Mencari Potensi Ekonomi Nagekeo

Nagekeo sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Kabupaten. Ada rasa senang dan bangga. Senang karena dengannya orang-orang di wilayah Selatan kabupaten Ngada, khusus orang sekampung saya di Keo Tengah tidak perlu bersusah payah harus ke Bajawa untuk berbagai urusan dinas. Jarak yang jauh, cuaca Bajawa sangat tidak bersahabat bagi orang pesisir yang terbiasa dengan hawa panas. Bangga karena orang Nagekeo dapat kepercayaan untuk mengelola daerahnya sendiri. Paling sedikit ada kepercayaan bahwa daerah ini punya potensi untuk mandiri.

Bicara tentang potensi, berarti bicara tentang kekuatan ekonomi yang bisa menunjang kemandiriannya. Bagi saya potensi itu memberi peluang bagi para wirausaha untuk melakukan sesuatu. Lama bermukim di luar Nagekeo, dengan frekwensi kunjung sekali dalam lima tahun dengan rata-rata 3 hari menginap di kampung, saya tidak memiliki pengetahuan cukup tentang potensi bisnis apa di Nagekeo. Dalam data base investasi di Indonesia, banyak kabupaten di NTT termasuk Nagekeo tidak ada investor yang masuk ke sana. Ini merupakan indikasi ketiadaan potensi ekonomi. kalau memang ada potensi untuk investasi mungkin para investor tidak tertarik karena pembangunan infrastruktur yang tidak memadai. Sarana komunikasi telepon dan internet yang tidak ada.

Melihat kondisi Nagekeo dalam jangka pendek tidak usah muluk berpikir mengundang investor bermodal besar. Perhatian perlu diarahkan pada kegiatan usaha kecil menengah dengan modal terbatas. Ini lebih sesuai untukmempercepat petumbuhan di areal pedesaan. Thailand dibawah kekuasaan perdana menteri Thaksin Sinawatra mencanangkan fundamental kebijakan dual track. Pertumbuhan ekonomi perkotaan digalakkan berbarengan dengan usaha mempercepat pertumbuhan ekonomi desa. Ada sebuah komitmen jelas bahwa desa harus dibangun. Bagaimana dan mulai dari mana membangun desa? Siapa yang harus memulainya?

Saya, Atakeo pernah berada di Mbai kurang dari limabelas menit, karena bis kayu tumpangan kami ke Aeramo harus menurunkan penumpang di kampung Mbay (maaf ibu kota Mbay). Sudah ada penataan kota dengan sebegitu banyak bangunan sederahan dan jalan masih berlumpur, becek di musim hujan. Ketika kami melewati jalan berlumpur sehingga pengemudi bis kayu menolak untuk melewati beberapa jalan di situ. Dalam perjalanan saya dari Bajawa sempat singgah di Boawae. Hanya sekedar lewat karena seorang kerabat saya yang bekerja di Dinas Pertanian ingin menemui seorang. Pengetahuan saya tentang Boawae hanya sebuah nama. Saya ingat ada raja Boawae. Tetapi saya tidak pernah merasakan keistimewaan kampung yang mempunyai raja tinggal di sana. jalan-jalan kampungnya sangat jelek.

Ada Nangaroro ibu kota kecamatan yang sudah lama ditata berlokasi di pantai dan pada poros jalan trans Flores. Kondisi rumah-rumah pegawai sederhana dengan jalan yang semakin hancur. Mauponggo juga tidak banyak kemajuan disana. Saya sedikit berbangga bahwa Keo Tengah sudah menjadi sebuah kecamatan baru. Ada kantor camat, ada penerangan listrik setelah ada kegiatan MTQ, ada menara Telkom tetapi kondisi jalan mungkin terparah dan memprihatinkan. Aeramo sebagai daerah migrasi penduduk dari wilayah kering di selatan masih seperti sedia kala. Tidak ada perobahan yang berarti. Penataan jalan lumayan baik karena berada pada poros jalan pantai Utara dan juga merupakan akses ke pelabuhan Marpokot. Saya sendiri tidak melihat dari dekat pelabuhan ini. Saya pernah sekali ke sana 6 tahun lalu, tetapi tidak tahu kalau memang sudah ada yang berubah. Ini sebuah pekerjaan rumah tersendiri untuk seorang bupati kelak.

