EJO KEO dan ROGO RABI LEGENDA TANAH ROMBA

EJO KEO TUAN TANAH YANG DIHINA (1)
(Ejo Keo dan Rogo Rabi, suatu kisah sejarah tanah Romba. Karena keterbatasan narasumber saya beri bumbu agar menjadi sebuah narasi yang utuh. Saya sengaja tulis lagi sebagai referensi bagi anak cucu kelak)

Ejo Keo orang Kodiwuwu, tak tahu mimpi apa. Laut seolah terbakar api oleh sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam di kaki langit. Senja datang perlahan-lahan menemani Ejo Keo duduk diatas bongkahan batu besar istrahatkan betis kaki yang mulai pegal. Dia beberapa kali meludah keras ke tanah. Batu dan alang alang terpercik ludah merah. Bertebaran bercak- merah dimana-mana setiap kali meludah. Bibirnya bergetar meludah lalu mengumpat dan mengucapkan kata-kata kotor. Ejo Keo tuan tanah sedang marah. Sangat marah.

Ejo Keo baru saja berkunjung ke rumah seorang pelaut Bugis bernama Rogo Rabi. Kedatangan Ejo Keo adalah bagian dari silaturahim. Berusaha menjalin hubungan baik dengan pendatang dari Bugis yang mendiami Romba, tanah keluhurnya, sambil menawarkan pinang.

Sebagai orang kampung yang sederhana Ejo Keo datang dengan pakaian seadanya. Pagi itu tidak mandi. Karena orang kampung biasanya mandi hanya pada sore hari atau terkadang hanya mengerikkan punggung pisau atau punggung parang pada lengan, perut dan punggung yang selalu terbuka. Ejo Keo juga jarang mencuci kain sarungnya. Hitam, terdapat bercak tanah menempel di beberapa tempat. Debu bercampur keringat lengket membentuk bercak bergaris di kedua lengannya.

Bau amis dari kain dan keringat tubuh Ejo Keo tercium jelas oleh Rogo Rabi. Sesekali Rogo Rabi mendengus mengekspresikan rasa jijik. Ketika Ejo Keo pamit dan turun ke tanah ada bunyi tumpahan air yang keras di tempat duduk Ejo Keo. Bunyi tumpahan air sangat keras. Rogo Rabi menyirami air untuk membersihkan tempat yang diduduki Ejo Keo. “Kotor sekali,” kata Rogo Rabi.

Ejo Keo menoleh dan melihat muka Rogo Rabi yang tidak ramah. Percikan air yang jatuh tersibak ke mana-mana. Dirasakan oleh Ejo Keo mengenai kain dan tubuhnya. Itu hanya perasaan Ejo Keo saja yang hari itu tiba-tiba menjadi sangat sensitif. Dengan sedikit lirikan , ia merasa ada percikan air pada kulitnya. Ia tiva-tiba menjadi sangat peka atas situasi sekitarnya. Alam seolah menyatu rasa dengannya.

Ejo Keo geram. Sedih dan marah. “Apa salah saya,” kata Ejo Keo pelan. “Mengapa tempat duduk saya langsung disirami air?” Ejo Keo milihat bahwa Rogo Rabi menghinanya. Dia merasa jijik atas seluruh penampilan Ejo Keo yang berpakain kotor( kisi koka).
“Kau bikin malu saya.” Kata Ejo Keo dalam hati. Tindakan Rogo Rabi sangat menghina dan merendahkan status Ejo Keo sebagai tuan tanah. Kali ini Ejo Keo tergugah hatinya dan sadar posisi. Dia adalah tuan tanah. Kebiasaan kita yang merangkul menjadi saya yang menonjolkan keakuan atau ego pribadi. Hatinya berkata ini tanah saya. Saya adalah pemilik dan tuannya. Siapakah engkau Rogo Rabi.
Sedang Rogo Rabi seorang pendatang yang membangun rumah tanpa minta izin padanya sebagai tuan tanah. Timbul rasa harga diri, yang pada masyarakat adat selalu dipendam di dalam lubuk hati paling dasar.

Rogi Rabi benar tidak tahu berterima kasih. Ejo Keo dan keluarga besar selama ini tidak mempersoalkan Rogo Rabi sebagai pendatang membangun rumah di Romba tanah miliknya. Harta tidak dibawa mati.Semua orang akan meninggal menghadap sang pencipta. Ne’e kamba dhatu mata, kamba mona mata mogha.Ne’e tana dhatu mata, tana mona mata mogha. Manusia tau bunga dunia. Terngiang kata- kata arif dari para leluhur sebagai pesan bertuah. Tidak usah ribut dan persoalkan sepenggal tanah untuk berlindung dari panas dan dinginnya angin malam. Tau tutu lumu , mu mara. Tetapi pengalaman hari ini membangkitkan amarah. Posisinya sebagai tuan tanah direndahkan. Martabat keluarga seolah diinjak-injak. Kesabaran dan kerendahan hati seolah runtuh terkoyak.

MEO SIA MENYULUT BARA (2)

Sepanjang malam Ejo Keo susah memejamkan matanya. Berkali kali membolak balikan badan. Bantal tikar pandan dirasa kaku dan lebih keras dari biasa. Bebrapa kali dia mengigau bertèriak marah, tapi tidak jelas ucapannya. Mengepalkan tangan dan memukul tikar pandan yang sudah lusuh. Ia tersadar ketika ayam berkokok di atap rumah. Malam terasa panjang. Waktu berjalan lambat menuju pagi. Ejo Keo ingin pagi segera datang. Hatinya penuh sesak. Pikirannya kacau. Penuh dengan ulah tingkah si bangsat tak tahu diri. Itu dia Rogo Rabi yang membuatnya sebal dan rasa marahnya tertumpah seperti air banjir yang deras tak terbendung.

Pagi -pagi, saat matahari baru bersinar. Ejo Keo sudan di rumah Meo Sia. Belum sempat makan sirih pinang Ejo Keo langsung menyalak. Suara keras meledak- meledak. Kata-kata makian seperti hujan tumpah tak terkendali. Kadang dengan bibir bergetar meludah ke udara. Maki dan maki lagi. “Kau tinggal di tanahku. Tanah leluhurku. Saya tidak mempersoalkan. Tapi kau menghinaku. Merendahkan harga diri keluargaku.” Meludah lagi dengan bibir bergetar.

Meo Sia kaget mendengar semua cerita dari Ejo Keo. “Terlalu. Terlalu. Dia tidak mengingat kebaikan kita. Sudah syukur kita tidak mengusirnya. Kelewat batas.” Kata Meo Sia terus mambesarkan nyala api amarah

Setelah banyak berteriak Ejo Keo menatap hampa ke tanah. Dia lalu mengusulkan untuk pergi ke rumah Rangga Ameari di Nua Ora. Keduanya langsung mengikat parang di pinggang. Membawa pinang dan sirih lalu pergi ke Nua Ora.

Sesampai di rumah Rangga Ameari, Ejo Keo duduk membisu.Seperti orang mabuk yang baru muntah-muntah. Matanya menerawang. Amarah dan dendam masih menyelimuti hatinya. Menarik napas dan menghembusnya.

Meo Sia mengendalikan keadaan. Dia bercerita tentang perlakuan Rogo Rabi kepada Ejo Keo. Ejo Keo kembali tersulut. Meluapkan amarahnya. “Saya tidak bisa terima. Kamu tidak melihat. Saya mengalami dan merasakan.”

Rangga Ameari. Berusaha arif. Dia juga marah tetapi menghadapi dilema. Dia tidak setuju dengan sikap kasar Rogo Rabi. Tetapi dia ngat bahwa Rogo Rabi adalah iparnya. Dia menikahi seorang saudari Rogo Rabi. Bagi Ranga Ameari Rogo Rabi iparnya yang selama ini baik. Pernikahan dengan saudari Rogo Rabi tidak terlepas dari kebaikan Rogo Rabi.

Setelah pertemuan di Nua Ora, Rangga Ame Ari berusaha meredam suasana panas. Dia mengundang Rogo Rabi untuk hadir dalam pertemuan itu. Rogo Rabi pun mengajak damai. Tetapi darah Bugisnya tetap tidak mau dianggap tunduk pada Ejo Keo dan Meo Sia.

Rogo Rabi menyimpan dendam pada Ejo Keo. Sulit bagi Roga Rabi untuk langsung menyerang Ejo Keo. Menyerang tuan tanah sama dengan membunuh diri sendiri. Karena pasti orang satu kampung akan menyerang bahkan membunuhnya.

Untuk melampiaskan kemarahan pada Ejo Keo Rogo Rabi membunuh seorang wanita di Kodiwuwu. Bagi Rogo Rabi membunuh wanita itu sama dengan menghabiskan nyawa Ejo Keo. Dia berdalil membunuh wanita itu karena disangka babi. Padahal ini cara menghilangkan jejak hubungan gelap dengan wanita tersebut.

Rogo Rabi mengetahui rencana dan siasat untuk menyerang dirinya. Tetapi Rogo Rabi bukan orang sembarangan. Dia memiliki kekebalan tubuh. Karena itu sulit untuk membunuh Rogo Rabi.

