Kain Tenun Nagekeo Bukan Sekedar Kain

 kain-nagekeo
Selain tenun ikat, dimana proses pewarnaan dengan mengikat benang lungsi,sebahagian terbesar adalah tenun tradisional bervariasi warna dan pola pada benang pakan. Benang pakan adalah benang yang dimasukkan horisontal pada setiap kali tenun.
Kain tenun tangan tradisional mahal harganya bukan saja karena proses pembuatannya yang memakan waktu lama, tetapi juga karena fungsinya.
Fungsi kain pada upacara memberi nilai yang sangat istimewa. Selembar kain bernilai barter dengan seekor kerbau atau kuda.
Fungsi kain tradisional sebagai mana fungsi praktis tekstil umumnya yaitu untuk pakaian. Yang membuat harga kain tenun tradisional mahal adalah karena memiliki nilai adat.
Fungsi lain dari kain tenun tradisional Nagekeo:
1. Sebagai hadiah dalam perkawinan (belis), sebuah penghargaan balasan dari pihak keluarga wanita kepada keluarga pria, yang disebut sundo bhando (balasan).
2. Pemberian atau penghormatan pada upacara kematian berupa loko lupa (membungkus jenazah).
3. Alat membayar hukuman (denda) atas kesalahan yang disebut waja ndate.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TELO POI LURIK ASLI NAGEKEO

 

telo-poi-yohana-2

Orang Nagekeo mungkin harus berterima kasih pada seorang Yohana Fransisca, puteri seorang guru asal Rendu. Dia membuktikan bahwa hasil tenun tradisional Nagekeo itu indah. Hampir setiap acara resmi dia tampil dalam balutan kain tenun Nagekeo.

Khususnya saya, tanpa seorang Yohana Fransisca, saya tidak akan pernah tahu bahwa Rendu memiliki produksi tenun berwarna khas. Kombinasi paling berani dan unik hitam atau biru gelap dan ungu dengan pola garis lurus mirip lurik Jawa Tengah. Itulah pola tenun dan warnaa yang dikenal dengan telo poi.telo-poi-yohana-tunggal

telo-poi-yohana-3

telo-poi-yohana-4

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TENUN IKAT NAGEKEO SEMAKIN TERBENAM

 

Membaca beberapa posting di FB tentang tenun, ada orang Flores yang bangga bahwa baju yang dikenakan presiden Obama dan presiden SBY adalah hasil tenunan Flores.tenun-pres

Dari pengalamanku lebih dari 6 tahun di industri batik dan tenun meyakinkan saya itu bukan tenunan Flores. Yang benar adalah pola tenun Flores ditiru oleh para penenun ikat di wilayah lain seperti Lombok, Bali dan Jepara.

Flores belum mengenal industri tenun. Yang ada selama ini hanya pengerajin tenun perorangan di rumah masing-masing. Sekitar tahun 1980 PT. Ramacraft di bawah pimpinan pembatik dan designer busana Iwan Tirta didampingi Juan Federer berkebangsaan Chile, tenun ikat menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sempat hadir di Ende. Waktu itu Juan Federer, yang sangat tertarik pada Flores, dia ingin membuka peluang bagi pekerja-pekerja atau pengerajin Flores menikmati hidup lebih baik dengan atau melalui kerajinan tenun. Pada hal dari sisi bisnis ini hanya bikin repot. Orang Jepara , khususnya Troso bisa melakukan itu semua. Seorang penenun bisa menghasilkan 30 meter tenun ikat dalam waktu dua minggu bahkan lebih singkat.

Mengapa tenun ikat di Flores tidak berkembang maksimal? Parade tenun massa ratusan orang di Maumere belum mengindikasikan kemajuan kerajinan tenun ikat. Selama kegiatan tenun dibiarkan tanpa kordinasi yang baik, maka lama-kelamaan kapasitas tetap merosot. Bisa juga mati seperti tenun ikat (pete), tenunan kain sarung wanita ‘dawo ende’ di wilayah Nagaroro, Keo Tengah dan Mauponggo. Keo Tengah dan Mauponggo mati total. Nangaroro mungkin masih ada di kampung Tonggo, tetapi saya kurang tahu setelah lama tidak pernah berkunjung. Keo Tengah dan Mauponggo saya tahu persis, karena hanya bergantung pada ibi-ibu angkatan 1930an.

