SUNAT ADAT ATA MA’U

Seorang menghubungiku menanayakan apakah sunat adat di wilayah pantai selatan masih dilakukan?
Upacara sunat dikenal dengan sitilah ‘nggedho dora’ (keluar dan mengembara). Lelaki dewasa yang belum disunat secara berkelompok tinggal di poondok di kebun dan dilarang masuk kampung sampai seluruh upacara sunat selesai. Selama di kebun, mereka disunat seperti sunat laki-laki umumnya di kalangan Islam. Tetapi kalau orang Islam disunat pada saat anak-anak. Sedangkan sunat adat dilakukan pada laki-laki dewasa.

Tujuan sunat selain sebagai tanda pengakuan kedewasaan juga bertujuan untuk menjaga kebersihan. di Nagekeo upacara sunat adat yang masih terus dijaga adalah di kalangan masyarakat adat Lape. Bagi masyarakat Lape, seorang bersunat memiliki kewibawaan untuk berbicara dalam forum adat. Sunat menjadi sarana pengakuan kedewasaan dan kewibawaan seorang untuk dapat berbicara dalam forum resmi.
Para lelaki dewasa yang ‘gedho dora’ biasa dikenal dari jauh dengan ikat kepala merah. Mereka berusaha menghindari kampung dan juga menghindari para wanita, terutama gadis.  Secara akal sehat dapat dipahami. Karena setelah disunat  dorongan seksual sedikit meningkat dari biasanya. Selama di perkemahan (pondok) mereka mendapat pasokan masyarakat dari masyarakat dan dibantu oleh satu atau dua  pemasak yang tentunya laki-laki.   Pada umumnya pemulihan setelah sunat berjalan sangat lambat, karena orang kampung tidak memiliki obat-obat yang baik.

Setelah semua dinyatakan  anggota kelompok dinyatakan pulih semua, mereka masuk kampung dan disambut dengan makan bersama.
Apakah sunat adat masih berjalan di Ma’u? Mungkin ada yang bisa menjawab.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Reba Thanksgiving Day of Ngada Flores

 

saya

DSCN8125

DSCN8123DSCN8108

DSCN8112.JPG

DSCN8108

DSCN8119DSCN8140DSCN8136

DSCN8131DSCN8150DSCN8152DSCN8130wanita Bajawawanita bajawa menari

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkawinan Adat Nagekeo Selatan

Upacara pernikahan adat Nagekeo berbeda dari satu desa ke desa lain. Yang saya catat di sini adalah yang umumnya berlaku di wilayah Nagekeo Selatan (Ma’u). Catatan ini adalah rangkuman dari catatan yang sudah ada dalam blog tanagekeo.wordpress.com  dari tahun 2012 – 2018 yang  masih perlu disempurnakan. Saya sengaja publish  untuk memenuhi rasa ingin tahu sahabat, khusus para pelajar di luar daerah. Ini juga untuk memudahkan  saya perbaiki saat sedang bepergian.

Perkawinan atau pernikahan adat Nagekeo sama sekali tidak membicarakan tentang tata cara pernikahan.  Orang Nagekeo tidak mementingkan formalitas upacara. Bagi orang Nagekeo bicara tentang pernikahan adat adalah bicara (mbabho ngasi) tentang kewajiban pihak laki terhadap pihak wanita.

Mas kawin atau belis memang sangat berat. Semua yang saya catat dari berbagai informasi adalah kewajiban yang standar.  Dalam forum adat, mereka tetap menyebut pos-pos kewajiban, tetapi tidak semua dipenuhi. Dan orang dapat memaklumi.

Cara Menjalin Hubungan Perkawinan.

