Berebut Suara Dalam PILKADA Nagekeo

PILKADA Nagekeo akan berlangsung seru. Para calon berusaha merebut suara dari jumlah yang sangat terbatas. Apa yang terjadi di Nagekeo pasti tidak mungkin sama dengan daerah lain. Nagekeo adalah daerah baru. Sebahagian besar masyarakatnya terisolasi dari informasi media. Masyarakat tidak memiliki sumber informasi cukup berkaitan dengan PILKADA terutama tentang para tokoh yang bakal memperebutkan posisi kekuasaan di kabupaten. Tidak ada media cetak, kalaupun ada hanya segelintir orang yang tahu. Tidak banyak menonton televisi karena tidak ada listrik. Kalau ada yang memiliki radio, siaran berkonten lokal terbatas bahkan hampir tidak ada selain berita kematian dan kirim lagu.

Jangan heran bila kelak pemilihan Bupati dan Wakilnya bukan berdasarkan pemahaman visi misi dan program kerja para calon. Tidak ada media yang bisa menciptakan publik opini. Kalau ada kesempatan berkampanye, waktu sangat sempit. Bahwa Pemilihan terjadi demokratis pasti tidak diragukan lagi. Tetapi yang jelas bahwa rasa kelompok, famili, saudara sangat kental disana.

Menurut informasi Jumlah Pemilih Tetap Terdaftar sebanyak 74.800 orang dari 124.000 jumlah penduduk Nagekeo. KPUD telah mencatat jumlah dukungan yang akan memilih pasangan Lukas Bruno 10.304 suara. Dan menurut team Lukas Bruno mereka telah mendapat dukungan sekitar 14.000 suara. Itu berarti suara tersisa adalah 60.800 suara.

Masyarakat yang sama yang kini mendukung Lukas-Bruno sebetul adalah masyarakat yang dahulu digarap oleh pasangan yang lain. Karena pasangan Lukas Bruno merupakan pasangan yang terlambat sosialisasi. Bahkan masih banyak yang belum mengenal mereka. Menurut pantauan kami masyarakat pemilih adalah masyarakat adat, suku dan kekeluargaan yang sangat kental. Siapapun yang datang berkunjung dan memperkenalkan diri akan diterima dengan baik. Sikap menerima tamu tidak menjadi ukuran sikap menjadi pemilih. Mereka mengatakan siapa saja yang datang akan diterima. Siapapun yang minta melakukan koordinasi pasti diterima. Tetapi bila ada saudara dekat, keponakan yang datang pasti akan diprioritaskan.

Pasti ada ketegangan kecil bakal timbul. Karena ada calon yang terpaksa merebut suara dari kelompok yang sama sehingga perpecahan selama PILKADA mungkin tidak terhindarkan. Tetapi kita percaya orang Nagekeo suku yang ramah. Sebuah masyarakat adat yang biasa bermusyawarah di tikar panjang. Saya masih ingat kata-kata Komite Persiapan Pembentukan Kabupaten Nagekeo: “Kita ngusa bani papa kapi, tego papa leu. To’o jogho waga sama. Kita Ine sa susu mite, kita ame sa lalu to. Zeta tolo kita pedhe nika, nawe sa podo, zale teda kita inu tua , nawe sa he’a. Mai kita padhi sama-sama moo tau da koo sao teda kita: Nagekeo.”

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s