Daerah lain sudah menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sementara kita tetap bertahan dengan alat tenun tradisional. Walau hasilnya lebih rapih dan unik, tetapi kapasitas produksi sangat terbatas. Mudah membedakan produksi tenun ATBM dan yang tradisional. Yang membedakan adalah pinggir tenunan. Yang tradisional karena ditarik sempurna dan dengan beberapa kali hentakan akan lebih kerap dibandingkan dengan hasil ATBM yang kendur tidak rata (berkerut).

Pemerintah daerah nampak melakukan sesuatu. Tetapi semuanya haya sekedar berbuat untuk memanfaatkan dana proyek. Mereka membeli mesin ATBM kemudian dionggokkan menjadi kayu bekas. Ya, mesin itu hanya terdiri dari balok dan papan kecil kayu.

Dari semua wilayah di Flores, Nagekeo memiliki kelebihan. Ada 3 macam tenun di Nagekeo. Satu tenunan wo’i yang menyisipkan benang pakan berwarna untuk pola seperti sulam. Hasilnya sangat terkenal dengan nama ragi, ragi Bay atau duka Tonggo.

Di wilayah Tonggo, Nagaroro dan Keo Tengah ada juga tenunan tanpa pola, yang memproduksi kain warna kotak-kota pada kain sarung yang dipakai untuk sehari-hari. Benang pakan selalu diganti berselang seling sehingga membentuk kotak. Kebiasaan tenun ini dipengaruhi oleh penduduk Pulau Ende. Saya masih ingat mama saya belajar tenun di rumah seorang nenek saya di Pulau Ende.

Di pesisir selatan selain duka wo’i ada tenun ikat ‘dawo’. Walau tenunan ini dikerjakan di Mauromba atau Maundai selalu disebut dawo Ende. Karena hampir semua pengerajin adalah penduduk beragama Islam yang kebanyakan kawin campur atau pun semua penduduk setempat. Para pengerajin tenun ikat hampir semua beragama Islam yang disebut sira ta Ende (karena Ende, pulau Ende identik dengan Islam).

Saya belum pernah menyaksikan sendiri bagaimana orang Nage memproses tenun ragi. Yang jelas itu adalah tenun ikat sama seperti yang ada di pesisir selatan dan Sumba. Pola dan warna tenun ikat Nage itu sangat khas. Hasil tenunan berupa ‘hoba’ memiliki keunikan dengan nilai jual tinggi di Nagekeo, karena banyak digunakan sebagai pemberian pada acara adat.

Kalau kini kita melihat banyak orang menggunakan untuk kain dan rok serta baju, dulu kain hoba atau kami di selatan menyebutnya sebagai dawo Nangge (Nage) lebih banyak dijadikan pemberian adat.

Pengerajin tenun ikat untuk ‘dawo Ende’ saat ini hampir tidak ada lagi. Dulu wilayah Tonggo, Maunura, Daja, Mauromba, Maundai, Maunori, Maukeo, Mauwaru, Maumbawa selalu ada orang mengikat dan menenun ‘dawo Ende’. Aroma bau rendaman tarum dan kayu kuning kembo (mengkudu) menyengat hidung di rumah para pengerajin. Bau itu tidak ada lagi di pesisir selatan. Tanaman tarum (talu) dan kembo atau kaju kune (mengkudu) juga jarang kelihatan.

Saat ini pembeli dan pemakai dawo Ende meningkat tajam, hampir semua wanita pesisir selatan dan memiliki ‘dawo ende’. Di wilayah Bajawa ada orang laki mengenakan dawo ende sebagai selimut, yang masih dikenakan hingga pagi. Sayangnya tidak ada lagi produksi di kampung sendiri. Semuanya dibeli dari Ende.