  1. Ade Ona :
    Utasan keluarga lelaki datang menyampaikan niat , bahwa mereka akan datang secara resmi. Informasi awal biasa disampaikan lewat anak lelaki calon pengantin kepada orang tua wanita. Pihak laki membawa seekor anjing (dako) dan pihak wanita menjamu (pisi ti’i) dengan membunuh babi. Utusan pada saat ade ona  disebut padha tangi (jembatan) atau padha tangi u’u eu.Sebagai orang terdepan mereka disebut dengan ta juru paki tangi weda tenda ( menetak tanda pada tangga dan tenda), atau ta juru tei nia pa ngara ( yang menampilkan muka dan memperkenalkan diri), ta juru ade ona (yang melamar dan menyatakan niat), ta juru mbei kembi nda ndawa ( yang pernah datang duduk bersandar di dinding dan melempangkan kaki di balai-balai).
  2. Peu Longo Langga:
    Inilah pertemuan dan perkenalan pertama keluarga laki dengan keluarga wanita.  Longo langga adalah kambing jantan bertanduk panjang. Tujuan  membawa kambing adalah sebagai bukti bahwa sang wanita sudah nada yang  berniat  untuk menjadikan calon isteri. Pihak laki membawa seekor anjing (dako)  untuk menjamu pihak wanita. dan pihak wanita menjamu (pisi ti’i) dengan membunuh babi .
    Pada saat ini juga diberikan  sebilah parang adat, tau lombo inga (sebagai pemotong kuping).  Orang desa biasa memotong (lombo) kuping hewan sebagai tanda pengenal. Karena itu kita bisa lihat kambing atau babi dengan telinga yang terpotong. Sebagai tanda untuk manusia  berupa perhiasan  emas dua pasang sebagai tanda (tanda semba). Semba adalah tanda yang diberikan sebagai tanda larangan. Semba adalah tanda peringatan atau larangan bahwa gadis ini sudah ada yang punya.
  1. Mendi ngawu :kamba jara 1
    Kedatangan resmi keluarga besar  pihak lelaki (ine weta ane ana dan seluruh di’e  sa’o took tenda) membawa  belis atau mas kawin.Sebelum acara  ini ada persiapan dan pertemuan di dua keluarga masing-masing.
    Keluarga laki mengumpulkan semua kerabat (ine weta ane ana), pihak-pihak yang mempunyai kewajiban untuk member i (menyumbang) berupa emas, kerbau, kuda, kambing, topo )parang adat).  Sebelum berangkat ke keluarga pihak wanita, ada jamuan makan bersama (pisi ti’i ine weta ane ana). Pada saat itu menunjuk mosalaki sebagai juru bicara. Kepada juru bicara sudah disampaikan berapa kesanggupan keluarga.
    Keluarga wanita biasa sudah jauh lebih heboh. Mereka sudah melakukan beberapa kali pertemuan menyambut tamu khusus  dari pihak laki (tu’a eja).  Ada pertemuan keluarga besar ka’e ari sa’o tenda. Mereka juga menyumbang keperluan untuk ‘sundo bhando’ biasanya berupa kain sarung. Sementara babi disiapkan oleh keluarga pengantin wanita.  Minimal 3 ekor babi besar harus disiapkan. untuk jamuan makan bersama buat tu’a eja pada saat baru datang,  untuk jamuan makan bersama pada hari berikutnya. Babi untuk dibawa pulang pada saat nuka sa’o. Babi ini biasa langsung  disembelih untuk makan bersama  kerabat keluarga lelaki. Babi ini harus besar, nanti pada saat kembali mereka membawa sarung, beras beserta daging babi setengah matang( nado nee ine weta ana).  Pemberian disesuai dengan apa yang disumbangkan.  Beras dan daging diberikan kepada semua  keluarga tetapi kain sarung hanya pada mereka yang membawa  kuda atau kerbau atau emas. Pemberian disebut  t’ti pati (saling member).

4. Ti’i te’e pati dani:
Pengesahan pernikahan disebut tii tee pati dani. Tidak ada upacara khusus untuk ini. Keluarga merestui pernikahan  setelah  mendi ngawu (bawa belis).  Ti’i tee pati dani dilakukan pada saat setelah  mendi ngawu. Wanita akan segera berpindah dari rumah orang tuanya ke rumah lelaki. Pemberian tikar kepada keluarga lelaki merupakan symbol persetujuan keihlasan orang tua wanita menyerahkan anaknya kepada pengantin lelaki dan keluarga besarnya.

