendaraan baru.

Hari lebaran dirayakan sebgai hario kemenangan. Para pengikut MUhammad merasa telah mengalahkan diri sendiri dan musuh-musuh yang menurunkan erajad manusia secara rohani. Lebaran sungguh pesta kemenangan. Para pengikut Rasul Allah, Nabi Muhammad  bersukacita. Mereka menang dan menjadi manusia baru, manusia yang lebib suci.

Dengan hati yang suci dan penuh damai orang Islam merayakan lebaran. Saya ingat orang di kampung saya yang kaum Muslim sedikit. Mereka tidak merayakan lebaran secara luar biasa. Tetapi mereka adalah makhluk paling toleran pada sesamanya yang non Muslim. Mereka merasa betah dan damai disana karena mereka mendapatkan perlindungan dan perhatian dari sesama yang non Muslim. Di kampung kami orang Muslim menampakkan wajah Islam yang damai. Mereka menjadi teladan bagi yang non Muslim. Mereka santun dan lemah lembut bukan karena jadi kelompok minoritas. Mereka menjadi demikian karena iman mereka.

Semalam saya menonton TV lihat orang FPI yang tidak pernah berbicara lembut. Ketua FPI yang mengambil alih forum sidang pengadilan menginterogasi dan membentak kasar seorang saksi. Dan pada pojok lain diplot sebuah pertengkaran FPI yang berseteru dengan forum yang mempedulikan kebinekaan. Saya heran dan teramat heran karena bila segala aurusan dengan orang FPI yang ada adalah ngotot sampai mata mendelik dan urat leher keluar. Mana Islam yang damai.  Orang-0rang  FPI  perli datang ke kampung-kampung orang Keo di Keo Tengah dan Mauponggo atau Nagaroro, dan belajar bagaimana sesama manusia saling menghargai dan hidup berdampingan.  Bicara dengan suara keras, mata mendelik dan melihat orang lain sebagai lawan memberi kesan yang kurang pas.  Ucapan dan laku garang yang diperlihatkan oleh kelompok ini seoalah tidak terjamah hukum.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s