Apresiasi atas produk tenun terus meningkat. Kita semua merasa bangga bahwa presiden Amerika mengenakan kain tenun ikat. Tetapi adakah usaha kita untuk mengembangkan dan melestarikan tenun ikat. Siapa yang harus memulainya?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RITUAL ADAT TI’I KA PATI INU

 

Masyarakat Nage khususnya dan masyarakat Nagekeo umumnya mengenal sebuah ritual yang disebut Ti’I ka pati inu. Arti harafiahnya adalah memberi makan dan minum. Namun ritual ini adalah upaya menyampaikan persembahan kepada Tuhan penguasa langit dan bumi dan memberi makan kepada arwah para leluhur yang telah mendahului kita.
Ritual ti’I ka pati inu biasanya dilakukan menjelang melakukan sebuah pekerjaan atau upacara adat (tau buku gua). Buat rumah (teka sa’o), kerja kebun (kema uma) dan lain-lain yang melibatkan orang banyak dan membutuhkan anggaran besar. Sekarang ini kegiatan grejani seperti Pesta Perak Imamat, Pesta-pesta Gereja seperti pemberkatan Gereja, Pesta Perak Gereja, Pesta Pancawindu, Emas dan Intan juga melakukan ritual Ti’I ka pati inu. Juga kegiatan paroki lainnya seperti Tri Hari OMK juga dilakukan ritual ti’I ka pati inu. Dan ritual ini dilakukan oleh para pemangku adat di kampung tempat penyelenggara kegiatan.
Tujuannya adalah mohon berkat dari Tuhan Penguasa langit dan bumi agar kegiatan berjalan lancar dan sukses. Terhindar dari mara bahaya dan halangan apapun baik mereka yang melakukan pekerjaan, para pelaku upacara (moi buku) bahkan untuk mereka yang datang menyaksikan kegiatan dan upacara adat yang sedang berlangsung.
Untuk melaksanakan ritual adat ti’I ka pati inu perlu disiapkan seekor anak babi dan beras. Kalau untuk upacara adat di suku, kampung, atau pembuatan rumah adat atau rumah pribadi maka biasanya anak babi dan beras dari Ine ame ebu ta’u, pu’u kamu logo lighu (keturunan nenek, atau ibu).
Kegiatan ti’I ka pati inu dilakukan pada malam sebelum kegiatan berlangsung. Dengan rangkaian kegiatan adalah pagi atau siang anak babi dibunuh. Dalam kegiatan ini akan dilakukan juga ritual kela ‘ua ‘ate/kela ‘ate wawi. Untuk itu pada saat membunuh anak babi (wela ana wawi), didahului dengan weca zea (menaburkan beras sedikit demi sedikit) ke tubuh babi yang akan dibunuh diiringi kata-kata:
Zi’a kau ‘ua wawi, ta wela tanga tau tei ‘ua
‘Ua kau ba modhe, zala kau mo’o dega gea
Li’e seko bhia wua dau
Wiwi kau nipi-nipi
Nata kau ma’e haga
“Au lepe kau masa
Pedhu kau mo’o benu jenu
Esa, dhua, telu, wutu, lima bhisa