  1. Nuka Sa’o:  Nuka sao terjadi setelah semua pertemuan tau ngawu selesai dan dari pihak keluarga wanita sudah memberikan sundo bhando.  Setelah selesai semua maka dari pihak wanita mengatakan, itu anakmu ada di rumah. Silahkan menjemput.Penjemputan pengantin perempuan. Pengantin perempuan dijemput  dengan utusan dari pihak lelaki menengok ke kamar pengantin dan disusul oleh ibu-ibu.  Anak perempuan dengan mengenakan pakaian tradisional dengan membawa  bakul kecil untuk tempat sirih di kepala lalu meninggalkan rumah di damping oleh para ibu kerabat pengantin lelaki.  Begitu pengantin wanita melangkah kaki keluar dari kamar dan meninggalkan rumah dilarang untuk menoleh kembali dan hindari agar tidak pernah terantuk.  Pada saat itu wanita diarak berjalan kaki bersama kerabat  lelaki. Dan semua lelaki langsung pamit membawa serta semua barang sundo bhando. Penghantar (Tu bhenggo) Pengantin wanita berangkat juga dihantar oleh utusan kerabat keluarga wanita, yang ditentukan dalam rapat keluarga besar. Sesampai di tempat tujuan kalau tempat itu jauh maka biasa menginap dan dijamu. Tetapi kalau dekat hanya dijamu minuman  dan pamit.  Para penghantar akan diberi penghargaan yang dikenal dengan istilah ‘panggo a’I (upah lelah jalan) bisa berupa hewan ternak atau uang.  Adatnya  para penghantar harus dijamu. Kalau tidak sempat dijamu mereka diberi seekor kambing untuk lauk yang akan disembelih setelah tiba di rumah pengantin wanita.
  2. Woda Ine weta ane ana:
    jamuan di rumah pengantin laki sebagai ucapan syukur dan perpisahan dengan kaum kerabat (tau woda ine weta ane ana).  Pada saat ini para ine weta ane ana yang telah ikut memberikan kuda, kerbau ata kambing mendapat sundo bhando (balasan) berupa kain sarung, tikar dan keranjang berisi beras dan daging babi.
  3. Rengga da’e :
    Setelah beberapa hari  pasangan pengantin muda ini berkunjung lagi ke rumah orang tua wanita yang disebut rengga da’e (menengok kembali tempat asal). Ini merupakan acara resmi bagian dari upacara pernikahan.Yang datang bisa saja hanya pasangan pengantin, tetapi ada juga yang mendampingi (bhenggo). Kalau ada pendamping biasanya ada bawaan berupa kambing atau kuda.   Tetapi  tidak ada tuntutan. Tujuan kunjungan kembali ini sekedar menyanangkan orang tua wanita, karena kelak akan pindah secara tetap dan tidak lagi sering mengunjungi.

