RITUAL ADAT TI’I KA PATI INU

 

Masyarakat Nage khususnya dan masyarakat Nagekeo umumnya mengenal sebuah ritual yang disebut Ti’I ka pati inu. Arti harafiahnya adalah memberi makan dan minum. Namun ritual ini adalah upaya menyampaikan persembahan kepada Tuhan penguasa langit dan bumi dan memberi makan kepada arwah para leluhur yang telah mendahului kita.
Ritual ti’I ka pati inu biasanya dilakukan menjelang melakukan sebuah pekerjaan atau upacara adat (tau buku gua). Buat rumah (teka sa’o), kerja kebun (kema uma) dan lain-lain yang melibatkan orang banyak dan membutuhkan anggaran besar. Sekarang ini kegiatan grejani seperti Pesta Perak Imamat, Pesta-pesta Gereja seperti pemberkatan Gereja, Pesta Perak Gereja, Pesta Pancawindu, Emas dan Intan juga melakukan ritual Ti’I ka pati inu. Juga kegiatan paroki lainnya seperti Tri Hari OMK juga dilakukan ritual ti’I ka pati inu. Dan ritual ini dilakukan oleh para pemangku adat di kampung tempat penyelenggara kegiatan.
Tujuannya adalah mohon berkat dari Tuhan Penguasa langit dan bumi agar kegiatan berjalan lancar dan sukses. Terhindar dari mara bahaya dan halangan apapun baik mereka yang melakukan pekerjaan, para pelaku upacara (moi buku) bahkan untuk mereka yang datang menyaksikan kegiatan dan upacara adat yang sedang berlangsung.
Untuk melaksanakan ritual adat ti’I ka pati inu perlu disiapkan seekor anak babi dan beras. Kalau untuk upacara adat di suku, kampung, atau pembuatan rumah adat atau rumah pribadi maka biasanya anak babi dan beras dari Ine ame ebu ta’u, pu’u kamu logo lighu (keturunan nenek, atau ibu).
Kegiatan ti’I ka pati inu dilakukan pada malam sebelum kegiatan berlangsung. Dengan rangkaian kegiatan adalah pagi atau siang anak babi dibunuh. Dalam kegiatan ini akan dilakukan juga ritual kela ‘ua ‘ate/kela ‘ate wawi. Untuk itu pada saat membunuh anak babi (wela ana wawi), didahului dengan weca zea (menaburkan beras sedikit demi sedikit) ke tubuh babi yang akan dibunuh diiringi kata-kata:
Zi’a kau ‘ua wawi, ta wela tanga tau tei ‘ua
‘Ua kau ba modhe, zala kau mo’o dega gea
Li’e seko bhia wua dau
Wiwi kau nipi-nipi
Nata kau ma’e haga
“Au lepe kau masa
Pedhu kau mo’o benu jenu
Esa, dhua, telu, wutu, lima bhisa