Setelah dibunuh, sebagaimana biasanya babi dibakar (ngae wawi) dan dibelah untuk dijadikan daging yang siap dimakan (po sae). Untuk kepentingan ti’I ka pati inu, maka dari daging itu, setelah melihat petunjuk Tuhan dan leluhur melalui hati babi (kela ‘ua ‘ate) maka diambil hatinya (ala ta ‘ate), ambil salah satu tulang rusuk (ala ta toko ‘asa), ambil dagingnya (ala ta isi), ambil lemaknya (ala ta wozo), ambil sedikit tulang (ala ta toko), dan bagian2 yang diambil ini dimasak tersendiri terpisah dengan masakan daging lainnya (nasu me’a). Kalau sudah masuk dicampur dengan sambal yang diracik dari darah babi (ghao ne’e a) maka siaplah bahan untuk ti’I ka pati ini.
Malam harinya dilakukan ritual ti’I ka pati inu dengan tata caranya adalah sebagai berikut:
1. Semua pemangku adat yang ikut dalam acara ti’I ka pati inu duduk melingkar di tempat ritual biasanya di dalam rumah dekat dengan tempat menaruh persembahan (podhu zeta tolo ghili pu’u dudhe)
2. Makanan persembahan ditaruh sebagai berikut: nasi di tempat tersendiri di piring adat (nika ena kula), daging juga disimpan di piring tersendiri (posa ena kula), moke ditaruh di tempat khusus dari tempurung yang sudah dibuat tempat minum (tua ena he’a) dan air minum ditaruh di tempat minum yang dibuat dari bambu (ae bheka ena tobho). Untuk para peserta ritual setelah makan minum moke dari tempat khusus yang disebut “baso aso”
3. Kemudian bahan persembahan diletakan ditempat yang telah ditentukan (pu’u nebu ‘ena pu’u dudhe) diiring doa adat sebagai berikut:
Dewa zeta, Ga’e zale, ine ame, ebu kajo, ebu netu kajo waja, ta kumi dui tebe lege, ta kami be’o ne’e ta kami kewo, ta mata ‘ulu wa’u muzi. Mai soso sa’I papa ‘oko, tepi sa’I papa tiwo, miu mo ka papa fa, inu papa pa pida, ka pebha pa’a inu seba siku. Pu’u poa nge’e jeka leza lima, imo ‘ana ‘ebu miu OMK toto sa paroki Bo’awae mo mai leo dia mo’o tau bana bo’a kita ta Toeteda ne’e dhegha madhi, ne’e jedhe ja’I ne’e teke dhegha, ne’e punu ana ta mo’o tau ngai demu sia jena, ne’e latu papa ‘uji me’a ko’o ‘ola mali demu.
Kami pai ena Dewa zeta Ga’e zale, ‘ine ame ebu kajo, ebu netu kajo waja, ta kumi dui tebe lege, ta kami be’o ne’e ta kami kewo, ta mata ‘ulu wa’u muzi. Kami pai miu tefa nizo pepe zi’a pelu molo imo ana ebu miu ana OMK ta mai dia bo’a kita, ta mo’o tau bana ko’o bo’a ‘ola kita, Demu mo’o weki zi’a lo pawe. Bhia demu tau sala, kami pai miu ma’e teko feka bholo miu nawe pa’o la pea dhewa demu mo’o be’o latu ko’o ‘uku ada ne’e ko’o ada tana kita. Imo ola kema demu mo’o modhe neka ena ta leza lima nge’e. Ola mo’o da gea pu’u leza wunga jeka leza ta epo. Kaju ta bhaga zala miu ku’a bu’a dhua. Tali ta sepe nete eta beta wutu. Bhia ne’e ‘ata ta mo’o weke e’e kema koka miu pe, miu bhaga, peto ‘ola demu mo’o kema nawe ta modhe neka.
4. Sesudah ritual ti’I ka pati inu, para peserta ritual bisa makan dan minum bersama.
5. Setelah makan acara bisa diisi dengan sedikit permbicaraan agar para pemangku adat ikut mejaga dan membimbing anak-anak untuk erkaitan dengan adat dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan benda-benda adat sebaagai pu’u ka ‘owo inu.

Disusun oleh Cyrilus Bau Engo dari sumber para tokoh adat dalam rangka Tri Hari OMK yang berlangsung di Nagesapadhi, tepatnya di kampung adat Toeteda.
(Teman-teman bisa sesuaikan dengan adat setempat karena ini versi Nage. Mari kita sama-sama tulis tentang budaya kita)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

<a href=”http://profit24jam.com/?ref=vitran01&#8243; target=”_top”>
<img border=”0″ src=”http://profit24jam.com/images/210×158.__1455812109_36.72.33.70 + logo.jpg” alt=”Profit24Jam.com” width=”468″ height=”60″>

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Festival Tari Flores/NTT di Nagekeo

Tour de Flores  acara lomba balap sepeda dunia sudah mencapai akhirnya hari ini 23 Mei 2016,  di Labuan Bajo.Saya berpikir positif,  TDF sudah berjalan dengan sukses. Selamat buat penggagas dan panitia. Walau Primus Dorimulu kelihatan jalan sendiri, gagasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2011 bersama Wakil Menteri Pariwisata Osman Sapta di Gand Hyat Hotel.

(foto: dokumentasi sahabat)penggagas tour de flores

Saya terhibur karena Nagekeo tidak menjadi kampung tanpa penghuni. Di sepanjang jalan dari Nagaroro ada orang yang berdiri di jalan. Ada kerumunan di beberapa tempat, bahkan di Boawae sebuah kota budaya Ketua DPRD dan Wakil Bupati hadir bersama warga. Ada penjualan hasil keajinan Nagekeo. Kita sudah berbuat. Kalau ada dari kita yang kecewa, wajar saja. Tidak mungkin semua orang bisa puas untuk hal yang sama.

Dapat dipahami  rasa kecewa dari orang Nagekeo karena para pembalapnya tidak memasuki ibu kota kabupatennya. Mereka pantas kecewa, karena panitianya adalah putera-putera yang lahir dan dibesarkan di Nagekeo. Tetapi semuanya untuk Flores dan Indonesia.

Mbay itu ibu kota kabupten Nagekeo. Disinggahi atau dilewati para pembalap, Mbay tetap eksis sebagai ibu kota Nagekeo.Kita tidak  saja punya potensi karena padang rumput luas yang belum digarap, pertanian dan peternakan kita pun unggul.

Kalau ditanya apa yang paling khas dari Nagekeo. Busana Nagekeo berupa kodo dan hoba serta kesenian Ndoto dan Todagu benar-benar autentik, 100 per sen produk lokal dan jelas unik. Lalu bagai mana membuat orang menyaksikan keunikan itu. Kita harus kreatif melakukan sesuatu dan membuka peluang usaha serta pasar atas produk lokal kita.

Dimana ada massa disitu ada kebutuhan dan tentu pasar. Kita harus segera gagaskan membuat sebuah festival. Selenggarakan sebuah pesta perlombaan tarian adat tradisional se Flores/NTT. Para tamu diinapkan/ homestay di rumah penduduk. Berarti akomodasi tidak perlu dipikirkan. Manfaatkan kesempatan ini untuk menjual hasil kerajinan dan makanan. Sebuah bisnis jangka waktu satu sampai tiga hari.

Kepanitiaan tentu orang Nagekeo. Tetapi Dewan Juri harus  tokoh-tokoh pakar seni nasional. Hadirkan Menteri Pariwisata dan lakukan usaha ekstra untuk publikasi melalui media nasional. Ini perlu agar tidak mengulangi TDF, dari sisi publikasi saya anggap lemah, karena  tidak ada dukungan dari media cetak bahkan siaran langsung TV.

Jadikan ajang ini sebagai festival rutine 3 tahun sekali, saya yakin  Nagekeo menjadi terkenal. Banyak anak Nagekeo yang bergerak di bidang tourisme, bawa para turis menyaksikan even ini. Murah meriah, gegap gempita. Rore kamba ta la tau mbasa tana, mo’o tana ma’e udhu adha. Mai to’o jogho wangga sama.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

PELA NIA

 

Orang Nagekeo tidak punya budaya berkunjung pada hari raya Natal, Tahun Baru atau Paskah. Demikian juga bagi keluarga Muslim pada hari Idul Fitri. Tidak hadir pada acara-acara pesta suka cita tidak terlalu dipermasalahkan.

Solidaritas orang Nagekeo yang paling menonjol adalah pada saat orang meninggal dunia. Inilah kesempatan keluarga besar, handai taulan berkumpul. Kalau di daerah lain ada tempat sumbangan uang, orang Nagekeo mengutamakan ‘pela nia’ (memperlihatkan muka). Yang lebih berarti adalah kehadiran.

Kemarin Sabtu 14 Mei 2016, saya mungkin orang terakhir yang datang pada misa 40 hari meninggalnya pak Yoseph Lea Wea. Misa yang direncanakan jam 11 siang diundur sampai jam 12 siang karena menunggu pastor. Ketika saya datang upacara misa dan makan siang sudah berlangsung. Pastor paroki sudah keluar dari mulut gang Antriksa. Sebagai orang Nagekeo saya telah bayar hutang ‘pela nia’.

Posted in Uncategorized | Leave a comment