Jenis Mas Kawin

  1. Peu Longo Langga:
    Pada pertemuan pertama dua keluarga biasa diberikan belis berupa perhiasan emas sebanyak 2 pasang  sebagai tanda (samba) dan sebilah parang untuk memotong kuping (lombo inga) sebagai tanda pengenal.
  2. Tei Ula  :
    adalah pemberian kepada pihak kerabat  calon pengantin wanita khusus kepada pihak om (embu mame). Pihak embu mame pada saat itu menyembelih babi untuk dapat melihat dan membaca isyarat yang terdapat dalam hati babi. Tei ula adalah melihat dan membaca urat pada hati binatang (babi) agar semuanya berjalan baik (mo’o ula ri’a rada pawe) dan memiliki keturunan ( tuka mbi kambu mbeka).  Kepada embu mame diberikan satu kerbau besar (kamba mosa). Pada waktu itu pihak embu mame membunuh seekor babi dan mereka membaca isyarat yang terdapat pada hati babi. Bila isyarat jelek ( ula mona pawe), maka embu mame minta pihak lelaki memberikan sesuatu yang lain, dan pihak embu mame akan membunuh babi lagi untuk mencari hati yang baru (tau wu ula) sampai ada isyarat baik. Dalam banyak kejadian bila tidak dilakukan pihak keluarga akan mendapat kecelakaan. Belis : Kerbau besar (mosa) 1 ekor.
  3. Mbe’o Sa’o:
    mengenal rumah kerabat mama pengantin wanita, dalam hal ini kakek dan nenek  dan seluruh keluarga besarnya (di’e sa’o toko  tenda). Belisnya : kamba ha eko tii ta amekae (kerbau untuk sang kakek) dan jara tau ndeke ko’o embu (kuda pengganti tongkat), wea ha diwu tau jeka bhala nee topo ha ula ( emas dua pasang sebagai pinang (jeka bhala) dan topo ha ula tau paki tangi weda tenda, moo tau mbeo ke sao ko’o ine embu ta tau nai  ( sebilah parang adat untuk menetakkan tanda pada tenda bahwa ini rumah leluhurnya yang dia datangi)
  4. Teo Ta Ine:
    Pemberian berupa sepasang perhiasan sebagai penghargaan atas budi baik ibu yang melahirkan dan memanjakan anaknya (ga’a gona).  Belis: sepasang hiasan emas.
  5. Pusi Mbele  :
    Biasa diberikan untuk menghargai  ayah dari pengantin wanita yang sudah tua  berupa uang  tetapi kini orang memberikannya dalam bentuk perhiasan emas. Belis: sepasang perhiasan emas.
  6. Jara Saka :
    Kuda  tunggang untuk ayah dari pengantin wanita. Tetapi ini umumnya hanya diberikan kepada mosalaki . Pada awalnya ini hanya diberikan ketika seorang anak wanita dibawa lari (no’e). Belis:  Kuda seekor.
  7. Kewajiban Lain:
    A.   Manu kale kata (ayam mengais-ngais sangkar):
    sebuah perumpamaan yang  menjelaskan bahwa pada saat pertama lelaki membuka (menyingkap) pakaian pengantin wanita.  Belisnya: Kamba (kerbau) dan Jara (kuda)
    B. Topo kai kaja:
    Kaja adalah dinding yang terbuat dari daun lontar. Topo kai kaja artinya saat pengantin lelaki  membuka (kai) dinding (kaja)  keperawanan calon isteri.  Belisnya: Parang adat (topo)C. Wea teo solo:
    Hiasan emas sebagai penghibur bagi pengantin yang merintih atau menangis pada saat pertama kali berhubungan.  Belisnya: Emas (wea)
  8. KUDHU KETE.
    Kudhu kete secara harafiah berarti teman tidur memberi kehangatan pada saat dingin (kete). Kehadiran anak-anak yang hidup bersama bahkan tidur bersama selalu memberikan kehangatan. Ketika seorang anak gadis dibawa ke luar dari rumah akan menghilangkan kehangatan, dan sebaliknya keluarga merasa dingin (kete). Karena itu ketika seorang anak wanita diambil menjadi isteri, maka keluarga dalam hal ini pihak ’embu mame’ harus mendapat kompensasi. Penggantinya untuk memberi kehangatan dalam jenis belis disebut ‘kudhu kete.’ Berbicara mengenai kudhu kete, ada yang meminta (ndoi) kerbau atau kuda, tetapi ada juga yang meminta manusia. Meminta tenaga pengganti. Pemberian ini merupakan jenis perbudakan dalam budaya Nagekeo yang disebut ho’o (hamba). Mereka menjadi manusia pekerja. Jenis lain pemberian manusia terjadi juga dari pihak keluarga wanita kepada keluarga lelaki. Ada istilah dhoko toto mendi mema yang berarti wanita kaya ketika pindah dia juga dihibahkan beberapa jenis harta dan disertai wanita yang disebut tau mbae mboda (untuk memikul bakul). Keluarga turunan kudhu kete dan dhoko mboda sering dianggap rendah. Tetapi toleransi dan kemajuan membuat orang hanya bisik-bisik dan tidak mempersoalkan kelompok ini.
