SAO ATA NAGEKEO

Disain Rumah Kampung 

 Sejalan dengan kemajuan ekonomi, masyarakat Nagekeo mulai membangun rumah berdinding tembok.  Ada sebuah kebanggaan memiliki sebuah rumah permanen, dinding tembok dan jendela kaca dengan atap seng. Dengan bangunan rumah seperti itu, ada kesan tertutp dan individu. Bangunan rumah dengan pintu tertutup lebih cocok untuk masyarakat kota dengan pertimbangan kemanan. Pintu selalu dikunci rapat bila ditinggalkan atau malam hari.  Rumah dengan arsitek seperti ini dari sisi kenyaman sebenarnya kurang cocok untuk daerah panas. Bila jendela tidak cukup luas dan terbuka, maka udara terlalu panas untuk rumah.

Pemerintah perlu mengeluarkan biaya untuk mengundang orang yang ahli dalam bidang ini. Sejak dini kita mulai mencari ciri khas rumah Nagekeo. Kita bisa mengacu pada rumah Minang dan Bali   Toraja, Dayak atau Jawa Tengah. Kalau kita tetap membangun rumah tembok tetapi kita minhta para disainer untuk memasyarakatkan disain-disain dengan modifikasi rumah adat yang sehat dan segar.

Kita bisa mengundang para disainer untuk membuat disain rumah berciri khusus yang kemudian dimasyarakatkan secara gratis di setiap desa.  Betapapun indahnya sebuah rumah, tentu harus berada di sebuah lingkungan yang nyaman pula.  Perlu dibuat penataaan kampung.

Tiang rumah kampung orang Nagekeo umumnya berjumlah sembilan. Rumah ibarat tubuh manusia. Dan kesembilan tiang sama jumlahnya dengan lubang yang ada pada tubuh manusia. Tiang-tiang kokoh itu menutupi kelemahan lubang-lubang penting pada tubuh. Ada lobang telinga (2) Lobang mata (2) lobang mulut (1) lobang hidung (2) dan lobang pembuangan (2). Karena setiap tiang merepresentasi bagian tubuh maka tiang harus tidak boleh terbalik. Penempatan kayu harus harus searah. Kalau tidak searah dan ada yang terbalik maka akan membawa mala bagi penghuninya.

Penataan Kampung

Kampung bagi orang Nagekeo bukan sekedar kumpulan rumah-rumah. Kampung adalah merupakan satu ikatan sosial. Rumah-rumah tinggal betapapun kecil selama berada dalam kampung disebut rumah. Sedangakan bangunan untuk tinggal sebesar apapaun yang terletak di kebun disebut keka uma (pondok buat berkebun). Sangat jarang orang tinggal di keka uma.

 Sudah saatnya Nagekeo membenah diri. Mulai dari penataan kampung. Kampung-kampung Nagekeo saat ini mulai kehilangan ciri yang mencerminkan kebersamaan yang rukun. Pada masa lalu rumah selalu berhadapan dan dua halaman bersambung yang dibelah oleh jalan ditengah kampung. Di kedua ujung kampung terdapat jalan masuk utama sebagai gerbang kampung.  Tetapi kini gambaran suasana semacam ini semakin pudar. Malah ada kampung yang sudah berubah sebagai rumah kebon dan tidak terurus. Kampung-kampung nagekeo saat ini tidak lagi mencerminkan persatuan itu. Persatuan Ulu Eko.

Penataan Jalan antar kampung

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s