Bagaimana dan mulai dari mana mengembangkan ekonomi pedesaan Nagekeo? Usaha pertama adalah melakukan pemetaan kekuatan ekonomi. Kita harus mengetahui kekuatan yang ada disetiap wilayah. Penduduk Nagekeo yang terbanyak adalah petani. Kalau ada yang berternak kita tidak bisa katakan mereka adalah peternak. Karena ternak adalah usaha sampingan setelah bertani. Kalau di Mataloko ada usaha khusus beternak babi dan sapi perah untuk susu dan keju Mataloko yang terkenal itu, Nagekeo memang punya potensi tetapi belum ada.

Bila sudah ada pemetaan yang jelas, perlu dilakukan pembinaan untuk meningkatkan perluasan kekuatan yang ada. Satu daerah yang sudah cukup luas memiliki tanaman ekonomis, harus dibina agar masyarakat dengan sungguh bekerja agar hasil produksi besar secara akumulatif. Saya pernah ke Malaysia. Mereka selalu membudidayakan satu jenis tanaman secara besar-besaran. Gorontalo telah memberi bukti bahwa membudidayakan jagung secara luas dan hasilnya luar biasa. Gorontalo bisa mengekspor jagung. Bisa saja jarak pagar mengisi seluruh bukit dan lahan-lahan kosong akan membuat Nagekeo jadi penghasil jarak terbesar. Nagekeo masih punya vanili, kopi, jambu mete, dan pisang brangan. Jakarta dan kota-kota di Jawa mendatangkan pisang brangan dari Medan.

Bicara tentang potensi industri kecil, kita mulai saja dengan kerajinan rakyat yang sudah turun temurun ada. Saya mengidamkan sebuah pusat kerajinan tenun dan anyaman. Kerajinan tenun tradisioanl khas Nagekeo di Mbai, Tonggo dan Maundai bila dikelola dengan baik dengan dukungan pemerintah saya kira akan memberi dampak yang cukup besar. Perlu ada gerakan mencintai budaya sendiri, sehari dalam sebulan wajib berbaju tenun tradisional. Belanja pribadi untuk busana industri mesin beralih ke belanja busana tradisional. Ini bisa merupakan bagian dari mendorong kemajuan pengerajin dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil.

Kerajinan anyaman dari daun pandan, lontar dan gebang. Selama disain produknya sesuai dengan permintaan pasar, maka ini bisa menjadi suatu industri kecil yang menjanjikan. Gerakan hijau dunia berusaha menyingkirkan atau paling kurang menekan pemakaian plastik. Permintaan tas-tas belanja di Pusat-Pusat Perdagangan (Mal) sangat tinggi. Tas-tas kecil untuk pemberian khusus (special gift item) bisa dibuat dari anyaman. Anyaman pandan sangat terkenal dari wilayah Riti. Anyaman lontar bisa berpusat di Mauromba dan Bengga. Ada wilayah yang mempunyai deposit tanah liat yang berkualitas seperti di Worowatu. Suatu kekayaan alam yang masih bisa digarap.

Semua catatan ini adalah sekedar contoh yang saya tahu, karena bukan merupakan sebuah survey maka tidak mencakupi semuanya. Dengan sebuah setudi yang lebih baik, maka saya yakin kita bisa menentukan keunggulan dari setiap kecamatan. Dan pemerintah perlu dorong masyarakat untuk meningkatkan potensi ekonomi secara bersama. Nagekeo sudah terkenal karena menjadi lumbung padi dan ternak hanya bisa berkelanjutan apabila ada kebijakan yang menunjang. Ingat Indonesia yang sudah pernah swasembada beras pada era Soeharto kemudian menjadi pengimpor beras.

Pembangunan ekonomi desa hanya bisa berjalan dengan baik apabila didukung prasarana jalan desa yang baik. Masyarakat  hanya bisa lebih terdidik untuk mengikuti perkembangan  selama mereka bisa mengakses informasi. Tetapi sayang banyak desa masih terasing dalam gulita. Mereka butuh penerangan.  Informasi televisi hanya mungkin bila ada listrik. Isolasi dan keterasingan ini perlu dibuka untuk kelancaran arus lalu lintas manusia dan barang.

Semuanya ini hanya bisa apabila kelak kita memiliki seorang bupati yang visioner. Kita semua menunggu siapa yang bakal kita pilih jadi orang nomor satu pengambil keputusan besar, karena dia peletak dasar pembangunan Nagekeo. jangan serahkan kepada birokrat pekerja, yang terbiasa membuat laporan menyenangkan.  Harus birokrat pemikir yang kuat mencari terobosan dan berani mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikan masalah nyata. Tumpuan harapan kita adalah pada bupati hasil PILKADA 11 Agustus 2008.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s