  9. Tuka Uma Mata Ae:
    Masalah mas kawin bukan cuma ada dalam budaya Nagekeo. Hampir semua wilayah adat Indonesia memiliki tradisi membayar belis, mahar atau mas kawin pada saat meminang. Islam termasuk agama yang dengan tegas mengabaikan mas kawin. Tetapi tradisi mas kawin tetap ada dalam bentuk perangkat alat sholat atau sejumlah uang sebagai simbol menghargai dan memberi tanda kenangan istimewa.
    Dalam kaitan dengan istilah Tuka Uma Mata Ae adalah jenis belis yang memperlihatkan ego dan harga diri baik keluarga wanita, juga keluarga pihak laki-laki. Belis ini selalu ditetapkan dalam angka ganjil (3, 5,7 ). Biasanya tiga kerbau, tiga kuda atau 5 kerbau, lima kuda, tujuh kerbau dan tujuh kuda atau seterus.
    Belis ini timbul apabila pihak keluarga wanita mau menunjukkan kebesarannya dengan cara menetapkan jumlah permintaan. Belis ini juga ditetapkan dengan pertimbangan bahwa pihak laki-laki juga adalah dari keluarga berada. Keberadaan keluarga sebenarnya tidak merupakan hasil kerja sendiri, tetapi memiliki keluarga besar yang mampu (weki liwu). Menyiapkan dan membawa belis bukan urusan pribadi laki-laki yang akan menikah. Ini adalah urusan keluarga besarnya. Karena itu tidak heran bila sebelum acara pernikahan di rumah keluarga wanita, sudah ada pertemuan dan perhelatan besar terjadi di keluarga laki-laki (liko tiwo ine weta ane-ana).
  10. Sundo Bhando:
    sundp bhando
    Sundo bhando adalah pemberian sebagai bukti penghargaan dari pihak yang pernah menerima kepada pihak yang memberikan penghargaan. Setiap pemberian dalam upacara adat Nagekeo selalu menuntut imbalan balasan yang setimpal. Karena itu apa saja kebaikan yang diterima merupakan sebuah hutang yang perlu dibayar.
    Dalam budaya Nagekeo setiap pemberian dalam upacara adat termasuk pernikahan, berupa hewan ternak, atau kain sarung  akan selalu diingat baik oleh si pemberi dan juga penerima. Pemberian sundo bhando  pada acara pernikahan adat disesuaikan dengan apa yang diterima oleh pihak pengantin wanita.  Pihak pengantin lelaki membawa barang-barang berupa,emas, parang adat,  kerbau, kuda, kambing  sesuai dengan tuntutan adatnya.  Sudah ada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku standar untuk sebuah pemberian yang layak. Pemberian dari pihak pengantin pria ditentukan oleh pihak pengantian wanita sebagai penerima.  Jumlahnya pun sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhannya.
    Pihak keluarga wanita akan memberikan balasan berupa, kain srung, tikar, beras dan babi besar. Jumlahnya imbalan terserah pada pertimbangan pihak keluarga wanita.
  11. Keso Tee Dangga Dani:
    Dalam  pernikahan menurut adat Nagekeo  pengesahan pernikahan disebut ‘tii te’e pati dani” (memberikan tikar dan bantal). Tidak ada uapacara khusus untuk restu pernikahan dengan memberikan tikar dan bantal.  Pemberian tikar dan bantal biasa pada saat membawa belis. Pihak keluarga wanita memberikan tikar bantal sebagai pemberian yang termasuk dalam ‘sundo bhando”( balas kasih).
    Pernikahan yang tidak melalui prosedur disebut dengan keso te’e dangga dani (menginjak-nginjak tikar serta melangkahi bantal) yang berarti tidak melewati tata cara adat. Melanggar sopan santun. Maka biasanya dikenakan sanksi adat. Pada saat membicarakan adat perkawinanan, maka pihak laki-laki dikenakan sanksi berupa hewan kuda atau kerbau.

