Alo Dando Calon Bupati Nagekeo

Dalam waktu yang relatif singkat saya berhubungan dengan para calon petinggi kabupaten tumpah darahku tercinta, Nagekeo. Saking cintanya saya sama tumpah darahku ini, Blogku Tanagekeo ( Yang punya Nagekeo) dan judul blogpun saya beri nama NAGEKEO. Saya menjadi lebih bangga akan Nagekeo setelah saya semakin jauh darinya. Saya sudah sempat tinggal di Negeri Gingseng, dan dari sana saya sempat ingin terus berangkat ke negeri Obama. Terinspirasi dua orang Batak yang lagi menunggu ganti pesawat. Keduanya dengan buntalan terpal besar berisi oleh-oleh dari Amerika hasil kerja selama beberapa bulan sebagai tukang sortir surat ditemani orang buta aksara dari Mexico. Saya berkelana di Korea tanpa modal. Modalku hanya bebrapa patah kata bahasa dan tulisan Korea. Tetapi disana saya begitu mobil seolah banyak modal di kantong. Saya bisa menginap di hotel, vila dan diterima di rumah-rumah orang terpandang di sana, sambil menikmati kebaikan anak Flores, tenaga kerja ilegeal di sana. Sayang anak muda Ende, yang satu ini tidak jelas ujung rimbanya di pulau Jawa. Dengan modal kartu nama dan berpenampilan terjaga saya bisa bertemu para Sajangnim (presiden direktur) berbagai perusahaan. Dan sebagai tamu saya mendapatkan entertain khusus, kami bicara bisnis yang masih seribu kabur. Karena kabar paling paling nyaring hari itu saya diberi roti dari Tuhan lewat tangan mereka. Saya merasa Tuhan punya cara memberikan saya tumpangan dan makanan secukupnya selama berbulan-bulan. Saya juga sudah melihat Tokyo dan Nagoya dengan cara pandang dan pikir baru. Saya juga melihat pengapnya Manila seperti pinggiran Jakarta. pada hal saya berada di Makati daerah elit Manila. Saya juga sempat berlutut dibeberapa gereja disana. Dan saya masih ingat pernah menghadiri misa dalam bahasa Inggeris yang dipersembahkan seorang teman Imam Katolik Indonesia. Dan disuruh membaca epistola di kapel kecil Christ The King. O, ya waktu itu Mgr. Vincent Sensi sedang setudi disana. Dan kami berdua menikmati makan sore dengan bir. Saya masih ingat sangat murah untuk ukuran saya, yang baru saja terbang dari Tokyo. Karena waktu itu Tokyo merupakan tempat termahal di Asia. Dan di Korea saya sempat baca epistola dan Injil dan bahkan disuruh kotbah. Aduh ma. Saya dipaksa. Dalam hati saya minta pada Tuhan supaya saya bisa bicara. Dan Tuhan bersuara lewat mulut saya. Dalam kesahajaan bahasa Inggeris ,setelah usai misa saya tanya pada audiens saya seorang Kanada. Dia bilang mengerti. Saya berkata dalam hati bahwa berarti dia tidak mengerti ketakutan saya,tapi aneh dia memahami arti Tuhan berbicara dalam bahasa hatinya. Saya pikir ini mungkin sama dengan orang bodoh yang mendengar kotbah para rasul yang juga tidak pintar amat, maklum tukang jala ikan. Katanya semau orang mengerti dalam bahasannya masing-masing. Sedikit sombong saya bilang jangan-jangan peristiwa ini sama terhadap diri saya yang tidak lebih pintar dari tukang jala ikan dari Galilea.

Saya sekarang makin mengenal Nagekeo. Karena saya pernah berhubungan dengan 4 orang calon bupati Nagekeo. Joseph Jua Dobe Ngole, saya sering berkenalan dengannya. Dia memiliki pribadi yang supel. Masih sangat muda. Seorang pegawai Bank. Saya tidak pernah mengetahui posisinya di bank. Tetapi saya sangat lama berurusan dengan bank, sebagai nasabah biasa maupun sebagai investor pengguna dana bank. Paling sedikit saya bisa membayangkan siapa orang bank. Komentar Yacob Nuwa Wea, Yoseph alangkah baiknya bila menjadi wakil dulu. Bukan jadi nomor satu. Belum saatnya.

Servas Podhi, saya pernah lihat ketika dia sedang memperkenalkan diri di Mauromba Nuamuri, di rumah kakak saya Adrianus Embu, yang kini telah almarhum. Tetapi saya baru sempat berjabat tangan dengannya di sebuah pesta pernikahan dan yang saya ingat waktu itu saudara Joseph Jua berbicara sebagai wakil keluarga. Servas adalah pegawai asuransi. Asuransi juga seperti bank. Seorang pegawai asuransi meniti karier selalu mulai menjadi agen suransi. Saya kira Servas sama juga. Dan sukses seorang asuransi adalah sungguh sebuah kerja keras mulai dengan bermuka tebal dihadapan para nasabah yang alergi berasuransi. Karena bagi orang kita asuransi selalu ada kaitan dengan kematian. Tetapi kini variasi produk asuransi makin menarik dan merangsang orang untuk jadi nasabah. Ingat kata nasabah berkaitan dengan bank dan asuransi. Biro hukum menyebutnya klien. Saya kira Servas sudah melewati masa sulit bermuka tebal itu. Sekarang dia menikmati asuransi dan ingin menjadi petinggi kabupaten tercintaku Nagekeo. Saya agak kecewa mendengar ada hamburan rupiah dan janji disana. Hati-hati kalau ada politik uang. Karena orang Keo, tahu itu kotor. Dan mereka menerima uang seperti menikmati sajian makanan di meja. Adat ata Keo mengharuskan dia menikmati sebagai tanda hormat. kata hati dia berkata: “Kau mete jao ngonggo ree, kau mbeta jao”!! Ke pata kami ata Keo. Mae ngasi.