RANGGA AMEARI NENGHADAPI DILEMA(3)

Sulit..sulit kata Rangga Ameari dalam hati. Rogo Rabi itu ipar kandung. Kakak kandung wanita yang dinikahi.

Ia mengingat bagaimana kisah cintanya dengan wanita Bugis yang cantik itu. Ia pernah berjumpa dengan saudari Rogo Rabi saat berkunjung ke rumah Rogo Rabi. Suatu kesempatan Rangga Ameari berjumpa dengan wanita itu ketika selesai mandi di pantai. Kecantikan wanita berkulit bening seindah bidadari di mata Rangga Ameari.

Tak jauh dari pantai di sela- sela hutan pandan ada sebuah batu lonjong panjang sekitar 2 meter dan lebar satu meter lebih. Disamping batu ini ada sebuah sumur, yang tidak seberapa dalam. Rogo dan saudari saudarinya setiap sore mandi di sini.

Saudari Rogo Rabi sangat cantik, berkulit kuning dengan leher yang jenjang. Sangat bening kulitnya. Ada yang bilang kerongkongannya begitu bening sampai dapat melihat air yang turun di kerongkongannya. Karena itu gadis ini dijuluki boti bartaso. Bening seperti botol kaca.

Cinta yang besar pada Boti Bartaso, hormat dan sayangnya pada iparnya Rogo Rabi membuat Rangga Ameari menghadapi dilema. Menghadapi pilihan sulit. Tetapi dia sepakat Rogo Rabi harus disingkir atau dibunuh.
Ejo Keo dan Meo Sia sudah dianggap saudara. Mereka adalah orang-orang terdekat yang harus diberitahu saat kesulitan atau perhelatan adat.
Bagaimana caranya tanpa melibatkannya?
Rangga Ameari tidak tahu bagaimana solusinya. Bagaimanapun demi persaudaraan dengan Ejo Keo dan Meo Sia harus ada jalan keluarnya. Dia satu-satunya tempat mengadu dan mencari solusi.

TODIWAWI KAWIN PAKSA (4)

Kemarahan semakin menjadi-jadi terutama setelah dua orang anak laki dari Ejo Keo dan Meo Sia dibunuh oleh Rogo Rabi ketika mereka mencari pucuk lontar untuk gulung rokok. Kesabaran dan rasa sayang Rangga Ameari pada Rogo Rabi berubah jadi kebencian. Dia benar-benar sangat marah. Dia seperti tak ingin lihat wajahnya. Lebih baik pergi jauh. Tetapi Boti Bartaso selalu jadi nurani pengimbang. Itu saudara sendiri. Jangan diapa-apakan dia.

Menghadapi Rogo Rabi, seorang berilmu kebal ( kobho sibha) merupakan sebuah tantangan yang tersulit. Tetapi menurut penuturan orang setiap kesaktian memiliki musuh yang bisa mengalahkannya. Masih ada langit diatas langit. Itu adalah kekuatan diatas ilmu yang biasa sangat dipantang. Tidak boleh makan bahkan tidak boleh sentuh. Kekuatan itu bisa berupa benda sederhana. Tapi siapa yang tahu? Hanya guru sakti yang mengisi dan mengunci dalam raga dan muridnya mengetahuinya.

Rangga Ameari jadi tempat mereka meminta nasehat. Sambil merokok dan mengunyah sirih pinang dia terus berpikir tentang bagaimana cara mengetahui kunci sakti untuk membuyarkan kesaktian Rogo Rabi. Harus dikorek rahasianya. Butuh sebuah siasat untuk mengorek rahasia dari Rogo Rabi. Boti Bartaso? Tidak mungkin. Karena Boti Bartaso sudah menjadi kerabat Ejo Keo dan Meo Sia setelah pernikahan dengan Rangga Ameari. Dan ini pasti dicurigai Rogo Rabi.

Rangga Ameari terus berpikir dan berdialog dengan nurani, pengendali dan penasehat rohaninya. Dia terus berpikir dan berbicara dalam hatinya. Dia mengajukan pertanyaan dan jawab sendiri. Semuanya terjadi dan gaduh dalam pikiran sendiri. Seorang mosalaki harus cerdas dan bijak.

Rangga Ameari mengatupkan kedua telapak tangan, diangkat tinggi- tinggi, meregangkan otot lengannya. Sambil memandang ke depan, lalu memandang langit dan bernapas lepas. Dia teringat akan Todiwawi. Dia anak dari Wawi Ari, saudarinya yang menikah dengan orang Jawawawo.

Rangga Ameari bertemu dengan Todiwawi. Dia menjelaskan semua masalah. Dia mengusulkan agar Todiwawi mendekati Ito Rabi dan ajak jadi isteri. “Dengan bibi?” Todi Wawi reaksi kaget. “Ya ini hanya siasat,” sambung sang paman. “Kau harus korek dia punya rahasia. Harap kau mengerti,” sambung Rangga Ameari. Lalu dia menjelaskan segala sesuatu secara rinci.

Todi Wawi, yang mulanya canggung, terus mendekati nona Ito Rabi. Pelan tapi pasti bibit cinta akhirnya tersemai, tumbuh subur dan bersemi dalam hati nona Ito Rabi. Rasa hormat antara anak dan bibi berubah hangat menggairahkan. Ada getaran dan gelora asmara. Hubungan baik Todiwawi dan Ito Rabi direstui Rogo Rabi. Sejak itu Todiwawi selalu bolak-balik Romba Jawawawo.

Rogo Rabi jadi pembicaraan. Dia sekarang sedang dikejar hantu dan setan dosa ulahnya. Hidupnya mulai tidak tenang dan berpindah-pindah. Tempat yang paling tenang hanya di Kedidiru. Sebuah kampung sebelah timur kampung Romba. Persis di sebelah kali kering. Di kampung ini Rogo Rabi biasa disambut hangat, selain ikut makan, dia juga memuaskan hasrat syahwatnya dengan seorang wanita.

Masalah dengan Ejo Keo rasanya bisa diatasi.Petualangan menggoda dan mencari wanita itu hanya kenakalan. Ada yang jadi kisah kejantanan pria unggul. Itu hubungan gelap. Selain karena memang terjadi gelap-gelapan di tempat gelap, juga banyak cara untuk dijadikan rahasia tertutup rapat. Kalau pun jadi masalah mudah selesaikan. Tetapi masalah pembunuhan wanita di Kodiwuwu dan melayangnya nyawa anak dari Ejo Keo dan Meo Sia adalah sebuah kejahatan yang luar biasa. Siapa pun tidak mau menerimanya. Bagaimana tidak. Wanita itu dibunuh karena menjaga kehormatannya. Dan dua anak laki itu dibunuh hanya karena dia anggap mereka mencuri pucuk lontar, yang sesungguhnya milik mereka sebagai tuan tanahnya. Tak ada lagi maaf bagi Rogo Rabi. Dia adalah musuh, penjahat yang terus dicari.

 

 

ROGO RABI MENUAI BADAI(5)

Orang Kodiwuwu memasang mata-mata untuk mencari tahu keberadaan Rogo Rabi. Karena itu Rogo Rabi mulai tak tenang. Dia juga dikejar rasa bersalah. Setiap kedatangan orang Kodiwuwu selalu membuat dia cemas. Kekebalan tubuh tidak berarti apa-apa lagi. Secara sosial Rogo Rabi terpantau dan terpojok. Ia ingat tatapan mata orang yang melindunginya selama ini. Mata iparnya Rangga Ameari sudah seperti tatapan mata elang yang siap mencakar ikan. Dia tak kuat lagi menatap. Karena setiap tatapan Rangga Ameari saat menaikkan pandangan sambil mengepulkann asap tembakau lintingan daun lontar seakan menikam batang lehernya. Menghujam keras tanpa suara. Pertemuan dan percakapan pendek beberapa menit dirasa sangat lama penuh ketegangan.

Kepala seperti menjunjung beban berat. Pikiran kacau dan hati tidak tenang. Mencari ketenangan dan jalan keluar begitu sempit dan sulit. Ia sibuk memikirkan banyak hal. Mulai dari ia menuangkan air membersihkan aroma tubuh Ejo Keo. Terbayang mata orang-orang Kodiwuwu yang melirik atau menatapnya penuh dendam. Pandangan mereka dengan mata yang mendakwa. Rogo Rabi merasa mereka seperti barisan hakim baginya. Semua langkahnya seperti bergerak di ruang pengadilan yang sempit. Kegelisahan sudah merambat ke seluruh urat- urat tubuhnya. Semuanya membuatnya salah tingkah dalam setiap kali berjumpa dengan orang lain.

Sore itu seperti biasa Rogo pergi ke pantai. Ia mengambil timba daun lontar, yang terlilit sambungan tali kupasan kulit pelepah lontar. Timba itu disangkutkan pada ujung tonggak penopang palang bambu. Pohon lontar memang pohon berkat. Dari mayang bunganya, hanya dengan mengiris ujungnya akan keluar air nira manis, mirip seperti pecutan tongkat nabi Musa pada wadas yang memberi minum pada orang Israel yang selalu bersungut saat dibawa menuju tanah terjanji.

