ANA SUSU

Dalam melaksanakan pembangunan rumah adat, unsur manusia yang berperan sangat khusus adalah unsur ‘Ana Susu’. Ana susu adalah 2 orang dari warga kampung yang dikukuhkan untuk menjadi pelaksana ritus-ritus dan sesaji kepada para leluhur. Seorang lagi yang lain adalah juru masak anasusu. Baik Ana Susu maupun juru masaknya dipilih dari kalangan yang mamanya datang dari kampung lain dan diantarai dengan kali. Ana Susu makan sisa dari masakan sesaji. Jika masakan sisa banyak maka sisanya bisa diberikan kepada orang lain yang mamanya datang dari luar kampung. (Donggo nua, dangga dowo). Pada pekerjaan yang penting harus Ana Susu bertugas untuk menari dengan iringan gong gendang. Ana Susu dilengkapi dengan parang untuk menari,ikat kepala dari kain merah dan bakul kecil (topo, poji tolo dan mboda goo). Ana susu berhak membebaskan seseorang dari salahnya, dengan menandainya dengan air ludah dari mamahan sirih pinang (nete wado). Demikian info, versi kesatuan adat udi bedo wodowatu.( Domi Ata Bedo)
Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kampung Adat Wogo

(foto: Silvester Teda Sada)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KAMPUNG ADAT BENA

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RIWAYAT KELUARGA EMBU KAMI TOLO & MBUPU DI WILAYAH KEO TENGAH, KABUPATEN NAGEKEO

Keturunan Embu Kami Tolo dan istrinya Mbupu. Informasi yang penulis peroleh dari cucu-cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa dulu nenek moyang mereka berasal dari Mauara (turunan dari rumah adat Sa’o Sumbu) dan anak yang dilahirkan oleh Embu Kami Tolo dan istrinya Embu Mbupu adalah Embu Wea Mbupu dan Embu Wadja Mbupu.
Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak yakni Rendo, Monda, Rangga, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu yang sempat penulis catat nama anaknya Embu Alowitu dan mungkin masih ada saudara sekandung yang lain belum dicatat dalam penulisan ini. Embu Alowitu kawin dengan Anastasia Bhala melahirkan Gaspar Waja Mariana Mbupu, Agata Ndetu, Adriana Goo, Silvester Goa dan Yeremias Siga (sumber dari ibu Agata Ndetu di Transmigrasi Modo, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah). Menurut ibu Agata Ndetu mengatakan bahwa Embu Rendo kawin dengan Embu Ngguwa Ude melahirkan Nembo, Kota dan Ea. Kemudian Embu Rendo kawin lagi dengan mamanya Anastasia Bhala (tendu wado nee vai koo kae ari imu Alowitu) melahirkan 4 (empat) orang anak bernama Hendrikus Siu, Margareta Wea, Ermin Ora dan Donatus Mere. Posisi mereka masih dalam satu rumah tangga berarti masih berada pada hak warisan yang sama antara Embu Rendo dan Embu Alowitu. Untuk anak cucunya Embu Rendo yang sering penulis ketemu dan melakukan wawancara antara lain anak-anaknya ibu Ea Ngguwa bernama Maria Goreti Babo dengan suaminya Lamber No dan Verdinenda Mogi dengan suaminya Mateus Ndona asal desa Kota Gana. Nama anak-anaknya Maria Goreti Babo yakni Gabriel Rajo, Mersiana Goo, Emilinda Ngguwa dan Fransiskus Rendo. Sedangkan anak-anaknya Ferdinenda Mogi yakni Anselmus Rogo, Maria Afila Ari, Viktoria Tunga dan Arnoldus Yansen Meo. Selanjutnya untuk memperoleh data keturunan dari Embu Wea Mbupu (anaknya Embu Kami Tolo) penulis mewawancarai bapak Hilarius Djawa sewaktu meninggalnya Bapak Andreas Meo di Watudhoge dan sempat mencatat sebagian turunan dari Embu Wea Mbupu yang beliau sempat ketahui (nama-nama dapat dilihat pada tabel silsilah. Setelah penulis telusuri ternyata banyak anak cucunya Embu Kami Tolo keberadaan mereka penulis belum ketemu dan juga belum mengenal untuk dicatat dalam buku silsilah keluarga yang lebih lengkap.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SAKE SULA

Sake sula adalah kata-kata umpatan dan sumpah serapah yang diucapkan seorang kepada orang yang melakukan tindakan tidak menyenangkan.

Kata-kata umpatan (momo si’i ami toa)berupa makian dan ungkapan kotor. Orang Nagekeo biasa memaki ibu dan bapa serta diri orang yang melakukannya.

Selain kata umpatan juga disusul dengan sumpah dan doa mengharapkan mala petaka menimpa seorang. Podo pesa, mata re’e kau, funi mbeta dll..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NDOTO ALAT MUSIK TRADITIONAL NAGEKEO

Selain gong gendang  dan suling bambu yang juga banyak dimiliki di wilayah Nusantara, ada  satu-satunya yang unik alat musik bambu tradtional asli dari Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur yang disebut ‘ndoto’.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GUA WEKI UPACARA INISIASI ADAT LAPE NGEGEDHAWE

Bagi masyarakat adat Lape Ngegedhawe kedewasaan tidak ditentukan oleh usia. Kedewasaan dan hak suara hanya bisa diakui apabila telah melewati ritus adat, gua weki atau sunat adat.
Upacara inisiasi memasuki forum adat, yang disebut gua weki seorang laki-laki dewasa disunat. Orang yang telah disunat dipercayai memiliki ‘waka nga’ (kharisma) dan kewibawaan serta hak suara forum masyarakat adat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment