PIDATO PRESIDEN NKRI TIDAK MEREDAM AROGANSI MALAYSIA

Malaysia sudah keterlaluan. Menelanjangi pakaian seragam petugas kita dan kemudian masuk bui lagi. Sudah keterlaluan. Belum lagi mereka pindahkan tonggak-tonggak batas tanah kita. Lebih parah lagi mereka menerobos masuk ketengah hutan-hutan kita dan membabat pohon-pohon kayu kita. Tindakan provokasi di laut mempertontonkan sikap arogan luar biasa.  Orang-orang kita yang bekerja di kebun-kebun kelapa sawit dicopot identitasnya, dan dipekerjakan sebagai budak. Orang-orang Indonesia yang bekerja di kebun kelapa sawit, mereka menerima upah tak wajar, sampai ongkos untuk melarikan diri saja tidak sanggup.  Para pembantu rumah tangga dari Indonesia diberi upah rendah dan disiksa. Pekerja bangunan diambil passpornya, mereka dipekerjakan tanpa penyelesaian administrasi keimigrasian. Pada saat proyek selesai mereka diusir sebagai binatang dilaporkan pada polisi ada pekerja illegal. Di perbatasan masih berkeliaran para calo tenaga kerja mencari anak-anak perempuan muda untuk dijadikan pekerja di tempat remang-remang Malaysia. Orang-orang Indonesia begitu direndahkan. Indonesia sungguh diremehkan.  Saya bukan seorang yang paham politik. Kita menonton di televisi dan membaca Koran-koran terungkap jelas rasa kebangsaan yang terluka.

Apakah Indonesia ini bangsa yang begitu  lemah?  Kita pemaaf yang boleh diinjak-injak?  Kita tidak menganjurkan perang. Karena begitu genderang perang ditabuh, kita akan menari mengikuti bunyi genderang. Kita tidak lagi menguasai keadaan, tetapi keadaan akan menguasai kita.  Tetapi bangsa kita adalah bangsa pejuang. Bangsa yang memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan. Pertumpahan darah dan kehilangan nyawa adalah harga dari sebuah kemerdekaan. Kita tidak sama seperti Singapura dan Malaysia dalam memperoleh kemerdekaannya. Kita sesungguhnya bangsa yang tidak takut berperang.

Pidato resmi Presiden Republik Indonesia telah disampaikan dalam  menyikapi arogansi orang Malayasia terhadap aparat negara kita. Malaysia sungguh telah  melukai perasaan kita. Apakah kita hanya bersandar pada posisi kita sebagai saudara tua di ASEAN? Pidato Presiden adalah sikap resmi bangsa ini. Benarkah sikap ini mewakili rakyat bangsa ini?  Satu jam saya menunggu di depan televisi. Dalam hati saya yakin bahwa Presiden Yudoyono tak akan pernah bersikap keras. Dan benar himbauan untuk menghindari kekerasan, karena kekerasan akan menambah masalah.  Tetapi saya sangat sayangkan mengapa Presiden Republik ini begitu lemah dalam menyatakan sikap. Bapak Presiden hanya meredam amarah anak bangsanya yang tidak bersalah. Seharusnya dia meredam arogansi Malaysia. Yang saya ingin dengar adalah sebuah tambahan bahwa kita semua mengharapkan tindakan provokatif Malaysia ini tidak terulang lagi. Katakan saja kesabaran bangsa Indonesia  ada batasnya. Bangsa Malaysia harus baca media massa Indonesia, bagaimana kemarahan anak-anak bangsa ini.  Indonesia memang siap berperang melawan Malaysia. Ganyang Malaysia…….

Posted in Politik, Uncategorized | Leave a comment

Nunu Lomba Tinggal Cerita

Suatu pagi yang cerah saya berjalan di bibir pantai berbatu setelah menerobos pohon-pohon pandan berduri(peja ma’u). Mengirup hawa laut yang segar tanpa polusi. Banyak batu-batu berbagai bentuk dan warna. saya  memilih beberapa buah. Kenangan masa lalu kembali seketika. Pikiranku memutar balik kenangan masa silam. Sebuah nostalgia  ketika aku jadi anak desa tanpa baju hanya dengan sebuah celana pendek kumal tanpa alas di badan.

Saya masih ingat di sepanjang pantai sebelah timur kampung kami Mauromba ada sebatang pohon beringin besar. Batangnya sangat besar dikeliling akar gantung yang menunjang tanah dan terus membesar rapat menempel  pada dinding batang pohon.  Ada akar-akar gantung yang terkadang kami jangkau sambil lompat  dan bermain ayunan sebelum pergi mandi di air tawar yang mengalir bila pasang surut tiba. Air tawar di bibir pantai itu kami sebut “ae kongga”.

Dibibir pantai yang berada pada bagian sesudah batu-batu laut sejajar dengan pohon beringin itu dari timur ke barat terdapat  beberapa pondokan. Didalam pondokan ini orang kampung kami memproduksi garam. Garam putih halus itu diperoleh dengan memasak air laut, yang selalu ditambahkan airnya bila sudah berkurang pada saat direbus dan menguap. Proses merebus dan menambah air laut dilakukan sepanjang hari. Garam dihasilkan setelah semua air menguap dan menyisakan  endapan garam putih. Ketika endapan akan mengering  terlihat gelembung-gelembung berair seperti bubur magma gunung berapi memutih dan pekerja akan selalu mengaduknya agar tidak berkerak. Hasilnya garam berupa pasir-pasir halus berwarna putih dikumpulkan dalam wadah terbuat dari upih pinang (mba’o).

Pohon beringin besar itu telah tidak ada lagi. Beringin itu terbakar oleh ulah orang iseng yang kurang waras. Ketika pohon itu terbakar banyak orang berduka. Keanehan terjadi. Dari lokasi pohon yang terbakar itu bila malam tiba terdengar suara ratap tangis memilukan. Cerita ini masih terus beredar bila mengenang pohon beringin besar itu. Ada perubahan setelah pohon itu tumbang. Tidak ada lagi pemandangan indah burung-burung beterbangan menikmati buah beringin. Itulah Nunu Lomba (pohon beringin orang Romba), sebuah penanda lokasi bagi pelaut yang berlayar malam hari. Dari kejauhan dalam keremangan malam orang akan tahu mengatur arah  kemana merapat kedarat. Perahu-perahu akan dilabuhkan di sebelah barat dari pohon beringin.

Pondok-pondokan garam telah tidak ada lagi. Dan hempasan ombak pantai semakin jauh ke darat. Batu-batu besar tempat kami bermain tange potu di laut memperebutkan posisi diatas batu dan menendang teman yang akan menaiki puncak batu pun telah tenggelam semakin jauh. Dan anak-anak kampung kini tidak lagi mandi di ae kongga, mereka menikmati air tawar dari pipa. Nunu Lomba, peneduh bagi pejalan kaki yang kembali dari pasar di Maunori pada hari Sabtu  dan penanda lokasi. Nunu Lomba  tempat bersarang  aneka burung liar telah hilang justeru pada saat dunia mencanangkan  program hijau.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MELEPAS RINDU KAMPUNG

Saya masih ingat ketika pertama kali masuk asrama di Seminari Mataloko. Harus berjalan kaki dan semalam menginap di Nibawawo. Pagi melanjutkan perjalanan lagi baru sampai Mataloko menjelang petang.  Perjalanan paling panjang ditempuh dari Mauromba sampai Nibamawo. Di Nibamawo kami menginap di pondokan orang Mauromba yang bertani sawah di sana. Bila sore hari tiba terasa ada kerinduan luar biasa. Suasana Mataloko dengan alamnya dingin dan berkabut sangat mengundang rasa rindu kembali ke kampung. Kata bahasa Inggeris yang kami kenal waktu itu homesick. Ternyata benar ada sicknya. Ada teman-teman yang sampai tidak masuk sekolah. Orang tua terasa jauh sekali dari keseharian kami. Pengalaman  saya sendiri ternyata rindu melihat mama menjadi kerinduan abadi. Mama dipanggil Yang Maha Kuasa hanya tiga bulan setelah saya mencium bau sayur sawi dan keju Mataloko. Saya masih ingat mama dipanggil Tuhan, ada misa Requiem khusus untuk Yuliana, mamaku. Tetapi saya tidaka berdaya, saya jatuh sehari sebelumnya di lapangan basket ketika berusaha berjalan diatas derum yang sedang bergulir. Saya divonis oleh Pater Alfons Engels svd, bahwa ada keretakan di tulang belakang saya. Saya harus total beristirahat.  Banyak siswa menyalamiku sesudah misa requiem buat mama, dan saya menerima salam sambil meneteskan air mata. Aku membayangkan mama dan kuat merasa rindu dan terus merindukannya secara abadi.