Rogo Rabi mengambil timba dan menurunkannya ke dalam sumur, mengambil air lalu mengguyur tubuhnya. Diambilnya sebuah batu agak ceper sebesar kepalan. Dia pegang erat lalu menggosok-gosokkan batu itu ke lengan, kaki dan dadanya serta tubuhnya. Daki bercampur lemak tubuhnya membentuk gulungun kecil menempel pada batu dan kulitnya. Kemudian membilas lagi dengan air sumur.

Sambil mandi pikiran Rogo Rabi melayang jauh. Terbersit rasa rindu akan kampung halamannya. Pada saat ia kalut seperti ini, kampung menjadi tempat pelepas lelah dan melupakan segala beban. Kampung itu, keriangan dan kasih sayang tanpa pamrih dari bunda. Terbayang kenangan indah bersama teman bermain sekampung. Ingin sekali menjumpai teman bermain, teman sebaya dan terutama kerabat sedarah. Tapi apa daya semua sudah berubah. Terlalu jauh. Jauh jarak melintas laut. Secara kepribadian Rogo Rabi bukan yang dulu lagi. Sudah jauh beda. Berubah total. Ada rasa malu dan takut ketahuan sifat buruknya kini.

Habis mandi, dengan hati dan pikiran terbeban masalah, Rogo Rabi melilitkan tali timba kemudian disangkutkan pada ujung tonggak penyanggah palang bambu dekat batu lonjong disamping sumur. Diatas palang bambu itu biasa dipakai untuk menyangkutkan kain sarungnya. Dia juga mengambil batu gosokan lalu ditempatkan di atas batu lonjong hampir setinggi kuda. Setelah mengikat kain sarung, dia menunduk sambil menggaruk-garuk kepala dengan kedua telapak tangan. Menggoyang-goyangkan kepala supaya mengeringkan sisa air mandi di rambutnya. Ia menarik napas keras seperti bersiul sambil tangan kanan digosok- gosokkan di kepalanya.

Sekarang dia membuat pilihan. Ke rumahnya di Rombawawo atau ke Kedidiru. Ada suara samar-samar memanggil dalam hatinya. Dengan badan yang sedang segar sehabis mandi dia menuju ke Kedidiru. Rogo Rabi pengalaman dalam hal menggauli wanita. Dia tahu betul kondisi ternyaman dan mengundang berahi. Laut Sawu berwarna merah darah. Matahari sejarak tali kerbau dari ujung cakrawala. Itulah hitungan waktu orang desa( dera tadi kamba). Masih cukup siang. Kadang dia mandi pada saat terlau sore, saat jarak mat hari tinggal sepanjang tali ikat kambing (dera tadi longo). Soal waktu perlu diperhatikan agar tidak keburu gelap.

Rogo Rabi terus menuju Kedidiru. Badannya segar tapi beban batinnya seolah tak terpikulkan. Dia sedang jadi omongan. Dia orang yang paling dicari. Ada ketakutan meliputi dirinya. Siapa tahu lehernya tibs-tiba dicekik atau mulut dan hidung disumbat sampai tak ada oksigen lagi. Bisa berujung maut. Ini bisa fatal bagi siapa saja termasuk Rogo Rabi yang memiliki kekebalan. Semua hanya bayangan sendiri dan ketakutan akibat kelakuannya selama ini.

SIASAT PEDAS LOTO LOMBA(6)

Hidup manusia tak beda drama atau sandiwara banyak babak mengisi waktu juga. Orang harusi menyiasati setiap babak kehidupan. Demokian juga dengan pernikahan Todiwawi adalah sebuah sandiawara. Sutradaranya atau dalangnya tidak lain adalah Rangga Ameari. Bagi Todiwawi menjalankan perintah pamannya merupakan sebuah kewajiban. Tanda hormat pada orangtua. Kepatuhan yang membawa orang lain kedalam jebakan mematikan.

Suatu malam beberapa orang kelompok Ejo Keo dan Meo Sia datang ke kampung Romba. Kedatangan mereka telah direncanakan dengan matang bersama dengan Todiwawi. Tetapi kedatangan mereka tidak diberitahukan kepada orang Romba kelompok Rogo Rabi.

Sebagai tamu mereka datang dengan sikap yang baik seolah-olah ingin mendinginkan suasana. Mau bersilaturahim. Suasana panas akibat ulah Rogo Rabi perlu disejukkan kembali (tau keta fa wado).
Rogo Rabi tidak hadir. Dan itu memang sudah diketahui. Keberadaan Rogo Rabi sudah diintai sejak lama. Semua tahu Rogo Rabi itu ibarat dako ngi’i ngesa, seperti anjing yang pernah makan daging hewan berdarah, sekali mencicipi akan terus haus darah yang sama. Rogo Rabi pasti kembali ke rumah wanita yang pernah ia gauli. Orang-orang dari Kodiwuwu yang ada malam itu sudah tahu dari seorang mata-mata yang terus mempelajari gerak gerik Rogo Rabi.

Malam itu orang-orang dari dua kelompok makan bersama. Lauk ayam malam itu dimasak dengan bumbu lombok ekstra banyak sehingga sangat pedis. “Emba tua?”(mana tuak) kata seorang dari kodiiwuwu. Mereka minum tuak berkali- kali untuk mengurangi rasa pedis saat makan. Seorang berkata: “Te mberu ko’o kolo. Te loto ko’o lomba nde. Simba lo tado bhodo.” (Ini benar-benar lombok. Pedisnya luar biasa. Ini sayurnya orang Lomba (loto lomba).

Akibat banyak minum orang Romba kelompok Rogo Rabi semuanya mabuk. Aneh, karena orang Kodiwuwu tidak ada seorang pun mabuk. Padahal semuanya minum tuak. Ternyata ini memang sudah terencana. Kedua kelompok minum tuak dari bhu tora (wadah minunan terbuat dari labu ) yang berbeda.Tuak dalam bhu tora untuk orang Romba sudah dicampur ramuan akar dan kulit pohon khusus. Ramuan yang sengaja dibuat untuk membuat peminumnya mabuk.

“Negha ka (sudah sekesai)” kata seorang kerabat Ejo Keo sambil melirik ke mereka yang sudah mabuk. Mata sayu, kepala sudah tidak tegak lagi. Sesekali tertunduk dengan mata tertutup. Antara pusing dan ngantuk. Kendali kesadaran sudah jebol.

Orang-orang dari Kodiwuwu bergerak cepat mengambil daun kelapa kering menyulut dalam tungku dapur. Lalu mereka membakar rumah Rogo Rabi. Saudari Rogo Rabi, Ito Rabi panik. Dia berteriak dan meratapi. Orang Kodiwuwu tak tersentuh hatinya. Laksana petugas eksekusi mati, mereka sebatas pelaksana atas keputusan dengan semua sebab akibatnya. Dan penyebabnya adalah Rogo Rabi membunuh seorang wanita bernama Mboda Mere dengan sangat sadis. Dua lelaki calon penerus keturunan Ejo Keo dan Meo Sia juga tewas diujung badik. Akibatnya Rogo Rabi beserta keluarganya harus memikul tanggungjawab dan mendapat sanksinya.
Ito Rabi ditarik ke halaman tempat berdiri watu Ia.( tugu batu). Sambil menangis Ito Rabi terus bergerak dan melawan. Terjadi saling tarik dan saling dorong. Ito Rabi yang sedang hamil terseret mengitari watu Ia lalu dibunuh dengan sadis. Darahnya mengalir membasah batu dan tanah wewa Ia(halaman Ia). Ito Rabi harus dibunuh agar kehilangan jejak saksi dan agar anak turunan tidak bisa bangkit membalas dendam.

Todi Wawi tidak berdaya. Dia hanya salah satu pelakon drama. Ada sutradara yang berkuasa. Dia juga ingat bahwa pernikahannya hanya siasat. Menjadi satu bagian dari sandiwara. Tetapi anak dalam kandungan Ito Rabi adalah darah dagingnya. Itu anaknya.
Dibawah terang bulan orang Kodiwuwu segera berlari pulang ke Kodiwuwu.

 

ROGO RABI DI ROMBA MEMBARA(7)
Nyala api semakin membesar. Ito Rabi saudari Rogo bersama anak dalam kandungan sudah bersimbah darah tak bernyawa. Rogo Rabi saat itu sedang hanyut dalam mimpi setelah lelah berpelukan dan bercinta dengan wanita hitam manis dan berambut lurus dari Kedidiru. Seorang gadis kecil adik wanita kekasih gelap Rogo Rabi masih menikmati cahaya purnama dengan bermain ayunan di bawah kolong. Dia tahu diri. Baru naik tidur bila Rogo Rabi sudah turun dan kembali ke Romba. Ketika ayunan bergoyang dia melihat nyala api yang sangat tinggi di sebelah barat. Dia tahu kakaknya dan Rogo sedang tidur berdua. Suara kikikan dan gerakan balai bambu serta getaran tiang kayu sudah berhenti dan tenang. Dia tahu keduanya sedang tidur. Tak sopan mengganggu orang tidur. Dengan hati-hati si gadis kecil bersenandung pelan: “Kae Rogo, kae Rogo.ila api, api ja rade wodo.” ( kak Rogo, kak Rogo, lihat api menyala di di bukit sana). Gadis itu berulang-ulang mengucapkan itu dalam lagu.Semakin lama semakin keras. Semoga Rogo mendengar. Sampai akhirnya Rogo Rabi yang sedang ngantuk terbangun. Dia melihat dari celah celah dinding yang terbuat dari lepitan daun lontar(kaja). Dari kejauhan dia melihat rumahnya sedang terbakar.

