SAKE SULA

Sake sula adalah kata-kata umpatan dan sumpah serapah yang diucapkan seorang kepada orang yang melakukan tindakan tidak menyenangkan.

Kata-kata umpatan (momo si’i ami toa)berupa makian dan ungkapan kotor. Orang Nagekeo biasa memaki ibu dan bapa serta diri orang yang melakukannya.

Selain kata umpatan juga disusul dengan sumpah dan doa mengharapkan mala petaka menimpa seorang. Podo pesa, mata re’e kau, funi mbeta dll..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NDOTO ALAT MUSIK TRADITIONAL NAGEKEO

Selain gong gendang  dan suling bambu yang juga banyak dimiliki di wilayah Nusantara, ada  satu-satunya yang unik alat musik bambu tradtional asli dari Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur yang disebut ‘ndoto’.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

GUA WEKI UPACARA INISIASI ADAT LAPE NGEGEDHAWE

Bagi masyarakat adat Lape Ngegedhawe kedewasaan tidak ditentukan oleh usia. Kedewasaan dan hak suara hanya bisa diakui apabila telah melewati ritus adat, gua weki atau sunat adat.
Upacara inisiasi memasuki forum adat, yang disebut gua weki seorang laki-laki dewasa disunat. Orang yang telah disunat dipercayai memiliki ‘waka nga’ (kharisma) dan kewibawaan serta hak suara forum masyarakat adat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mata Golo

Kemarin diundang makan siang di rumah Johanes Gore Jemu yang berhari ulang tahun. Teras depan duduk semua saudara berbahasa Bajawa. Saya ikut bergabung. Sudara Hans Obor dan teman-teman berbahasa Nagekeo di ruang terpisah, mereka pulang beberapa saat setelah saya tiba.

Cerita seorang anak Bajawa yang meninggal kena strom dihantar ke Flores dengan peti jenazah mahal dibiayai bosnya.
Sebagai orang Bajawa jenazahnya pasti tidak dibawa masuk rumah. Tetapi ditempatkan di tenda darurat. Karena meninggal karena kecelakaan bagi orang Bajawa adalah kematian yang tidak wajar atau yang disebeut mata golo.

Peristiwa mata golo itu merupakan sebuah kutukan akibat tidak terpenuhi urusan adat. Peristiwa mata golo memiliki kaitan historis dengan para leluhurnya yang juga mengalami mata golo.

Upacara mata golo biasa dipimpin seorang yang memiliki kemampuan khusus. Pemimpin upacara akan mulai memanggil roh dan menanyakan sebab kematian. Panggilan bsa berulang-ulang sampai mendapat jawaban biasa berupa bunyi burung.

Dengan melakukan ritual ‘tibo’ sang pemimpin upacara dapat mengetahui sejarah berlapis-lapis dari turunan orang yang telah meninggal. Sang pemimpin yang berkekuatan dukun magis lalu mewartakan dengan jelas semua masalah pelanggaran adat yang pernah dilakukan leluhur orang yang baru meninggal.

Perlakuan pada jenazah orang mata golo sungguh memprihatinkan. Ditempatkan di tenda darurat terbuat dari bambu bulat atau batang pisang. Pakaiannya diikat pada sebatang bambu yang ditegakkan.
Makam pun tidak boleh di pemakaman umum. Dimakamkan jauh dari kampung dan di tempat yang sunyi.
Himbauan pastor tidak mempan untuk merobah tradisi ini.