Cara Mengikat Hubungan  Perkawinan

  1. Nai Sa’o Tika Tenda
    Pada proses perkenalannya seorang anak laki memasuki rumah keluarga wanita, sering datang ke rumah atau bahkan tinggal di rumah kemudian bekerja di rumah calon mertua.
  2. Iki Teki Tosi, Jata Dhenda Mendi:
    Sang lelaki tidak masuk dan bekerja di rumah mertua bahkan tidak/belum pernah masuk rumah. Ada hubungan dan perkenalan antara anak laki dan wanita. Secara terencana seorang wanita berada di luar rumah, anak laki atau wakilnya membawa  lari anak wanita dengan kuda langsung ke rumah keluarga lelaki. Sesudahnya pihak keluarga lelaki akan datang ke keluarga  wanita menyampaikan pinangan  secara resmi.
    Pernikahan macam ini  dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih (ta ne’e nene). Pihak laki-laki tidak melakukan penghormatan khusus, enggan masuk rumah dan bekerja di rumah calon mertua.  Ini umum berlaku pada keluarga laki yang berpunya atau dalam istilah bahasa daerah : ata ta ne’e nene. Sira ta sue tasa, wea wonga (yang punya gading dan emas).  Imu ko’o ta nggedhe ngonggo kema ghawo, teki dhoi,  o’o do rewo tembo. (tidak mau  bekerja, menjinjing dan memikul, atau berhamba pada keluarga wanita).
  3. Mbe’o Me’a, Nggesu  Nggomi :
    adalah pernikahan melalui jalan pintas. Ini dianggap sebuah pernikahan yang hanya diketahui  pasangan saja (mbe’o me’a). Seorang lelaki mendatangi rumah sang wanita dan kemudian hidup bersama sepengetahuan orang tua wanita.
    Cara ini  tidak menuntut belis (mas kawin) yang banyak.  Pemberian mas kawin sebagai bukti dukungan orang tua pihak laki-laki  sebagai  ‘pela nia pa ngara ‘(tunjuk muka dan memperkenalkan keluarga). Biasanya dilakukan pada saat wanita sudah hamil atau bahkan sudah punya anak. Tunggu saat yang baik bagi keluarga laki.
Posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized | Leave a comment

INE HA SUSU MITE AME HA DADU TOLO

Hidup bersama yang rukun dan bertoleransi bukan sebuah rahmat (granted) dan produk yang selesai. Harus selalu ada usaha yang terus menerus untuk secara sengaja membangun dan merawat kehidupan yang lebih saling menghargai dan mengakui keberadaan pihak lain. Sebagai anak Nagekeo dari wilayah Keo, atau Ma’u , pantai selatan Nangekeo, Flores, saya berbangga bahwa leluhur (embu kajo) punya legacy, warisan harta tak ternilai dan masih berlaku.Karena terpaksa keadaan saya banyak berjalan kaki di Jakarta. Saya pernah berjalan kaki dari Pancoran, Jakarta Selatan sampai Menteng, Jakarta Pusat. Saya juga pernah berjalan kaki dari Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga Rawamangun di Jakarta Timur.
Mundur ke belakang teringat pengalaman jalan kaki menjelajahi wilayah pantai selatan Flores di wilayah daerah kelahiran saya. Ketika sekolah di Seminari Matoloko setiap tahun minimal 2 kali berjalan pulang pergi Muromba , kampung saya sampai Mataloko, bahkan pernah sampai Bajawa. Saya sudah pernah jalan kaki di wilayah Mauponggo sampai Pajamala. Saya juga pernah jalan kaki dari kampung sampai Raja Wolowea. Di wilayah Nangaroro saya sudah sampai Riti dan kampung sekitarnya. Nangaroro sampai Malapahdu. Suatu ketika saya bersama Donatus Kami berjalan kaki sampai Ende.

Berjalan kaki di wilayah selatan yang kami sebut Ma’u, sebuah wilayah yang disebut ‘udu mbe’ i kedi, a’i ndeli mesi (ujung atau hulu bersandar gunung, dan kaki menginnjak laut) mempunyai kesan yang istimewa. Berjalan-jalan atau bepergian di wilayah udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi’ tidak membutuhkan bekal dalam perjalanan. Karena di mana-mana kami bisa dengan mudah mendapatkan minum dan makan tanpa harus mengeluarkan uang. Karena kami memiliki ikatan keluarga di mana-mana.
Orang Nagekeo selalu memaklumatkan dalam ‘bhea’ mengatakan kami wa’u pu’u ha sa’o poro pu’u ha todo (berasal dari rumah induk yang sama dan ‘ine ha susu mite ne’e ame ha dadu tolo’ yang berarti kami mempunyai anak-anak dari rahim dan menyusu dari ibu yang satu dan berayah seorang lelaki perkasa yang sama. Kami tidak perlu takut bepergian ke mana saja karena selalu dapat bertemu saudara yang bisa menolong.

Para leluhur kami ine ame embu kajo orang Keo mengajarkan kami untuk hidup lebih sosial dan terbuka menerima dan mengakui secara resmi orang-orang diluar lingkunan ine ha susu mite ameha dadu tolo. Ada dua warisan leluhur (legacy) yang ditinggalkan yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berbuat baik pada sesama di luar lingkungan ine ha susu mite ame ha dadu tolo.