Rogo Rabi segera bangun turun dan bergegas ke rumahnya. Beruntung ada cahaya purnama. Tetapi bagaimanapun Rogo Rabi sudah tahu di luar kepala semua batu dan lubang di jalan. Karena itu adalah jalan yang sudah sangat sering dia lalui. Ini jalan mencari cinta. Semua rintangan sudah dilewati. Dia mengenal dan kuasai medan. Tanpa hambatan berarti Rogo Rabi sudah diseberang kali. Seperti tak ada lelah dia menaiki tumpukan batu di ujung kampung. Begitu masuk dia langsung berteriak sambil menangis menyaksikan sabetan parang pada badan Ito Rabi. Rumahnya lebih dari separuh sudah dilalap api.

Bara api masih menyala, orang orangnya terkulai lemas tak berdaya. Mendidih darah anak Bugis ini. Dia bukan pengecut, dia berani mati dan bisa membunuh orang. Perasaan mendahului akal dan pertimbangan. Ia merasa diri kuat dan berani hadapi semua.

Rogo Rabi bergegas keluar dari kampung memburu pembunuh adiknya. Tetapi dia tidak bisa menemukan seorang pun.
Malam semakin pagi. Kokok ayam beberapa kali terdengar. Ketika fajar tiba Rogo Rabi terhuyung ngantuk berat. Dia akhirnya memilih merebahkan diri di sebuah balai bambu di Peipoo.

Ketika matahari sudah agak tinggi Rogo Rabi terbangun. Dia ingat peristiwa semalam. Urusan cinta di Kedidiru terkubur dalam-dalam. Ada hal yang lebih bahkan sangat penting. Ini darurat. Dan harus jadi perhatian utama. Dia kehilangan rumah. Dia juga kehilangan saudarinya. Dalam duka yang dalam dia kembali ke Romba bersama beberapa saudara orang Bugis menguburkan Ito Rabi.

Matahari terus memancarkan sinarnya. Tetapi Pikiran dan hati Rogo Rabi diliputi kabut gelap. Pekat sampai mata hatinya tidak bisa melihat jalan keluar. Buntu. Rogo Rabi kini bukan Rogo Rabi pemberani lagi. Keberaniannya hilang. Badik dan belatinya terbakar terkubur arang dan abu puing rumahnya. Tak ada lagi sapaan Ito Rabi yang menyambut kedatangannya yang sangat sering pulang subuh setelah bercinta di Kedidiru. Dia kehilangan segala. Matanya sayu, bukan hanya karena kurang tidur, tetapi terlalu banyak masalah yang ia hadapi.

Ia terlalu tangguh selama ini. Tak ada yang dia dengar dan patuhi. Rogo Rabi tidak pernah sadar itu adalah keangkuhan dan bukan sekedar sifat seorang laki-laki pembetani yang tidak takut mati. Karena seorang kesatria selalu menghormati orang lain. Sekarang Rogo Rabi sadar semuanya. Tapi apa daya arang keangkuhan sudah jadi abu halus sekarang.

Rogo Rabi terus tenggelam dalam lamunan.
Rumah dan saudarinya itu hanya sasaran antara. Sasaran terakhir pasti dirinya. Kekebalan tidak berdaya terhadap serangan orang banyak. Seorang tidak selalu mati karena dibunuh dengan benda tajam.Dia tahu sejak remaja kakeknya sudah menanamkan ilmu kebal padanya. Logam, parang , pisau dan semua senjata logam tak mampu menembus tubuhnya. Tapi napasnya yang menentukan kelanjutan hidupnya bisa saja disumbat orang. Rogo Rabi semakin ketakutan.

MENGUAK RAHASIA SENJATA PAMUNGKAS (8)

Masih ada bara amarah yang belum dituntaskan di Kodiwuwu. Ada yang bicara berterus tentang pembakaran kampung dan pembunuhan wanita Bugis di Romba dengan sukacita. Ada yang berbisik dan diam ketakutan serang balik dadakan. Bisa menyasar siapa saja. ” O ingat, itu orang Bugis.”Kata seorang bapak sambil mengasah parang depan rumah tetangga. Ada kebiasaan orang Kodiwuwu meminjam batu asah tetangga sambil dapat bonus sirih pinang atau tembakau. “Mereka bisa balas dendam dan membahayakan kita semua.” Sambung lelaki yang sedang asah parang. Rasa takut itu menghinggapi masyarakat Kodiwuwu.
Setiap peristiwa kebakaran rumah, selalu mengundang simpati. Tidak demikian kebakaran rumah Rogo Rabi membuat orang Kodiwuwu bersukaria. Tak ada air mata duka selain berkali-kali tetes demi tetes air mata berbulir di pipi Boti Bartaso setiap saat mengenang adiknya. Masih ada sedikit duka dalam hati Todiwawi mengingat balasan cinta tulus padanya dari hati seorang wanita sederhana. Rasanya ingin berteriak mengingat anak, darah dagingnya dalam rahim Ito Rabi. Dia tahu pernikahannya hanya siasat. Tetapi seiring berjalannya waktu, bertumbuh kasih sayang suami isteri yang memberikan semangat hidup.
“Kau korek rahasianya.” Itu pesan Rangga Ameari kepada Todi Wawi. Dengan berbagai upaya dia akhirnya mengungkapkan rasa ingin tahunya tentang kekebalan Rogo Rabi. “Mengapa suka kekebalan?” Tanya Ito Rabi saat Todi Wawi bicara tentang kekebalan. “Apa gunanya kebal terhadap parang ?” Kalau hanya sebutir batu kerikil bisa membunuhmu.” Kata Ito Rabi yang disimak oleh Todi Wawi.

Bagi Ito Rabi dirinya adalah bagian dari hidup Todi Wawi. Karena itu apa saja dia berbagi dengan belahan jiwanya. Dia menceritakan semua yang diketahuinya tentang Rogo Rabi dan kunci mengalahkan Rogo Rabi yang memiliki ilmu kebal.

Menikahi bibinya yang dia hormati sangat melawan suara hatinya. Kemudian ‘korek rahasia’ untuk menyabut nyawa orang. Ini sebuah niat yang teramat jahat. Sungguh keji. Ini dua peristiwa yang membuat Todi Wawi harus berperang dengan dirinya sendiri sebagai pribadi lain yang bernurani bersih.
Dan kini dia telah jalankan dan lewati semua rintangan.

UA TANA FAI WATU ANA (9)
Rogo Rabi akhirnya meninggal dunia.
Dia dibunuh hanya dengan dilemparkan sebuah batu kerikil kecil di kepalanya saat sedang tertidur. Inilah kunci rahasia yang didapat Todiwawi dari adik bungsu Rogo Rabi yaitu Ito Rabi.

Rogo Rabi meninggal tanpa berdarah-darah.
Tetapi proses mencari dan menghabiskan Rogo Rabi menguras tenaga dan emosi. Dia selalu berpindah-pindah tempat. Sampai suatu sore ada seorang bapak yang sedang mengiris tuak melihat dari pohon lontar Rogo Rabi sedang tertidur di lubang batang besar pohon ‘ndanga’ tidak jauh dari Nuaora. Disana dia sedang kelelahan tertidur. Saat itu Rogo Rabi dibunuh hanya dengan melemparkan batu kecil ke kepalanya. Daya kerja secara tak kelihatan sudah seperti tembakan peluru tajam dalam jarak dekat. Menembus dan merobekkan otak tanpa kelihatan.

Berita Rogo Rabi neninggal dalam waktu singkat tersebar dari mulut ke mulut.
Mebdengar kabar Rogo Rabi meninggal semua orang Bugis naik perahu meninggalkan pesisir Maunday dan melarikan diri ke Sigho, Borong, Wio di sebelah barat dan ke Bati di sebelah Timur.
Orang Kodiwuwu dan Nuaora merayakan syukur atas kemenangan dengan penuh sukacita. Sebagai tanda sukacita mereka membuat acara makan bersama diawali dengan menembakkan meriam besi oleh Ejo Keo, Meo Sia, Rangga Ameari dan Todiwawi. Todiwawi yang diberi kehormatan keberatan untuk menembak dan membunyikan meriam. Dia mengajukan persyaratan.Karena untuk kemenangan ini dia mengorbankan isterinya Ito Rabi beserta anak dalam kandungan. Todiwawi minta imbalan jasa ‘tau kobi lunga’ (upah lelah)berupa tanah. Permintaan Todi Wawi dipenuhi sebelum membunyikan meriam. Dia mendapat pembagian tanah yang berlokasi di Ua. Karena itu tanah Ua disebut sebagai tana fai watu ana yang bergabung dengan Jawawawo tempat asal Todiwawi. Karena itu hingga sekarang dalam acara adat Ua tidak ndou mapi, wati gata ;(sumbangan adat ) ke Romba yang punya wilayah tersendiri yaitu Udu Mbuju Eko Lomba sebagai bagian dari kesatuan Pau Toda.

