TANA ATA NAGEKEO

Tanah dalam budaya orang Keo  tanah adalah Ibu. Bagaikan ibu memiliki kasih dia memberi kelimpahan bagi kehidupan anaknya. Ibu penuh kasih yang menerima kembali anaknya dalam setiap keadaan. Dia ingin memeluk dan memangku anak pada saat paling kritis sekalipun. Tanah seperti rahim ibu. Makanya bila  ada yang  meninggal orang menyebutnya kembali ke rahim ibu  ( negha tama tuka ine.)

Tanah memliki roh dan kekuatan   sehingga  orang yang melanggar hak atas tanah diberi sumpah “tana ka watu pesa”(dalam budaya Ute Toto) . Biar tanah akan menelannya mentah-mentah. Sebagai buah atas pelanggaran atas hak atas tanah.  Sai ta pi singi rete rai, mbesa bhide mina. Dia akan hancur bagaikan lemak.

Tanah menjadi milik bersama di bawah kepala suku (tana koo ine embu), tanah milik leluhur. Tanah menjadi milik kelompok sebagai hak ulayat. Pemilik tanah disebut sebagai Ine ku ame tana (leluhur)  yang kemudian diserahkan pada pengawasan anak yang berhak  sebagai ine ku ame lema, penguasa lahan terbatas.

Kepemilikan tanah  bagi pendatang yang memasuki wilayah dengan cara terhormat (tama dia kono ondo) yang kemudian dirangkul dengan cara yang baik (keu mere kambe dewa) dan diberi hak atas pengolahan tanah.. Dan atas hak seperti ini mereka juga ikut serta dalam kewajiban adat (pebhu tindu ndou mapi)

Seluruh sistem kepemilikan tanah berada di bawah suku-suku dan kepala sukunya, tanah sebagai hak ulayat. Masa kin demi kepentingan usaha atau kepentingan umum tanah harus tercatat sebagai  milik pribadi untuk memudahkan transaksi. Kepemilikan pribadi  didorong dengan pembuatan sertifikat yang digencarkan oleh pemerintah daerah.Masalahnya adalah pemilik tanah suku mempunyai kaitan emosianalitas keluarga besar suatu  kekeluargaan adat. Karena itu masalah tanah sangat sensitif yang harus ditangani dengan sangat hati-hati. Makanya bisnis yang berkaitan dengan tanah berseberangan dengan kepentingan keluarga adat.

Orang Toto memiliki kepercayaan dan sumpah-serapah sendiri tentang tanah, “tana ka watu pesa,” kalau terjadi pelanggaran hak atas tanah. Menurut keyakinan dan kepercayaan orang Toto kaum perusuh, pengacau, dan pelanggar hak atas tanah tidak dihukum oleh manusia, akan tetapi oleh tanah itu sendiri ketika kaum perusuh “ditelan bumi dan disantap batu-batu”.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s