Keu Mere Kanggo Dewa
Orang Keo, karena lokasinya berada di wilayah pesisir (‘udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi) sehingga disebut Ma’u (pantai) mudah orang singgah dan datang bahkan sampai membangun rumah di pinggir pantai. Salah satu pendatang paling terkenal dari Bugis bernama Rogo Rabi sempat berdiam di Mauromba. Sayang karena sikapnya yang arogan ia dibenci bahkan diusir. Akhirnya Rogo Rabi meninggal dalam upaya kasar mengusir pendatang Bugis tersebut. Seorang saudaranya yang menikah dengan lelaki setempat terbunuh bersama bayi dalam kandungan. Sedangkan seorang saudari Rogo Rabi yang lain menikah dengan orang Nua Ora di wilayah Udiworowatu.
Banyak pendatang yang terus menetap di pantai. Mereka kemudian tinggal dan menetaap serta menikahi orang setempat. Mereka yang tinggal lama (ndii ebho mera jena) diterima oleh keluarga besar (suku), keu mere kanggo dewa, mengulurkan tangan dan membuka rangkulan untuk mengakui sebagai ka’e dimba ari deta( beradik kakak atau bersaudara selamanya) dan diterima sebagai ka’e nua ari oda (masuk dalam persaudaraan kampung halaman).

Tula Jaji
Berbeda dengan Keu Mere Kanggo Dewa yang berlaku hanya untuk meneerima dan mengkui orang perorang ke dalam kekerabatan suku, maka Tula (Tuya, tura) adalah sebuah perjanjian (tase dare) perekat persaudaraan antar suku atau kampung.
Dalam perjanjian dengan jelas bahwa orang dari kampung atau suku lain diperkenankan untuk memetik hasil kebun hewan ternak sebatas ayam untuk makanan bila dibutuhkan dalam perjalanan. Ngada nai pode nio ari tau eta foko nambu mbana ena rada (bisa memanjat dan memetik kelapa muda sekedar untuk membasahi kerongkongan bila haus dalam perjalanan).
Bagi mereka yang memanjat kelapa atau memetik hasil kebun tidak boleh dimarahi atau disakiti. Karena berpegang pada perjanjian (tase dare),sumpah adat bahwa antara anggota keluarga antar kampung atau desa ini, bahwa mereka tidak boleh saling menyakiti seperti terungkap dalam pernyataan ini:”Dima ma’e papa dhepa, ede emu ma’e papa kebhu” (jangan pernah saling memukul, nyamuk di badan pun tabu ditampar).

Yang dapat dipetik dari keu mere kanggo dewa dan tula jaji adalah bahwa kebersamaan, persaudaraan dan toleransi bukan barang terima jadi (granted)tetapi butuh kebesaraan jiwa dan upaya terus menerus dan terobosan dengan sengaja. Pertemuan seperti Natal bersama 3 serumpun, Nangaroro, Keo Tengah dan Mauponggo, ana-ana udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi merupakan usaha dengan sengaja mewarisi semangat para leluhur ine ame embu kajo untuk membangun kebersamaan, persaudaraan dan toleransi. Semangat keu mere kanggo dewa, semangat tula jaji.

Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment

KAWIN KAMPUNG BUKAN AIB TAPI TEROBOSAN

Perkawinan atau pernikahan adat Nagekeo sama sekali tidak membicarakan tentang tata cara pernikahan.   Bagi orang Nagekeo bicara tentang pernikahan adat adalah bicara (mbabho ngasi) tentang kewajiban pihak laki terhadap pihak keluarga wanitai untuk membayar belis (mas kawin) Kewajiban hukum adat dalam belis begitu banyak yang disebut dengan berbagai istilah seperti , peu longo langga, tei ula, mbe’o sa’o, weki mere jangga dewa, jara saka, kudhu kete, pusi mbele, pulu namu dll. Semuanya berupa  kamba (kerbau), jara (kuda), wea (perhiasan emas), longo(kambing), topo(parang adat).