Setelah dibunuh, sebagaimana biasanya babi dibakar (ngae wawi) dan dibelah untuk dijadikan daging yang siap dimakan (po sae). Untuk kepentingan ti’I ka pati inu, maka dari daging itu, setelah melihat petunjuk Tuhan dan leluhur melalui hati babi (kela ‘ua ‘ate) maka diambil hatinya (ala ta ‘ate), ambil salah satu tulang rusuk (ala ta toko ‘asa), ambil dagingnya (ala ta isi), ambil lemaknya (ala ta wozo), ambil sedikit tulang (ala ta toko), dan bagian2 yang diambil ini dimasak tersendiri terpisah dengan masakan daging lainnya (nasu me’a). Kalau sudah masuk dicampur dengan sambal yang diracik dari darah babi (ghao ne’e a) maka siaplah bahan untuk ti’I ka pati ini.
Malam harinya dilakukan ritual ti’I ka pati inu dengan tata caranya adalah sebagai berikut:
1. Semua pemangku adat yang ikut dalam acara ti’I ka pati inu duduk melingkar di tempat ritual biasanya di dalam rumah dekat dengan tempat menaruh persembahan (podhu zeta tolo ghili pu’u dudhe)
2. Makanan persembahan ditaruh sebagai berikut: nasi di tempat tersendiri di piring adat (nika ena kula), daging juga disimpan di piring tersendiri (posa ena kula), moke ditaruh di tempat khusus dari tempurung yang sudah dibuat tempat minum (tua ena he’a) dan air minum ditaruh di tempat minum yang dibuat dari bambu (ae bheka ena tobho). Untuk para peserta ritual setelah makan minum moke dari tempat khusus yang disebut “baso aso”
3. Kemudian bahan persembahan diletakan ditempat yang telah ditentukan (pu’u nebu ‘ena pu’u dudhe) diiring doa adat sebagai berikut:
Dewa zeta, Ga’e zale, ine ame, ebu kajo, ebu netu kajo waja, ta kumi dui tebe lege, ta kami be’o ne’e ta kami kewo, ta mata ‘ulu wa’u muzi. Mai soso sa’I papa ‘oko, tepi sa’I papa tiwo, miu mo ka papa fa, inu papa pa pida, ka pebha pa’a inu seba siku. Pu’u poa nge’e jeka leza lima, imo ‘ana ‘ebu miu OMK toto sa paroki Bo’awae mo mai leo dia mo’o tau bana bo’a kita ta Toeteda ne’e dhegha madhi, ne’e jedhe ja’I ne’e teke dhegha, ne’e punu ana ta mo’o tau ngai demu sia jena, ne’e latu papa ‘uji me’a ko’o ‘ola mali demu.
Kami pai ena Dewa zeta Ga’e zale, ‘ine ame ebu kajo, ebu netu kajo waja, ta kumi dui tebe lege, ta kami be’o ne’e ta kami kewo, ta mata ‘ulu wa’u muzi. Kami pai miu tefa nizo pepe zi’a pelu molo imo ana ebu miu ana OMK ta mai dia bo’a kita, ta mo’o tau bana ko’o bo’a ‘ola kita, Demu mo’o weki zi’a lo pawe. Bhia demu tau sala, kami pai miu ma’e teko feka bholo miu nawe pa’o la pea dhewa demu mo’o be’o latu ko’o ‘uku ada ne’e ko’o ada tana kita. Imo ola kema demu mo’o modhe neka ena ta leza lima nge’e. Ola mo’o da gea pu’u leza wunga jeka leza ta epo. Kaju ta bhaga zala miu ku’a bu’a dhua. Tali ta sepe nete eta beta wutu. Bhia ne’e ‘ata ta mo’o weke e’e kema koka miu pe, miu bhaga, peto ‘ola demu mo’o kema nawe ta modhe neka.
4. Sesudah ritual ti’I ka pati inu, para peserta ritual bisa makan dan minum bersama.
5. Setelah makan acara bisa diisi dengan sedikit permbicaraan agar para pemangku adat ikut mejaga dan membimbing anak-anak untuk erkaitan dengan adat dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan benda-benda adat sebaagai pu’u ka ‘owo inu.

Disusun oleh Cyrilus Bau Engo dari sumber para tokoh adat dalam rangka Tri Hari OMK yang berlangsung di Nagesapadhi, tepatnya di kampung adat Toeteda.
(Teman-teman bisa sesuaikan dengan adat setempat karena ini versi Nage. Mari kita sama-sama tulis tentang budaya kita)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

<a href=”http://profit24jam.com/?ref=vitran01&#8243; target=”_top”>
<img border=”0″ src=”http://profit24jam.com/images/210×158.__1455812109_36.72.33.70 + logo.jpg” alt=”Profit24Jam.com” width=”468″ height=”60″>

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Festival Tari Flores/NTT di Nagekeo

Tour de Flores  acara lomba balap sepeda dunia sudah mencapai akhirnya hari ini 23 Mei 2016,  di Labuan Bajo.Saya berpikir positif,  TDF sudah berjalan dengan sukses. Selamat buat penggagas dan panitia. Walau Primus Dorimulu kelihatan jalan sendiri, gagasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2011 bersama Wakil Menteri Pariwisata Osman Sapta di Gand Hyat Hotel.

(foto: dokumentasi sahabat)penggagas tour de flores

Saya terhibur karena Nagekeo tidak menjadi kampung tanpa penghuni. Di sepanjang jalan dari Nagaroro ada orang yang berdiri di jalan. Ada kerumunan di beberapa tempat, bahkan di Boawae sebuah kota budaya Ketua DPRD dan Wakil Bupati hadir bersama warga. Ada penjualan hasil keajinan Nagekeo. Kita sudah berbuat. Kalau ada dari kita yang kecewa, wajar saja. Tidak mungkin semua orang bisa puas untuk hal yang sama.