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Kain Tenun Nagekeo Bukan Sekedar Kain

 kain-nagekeo
Selain tenun ikat, dimana proses pewarnaan dengan mengikat benang lungsi,sebahagian terbesar adalah tenun tradisional bervariasi warna dan pola pada benang pakan. Benang pakan adalah benang yang dimasukkan horisontal pada setiap kali tenun.
Kain tenun tangan tradisional mahal harganya bukan saja karena proses pembuatannya yang memakan waktu lama, tetapi juga karena fungsinya.
Fungsi kain pada upacara memberi nilai yang sangat istimewa. Selembar kain bernilai barter dengan seekor kerbau atau kuda.
Fungsi kain tradisional sebagai mana fungsi praktis tekstil umumnya yaitu untuk pakaian. Yang membuat harga kain tenun tradisional mahal adalah karena memiliki nilai adat.
Fungsi lain dari kain tenun tradisional Nagekeo:
1. Sebagai hadiah dalam perkawinan (belis), sebuah penghargaan balasan dari pihak keluarga wanita kepada keluarga pria, yang disebut sundo bhando (balasan).
2. Pemberian atau penghormatan pada upacara kematian berupa loko lupa (membungkus jenazah).
3. Alat membayar hukuman (denda) atas kesalahan yang disebut waja ndate.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TELO POI LURIK ASLI NAGEKEO

 

telo-poi-yohana-2

Orang Nagekeo mungkin harus berterima kasih pada seorang Yohana Fransisca, puteri seorang guru asal Rendu. Dia membuktikan bahwa hasil tenun tradisional Nagekeo itu indah. Hampir setiap acara resmi dia tampil dalam balutan kain tenun Nagekeo.

Khususnya saya, tanpa seorang Yohana Fransisca, saya tidak akan pernah tahu bahwa Rendu memiliki produksi tenun berwarna khas. Kombinasi paling berani dan unik hitam atau biru gelap dan ungu dengan pola garis lurus mirip lurik Jawa Tengah. Itulah pola tenun dan warnaa yang dikenal dengan telo poi.telo-poi-yohana-tunggal

telo-poi-yohana-3

telo-poi-yohana-4

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TENUN IKAT NAGEKEO SEMAKIN TERBENAM

 

Membaca beberapa posting di FB tentang tenun, ada orang Flores yang bangga bahwa baju yang dikenakan presiden Obama dan presiden SBY adalah hasil tenunan Flores.tenun-pres

Dari pengalamanku lebih dari 6 tahun di industri batik dan tenun meyakinkan saya itu bukan tenunan Flores. Yang benar adalah pola tenun Flores ditiru oleh para penenun ikat di wilayah lain seperti Lombok, Bali dan Jepara.

Flores belum mengenal industri tenun. Yang ada selama ini hanya pengerajin tenun perorangan di rumah masing-masing. Sekitar tahun 1980 PT. Ramacraft di bawah pimpinan pembatik dan designer busana Iwan Tirta didampingi Juan Federer berkebangsaan Chile, tenun ikat menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sempat hadir di Ende. Waktu itu Juan Federer, yang sangat tertarik pada Flores, dia ingin membuka peluang bagi pekerja-pekerja atau pengerajin Flores menikmati hidup lebih baik dengan atau melalui kerajinan tenun. Pada hal dari sisi bisnis ini hanya bikin repot. Orang Jepara , khususnya Troso bisa melakukan itu semua. Seorang penenun bisa menghasilkan 30 meter tenun ikat dalam waktu dua minggu bahkan lebih singkat.

Mengapa tenun ikat di Flores tidak berkembang maksimal? Parade tenun massa ratusan orang di Maumere belum mengindikasikan kemajuan kerajinan tenun ikat. Selama kegiatan tenun dibiarkan tanpa kordinasi yang baik, maka lama-kelamaan kapasitas tetap merosot. Bisa juga mati seperti tenun ikat (pete), tenunan kain sarung wanita ‘dawo ende’ di wilayah Nagaroro, Keo Tengah dan Mauponggo. Keo Tengah dan Mauponggo mati total. Nangaroro mungkin masih ada di kampung Tonggo, tetapi saya kurang tahu setelah lama tidak pernah berkunjung. Keo Tengah dan Mauponggo saya tahu persis, karena hanya bergantung pada ibi-ibu angkatan 1930an.