 

ROMBA SETELAH ROGO RABI

Mengumpulkan informasi tentang asal usul keluarga yang tinggal di Romba saat ini seperti mencari jarum jahit yang jatuh.
Nara sumber sangat minim. Kalau ada, semua cerita telah dipenggal sesuai dengan krpentingan. Dengan demikian kita sulit mendapat informasi yang utuh.

Dalam catatan saya di tanah Romba selain turunan Ejo Keo ada keluarga- keluarga pendatang lain termasuk Dae Dowo katanya satu-satunya turunan Bugis yang mendapat warisan tanah dan menyumbang seekor babi setelah perang dengan Daja.

Karena pernikahan dan juga berbagai alasan kita harus terima bahwa sejumlah keluarga yang ada di Romba juga memiliki hubungan keluarga dengan orang Kota, Mundemi, Diawatu (Kota Odo) Mauara, Bengga (Kekakodo) dan Numba (Ende).

Ada 24 keluarga yang tinggal di Romba sesudah Rogo Rabi.
Masing-masing keluarga merasa bagian dari keluarga Udu Mbuju Eko Lomba melalui sumbangan babi setelah perang dengan Daja. Total semua 24 ekor babi( eko wawi).

Sejumlah 24 kelurga ini dihimpun dalam 3 kelompok berdasarkan lokasi tinggal di kampung Romba masa itu.

Kelompok dibagi 3 sebagai berikut:
1. Wawo Kota (8 ekor babi)
2. Bhisu Rade (4 ekor babi)
3. Bhisu Mena ( 12 ekor babi)

Kelompok Keluarga Wawo Kota
(8 ekor babi)
1. Pesa
2. Ea
3. Mbeu
4. Nggajo
5. Panda Mbena
6. Ndiwa Tuku
7. Wala Mbewu
8. Jo Tuku
Catatan: Maaf saya belum sempat mencari tahu nama ibu dari keluarga Pesa, Ea, Mbeu dan Nggajo. Bagi yang tahu tolong lengkapi melalui catatan komentar.

Kelompok Bhisu Rade
(4 ekor babi)
1. Dede Dongga
2. Mbeu Mbupu
3. Tonggo Mbena
4. Dombo Mbewu

Kelompok Bhisu Mena
(12 ekor babi)
1. Ria Nggua
2. Ea Kila
3. Doke Duli (Pau)
4. Mbesi Mea(Pau)
5. Taa Keo (Bero Wawo)
6. Jata Keo ((Bero wawo)
7. Meo Onu (Bero wawo)
8. Dhae Mbupu (Bero Wena)
9. Ndua Toyo (Bero Wena)
10. Mbusa Wuda (Bero Wena)
11.Legho Nembo (Bero Wena)
12. Dae Dowo (*turunan Bugis)

Inilah 24 keluarga yang menerima pembagian tanah (ku tana) di wilayah udu mbuju eko Lomba
Pengakuan seorang sebagai anggota keluarga ditandai dengan partisipasi (ndou mapi) saat syukuran ( kobi lunga) setelah perang Daja.

Catatan ini pasti tidak lengkap. Seperti bisa kelihatan dari 4 keluarga yang belum tetcantum nama ibunya. Untuk itu mohon bantuan dari anak cucu kelompok Wawo Kota untuk melengkapinya.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUNAT ADAT ATA MA’U

Seorang menghubungiku menanayakan apakah sunat adat di wilayah pantai selatan masih dilakukan?
Upacara sunat dikenal dengan sitilah ‘nggedho dora’ (keluar dan mengembara). Lelaki dewasa yang belum disunat secara berkelompok tinggal di poondok di kebun dan dilarang masuk kampung sampai seluruh upacara sunat selesai. Selama di kebun, mereka disunat seperti sunat laki-laki umumnya di kalangan Islam. Tetapi kalau orang Islam disunat pada saat anak-anak. Sedangkan sunat adat dilakukan pada laki-laki dewasa.

Tujuan sunat selain sebagai tanda pengakuan kedewasaan juga bertujuan untuk menjaga kebersihan. di Nagekeo upacara sunat adat yang masih terus dijaga adalah di kalangan masyarakat adat Lape. Bagi masyarakat Lape, seorang bersunat memiliki kewibawaan untuk berbicara dalam forum adat. Sunat menjadi sarana pengakuan kedewasaan dan kewibawaan seorang untuk dapat berbicara dalam forum resmi.
Para lelaki dewasa yang ‘gedho dora’ biasa dikenal dari jauh dengan ikat kepala merah. Mereka berusaha menghindari kampung dan juga menghindari para wanita, terutama gadis.  Secara akal sehat dapat dipahami. Karena setelah disunat  dorongan seksual sedikit meningkat dari biasanya. Selama di perkemahan (pondok) mereka mendapat pasokan masyarakat dari masyarakat dan dibantu oleh satu atau dua  pemasak yang tentunya laki-laki.   Pada umumnya pemulihan setelah sunat berjalan sangat lambat, karena orang kampung tidak memiliki obat-obat yang baik.

Setelah semua dinyatakan  anggota kelompok dinyatakan pulih semua, mereka masuk kampung dan disambut dengan makan bersama.
Apakah sunat adat masih berjalan di Ma’u? Mungkin ada yang bisa menjawab.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Reba Thanksgiving Day of Ngada Flores

 

saya

DSCN8125

DSCN8123DSCN8108

DSCN8112.JPG

DSCN8108

DSCN8119DSCN8140DSCN8136

DSCN8131DSCN8150DSCN8152DSCN8130wanita Bajawawanita bajawa menari

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkawinan Adat Nagekeo Selatan

Upacara pernikahan adat Nagekeo berbeda dari satu desa ke desa lain. Yang saya catat di sini adalah yang umumnya berlaku di wilayah Nagekeo Selatan (Ma’u). Catatan ini adalah rangkuman dari catatan yang sudah ada dalam blog tanagekeo.wordpress.com  dari tahun 2012 – 2018 yang  masih perlu disempurnakan. Saya sengaja publish  untuk memenuhi rasa ingin tahu sahabat, khusus para pelajar di luar daerah. Ini juga untuk memudahkan  saya perbaiki saat sedang bepergian.

Perkawinan atau pernikahan adat Nagekeo sama sekali tidak membicarakan tentang tata cara pernikahan.  Orang Nagekeo tidak mementingkan formalitas upacara. Bagi orang Nagekeo bicara tentang pernikahan adat adalah bicara (mbabho ngasi) tentang kewajiban pihak laki terhadap pihak wanita.

Mas kawin atau belis memang sangat berat. Semua yang saya catat dari berbagai informasi adalah kewajiban yang standar.  Dalam forum adat, mereka tetap menyebut pos-pos kewajiban, tetapi tidak semua dipenuhi. Dan orang dapat memaklumi.

Cara Menjalin Hubungan Perkawinan.

  1. Ade Ona :
    Utasan keluarga lelaki datang menyampaikan niat , bahwa mereka akan datang secara resmi. Informasi awal biasa disampaikan lewat anak lelaki calon pengantin kepada orang tua wanita. Pihak laki membawa seekor anjing (dako) dan pihak wanita menjamu (pisi ti’i) dengan membunuh babi. Utusan pada saat ade ona  disebut padha tangi (jembatan) atau padha tangi u’u eu.Sebagai orang terdepan mereka disebut dengan ta juru paki tangi weda tenda ( menetak tanda pada tangga dan tenda), atau ta juru tei nia pa ngara ( yang menampilkan muka dan memperkenalkan diri), ta juru ade ona (yang melamar dan menyatakan niat), ta juru mbei kembi nda ndawa ( yang pernah datang duduk bersandar di dinding dan melempangkan kaki di balai-balai).
  2. Peu Longo Langga:
    Inilah pertemuan dan perkenalan pertama keluarga laki dengan keluarga wanita.  Longo langga adalah kambing jantan bertanduk panjang. Tujuan  membawa kambing adalah sebagai bukti bahwa sang wanita sudah nada yang  berniat  untuk menjadikan calon isteri. Pihak laki membawa seekor anjing (dako)  untuk menjamu pihak wanita. dan pihak wanita menjamu (pisi ti’i) dengan membunuh babi .
    Pada saat ini juga diberikan  sebilah parang adat, tau lombo inga (sebagai pemotong kuping).  Orang desa biasa memotong (lombo) kuping hewan sebagai tanda pengenal. Karena itu kita bisa lihat kambing atau babi dengan telinga yang terpotong. Sebagai tanda untuk manusia  berupa perhiasan  emas dua pasang sebagai tanda (tanda semba). Semba adalah tanda yang diberikan sebagai tanda larangan. Semba adalah tanda peringatan atau larangan bahwa gadis ini sudah ada yang punya.
  1. Mendi ngawu :kamba jara 1
    Kedatangan resmi keluarga besar  pihak lelaki (ine weta ane ana dan seluruh di’e  sa’o took tenda) membawa  belis atau mas kawin.Sebelum acara  ini ada persiapan dan pertemuan di dua keluarga masing-masing.
    Keluarga laki mengumpulkan semua kerabat (ine weta ane ana), pihak-pihak yang mempunyai kewajiban untuk member i (menyumbang) berupa emas, kerbau, kuda, kambing, topo )parang adat).  Sebelum berangkat ke keluarga pihak wanita, ada jamuan makan bersama (pisi ti’i ine weta ane ana). Pada saat itu menunjuk mosalaki sebagai juru bicara. Kepada juru bicara sudah disampaikan berapa kesanggupan keluarga.
    Keluarga wanita biasa sudah jauh lebih heboh. Mereka sudah melakukan beberapa kali pertemuan menyambut tamu khusus  dari pihak laki (tu’a eja).  Ada pertemuan keluarga besar ka’e ari sa’o tenda. Mereka juga menyumbang keperluan untuk ‘sundo bhando’ biasanya berupa kain sarung. Sementara babi disiapkan oleh keluarga pengantin wanita.  Minimal 3 ekor babi besar harus disiapkan. untuk jamuan makan bersama buat tu’a eja pada saat baru datang,  untuk jamuan makan bersama pada hari berikutnya. Babi untuk dibawa pulang pada saat nuka sa’o. Babi ini biasa langsung  disembelih untuk makan bersama  kerabat keluarga lelaki. Babi ini harus besar, nanti pada saat kembali mereka membawa sarung, beras beserta daging babi setengah matang( nado nee ine weta ana).  Pemberian disesuai dengan apa yang disumbangkan.  Beras dan daging diberikan kepada semua  keluarga tetapi kain sarung hanya pada mereka yang membawa  kuda atau kerbau atau emas. Pemberian disebut  t’ti pati (saling member).