Dapat dipahami  rasa kecewa dari orang Nagekeo karena para pembalapnya tidak memasuki ibu kota kabupatennya. Mereka pantas kecewa, karena panitianya adalah putera-putera yang lahir dan dibesarkan di Nagekeo. Tetapi semuanya untuk Flores dan Indonesia.

Mbay itu ibu kota kabupten Nagekeo. Disinggahi atau dilewati para pembalap, Mbay tetap eksis sebagai ibu kota Nagekeo.Kita tidak  saja punya potensi karena padang rumput luas yang belum digarap, pertanian dan peternakan kita pun unggul.

Kalau ditanya apa yang paling khas dari Nagekeo. Busana Nagekeo berupa kodo dan hoba serta kesenian Ndoto dan Todagu benar-benar autentik, 100 per sen produk lokal dan jelas unik. Lalu bagai mana membuat orang menyaksikan keunikan itu. Kita harus kreatif melakukan sesuatu dan membuka peluang usaha serta pasar atas produk lokal kita.

Dimana ada massa disitu ada kebutuhan dan tentu pasar. Kita harus segera gagaskan membuat sebuah festival. Selenggarakan sebuah pesta perlombaan tarian adat tradisional se Flores/NTT. Para tamu diinapkan/ homestay di rumah penduduk. Berarti akomodasi tidak perlu dipikirkan. Manfaatkan kesempatan ini untuk menjual hasil kerajinan dan makanan. Sebuah bisnis jangka waktu satu sampai tiga hari.

Kepanitiaan tentu orang Nagekeo. Tetapi Dewan Juri harus  tokoh-tokoh pakar seni nasional. Hadirkan Menteri Pariwisata dan lakukan usaha ekstra untuk publikasi melalui media nasional. Ini perlu agar tidak mengulangi TDF, dari sisi publikasi saya anggap lemah, karena  tidak ada dukungan dari media cetak bahkan siaran langsung TV.

Jadikan ajang ini sebagai festival rutine 3 tahun sekali, saya yakin  Nagekeo menjadi terkenal. Banyak anak Nagekeo yang bergerak di bidang tourisme, bawa para turis menyaksikan even ini. Murah meriah, gegap gempita. Rore kamba ta la tau mbasa tana, mo’o tana ma’e udhu adha. Mai to’o jogho wangga sama.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

PELA NIA

 

Orang Nagekeo tidak punya budaya berkunjung pada hari raya Natal, Tahun Baru atau Paskah. Demikian juga bagi keluarga Muslim pada hari Idul Fitri. Tidak hadir pada acara-acara pesta suka cita tidak terlalu dipermasalahkan.

Solidaritas orang Nagekeo yang paling menonjol adalah pada saat orang meninggal dunia. Inilah kesempatan keluarga besar, handai taulan berkumpul. Kalau di daerah lain ada tempat sumbangan uang, orang Nagekeo mengutamakan ‘pela nia’ (memperlihatkan muka). Yang lebih berarti adalah kehadiran.

Kemarin Sabtu 14 Mei 2016, saya mungkin orang terakhir yang datang pada misa 40 hari meninggalnya pak Yoseph Lea Wea. Misa yang direncanakan jam 11 siang diundur sampai jam 12 siang karena menunggu pastor. Ketika saya datang upacara misa dan makan siang sudah berlangsung. Pastor paroki sudah keluar dari mulut gang Antriksa. Sebagai orang Nagekeo saya telah bayar hutang ‘pela nia’.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TEMPAT UNTUK TUHAN

 

Sebulan berada di Bali dan seminggu penuh saya live-in dalam rumah keluarga orang Bali di Singaraja. Selebihnya saya berpindah-pindah penginapan di Lovina.

Suatu sore ada tamu datang, sebelum masuk rumah dia memberikan sedikit makanan kecil pada patung penjaga di gerbang. Melihat keheranan di wajah saya, sang tamu langsung menjelaskan bahwa dia (sang penjaga) berjasa melindungi kita.

Pada kesempatan lain di Jakarta saya berkunjung dan sempat beberapa kali makan bersama di rumah seorang yang sangat religius Katolik. Yang menarik adalah sebuah kursi tidak pernah diduduki orang tetapi katanya untuk Tuhan. Menurutnya Tuhan hadir selalu bersama kita, juga di meja makan.

Ketika saya memasuki sebuah ruang doa penuh dengan patung dan simbol agama, ada dua kursi. Satu kursi untuk sang tuan rumah bermeditasi dan kursi yang lain dikhususkan untuk Tuhan.