Daerah lain sudah menggunakan mesin ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sementara kita tetap bertahan dengan alat tenun tradisional. Walau hasilnya lebih rapih dan unik, tetapi kapasitas produksi sangat terbatas. Mudah membedakan produksi tenun ATBM dan yang tradisional. Yang membedakan adalah pinggir tenunan. Yang tradisional karena ditarik sempurna dan dengan beberapa kali hentakan akan lebih kerap dibandingkan dengan hasil ATBM yang kendur tidak rata (berkerut).

Pemerintah daerah nampak melakukan sesuatu. Tetapi semuanya haya sekedar berbuat untuk memanfaatkan dana proyek. Mereka membeli mesin ATBM kemudian dionggokkan menjadi kayu bekas. Ya, mesin itu hanya terdiri dari balok dan papan kecil kayu.

Dari semua wilayah di Flores, Nagekeo memiliki kelebihan. Ada 3 macam tenun di Nagekeo. Satu tenunan wo’i yang menyisipkan benang pakan berwarna untuk pola seperti sulam. Hasilnya sangat terkenal dengan nama ragi, ragi Bay atau duka Tonggo.

Di wilayah Tonggo, Nagaroro dan Keo Tengah ada juga tenunan tanpa pola, yang memproduksi kain warna kotak-kota pada kain sarung yang dipakai untuk sehari-hari. Benang pakan selalu diganti berselang seling sehingga membentuk kotak. Kebiasaan tenun ini dipengaruhi oleh penduduk Pulau Ende. Saya masih ingat mama saya belajar tenun di rumah seorang nenek saya di Pulau Ende.

Di pesisir selatan selain duka wo’i ada tenun ikat ‘dawo’. Walau tenunan ini dikerjakan di Mauromba atau Maundai selalu disebut dawo Ende. Karena hampir semua pengerajin adalah penduduk beragama Islam yang kebanyakan kawin campur atau pun semua penduduk setempat. Para pengerajin tenun ikat hampir semua beragama Islam yang disebut sira ta Ende (karena Ende, pulau Ende identik dengan Islam).

Saya belum pernah menyaksikan sendiri bagaimana orang Nage memproses tenun ragi. Yang jelas itu adalah tenun ikat sama seperti yang ada di pesisir selatan dan Sumba. Pola dan warna tenun ikat Nage itu sangat khas. Hasil tenunan berupa ‘hoba’ memiliki keunikan dengan nilai jual tinggi di Nagekeo, karena banyak digunakan sebagai pemberian pada acara adat.

Kalau kini kita melihat banyak orang menggunakan untuk kain dan rok serta baju, dulu kain hoba atau kami di selatan menyebutnya sebagai dawo Nangge (Nage) lebih banyak dijadikan pemberian adat.

Pengerajin tenun ikat untuk ‘dawo Ende’ saat ini hampir tidak ada lagi. Dulu wilayah Tonggo, Maunura, Daja, Mauromba, Maundai, Maunori, Maukeo, Mauwaru, Maumbawa selalu ada orang mengikat dan menenun ‘dawo Ende’. Aroma bau rendaman tarum dan kayu kuning kembo (mengkudu) menyengat hidung di rumah para pengerajin. Bau itu tidak ada lagi di pesisir selatan. Tanaman tarum (talu) dan kembo atau kaju kune (mengkudu) juga jarang kelihatan.

Saat ini pembeli dan pemakai dawo Ende meningkat tajam, hampir semua wanita pesisir selatan dan memiliki ‘dawo ende’. Di wilayah Bajawa ada orang laki mengenakan dawo ende sebagai selimut, yang masih dikenakan hingga pagi. Sayangnya tidak ada lagi produksi di kampung sendiri. Semuanya dibeli dari Ende.

Apresiasi atas produk tenun terus meningkat. Kita semua merasa bangga bahwa presiden Amerika mengenakan kain tenun ikat. Tetapi adakah usaha kita untuk mengembangkan dan melestarikan tenun ikat. Siapa yang harus memulainya?

Posted in Uncategorized | Leave a comment