Cara Mengikat Hubungan  Perkawinan
Berikut beberapa cara mengawali hubungan perkawinan adat. Apa pun caranya, pihak laki tetap mempunyai kewajiban membayar belis (mas kawin). Berikut ada 3 cara menjalin hubungan.

  1. Nai Sa’o Tika Tenda: Hubungan diawali dengan proses perkenalannya seorang anak laki memasuki rumah keluarga wanita, sering datang ke rumah atau bahkan tinggal di rumah kemudian bekerja di rumah calon mertua.
  2. Iki Teki Tosi, Jata Dhenda Mendi: Sang lelaki tidak masuk dan bekerja di rumah mertua bahkan tidak/belum pernah masuk rumah. Ada hubungan dan perkenalan antara anak laki dan wanita. Secara terencana seorang wanita berada di luar rumah, anak laki atau wakilnya membawa  lari anak wanita dengan kuda langsung ke rumah keluarga lelaki. Sesudahnya pihak keluarga lelaki akan datang ke keluarga  wanita menyampaikan pinangan  secara resmi.

Pernikahan macam ini  dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih (ta ne’e nene). Pihak laki-laki tidak melakukan penghormatan khusus, enggan masuk rumah dan bekerja di rumah calon mertua.  Ini umum berlaku pada keluarga laki yang berpunya atau dalam istilah bahasa daerah : ata ta ne’e nene. Sira ta sue tasa, wea wonga (yang punya gading dan emas).  Imu ko’o ta nggedhe ngonggo kema ghawo, teki dhoi,  o’o do rewo tembo. (tidak mau  bekerja, menjinjing dan memikul, atau berhamba pada keluarga wanita).

  1. Mbe’o Me’a, Nggesu  Nggomi  adalah pernikahan melalui jalan pintas. Ini dianggap sebuah pernikahan yang hanya diketahui  pasangan saja (mbe’o me’a). Seorang lelaki mendatangi rumah sang wanita dan kemudian hidup bersama sepengetahuan orang tua wanita. Cara ini  tidak menuntut belis (mas kawin) yang banyak.  Pemberian mas kawin (belis) sebagai bukti dukungan orang tua pihak laki-laki  yang disebut ‘pela nia pa ngara ‘(tunjuk muka dan memperkenalkan keluarga). Biasanya dilakukan pada saat wanita sudah hamil atau bahkan sudah punya anak. Tunggu saat yang baik bagi keluarga laki.

Gereja Katolik mengakui pernikahan itu sah dan suci  bila  pasangan setelah melewati persiapan,  melangsungkan  pernikahan dan janji perkawinan  di hadapan  pejabat gereja dan para saksi serta umat.   Karena itu hubungan perkawinan suami isteri yang belum sah secara gereja disebut ‘kawin kampung’.  Pernikahan ‘kawin kampung merupakan terobosan untuk menghindari beban kewajiban membayar belis yang besar. Sekarang  menjadi popular dan tidak merupakan aib.

Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment

ANA SUSU

Dalam melaksanakan pembangunan rumah adat, unsur manusia yang berperan sangat khusus adalah unsur ‘Ana Susu’. Ana susu adalah 2 orang dari warga kampung yang dikukuhkan untuk menjadi pelaksana ritus-ritus dan sesaji kepada para leluhur. Seorang lagi yang lain adalah juru masak anasusu. Baik Ana Susu maupun juru masaknya dipilih dari kalangan yang mamanya datang dari kampung lain dan diantarai dengan kali. Ana Susu makan sisa dari masakan sesaji. Jika masakan sisa banyak maka sisanya bisa diberikan kepada orang lain yang mamanya datang dari luar kampung. (Donggo nua, dangga dowo). Pada pekerjaan yang penting harus Ana Susu bertugas untuk menari dengan iringan gong gendang. Ana Susu dilengkapi dengan parang untuk menari,ikat kepala dari kain merah dan bakul kecil (topo, poji tolo dan mboda goo). Ana susu berhak membebaskan seseorang dari salahnya, dengan menandainya dengan air ludah dari mamahan sirih pinang (nete wado). Demikian info, versi kesatuan adat udi bedo wodowatu.( Domi Ata Bedo)
Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment

Kampung Adat Wogo

(foto: Silvester Teda Sada)

Posted in Uncategorized | Leave a comment