Pisang Kepok Santapan Babi

Ada yang berubah. Perubahan paling menonjol adalah kehidupan ekonomi warga desa pesisiran selatan Nagekeo.  Saya masih ingat dan bersama seorang teman  Blasius Riwu kami sharing pengalaman masa lalu yang pahit. Dia masih cerita tentang dia berkeringat dingin kelaparan di sekolah. Mata sile (mati suri kelaparan) sebuah pengalaman pahit yang dialami teman saya ketika di sekolah. Dan dia diberi makan ubikayu rebus oleh seorang isteri guru, yang kemudian menjadi ibu mertuanya. Makan singkong adalah biasa. Pada masa itu tanaman singkong juga tidak banyak.  Banyak anak yang tidak sarapan sebelum ke sekolah. Singkong, pisang, jagung adalah makanan biasa. Jenis makanan biasa ini ternyta terbatas persediaannya.

Keadaan sudah berubah. Di desa Witurombaua , desa yang paling minus, kini jagung bertumbuh subur. Singkong dan berbagai jenis umbi tidak kuat dimakan sendiri. Berbagai jenis pisang, seperti pisang raja, brangan dan kepok berlimpah. Ada vanili, cengkeh, jambu mede, kakao bertumbuh di sana. Di beberapa pekerangan rumah ada berbagai tanaman bumbu rempahan seperti merica. Semua ini suatu yang tidak ada di masa ketika seorang teman saya “mata sile” dan dipuaskan dengan singkong rebus oleh bakal calon mertua.

Saya berkunjung ke seorang kerabat saya. Dia seorang janda dengan semua anaknya tamatan minimal SMU dan hampir semua merantau. Dia sedang merebus irisan batang pisang untuk makanan babi. Yang menarik perhatian saya adalah di dalam kuali ada begitu banyak buah pisang masak yang sudah di kupas. Pisang kepok ranum dan matang dijadikan makanan babi. “Kami sudah tidak kuat makan sendiri,” demikian katanya ketika saya mengatakan sayang pisang enak dijadikan makanan hewan. Benar, di desa ini sejumlah makanan dari hasil kebun tidak kuat dimakan, tetapi tidak ada pasar untuk menjual barang.  Kecuali komoditi keras, cengkeh, jambu mede, kakao dan vanili ,yang lainnya mubazir tidak bernilai ekonomis. Mereka tetap menyandang  miskin karena susah mendapatkan uang untuk membeli beras dan pakaian.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s