4. Ti’i te’e pati dani:
Pengesahan pernikahan disebut tii tee pati dani. Tidak ada upacara khusus untuk ini. Keluarga merestui pernikahan  setelah  mendi ngawu (bawa belis).  Ti’i tee pati dani dilakukan pada saat setelah  mendi ngawu. Wanita akan segera berpindah dari rumah orang tuanya ke rumah lelaki. Pemberian tikar kepada keluarga lelaki merupakan symbol persetujuan keihlasan orang tua wanita menyerahkan anaknya kepada pengantin lelaki dan keluarga besarnya.

  1. Nuka Sa’o:  Nuka sao terjadi setelah semua pertemuan tau ngawu selesai dan dari pihak keluarga wanita sudah memberikan sundo bhando.  Setelah selesai semua maka dari pihak wanita mengatakan, itu anakmu ada di rumah. Silahkan menjemput.Penjemputan pengantin perempuan. Pengantin perempuan dijemput  dengan utusan dari pihak lelaki menengok ke kamar pengantin dan disusul oleh ibu-ibu.  Anak perempuan dengan mengenakan pakaian tradisional dengan membawa  bakul kecil untuk tempat sirih di kepala lalu meninggalkan rumah di damping oleh para ibu kerabat pengantin lelaki.  Begitu pengantin wanita melangkah kaki keluar dari kamar dan meninggalkan rumah dilarang untuk menoleh kembali dan hindari agar tidak pernah terantuk.  Pada saat itu wanita diarak berjalan kaki bersama kerabat  lelaki. Dan semua lelaki langsung pamit membawa serta semua barang sundo bhando. Penghantar (Tu bhenggo) Pengantin wanita berangkat juga dihantar oleh utusan kerabat keluarga wanita, yang ditentukan dalam rapat keluarga besar. Sesampai di tempat tujuan kalau tempat itu jauh maka biasa menginap dan dijamu. Tetapi kalau dekat hanya dijamu minuman  dan pamit.  Para penghantar akan diberi penghargaan yang dikenal dengan istilah ‘panggo a’I (upah lelah jalan) bisa berupa hewan ternak atau uang.  Adatnya  para penghantar harus dijamu. Kalau tidak sempat dijamu mereka diberi seekor kambing untuk lauk yang akan disembelih setelah tiba di rumah pengantin wanita.
  2. Woda Ine weta ane ana:
    jamuan di rumah pengantin laki sebagai ucapan syukur dan perpisahan dengan kaum kerabat (tau woda ine weta ane ana).  Pada saat ini para ine weta ane ana yang telah ikut memberikan kuda, kerbau ata kambing mendapat sundo bhando (balasan) berupa kain sarung, tikar dan keranjang berisi beras dan daging babi.
  3. Rengga da’e :
    Setelah beberapa hari  pasangan pengantin muda ini berkunjung lagi ke rumah orang tua wanita yang disebut rengga da’e (menengok kembali tempat asal). Ini merupakan acara resmi bagian dari upacara pernikahan.Yang datang bisa saja hanya pasangan pengantin, tetapi ada juga yang mendampingi (bhenggo). Kalau ada pendamping biasanya ada bawaan berupa kambing atau kuda.   Tetapi  tidak ada tuntutan. Tujuan kunjungan kembali ini sekedar menyanangkan orang tua wanita, karena kelak akan pindah secara tetap dan tidak lagi sering mengunjungi.

