Beras Pulen dari Kawan Lawan

Ada telepon dari seorang kepada saya : Ndan kapan main ke rumah.” Dia salah satu pemimpin preman di sebuah kecamatan tempatku bekerja. Lokasi pabrik/kantor kami agak terpencil. Kepala desa, kepala dusun, RT dan Rwnya juga preman, masih kerabat dekat. Ini preman benaran. Saya mengalami kesulitan dengan mereka. Mereka minta andil untuk menguasai pabrik kami ketika baru dibangun. Lalu lintas bahan bangunan atau apa saja menuju lokasi dihambat. Mereka minta supaya semua tenaga kerja yang masuk kerja harus melalui kelompok busuk ini. Pernah pabrik kami diserang seperti serangan militer. lampu dimatikan. Dua mobil box Dyna dihancurkan kacanya, satu kantor darurat dalam kontener dihancurkan. Polisi tidak berdaya dan tidak bisa menangkap orang ini karena dilindug kepala desa. Urusannya panjang sampai saya sendiri mencari cara menangkap penjahat. Kepala desa meminta ada perdamaian antara saya dan para pengerusak. Saya berbalik bukan damai, tetapi dua mobil polisi segera datang dan menangkap mereka setelah berbulan-bulan melarikan diri. Dan kepala desa menghubungi saya sambil menangis. Karena mereka adalah anggota keluarganya. Isteri mereka datangi kepala desa dan protes mengapa kepala desa justeru menyerahkan mereka kepada polisi. Mereka akhirnya masuk kamar tahanan sampai ada perdamaian dan penyelesaian kerugian antar kami.

Yang menelpon saya lebih seru lagi. Dia mempunyai anggota preman terdaftar lebih dari 4000 orang. Dia bermain lebih strategis. Dia datang dengan tiga teman meminta kerja sama dengan sedikit tekanan. Saya mengatakan bahwa saya tidak takut dengan premanisme. Karena saya tidak takut setan. Kalau masih manusia pasti saya tidak takut. Ketika pabrik kami di serang saya katakan bahwa tingkat yang paling tinggi ada usaha membunuh saya. Saya katakan saya kasih kepala saya. Tetapi saya minta jangan coret kulit saya. Karena dampaknya akan sangat luas. Saya akhirnya berdamai dengan preman terorganisir. Mereka minta waktu untuk bicara. Saya katakan jangan dikantor. Mereka mengajak makan. Suatu kali saya bertatap muka dengan delapan preman di tempat di luar kantor. Semua berjaket hitam. Penampilan meyakinkan seramnya. Saya seorang diri. Mereka minta saya merobah pandangan tentang citra mereka.. Kami akhirnya bisa ramah satu sama lain. Dan saya diajak untuk menengok kampung mereka. Mereka tinggal di kampung sangat terpencil di kabupaten Bekasi. Ketika saya kesana terkumpul lebih dari 20 orang dan kami bersilaturahmi. Kepala preman dengan pakaian seadanya. Tetapi yang lain berpakaian rapih rata-rata berwarna gelap. Mereka adalah sekelompok preman yang mencari nafkah dengan mengumpulkan limbah pabrik. Mereka dengan pendidikan sederhana terpinggirkan ketika lahan garapan leluhur mereka menjadi kawasan industri. Tidak ada tempat bagi mereka. Karena pendidikan dan sifat-sifati mereka tidak memadai. Disini terjadi konflik kepentingan.

Kini mereka memanggil saya komandan. Dan pernah satu kali mereka meminta advis saya untuk suatu demo di kawasan industri. Saya katakan unjuk rasa boleh, karena unjuk rasa adalah kita menyatakan secara terbuka pperasaan dan keinginan kita.  Saya memeinta mereka ditemani polisi pada saat unjuk rasa. Kendalikan polisi juga. Dan mereka melakukan itu. Bila ada tindakan keras menyimpang dan melanggar hukum segera lapor kepadaku. karena saya menjanjikan seorang penasehat hukum mendampingi mereka kaum terpinggirkan.  Sejak itu saya mulai agak hati-hati memberi nasehat. Kami bersahabat. .

Musuh berbalik sahabat. Bila musim buah saya diminta datang. Tetapi saya sangat jarang ke sana karena medan sangat berat, lebih berat dari jalan-jalan di Nagekeo. Dia menawarkan beras. Dan kali ini saya berniat untuk menerima tawaran itu. Memberi beras bukan karena saya tidak bisa beli beras. Karena saya juga kerja dan bisa beli beras. Bah kan saya juga punya lahan padi, yang tidak kecil untuk ukuran di Jawa. Ah jadi sombong ni. Saya akan menerima beras ini sebagai tanda persaudaraan. Dia menjanjikan Selasa akan membawakan saya beras. Katanya ini beras pulen, beras enak. Saya kelak akan menikmati tanakan nasi enak karena memang diberi dengan hati yang penuh kasih dari seorang lawan yang jadi sahabat.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s