Memagari Tanaman Apa Salahnya

“Tuu mbee”, kata Gabriel Wundu, pensiunan guru SD Sabtu 16 Agustus 2008 menegaskan ketika saya menyatakan kekaguman saya akan perubahan yang terjadi khususnya di desa Witurombaua, tempat saya hidup selama 13 tahun. Sesudahnya saya meninggalkan kampung itu karena belajar dan terus merantau dan bekerja. Semua mengenal kampung itu sebagai desa orang miskin. Tanahnya gersang. Singkong saja harus dibeli dari desa lain. Orang membeli pisang, jagung, dari wilayah Mauponggo atau Maumbawa. Orang Mauromba mencari tambahan penghasilan dengan merebus air laut untuk membuat garam halus. Hasilnya garam halus dibarter sama pisang, jagung dan beras. Saya masih ingat beras dibeli dengan dua takaran garam berbading satu takaran beras. Jagung dengan takaran terbalik, atau berdasarkan kesepakatan. Budaya barteran ini berlaku juga di pasar Maunori. Ubi kayu yang terkadang keras bila direbus (uwi kaju gheru) ditukar dengan garam.

Suasana telah berubah. Orang desa Witurombaua dikomando oleh kepala desanya Hubertus Jando. Mereka sadar ada yang salah. Selama ini yang mereka pagari adalah pohon-pohon yang tidak bergerak. Sementara mereka membiarkan binatang berkeliaran dan merusak apa saja. Sekarang merka tidak memagari pohon atau tanaman yang tidak bergerak. Hewan yang bergerak harus dikandangkan atau diikat, maka banyak semak-semak bertumbuh dengan subur. Banyak tunas pohon tumbuh dan menjadi penyerap air hujan. Tanah menjadi lebih subur. Sekarang tanah berubah subur. Kelapa kembali berbuah lebat. Pisang bertumbuh sumbur. Berbagai jenis tanaman dibudidaya dan merubah sebuah lahan puluhan hektar yang terkenal tandus, kini hijau dan penuh dengan tanaman ekonomi. Ada vanili, kakao, jambu mede, merica dan cengkeh. Kalau dulu pisang harus dibeli, sekarang singkong, dan berbagai jenis umbian (uwi, sura) tidak kuat dikonsumsi sendiri. Singkong dan bahkan pisang kepok sudah dibagikan untuk makanan babi.

Babi-babi di kampung Mauromba sudah mendapat pasokan makanan yang lebih terolah. Dahulu pakan ternak babi hanya  batang pisang diiris, ditumbuk dan dicampur dengan air sisa basuh perabot makan dan ampas kelapa. Kini babi menyantap makanan batang pisang diiris, direbus dan dicampur dengan pisang atau singkong serta ampas kelapa. Babi tidak lagi berkeliaran. babi diikat dan dikandangkan, demikian juga kambing diperlakukan demikian.

Memagari tanaman apa salahnya? Itu yang sering didengar kalau ada orang yang mengeluh tanamannya dirusak oleh hewan. Yang dipersalahkan adalah orang yang membiarkan tanaman tak dipagari. Hewan berkeliaran karena mereka hidup dan berkaki. Mereka merumput sejauh kaki berjalan. Mereka mersusak semua tunas pohon yang diendus sejauh kaki hewan melangkah. Yang sisa adalah hanya rumput melata ditanah. Tanah menjadi gersang karena tidak ada akar pohon di tanah.  Dampaknya jelas. Tanah menjadi tandus. Tetapi kin semuanya telah berubah. Ada perubahan pemahaman dan hasilnya pun berbeda.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s