Jenis Mas Kawin

  1. Peu Longo Langga:
    Pada pertemuan pertama dua keluarga biasa diberikan belis berupa perhiasan emas sebanyak 2 pasang  sebagai tanda (samba) dan sebilah parang untuk memotong kuping (lombo inga) sebagai tanda pengenal.
  2. Tei Ula  :
    adalah pemberian kepada pihak kerabat  calon pengantin wanita khusus kepada pihak om (embu mame). Pihak embu mame pada saat itu menyembelih babi untuk dapat melihat dan membaca isyarat yang terdapat dalam hati babi. Tei ula adalah melihat dan membaca urat pada hati binatang (babi) agar semuanya berjalan baik (mo’o ula ri’a rada pawe) dan memiliki keturunan ( tuka mbi kambu mbeka).  Kepada embu mame diberikan satu kerbau besar (kamba mosa). Pada waktu itu pihak embu mame membunuh seekor babi dan mereka membaca isyarat yang terdapat pada hati babi. Bila isyarat jelek ( ula mona pawe), maka embu mame minta pihak lelaki memberikan sesuatu yang lain, dan pihak embu mame akan membunuh babi lagi untuk mencari hati yang baru (tau wu ula) sampai ada isyarat baik. Dalam banyak kejadian bila tidak dilakukan pihak keluarga akan mendapat kecelakaan. Belis : Kerbau besar (mosa) 1 ekor.
  3. Mbe’o Sa’o:
    mengenal rumah kerabat mama pengantin wanita, dalam hal ini kakek dan nenek  dan seluruh keluarga besarnya (di’e sa’o toko  tenda). Belisnya : kamba ha eko tii ta amekae (kerbau untuk sang kakek) dan jara tau ndeke ko’o embu (kuda pengganti tongkat), wea ha diwu tau jeka bhala nee topo ha ula ( emas dua pasang sebagai pinang (jeka bhala) dan topo ha ula tau paki tangi weda tenda, moo tau mbeo ke sao ko’o ine embu ta tau nai  ( sebilah parang adat untuk menetakkan tanda pada tenda bahwa ini rumah leluhurnya yang dia datangi)
  4. Teo Ta Ine:
    Pemberian berupa sepasang perhiasan sebagai penghargaan atas budi baik ibu yang melahirkan dan memanjakan anaknya (ga’a gona).  Belis: sepasang hiasan emas.
  5. Pusi Mbele  :
    Biasa diberikan untuk menghargai  ayah dari pengantin wanita yang sudah tua  berupa uang  tetapi kini orang memberikannya dalam bentuk perhiasan emas. Belis: sepasang perhiasan emas.
  6. Jara Saka :
    Kuda  tunggang untuk ayah dari pengantin wanita. Tetapi ini umumnya hanya diberikan kepada mosalaki . Pada awalnya ini hanya diberikan ketika seorang anak wanita dibawa lari (no’e). Belis:  Kuda seekor.
  7. Kewajiban Lain:
    A.   Manu kale kata (ayam mengais-ngais sangkar):
    sebuah perumpamaan yang  menjelaskan bahwa pada saat pertama lelaki membuka (menyingkap) pakaian pengantin wanita.  Belisnya: Kamba (kerbau) dan Jara (kuda)
    B. Topo kai kaja:
    Kaja adalah dinding yang terbuat dari daun lontar. Topo kai kaja artinya saat pengantin lelaki  membuka (kai) dinding (kaja)  keperawanan calon isteri.  Belisnya: Parang adat (topo)C. Wea teo solo:
    Hiasan emas sebagai penghibur bagi pengantin yang merintih atau menangis pada saat pertama kali berhubungan.  Belisnya: Emas (wea)
  8. KUDHU KETE.
    Kudhu kete secara harafiah berarti teman tidur memberi kehangatan pada saat dingin (kete). Kehadiran anak-anak yang hidup bersama bahkan tidur bersama selalu memberikan kehangatan. Ketika seorang anak gadis dibawa ke luar dari rumah akan menghilangkan kehangatan, dan sebaliknya keluarga merasa dingin (kete). Karena itu ketika seorang anak wanita diambil menjadi isteri, maka keluarga dalam hal ini pihak ’embu mame’ harus mendapat kompensasi. Penggantinya untuk memberi kehangatan dalam jenis belis disebut ‘kudhu kete.’ Berbicara mengenai kudhu kete, ada yang meminta (ndoi) kerbau atau kuda, tetapi ada juga yang meminta manusia. Meminta tenaga pengganti. Pemberian ini merupakan jenis perbudakan dalam budaya Nagekeo yang disebut ho’o (hamba). Mereka menjadi manusia pekerja. Jenis lain pemberian manusia terjadi juga dari pihak keluarga wanita kepada keluarga lelaki. Ada istilah dhoko toto mendi mema yang berarti wanita kaya ketika pindah dia juga dihibahkan beberapa jenis harta dan disertai wanita yang disebut tau mbae mboda (untuk memikul bakul). Keluarga turunan kudhu kete dan dhoko mboda sering dianggap rendah. Tetapi toleransi dan kemajuan membuat orang hanya bisik-bisik dan tidak mempersoalkan kelompok ini.
  9. Tuka Uma Mata Ae:
    Masalah mas kawin bukan cuma ada dalam budaya Nagekeo. Hampir semua wilayah adat Indonesia memiliki tradisi membayar belis, mahar atau mas kawin pada saat meminang. Islam termasuk agama yang dengan tegas mengabaikan mas kawin. Tetapi tradisi mas kawin tetap ada dalam bentuk perangkat alat sholat atau sejumlah uang sebagai simbol menghargai dan memberi tanda kenangan istimewa.
    Dalam kaitan dengan istilah Tuka Uma Mata Ae adalah jenis belis yang memperlihatkan ego dan harga diri baik keluarga wanita, juga keluarga pihak laki-laki. Belis ini selalu ditetapkan dalam angka ganjil (3, 5,7 ). Biasanya tiga kerbau, tiga kuda atau 5 kerbau, lima kuda, tujuh kerbau dan tujuh kuda atau seterus.
    Belis ini timbul apabila pihak keluarga wanita mau menunjukkan kebesarannya dengan cara menetapkan jumlah permintaan. Belis ini juga ditetapkan dengan pertimbangan bahwa pihak laki-laki juga adalah dari keluarga berada. Keberadaan keluarga sebenarnya tidak merupakan hasil kerja sendiri, tetapi memiliki keluarga besar yang mampu (weki liwu). Menyiapkan dan membawa belis bukan urusan pribadi laki-laki yang akan menikah. Ini adalah urusan keluarga besarnya. Karena itu tidak heran bila sebelum acara pernikahan di rumah keluarga wanita, sudah ada pertemuan dan perhelatan besar terjadi di keluarga laki-laki (liko tiwo ine weta ane-ana).
  10. Sundo Bhando:
    sundp bhando
    Sundo bhando adalah pemberian sebagai bukti penghargaan dari pihak yang pernah menerima kepada pihak yang memberikan penghargaan. Setiap pemberian dalam upacara adat Nagekeo selalu menuntut imbalan balasan yang setimpal. Karena itu apa saja kebaikan yang diterima merupakan sebuah hutang yang perlu dibayar.
    Dalam budaya Nagekeo setiap pemberian dalam upacara adat termasuk pernikahan, berupa hewan ternak, atau kain sarung  akan selalu diingat baik oleh si pemberi dan juga penerima. Pemberian sundo bhando  pada acara pernikahan adat disesuaikan dengan apa yang diterima oleh pihak pengantin wanita.  Pihak pengantin lelaki membawa barang-barang berupa,emas, parang adat,  kerbau, kuda, kambing  sesuai dengan tuntutan adatnya.  Sudah ada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku standar untuk sebuah pemberian yang layak. Pemberian dari pihak pengantin pria ditentukan oleh pihak pengantian wanita sebagai penerima.  Jumlahnya pun sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhannya.
    Pihak keluarga wanita akan memberikan balasan berupa, kain srung, tikar, beras dan babi besar. Jumlahnya imbalan terserah pada pertimbangan pihak keluarga wanita.
  11. Keso Tee Dangga Dani:
    Dalam  pernikahan menurut adat Nagekeo  pengesahan pernikahan disebut ‘tii te’e pati dani” (memberikan tikar dan bantal). Tidak ada uapacara khusus untuk restu pernikahan dengan memberikan tikar dan bantal.  Pemberian tikar dan bantal biasa pada saat membawa belis. Pihak keluarga wanita memberikan tikar bantal sebagai pemberian yang termasuk dalam ‘sundo bhando”( balas kasih).
    Pernikahan yang tidak melalui prosedur disebut dengan keso te’e dangga dani (menginjak-nginjak tikar serta melangkahi bantal) yang berarti tidak melewati tata cara adat. Melanggar sopan santun. Maka biasanya dikenakan sanksi adat. Pada saat membicarakan adat perkawinanan, maka pihak laki-laki dikenakan sanksi berupa hewan kuda atau kerbau.

Cara Mengikat Hubungan  Perkawinan

  1. Nai Sa’o Tika Tenda
    Pada proses perkenalannya seorang anak laki memasuki rumah keluarga wanita, sering datang ke rumah atau bahkan tinggal di rumah kemudian bekerja di rumah calon mertua.
  2. Iki Teki Tosi, Jata Dhenda Mendi:
    Sang lelaki tidak masuk dan bekerja di rumah mertua bahkan tidak/belum pernah masuk rumah. Ada hubungan dan perkenalan antara anak laki dan wanita. Secara terencana seorang wanita berada di luar rumah, anak laki atau wakilnya membawa  lari anak wanita dengan kuda langsung ke rumah keluarga lelaki. Sesudahnya pihak keluarga lelaki akan datang ke keluarga  wanita menyampaikan pinangan  secara resmi.
    Pernikahan macam ini  dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih (ta ne’e nene). Pihak laki-laki tidak melakukan penghormatan khusus, enggan masuk rumah dan bekerja di rumah calon mertua.  Ini umum berlaku pada keluarga laki yang berpunya atau dalam istilah bahasa daerah : ata ta ne’e nene. Sira ta sue tasa, wea wonga (yang punya gading dan emas).  Imu ko’o ta nggedhe ngonggo kema ghawo, teki dhoi,  o’o do rewo tembo. (tidak mau  bekerja, menjinjing dan memikul, atau berhamba pada keluarga wanita).
  3. Mbe’o Me’a, Nggesu  Nggomi :
    adalah pernikahan melalui jalan pintas. Ini dianggap sebuah pernikahan yang hanya diketahui  pasangan saja (mbe’o me’a). Seorang lelaki mendatangi rumah sang wanita dan kemudian hidup bersama sepengetahuan orang tua wanita.
    Cara ini  tidak menuntut belis (mas kawin) yang banyak.  Pemberian mas kawin sebagai bukti dukungan orang tua pihak laki-laki  sebagai  ‘pela nia pa ngara ‘(tunjuk muka dan memperkenalkan keluarga). Biasanya dilakukan pada saat wanita sudah hamil atau bahkan sudah punya anak. Tunggu saat yang baik bagi keluarga laki.
Posted in ADAT & BUDAYA, Uncategorized | Leave a comment

INE HA SUSU MITE AME HA DADU TOLO

Hidup bersama yang rukun dan bertoleransi bukan sebuah rahmat (granted) dan produk yang selesai. Harus selalu ada usaha yang terus menerus untuk secara sengaja membangun dan merawat kehidupan yang lebih saling menghargai dan mengakui keberadaan pihak lain. Sebagai anak Nagekeo dari wilayah Keo, atau Ma’u , pantai selatan Nangekeo, Flores, saya berbangga bahwa leluhur (embu kajo) punya legacy, warisan harta tak ternilai dan masih berlaku.Karena terpaksa keadaan saya banyak berjalan kaki di Jakarta. Saya pernah berjalan kaki dari Pancoran, Jakarta Selatan sampai Menteng, Jakarta Pusat. Saya juga pernah berjalan kaki dari Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga Rawamangun di Jakarta Timur.
Mundur ke belakang teringat pengalaman jalan kaki menjelajahi wilayah pantai selatan Flores di wilayah daerah kelahiran saya. Ketika sekolah di Seminari Matoloko setiap tahun minimal 2 kali berjalan pulang pergi Muromba , kampung saya sampai Mataloko, bahkan pernah sampai Bajawa. Saya sudah pernah jalan kaki di wilayah Mauponggo sampai Pajamala. Saya juga pernah jalan kaki dari kampung sampai Raja Wolowea. Di wilayah Nangaroro saya sudah sampai Riti dan kampung sekitarnya. Nangaroro sampai Malapahdu. Suatu ketika saya bersama Donatus Kami berjalan kaki sampai Ende.