Saya berjumpa dengan dr. Don Bosco Do. Saya pernah menghorok sup ikan di rumahnya. Saya bilang menghorok, karena atas usulan saya kami diberi mangkok sup masing-masing. Saya terbiasa menikmatinya bila langsung foli ae ika dari mangkuk atau jaman dulu e’a (batok kelapa), saya menjadi lebih biasa begini setelah lama bersama teman-teman dari Korea. Bahkan saya pernah menikmati jasanya ketika saya kesulitan membayar ticket di Ende. Karena di Ende tidak mengenal booking tanpa bayar langsung. Saya ditolong oleh dr. Don untuk booking kontan tadi, sambil menunggu uang di tangan seorang adik saya, yang masih di Nagaroro. Dr. Don saya lebih banyak kenal dia secara pribadi karena pernah dia berada di SMA Syuradikara. Waktu itu saya sempat jadi mandor penjaga kebersihan asrama. Banyak orang memberikan kesan bervariasi tentang dia. Ketika dia mengajukan jadi calon bupati, saya dihardik oleh Yacob Nuwa Wea, yang mantan Menteri Nakertrans. ” Saya akan tutup semua saluran itu. Dia anti pemerkaran. Saya sudah biayai semua, malah ada orang mau bentuk forum sendiri. Dan sekarang mau jadi bupati. Tidak bisa.” demikian ucap Yacob Nuwa Wea menggelegar di rumahnya di Sentul. Hal senanda dia masih ditegaskan dimuka orang banyak di rumahnya di Jl. Antraksi, Pasar Rebo, Jakarta. ” Pilih orang lain saja, jangan orang yang anti pemekaran”, kata Yacob sang penggagas Nagekeo. Saya dibuat terperangah dengan penegasan ini. Dan ternyata bukan Yacob saja, tetapi para ilmuwan dari nagekeo sangat menentang pribadi dr. Don. Nampaknya nasib dr. Don diujung tanduk karena hembusan napas Yacob lebih kencang seolah ingin segera memadamkan nyala lilin kehidupan calon sang dokter. Yacob malah pernah menegaskan:” Tanya apa yang telah dibuatnya selama dia bekerja di beberapa pos di Flores?” Demikian juga banyak orang mengungkapkan yang sama.

Lukas Tonga yang dokter hewan kini mencuat kedepan dengan kekuatan sesungguhnya pada Bruno Buu sang calon wakilnya. Saya kenal dua orang ini dengan sangat baik. Saya kenal Lukas lebih baik sejak dia mengajar matematika di Seminari Mataloko. Dia adalah saudara , adik dari Zakarias Balita Svd, yang pernah jadi guru saya. Sebagai seorang guru yang imam, saya kenal baik dengan sosok kakaknya ini. Saya juga kenal baik drh. Lukas Tonga. Banyak orang mempersoalkan “waka” drh Lukas Tonga untuk menjadi orang nomor satu. Yacob Nuwa berkomentar: “Nggae pesa, kenapa Lukas Nomor satu. ”

Pada malam pesta pernikahan putera Yacob Nuwa Wea, saya bertemu dengan seorang calon Alo Dando. Saya tidak mengenal dia secara pribadi kecuali sambil lalu saya sempat bertemu ketika dia mengawali perpindahan penduduk desa Worowatu dari lokasi ibu kota Kecamatan Keo Tengah Maundai, ke Translok di pantai Utara. Saya lihat dia sempat bersalaman dengan kakak perempuan saya Maria Goo. Kebetulan hari itu Kepala Desa worowatu Elias Ndiwa, seorang sepupu saya juga ikut menghantar. Saya sempat mendengar beberapa hari lalu tentang keseriusan Alo Dando ingin menjadi orang nomor satu di Kabupaten tercinta saya. Dan beberapa jam lalu dia berbicara denganku tentang ini. Pada kami sedang serius bicara Dirjen Transmigrasi bersama isterinya menyela pembicaraan kami dan mereka sangat hangat dalam keakraban berkomunikasi. Saya sempat terkesan. Saya berjumpa dengan seorang calon bupati, sayang sampai saat saya menulis catatan di blog Tanagekeo ini belum ada kepastian pengesahan KPUD.

Terlintas di benak saya mungkin ini Daud kecil penggembala domba, yang tidak hadir ketika sang pengurap datang. Dia datang terakhir sebagai penggembala lugu yang pernah mengalahkan Goliat. Siapakah Daud itu?

Tersisa pertanyaan besar siapakah yang akan mendapat kehormatan orang nomor satu itu? Siapapun dia mari kita tetap berpegang bahwa kita sama memiliki Nagekeo. Dan saya tetap bangga jadi ata Keo. Jao Ata Keo. Saya tidak malu walau saudara saya dari Ekoreko, ata Pulo Ende bilang :”Ndoe miu ta Keo na pirdu membo.” (untuk ini saya akan ngeblog khusus).

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Alo Dando Calon Bupati Nagekeo

  1. AB. Raturangga says:

    Tak sengaja luka-nia nee tanagekeo.wordpress.com

    Menarik juga
    Bicara kearifan lokal Nagekeo
    JaO moO bilang “terima kasih.”
    Tapi kita punya kosa kata terima kasih.
    Ata Sika-Lela bertutur “Epang Gawang.”
    Kita mau bilang apa?
    Sementara songgo wee kita.
    EPANG GAWANG EMA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s