Daun dan Tangkai Cengkeh Kering Harta Terbuang

Pagi cerah. Saya menelpon anggota rombongan perindustrian kabupaten nagekeo. Mereka sedang melakukan kunjungan kerja ke sebuah perusahaan menyuling bahan baku wewangian.  Kata mereka di Cikeas. Cikeas saat ini jadi nama yang terkenal hanya gara-gara salah satu warganya menjadi orang nomor satu di negeri ini.  Setelah penerima telepon meminta orang lain memberikan penjelasan, ternyata bukan Cikeas tetapi Cileungsi. Dan saya meluncur ke sana.  Sebuah perusahaan yang memenuhi standard managemen dunia. Rombongan telah menunggu saya sebelum masuk ke ruang produksi.

Kami pertama memasuki ruang laboratorium. Suatu ruang pengawasan mutu produk. Produk yang ada adalah minyak cengkeh. Minyak cengkeh yang baru disuling berwarna coklat kehitaman. Tetapi setelah disuling lagi menjadi berbagai produk bahkan menjadi tepung. Semuanya berasal dari minyak cengkeh baku yang disuling di berbagai tempat di Indonesia. Salah satu hasil sulingan minyak cengkeh nomro satu Indonesia berasal dari Nagekeo.

Minyak cengkeh merupakan salah satu komponen dari wewangian tubuh. Bahan bakunya adalah daun cengkeh dan tangkai cengkeh. Minyak cengkeh yang berasal dari ranting kayu cengkeh berkwalitas lebih baik dari daun cengkeh. Daun cengkeh yang baik adalah daun cengkeh yang kering, yang jatuh. Daun-daun cengkeh kering yang jatuh dikumpulkan kemudian dimasak dan disuling minyaknya.

Permintaan minyak cengkeh dan nila sangat besar. Indonesia kekurangan pasokan. Kekurangan ini ditutup dengan pasokan dari luar negeri, Zanzibar, Afrika. Sebuah peluang usaha yang perlu ditanggapi. Daun dan ranting kering cengkeh  selama ini hanya dibiarkan hancur jadi tanah.  Ternyata daun dan tangkai cengkeh bernilai rupiah yang tercecer.  Tidak usah berandai-andai. Daun cengkeh kering di depan mata. Kumpulkan saja. Sudah ada yang ingin memanfaatkannya.  Cara terbaik memberdayakan ekonomi rakyat adalah  sadarkan saja rakyatnya untuk memanfaatkan setiap peluang menghasilkan uang. Ciptakan peluang, buka akses pasar, dan yakinkan mereka akan pasar, yang akan menampungnya.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s