Dalam budaya Flores ada kebiasaan memberi makan kepada leluhur (ti’i ka pati minu) bagi orang yang sudah meninggal. Kebiasaan ini sama seperti dalam budaya Toraja, yang selalu membawa makanan kepada orang yang telah meninggal karena ada kepercayaan bahwa orang-orang yang telah meninggal masih menjadi bagian dan ada bersama keluarga.

Tuhan dan para leluhur yang telah meninggal diyakini hadir bersama orang-orang yang masih hidup.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NAMA ORANG NAGEKEO

 
Karena berambut kriting kefloresan saya menonjol. Bahkan pernah pada seorang tentara asal Batak yang jadi beking seorang turunan China, saya marah sambil menunduk dan dan memegang kepala:” Lihat ini keriting rambut saya, saya orang Flores dan Indonesia asli. Saya akan minta pasukan tentara Indonesia untuk menolong saya.”
 
Warna kulit, rambut dan bentuk tengkorak adalah ciri lahiriah, menjadi penanda asal usul seorang. Salah satu tanda pengenal yang paling umum adalah nama. Karena nama diungkapkan dalam kata-kata. Nama adalah bahasa, Melalui bahasa orang mengenal asal.
 
Nama seorang anak Nagekeo dipilih dari nama para kerabat atau leluhur yang telah meninggal. Orang Nagekeo sangat menghormati nama, karena nama itu menghidupkan wajah, sifat baik orang yang sangat dicinitai dan dihormati. Munculnya nama panggilan Ine Toyo (Tolo), Ame Toyo (Ame tolo) Ame Coo, Ame Go’o. Saya masih ingat seorang adik saya dipanggi Ba’i dalam bahasa kami artinya pahit. Nama ini diberikan oleh nenek (tanta bapa) untuk menghindari menyebut bapanya (kakek bapa), yang berkarakter keras. Walau penyandang nama adalah Cyrilus yang lemah lembut.
 
Akhir-akhir ini banyak orang meminta dikonfirmasi sebagai sahabat melalui laman Facebook. Karena banyak nama palsu kita sulit mengenalnya. Kita bisa melacak melalui tautan persahabatan dan bahasa yang sering digunakan. Dan ini cara saya mendapatkan referensi mengkonfirmasinya.
 
Ada muncul nama-nama baru untuk anak-anak Nagekeo. Nama-nama ini umumnya berasal dari anak-anak guru generasi pertama di Nagekeo. Kalau ada membaca nama Obor, minta maaf pada Nagekeo Bersatu, nama ini bukan nama orang Nagekeo asli. Ini adalah doa dari sang bapa semoga si bayi mungil yang menangis keras itu menjadi obor, penyuluh. Nama menjadi doa.
 
Beberapa hari lalu ada seorang wanita bernama Maria Ngguwa dari Maukeli, yang menikah dengan lelaki asal Ute meninggal dunia. Karena nama adalah bahasa, maka nama Ngguwa adalah nama asing dalam lingkungan orang Maukeli. Harusnya menjadi Guwa. Karena nama ini harus dari bahasa wilayah Keo Timur atau yang disebut Ghoe Mena (wilayah Manori sampai Nagaroro). Dan memang Maria mendapat nama Ngguwa dari seorang ibu berasal dari Mauromba.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Reba Ngada Mengalir Sampai Jauh

Reba, yang terjadi setahun sekali sesudah perayaan Tahun Baru Masehi, bagi orang Ngada, tidak sekedar menjadi pesta syukuran tetapi lebih dari pada itu menjadi sebuah pengukuhan eksistensi suatu masyarakat adat.  Telah menjadi sebuah oase, sumber mataair yang sejuk dan jernih bahkan menjadi sebuah waduk penampung  semua aliran air kecil, entah kotor atau pun bersih. Reba telah jadi hulu dan sumber yang sebelum kuat mengalir dipersatukan lalu memberikan manfaat kesuburan pada lahan kehidupan termasuk yang sangat tandus sekalipun.

Perayaan reba ibarat sebuah sungai kehidupan yang mengalir jauh dan dijaga apik dalam sebuah perhelatan tidak sekedar pameran tetapi sebuah roh yang menyemangati hidup persaudaraan.

Meriah, Perayaan Reba di Jakarta Tak Sekadar Tontonan

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment