UTA WONA CICIPAN SEDAP DARI NAGEKEO

Isteri saya bercerita tadi siang seorang tukung sayur keliling bertanya untuk apa dia membeli ubi jalar. Ketika dia mengatakan akan membuat bubur utawona, sang tukang sayur mengatakan bahwa daun kelor (utawona) biasa dipakai untuk memandikan mayat. Pedagang sayur gerobakan heran bahwa daun pengusir roh jahat itu bisa dimakan. Saya mengatakan pada isteri bahwa mengapa mereka tidak heran karena orang juga meminum air. Air juga digunakan untuk memandikan mayat dan juga air juga digunakan untuk mengusir roh jahat.

Akhir-akhir ini istreri saya mulai senang memasak bubur “utawona”( daun kelor). Saya menanam sebatang pohon di depan rumah kami.  Suatu saat saya berinisiatif memasak bubur dengan menambah utawona kemudian ditambah santan. Isteri saya ikut menikmatinya. Dia lalu menelpon seorang adik saya, yang lagi bekerja di kantor dan bercerita tentang bubur utawona.  Adik saya berpura-pura heran dan menanyakan apa itu utawona. Isteri saya, yang orang Jawa berusaha menjelaskannya. Isteri saya tidak tahu, kalau kami telah menjadi besar dengan menyantap utawona lame begitu seringnya di kampung.

Suatu saat saya membuat bubur utawona dengan uwi. Saya menanam uwi dalam karung berisi tanah. Sekali lagi isteri saya menikmati masakan baru. Tabha uwi nee utawona . Nikmati sekali. Uta wona, uwi dan santan kara dengan sedikit garam.

Baru-baru ini tamu saya dua orang dari Timor Leste yang menginap di rumah menikmati santapan bubur kental uta wona dengan oo’I (talas).  Sebuah menu yang bisa dimasyarakatkan lagi. Dan saya pernah bercita-cita membuka sebuah restoran Atakeo dengan santap  pembuka utawona lame.

Posted in DAPUR KAMPUNG | 3 Comments

Flores Sebuah Nama Tak Sengaja

Fajar tiba. Bayang-bayang darat semakin  jelas. Gratias… syukur itu sebuah pulau . Ada kehidupan dan pasti ada air. Semua awak kapal berkulit putih, gagah. Pipi-pipi mereka ditumbuhi rambut tak terurus. Jambang dan kumis bahkan janggut mereka bertumbuh liar. Tetapi semuanya tidak mengurangi ketampanan pemuda-pemuda itu. Dada mereka bertumbuh rambut mempertegas kejantanannya. Laki-laki maco.  Mereka pelaut handal asal Portugal. Dominggo… ayo kamu ikut ke darat. Kita butuh air tawar perintah seorang pelaut yang lebih tua. Vasco dan Dominggo membawa  Jeriken air dan berenang  ke darat.

Pagi itu pasang surut. Pelaut-pelaut Porto berpangalaman, mereka anak-anak pantai yang tahu kalau pasang surut pasti ada air tawar di bibir pantai. Orang pantai tahu membedakan mana air tawar dan air laut. Ketika pasang surut, laut menjauhi bibir pantai. Mereka biasa menyaksikan ada garis-garis di pasir, beralur-alur  mengalirkan air gunung  lepas ke laut, membentuk anak sungai kecil. Orang pantai akan mengggali menggunakan alat seadanya. Membuat sebuah cekungan. Maka dalam sekejap ada air tampungan berasa tawar dan sedikit anyar karena terpolusi rasa asin garam laut dalam pasir. Ini ae kongga kata orang Mauromba di Keo, Flores.  Air ini dapat dimanfaatkan untuk air mandi. Dalam keadaan paling darurat dapat dijadikan air minum.

Pelaut-pelaut  muda gagah asal Portugis dengan jeriken berusaha mencari sumur kampung. Mereka menoleh ke sana ke mari. Ternyata di balik batu-batu karang  banyak orang membuat cekungan dengan mengorek pasir dan tertampung air tawar untuk dijadikan tempat mandi. Hari itu ternyata banyak wanita usia belia sedang mandi di ae kongga.  Mereka tak siap untuk segera mengambil kain sarung yang  mereka taruh seadanya  diatas batu. Pelaut pencari air spontan berteriak wou…flores….flores…flores…  Wanita disebut kembang (flores).  Pelaut Porto pulang ke kapal setelah mengisi air di sumur kampung. Banyak orang menonton pelaut gagah.Semua komunikasi pakai bahasa tubuh.  Yang berada di sumur semuanya kaum wanita (flores). Karena urusan mengambil air sumur adalah urusan orang perempuan (flores), sebuah kebiasaan dan hukum tak tertulis dalam tradisi setempat.  Ketika sampai di kapal kedua pemuda pengelana merasa terpuaskan telah menikmati pemandangan indah…Flores-flores mandi bugil di bibir pantai. Dominggo dan Vasco selama berlayar menyusur pantai itu teringat akan flores-flores polos. Dan sejak itu menjadi cerita tak pernah putus mereka berkisah tentang pantai penuh flores… Dan kalau pelaut Porto bilang mari kita melihat flores.. tidak berarti berkunjung ke sebuah daratan tetapi ini ungkapan hasrat laki-laki pelaut haus pelukan kasih dari flores di tanah asal mereka.  Dan pulau tempat mereka menimba air sumur itu mereka kenang sebagai sebuah taman pantai, lokasi dimana mereka menikmati  pemandangan flores-flores polos. Itulah pulau Flores…..pulau bunga…pulau kembang sedang mekar…kembang (flores) polos, pulau gersang penuh harapan dan kasih yang berbunga-bunga. Disana dahaga pelaut Porto terpuaskan karena ada air dan bunga asli dan polos pula, wou flores…..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Alhamdulillah Dan Mata-Mata Surga

Alhamdulillah adalah ungkapan syukur. Sebuah sikap pasrah menerima segala keadaan sebagai kehendak Yang Kuasa. Dan itu pasti yang terbaik bagi manusia. Jadi sabarlah dan bersyukurlah dengan segala yang kita miliki. Kalau ada pemberian yang banyak katakan saja alhamdulillah. Apabila memperoleh banyak beryukurlah dan alhamdulillah yang terungkap keluar dari bibir orang pasrah.

Sikap pasrah tidak selalu terpuji. Karena orang yang selalu pasrah menerima keadaan tidak memiliki daya juang dan semangat untuk bekerja keras. Tetapi tidak demikian dalam kehidupan orang bergama seperti Ali Ka’o  dari Tonggo  Dia seorang islam sederhana. Tidak pernah neko-neko. Selalu hidup apa adanya. Karena memang kampung halamannya berada di bibir pantai gersang. Hanya hidup dari panen kelapa, yang tidak menentu. Kalau ada tanaman palawija hasilnya lebih sedikit daripada harapan ketika dia bekerja. Terkadang dia melaut dan membom ikan. Dia juga termasuk orang yang ikut merusak habitat ikan dan karang laut.  Tetapi  sebagai orang desa dia harus terus bekerja. Karena kerja adalah cara menyatakan diri sebagai seorang manusia yang bisa mempertahankan dirinya. Apa pun hasilnya Ali Ka’o selalu bilang alhamdulillah. Dan ketika meninggal dunia dia dijemput para malaikat. Karena dia juga melakukan sejumlah dosa termasuk membunuh makluk Tuhan termasuk anak ikan dan trumbu karang Ali dihantar ke neraka. Ali dengan serta merta mengucapkan kata alhamdulillah… Para setan dan kepala setan terkejut. Kapala setan segera perintahkan para setan untuk menggiring Ali ke luar pintu neraka. Usir orang itu keluar dari sini. Dia pasti mata-mata surga…. dan Ali pun digiring ke surga. Alhamdulillah….  Bersyukur selalu dan anda akan dijadikan mata-mata surga. Neraka pasti bukan tempat para mata-mata surga.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TINGGALKAN JEJAK ANDA

Saat ini, pada saat saya menulis blog ini, saya berdiri menggunakan komputer/internet gratis di lobby hotel Alia Matraman. Saya berada di sini karena mendengar salah seorang saudara saya dari Timor Leste bermasalah. Dia sedang berada di pos polisi. Masalahnya saya tidak tahu. Saya berusaha untuk tidak mendekat ke pos pilisi, yang leteknya persis di samping hotel ini. Saya menghubungi seorang sahabat dari Timor Leste, yang bergabung dengan Indonesia. Tetapi dia merasa dia berdiri mengangkang satu ri Timor Leste dan Indonesia. Dia juga diam saja. Tetapi karena dia punya relasi, saya minta invisible hand untuk bantu.

Membuat tulisan ini adalah sekedar memberi bukti daan data bahwa saya pernah berdiri di tempat ini pada jam ini 9.00 WIB. Lalau saya ingat teman-teman yang mengnjunngi blog ini. Saya sangat sendang bila anda sellau meninggalkan jejak langkah anda  pada saat mengunjungi blog ini.  Satu dua kata tanggapan menjadi bukti nyata sebuah jejak anda yang pernah melewati tempat ini. Terima kasih…..

Posted in Uncategorized | 6 Comments

Tula Jaji Sebuah Kontrak Tabu Menyakiti

Mata hari bersinar lemah. Angin bertiup agak kencang. Ada tanda-tanda akan hujan sore itu. Sebuah perahu dikayuh merapat ke pantai. Seorang melempar jangkar dan tak seberapa lama tiga laki-laki menceburkan diri ke laut. Mereka berenang menuju pantai.  Ibu-ibu dengan segera mengejar ayam mereka menjauh dari rumah dan ayam-ayam beterbangan menuju kebun pisang di samping kampung. Ketiga orang bercelana basah yang baru turun dari perahu leluasa berlari mengejar ayam dan berusaha menangkapnya. Ibu-ibu ramai berteriak memaki dan menyiapkan air untuk disiramkan pada lelaki yang sedang mengejar ayam. Ada ibu-ibu berusaha memegang sapu mengejar lelaki yang terus memburu ayam.  Sementara kaum laki-laki berdiam saja di rumah sambil merokok atau terus bekerja tak peduli. Ketiga orang asing itu  sempat menangkap beberapa ayam. Mereka kembali berenang menuju perahu dan segera menarik jangkar dan melanjutkan perjalanan kearah Timur. Mereka adalah orang-orang dari Boba yang sedang melakukan perjalanan menuju Ende.  Perbuatan menangkap ayam atau memanjat kelapa seperti yang dilakukan di pantai sebelah timur Maundai  ketika kami  pulang dari Gereja Maunori tanpa dimarahi atau ditindak balas dengan kekerasan.

Suatu malam gelap. Piet Mbawo dari Mauromba melintas di tengah kampung Wodowatu. Kakinya tersandung batu dalam kegelapan malam. Piet segera menyanyi dengan kata kata magis,  pu.i ata udi, da.u ata wodowatu, d.t. ata tonggo. Puki dasumiu ta udi bedo wodo watu eeee….. Kedua tangannya segera mengangkat ujung kain sarungnya untuk memudahkannya menapak dan berlangkah cepat. Semua orang sekampung sudah tahu itu Piet Mbawo. Dia tidak peduli di dalam kampung itu ada mertuanya. Karena memaki adalah ulah menggoda dan terkdang menyakitkan tetapi tidak boleh dibalas dengan kekerasan. Orang akan maklum itu adalah tula jaji.

Tula jaji ada kaitan dengan perjanjian (tase dare) atau sumpah adat, yang dilakukan oleh para leluhur dari kedua kampung adat. Isi perjanjian adalah warga kedua kampung harus tidak boleh saling menyakiti (ma’e papa kebha ede weki mae papa nggena). Warga kedua suku adat boleh saling mengambil hasil kebun sebanyak kebutuhan dalam perjalanan bila sangat membutuhkan. Selama itu untuk mengatasi kebutuhan mendesak dalam perjalanan boleh saja mengambil hasil kebun atau ternak (khusus ayam).  Pelaku karena tahu tidak bakal disakiti, mereka sering melakukan sambil mengejek dan mengundang amarah. Masing-masing tahu bahwa mereka tidak boleh saling memukul (dhepa dhunda weki apa wadi papa kebha toa). Aktivitas mengambil hasil kebun dan ternak ayam disebut tula jaji (mengambil berdasarkan perjanjian).

Mengapa perjanjian (tase dare) yang menghasilkan keputusan tula jaji terjadi. Saya sudah menanyakan sejumlah orang yang lebih tua di kampung Mauromba.  Sejak kapan perjanjian tula jaji itu ada, dan mengapa. Katanya pernjanjian ini sudah beberapa generasi dilakukan ketika penduduk masih sedikit. Ada hubungan kekerabatan dan saling mengasihi. Tula jaji diawali oleh hubungan persaudaraan dan saling mengasihi. Untuk melanggengkan tali kasih persaudaraan kedua kampung mengadakan perjanjian (tase dare). Tujuannya adalah  agar anak cucu kelak terus menjaga hubungan baik ini.  Perjanjian diadakan didalam kampung dengan disaksikan udu eko (warga kampung) ude mere eko dewa (seluruh masyarakat luas).

Sekarang kita saksikan ada tula jaji antara Udi Bedo Worowatu dengan Mauromba dan Mauromba dengan Boba. Sampai sekarang masyarakat terus menjalankan kebiasaan itu sampai kini.  Perjanjian (tase dare) dilakukan antara dua kelompok adat. Isi perjanjian adalah menetapkan bahwa dua kelompok warga tidak boleh saling menyakiti ( dima ma’e papa dhepa apa wadi papa kebha toa). Dasar perjanjian ada rasa saling mengasihi dan mengharapkan bahwa kerukunan dan tali kasih ini berlanjut hingga turun temurun. Perbuatan tula jaji sendiri kini lebih bersifat kelakar menguji kesabaran. Dicaci -maki tapi tidak bolehdibalas dengan a marah. Diburu ayamnya dan diambil kelapanya oleh orang asing dibiarkan sambil memendam perasaan. Sabar kita tula jaji…..

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , , | 4 Comments

SUDU DHU REPA NGGENA

Ada cerita dari teman orang Batak. Kalau tamu datang malam hari, bila tidak ada pilihan, tangkap saja ayam tetangga buat menjamu. Belakang baru bilang sama yang punya.  Membayar atau memberikan gantinya adalah urusan kemudian. Semuanya dapat memaklumi.  Saya tidak tahu apa masih berlaku sampai sekarang.

Dalam budaya orang Negekeo ada istilah sudu dhu repa nggena (memenuhi ukuran jengkal dan depa yang diperlukan) hampir mirip dengan budaya Batak. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat yang masih kuat mematuhi hukum adat. Sebagai masyarakat adat, orang Nagekeo merasa terikat dengan keluarga besar (kae ari sao tenda) dan kelompok masyarakat luas (nua oda ne’e udu eko). Dalam kehidupan harian  masing-masing mengurus diri dan keluarga kecil sendiri. Tetapi dalam berbagai urusan masing-masing merasa terikat satu sama lain. Ada ikatan kekeluargaan yang sangat solid.

 Sudu dhu repa nggena adalah perwujudan sikap hidup masyarakat komunal. Rasa kekeluargaan yang mengarah pada rasa memiliki bersama. Apa yang dimaksudkan dengan sudu dhu repa nggena? Sudu dhu repa nggena berarti ukuran sesuai dengan yang dinginkan. Budaya sudu dhu repa nggena biasa dikaitan dengan keperluan membangun rumah.

 Rumah adat orang Nagekeo, teristimewa di wilayah pesisir selatan terbuat dari pohon kelapa. Tiang-tiang rumah terbuat dari batang pohon kelapa, yang hanya dikupas kulitnya dan dirapihkan seadanya. Pengikat antar tiang adalah balok-balok, kuda-kuda dan ring-ring atap semuanya terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di belah dan dibersihkan dengan menggunakan kapak atau parang. Untuk membangun sebuah rumah membutuhkan banyak pohon kelapa, yang sudah berusia tinggi. Hasil kebun sendiri sering tidak mencukupi kebutuhan pembangunan sebuah rumah.

“Sai ta ponggo ?” (siapa yang menebang pohon). Sebuah pertanyaan bernada kesal. Pemilik lahan sering dibuat kesal ketika menyaksikan ada pohon kelapa atau bamboo yang sudah ditebang tanpa ijin. Kemudian baru tahu dari orang lain bahwa yang menebang seorang dalam kekerabatan keluarga besar. Pohon kelapa dan pohon bamboo sering diambil seperlunya tanpa ijin. Pohon-pohon itu ditebang karena ada kebutuhan. Orang bisa memotong atau mengambil apabila menemukan sesuatu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan (sudu dhu repa nggena) untuk pembangunan.

Sudu dhu repa nggena sebuah kebiasaan adat yang sudah mulai ditinggalkan sejalan perkembangan kesadaran hidup ekonomis.

Posted in ADAT & BUDAYA | 3 Comments

Ine Tanda Penjaga Lingkungan Orang Mauromba

Di salah satu lembah dari lahan luas kebon kelapa kami ada rumpun bamboo yang sangat luas. Saya masih ingat kami memiliki rumpun bamboo yang luas, mungkin yang paling luas di dua lokasi yang berbeda. Karena itu ayah saya didaulat sebagai ine tanda (pemuka adat yang mengawasi peraturan khusus). Peran ine tanda adalah menerima dan menampung informasi serta menegur orang yang melakukan pelanggaran atas peraturan-peraturan khusus yang berakitan dengan pengawasan lingkungan.  Orang tidak bisa seenaknya mengelola apa lagi merusak lingkungan, meskipun itu adalah tanahnya sendiri.

Ada kearifan lokal di Keo Tengah untuk menjaga dan mengelola lingkungan. Masyarakat diatur oleh ketetapan bersama untuk jangka waktu tertentu. Masyarakat disadarkan untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Kelestarian lingkungan selalu dipandang dari seberapa jauh keadaan lingkungan, yang  memberikan gambaran kemakmuran. Ukuran dilihat dari dua jenis tanaman yaitu kelapa dan bamboo. Masyarakat adat mempunyai  peraturan  untuk melindungi lingkungan. Yang dimaksudkan dengan peraturan adalah larangan-larangan bagi warga dalam mengelola lingkungan. Peraturan itu ditetapkan dan dimulai dengan sebuah pertemuan adat yang diadakan di salah satu lokasi terbuka di luar kampung, yaitu sebidang tanah (ku), yang disebut ku tanda. Pertemuan untuk mengadakan penetapan waktu larangan dan mengeksekusi sanksi-sanksi (denda adat) disebut pebhu tanda (perkumpulan untuk menerapkan waktu dimulainya masa menjaga lingkungan. Pertemuan diawali dengan warta atau pemberitahuan untuk mengadakan kapan dan tempat pebhu tanda. Di kampung kami setiap  pengumuman didahului dengan memukul gong besar (nggo mere). Perintah berkumpul disebut beku. Pada waktu pebhu tanda (pertemuan) setiap keluarga menyumbang beras dalam ukuran yang ditetapkan, yang akan dimasak di tempat pertemuan (ku tanda). Lauknya adalah daging babi, diambil dari para warga yang melakukan pelanggaran adat.  Pertemuan pebhu tanda hanya dihadiri kaum lelaki termasuk anak-anak. Kecuali alat masak seperti kuali besar tidak ada alat makan. Piring senduk tidak ada. Piring nasi dibuat dari tempurung kelapa untuk kuah, dan nasi ditampung di daun lontar muda. Daun-daun lontar dari satu pelepah ditekuk dan diikat ujungnya. melengkung seperti alat musik sesando. Senduk dibuat dari batok kelapa. Semuanya serba darurat.

Ada masa orang tidak boleh memanjat kelapa kecuali beberapa pohon untuk keperluan sayuran (nio ae uta). Pohon kelapa yang lain dibiarkan saja berbuah sampai tua, biasanya selama 1 bulan. Pada saat itu orang tidak boleh mengupas buah kelapa, menjemur dan menjual.

 Salah satu tanaman yang paling diperhatikan pengawasan adalah bambu. Untuk menjaga agar tanaman bambu tidak musnah, ada masa semua orang dilarang memotong bambu. Walau ada keperluan untuk pembangunan, selama masa larangan orang berusaha untuk menahan diri dan hanya menggunakan bamboo yang ada. Siapa yang melakukan pelanggaran, memotong bamboo pada masa larangan akan dikenakan sanksi. Sanksi biasa berupa babi besar yang disembelih pada saat akan memulai masa larangan (tanda). Ada dua macam tanda ada tanda nio (kelapa) dan tanda peri (bamboo). Para pengawas peraturan disebut ine tanda.

 

 

Posted in ADAT & BUDAYA | 4 Comments