Berjalan kaki di wilayah selatan yang kami sebut Ma’u, sebuah wilayah yang disebut ‘udu mbe’ i kedi, a’i ndeli mesi (ujung atau hulu bersandar gunung, dan kaki menginnjak laut) mempunyai kesan yang istimewa. Berjalan-jalan atau bepergian di wilayah udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi’ tidak membutuhkan bekal dalam perjalanan. Karena di mana-mana kami bisa dengan mudah mendapatkan minum dan makan tanpa harus mengeluarkan uang. Karena kami memiliki ikatan keluarga di mana-mana.
Orang Nagekeo selalu memaklumatkan dalam ‘bhea’ mengatakan kami wa’u pu’u ha sa’o poro pu’u ha todo (berasal dari rumah induk yang sama dan ‘ine ha susu mite ne’e ame ha dadu tolo’ yang berarti kami mempunyai anak-anak dari rahim dan menyusu dari ibu yang satu dan berayah seorang lelaki perkasa yang sama. Kami tidak perlu takut bepergian ke mana saja karena selalu dapat bertemu saudara yang bisa menolong.

Para leluhur kami ine ame embu kajo orang Keo mengajarkan kami untuk hidup lebih sosial dan terbuka menerima dan mengakui secara resmi orang-orang diluar lingkunan ine ha susu mite ameha dadu tolo. Ada dua warisan leluhur (legacy) yang ditinggalkan yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berbuat baik pada sesama di luar lingkungan ine ha susu mite ame ha dadu tolo.

Keu Mere Kanggo Dewa
Orang Keo, karena lokasinya berada di wilayah pesisir (‘udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi) sehingga disebut Ma’u (pantai) mudah orang singgah dan datang bahkan sampai membangun rumah di pinggir pantai. Salah satu pendatang paling terkenal dari Bugis bernama Rogo Rabi sempat berdiam di Mauromba. Sayang karena sikapnya yang arogan ia dibenci bahkan diusir. Akhirnya Rogo Rabi meninggal dalam upaya kasar mengusir pendatang Bugis tersebut. Seorang saudaranya yang menikah dengan lelaki setempat terbunuh bersama bayi dalam kandungan. Sedangkan seorang saudari Rogo Rabi yang lain menikah dengan orang Nua Ora di wilayah Udiworowatu.
Banyak pendatang yang terus menetap di pantai. Mereka kemudian tinggal dan menetaap serta menikahi orang setempat. Mereka yang tinggal lama (ndii ebho mera jena) diterima oleh keluarga besar (suku), keu mere kanggo dewa, mengulurkan tangan dan membuka rangkulan untuk mengakui sebagai ka’e dimba ari deta( beradik kakak atau bersaudara selamanya) dan diterima sebagai ka’e nua ari oda (masuk dalam persaudaraan kampung halaman).

Tula Jaji
Berbeda dengan Keu Mere Kanggo Dewa yang berlaku hanya untuk meneerima dan mengkui orang perorang ke dalam kekerabatan suku, maka Tula (Tuya, tura) adalah sebuah perjanjian (tase dare) perekat persaudaraan antar suku atau kampung.
Dalam perjanjian dengan jelas bahwa orang dari kampung atau suku lain diperkenankan untuk memetik hasil kebun hewan ternak sebatas ayam untuk makanan bila dibutuhkan dalam perjalanan. Ngada nai pode nio ari tau eta foko nambu mbana ena rada (bisa memanjat dan memetik kelapa muda sekedar untuk membasahi kerongkongan bila haus dalam perjalanan).
Bagi mereka yang memanjat kelapa atau memetik hasil kebun tidak boleh dimarahi atau disakiti. Karena berpegang pada perjanjian (tase dare),sumpah adat bahwa antara anggota keluarga antar kampung atau desa ini, bahwa mereka tidak boleh saling menyakiti seperti terungkap dalam pernyataan ini:”Dima ma’e papa dhepa, ede emu ma’e papa kebhu” (jangan pernah saling memukul, nyamuk di badan pun tabu ditampar).

Yang dapat dipetik dari keu mere kanggo dewa dan tula jaji adalah bahwa kebersamaan, persaudaraan dan toleransi bukan barang terima jadi (granted)tetapi butuh kebesaraan jiwa dan upaya terus menerus dan terobosan dengan sengaja. Pertemuan seperti Natal bersama 3 serumpun, Nangaroro, Keo Tengah dan Mauponggo, ana-ana udu mbe’i kedi a’i ndeli mesi merupakan usaha dengan sengaja mewarisi semangat para leluhur ine ame embu kajo untuk membangun kebersamaan, persaudaraan dan toleransi. Semangat keu mere kanggo dewa, semangat tula jaji.

Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment

KAWIN KAMPUNG BUKAN AIB TAPI TEROBOSAN

Perkawinan atau pernikahan adat Nagekeo sama sekali tidak membicarakan tentang tata cara pernikahan.   Bagi orang Nagekeo bicara tentang pernikahan adat adalah bicara (mbabho ngasi) tentang kewajiban pihak laki terhadap pihak keluarga wanitai untuk membayar belis (mas kawin) Kewajiban hukum adat dalam belis begitu banyak yang disebut dengan berbagai istilah seperti , peu longo langga, tei ula, mbe’o sa’o, weki mere jangga dewa, jara saka, kudhu kete, pusi mbele, pulu namu dll. Semuanya berupa  kamba (kerbau), jara (kuda), wea (perhiasan emas), longo(kambing), topo(parang adat).

Cara Mengikat Hubungan  Perkawinan
Berikut beberapa cara mengawali hubungan perkawinan adat. Apa pun caranya, pihak laki tetap mempunyai kewajiban membayar belis (mas kawin). Berikut ada 3 cara menjalin hubungan.

  1. Nai Sa’o Tika Tenda: Hubungan diawali dengan proses perkenalannya seorang anak laki memasuki rumah keluarga wanita, sering datang ke rumah atau bahkan tinggal di rumah kemudian bekerja di rumah calon mertua.
  2. Iki Teki Tosi, Jata Dhenda Mendi: Sang lelaki tidak masuk dan bekerja di rumah mertua bahkan tidak/belum pernah masuk rumah. Ada hubungan dan perkenalan antara anak laki dan wanita. Secara terencana seorang wanita berada di luar rumah, anak laki atau wakilnya membawa  lari anak wanita dengan kuda langsung ke rumah keluarga lelaki. Sesudahnya pihak keluarga lelaki akan datang ke keluarga  wanita menyampaikan pinangan  secara resmi.

Pernikahan macam ini  dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih (ta ne’e nene). Pihak laki-laki tidak melakukan penghormatan khusus, enggan masuk rumah dan bekerja di rumah calon mertua.  Ini umum berlaku pada keluarga laki yang berpunya atau dalam istilah bahasa daerah : ata ta ne’e nene. Sira ta sue tasa, wea wonga (yang punya gading dan emas).  Imu ko’o ta nggedhe ngonggo kema ghawo, teki dhoi,  o’o do rewo tembo. (tidak mau  bekerja, menjinjing dan memikul, atau berhamba pada keluarga wanita).

  1. Mbe’o Me’a, Nggesu  Nggomi  adalah pernikahan melalui jalan pintas. Ini dianggap sebuah pernikahan yang hanya diketahui  pasangan saja (mbe’o me’a). Seorang lelaki mendatangi rumah sang wanita dan kemudian hidup bersama sepengetahuan orang tua wanita. Cara ini  tidak menuntut belis (mas kawin) yang banyak.  Pemberian mas kawin (belis) sebagai bukti dukungan orang tua pihak laki-laki  yang disebut ‘pela nia pa ngara ‘(tunjuk muka dan memperkenalkan keluarga). Biasanya dilakukan pada saat wanita sudah hamil atau bahkan sudah punya anak. Tunggu saat yang baik bagi keluarga laki.

Gereja Katolik mengakui pernikahan itu sah dan suci  bila  pasangan setelah melewati persiapan,  melangsungkan  pernikahan dan janji perkawinan  di hadapan  pejabat gereja dan para saksi serta umat.   Karena itu hubungan perkawinan suami isteri yang belum sah secara gereja disebut ‘kawin kampung’.  Pernikahan ‘kawin kampung merupakan terobosan untuk menghindari beban kewajiban membayar belis yang besar. Sekarang  menjadi popular dan tidak merupakan aib.

Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment

ANA SUSU

Dalam melaksanakan pembangunan rumah adat, unsur manusia yang berperan sangat khusus adalah unsur ‘Ana Susu’. Ana susu adalah 2 orang dari warga kampung yang dikukuhkan untuk menjadi pelaksana ritus-ritus dan sesaji kepada para leluhur. Seorang lagi yang lain adalah juru masak anasusu. Baik Ana Susu maupun juru masaknya dipilih dari kalangan yang mamanya datang dari kampung lain dan diantarai dengan kali. Ana Susu makan sisa dari masakan sesaji. Jika masakan sisa banyak maka sisanya bisa diberikan kepada orang lain yang mamanya datang dari luar kampung. (Donggo nua, dangga dowo). Pada pekerjaan yang penting harus Ana Susu bertugas untuk menari dengan iringan gong gendang. Ana Susu dilengkapi dengan parang untuk menari,ikat kepala dari kain merah dan bakul kecil (topo, poji tolo dan mboda goo). Ana susu berhak membebaskan seseorang dari salahnya, dengan menandainya dengan air ludah dari mamahan sirih pinang (nete wado). Demikian info, versi kesatuan adat udi bedo wodowatu.( Domi Ata Bedo)
Posted in ADAT & BUDAYA | Leave a comment