Sudah puluhan tahun saya berada di luar kampung halaman. Tetapi rasa kangen saya akan kampung sederhana di pinggir pantai penuh batu tak pernah pudar. Berbagai cara saya melepas kangen akan kampung. Ketika masa-masa pertama saya memasuki Jakarta, saya memupuskan rasa kangen dengan berusaha mengingat semua orang yang ada di kampung kami. Saya membayangkan sedang memasuki kampung-kampung kecil itu, dan berjalan memasuki satu-satu dan menginat-ingat nama dan wajah orang-orang yang berada di rumah itu. Tetapi kini hal itu tidak bisa saya lakukan. Karena sudah ada perubahan jumlah dan posisi rumah serta orang-orang yang menghuni rumah.

Menelpon orang di kampung dan berbicara dalam bahasa daerah merupakan cara terakhir yang saya lakukan. Saya sering menelpon dana berbicara dengan beberapa orang yang sedang berkumpul. Berbicara dengan anak-anak juga saya lakukan. Seperti hari ini dan beberapa waktu lalu saya berbicara dengan Ambros anak dari Matias Ndiwa di Tudiwado. Saya ada pengalaman lucu dengan anak ini. Selain percakapan tak ada artinya, saya pernah titip salam. Saya minta tolong sampaikan salam saya pada seorang guru yang usianya jauh leb ih tua. Tetapi dalam budaya Keo karena kami ka’e ari, kami boleh bercanda kurang sopan.   Saya bilang tolong sampaikan salam kepada kakak tersebut. Ambros yang masih anak Sekolah Dasar di Niodede itu menyampaikan dengan sungguh salam saya, “SALAM MOSA DAKO MEDA BHALA”.  Hari ini saya mengeceknya. Ambros kena hajar setelah dia menyatakan ada salam, salam wangga ndate, SALAM MOSA DAKO MEDA BHALA.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jangan Mudah Tergoda Janji Hadiah

Saya yakin. saya bukan seorang diri yang menerima sejumlah iming-iming hadiah melalui alamat e-mail. Begitu banyak email dari orang  yang mengaku diri dari sebuah perusahaan raksasa termasuk Microsoft. Ada surat permohonan bantuan pencairan dana karena berbagai alasan. Semuanya ternyata bohong besar. Mungkin contekan berikut ini jadi masukan.

Lies, lies, and more lies …

Did you receive a letter from a complete stranger promising you millions? Or did you receive an offer for millions of dollars while you were dating on the net?

I have received a lot of these letters, and they are all filled with lies. I have grouped some of them according to sender. There are celebrities, dying persons, widows, rich sons and daughters, bankers, lawyers, work-at-home, stranded girls, dates and others. Maybe your letter was similar to one of mine?

Maybe you received a letter telling you that you won in a lottery that you never heard of? – or did someone want to donate a major amount to you? – or did a stranger offer you a loan?

If scammers failed to get you as a victim, they might try again with the use of a compensation letter.

Miss Young
missyoung@bittenus.com
In english
En español

JANGAN TAKUT HIDUP BERSAHAJA  DAN TIDAK USAH TERLENA DENGAN JANJI TAK BERALASAN.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemuda Berjenggot itu Vinsen Dhai

OM… sapa seorang pemuda berkulit hitam manis berrambut agak gondrong dengan sejemput jenggot bergelantung di dagunya yang lancip. Kami berjumpa di sebuah warung net ” Blessed Net” dekat rumah ku di Cijantung pada jam 01 dini hari.  Pada awal dia bilang dia orang dari Mundemi. Saya juga berusaha menarik garis keturunan dengan orang-orang dari kerabat ibu saya di Mundemi.  Kami bercakap pendek saja. Dia datang ke jakarta dalam kaitan dengan Nagekeo Cup. Vinsen bergabung dengan keseblasan Nagaroro.  Setelah saya membuka blog ini dan memberikan komentar atas tanggapan tentang Spirit of Mbay di page Jao, saya bercakap sedikit dengan pecandu net di kiri saya. Ma’e ngasi kau ngara sai, kataku kepadanya. Ata rade nua niu jao Vinsen, jao Vinsen Dhai. Dia pun memperkenalkan nama bapaknya Daniel Dhai di Nagaroro.

Bertemu dan bertegur sapa adalah bagian dari sebuah komunikasi. Saya berusaha membuka komunikasi dengan menyapa.  Dari menyapa saya mengetahui bahwa Vinsen menekuni bidang komunikasi di Universitas Tungga Dewi Malang. Katanya mau pindah ke Jakarta, karena tempat kuliahnya belum terakreditasi.  Sebuah pristiwa dalam kehidupan tidak terjadi sebagai sesuatu yang tunggal. Semua peristiwa dalam kehidupan pribadi seorang ternyata merupakan sebuah proses berantai dan menyatu membentuk kesatuan sejarah kehidupan. Saya pikir pertemuan dan sapaan singkat ini bisa menjadi mata rantai dalam sambungan untaian panjang kehidupan yang berguna bagi saya dan juga bagi  Vinsen sendiri. Siapa tahu perjumpaan pendek ini bermakna bagi saya dan bagi Vinsen  jugai. Tinggal siapa yang mau memaknainya. “Om, modo” dia berpamit pulang setelah selesai bersilancar di dunia maya. Modo kataku. Semoga Vinsen berhasil.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENATA PEMUKIMAN KAMPUNG NAGEKEO

Tadi pagi saya menelpon seorang kerabat saya Ir. Kristo di Ende. Saya katakan bahwa coba dipikirkan untuk menata kampung halaman di Mauromba menjadi sebuah daerah pemukiman yang tertata. Artinya harus ada ketersediaan lahan kemudian dibangun perumahan rakyat.   Lahan dengan hak ulayat tidak mudah dialihkan. Tetapi perlu ada sebuah kesadaran baru di masyarakat, bahwa sebuah pembangunan harus ada yang dikorbankan. Masalah pokok adalah apakah masyarakat siap melepaskan hak kepemilikan tanahnya?

Sebuah tantangan terbentang di depan mata. Menata kampung, membangun pemukiman baru tanpa ada yang dirugikan. Melalui media ini kami mengundang pembaca khusus warga Nagekeo memberikan tanggapan. Akses ke sumber dana tersedia.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Mama Kami Pertama Kali di Udara

Saya bertanya kepada mama apakah dia senang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang pada tanggal 3 Juli 2010.  Dingin (kete)  dan bergetar (rudhu edha) kata mama. Maklum  ada tubrukan awan (turbulensi) , kedinginan karena hanya mengenakan dawo dan dambu ende. Saya juga bayangkan mama harus sedikit bersusah mengenakan sandal, karena di kampung sangat jarang pakai sandal. Lebih nyaman dengan kaki tanpa alas ke kebun. Mama dan adik perempuan kami yang bungsu Margo kali ini ke Jakarta. Mereka tidak pernah secara resmi mengabarkan kepada saya tentang kedatangan mereka ke Jakarta. Tetapi ketika saya menelpon ke Flores, mereka sedang berkumpul di  rumah adik kami Anton di Pu’u Ta’u (Uma Mere). Malam itu mereka sedang asyik menyiapkan perbekalan perjalanan ke Jakarta. Kalau ada keluarga yang ke Jakarta kami selalu pesan ikan asin (ika tu’u) dan pora wawi (daging babi). Ikan asin dari pantai di Nagekeo sangat enak. Ikan asin di garami dalam air laut yang dilarutkan garam. Keasinanannya merata dan tidak bertumpuk. Cara menjemur  digantung ataupun dihamparkan di atas batu yang panas beralaskan tikar atau plastik menjamin ikan itu bersih. Semua tetangga kami di Jakarta sangat menyukai harum gorengan ikan asin Nagekeo. Dan so pasti enak punya. Dan pagi ini isteri saya membuat bubur utawona dengan teman gorengan sedap ikan asin sebagai sarapan. Tak kalah dari bubur ayam paling sedap di kota Metropolitan yang pernah saya cicipi. Ternyata banyak ikan asin yang beredar di restoran Warung Sunda yang mahal berasal dari Aemere, yang dibawa ke jakarta oleh anak-anak dari Ma’unori.

Mama kami sekarang sudah di Jakarta. Ikan dan pora wawi (sei babi) khas ata Ma’u sudah sampai di rumah. Tetapi mama belum juga sampai di rumah saya sebagai putera sulung. Mama dijemput adik-adik yang lain.  Dan mereka merasa berhak untuk menahan mama di rumah mereka. Maklum kami enam bersaudara menetap di Jakarta. Adik-adik saya tidak segera menghantarkan mama ke rumah saya, karena saat ini saya mempunyai dua orang tamu dari Timor Leste, Bruno Do Rosario Da Costa Magalhaes dan Juliaun saudaranya.  Mama belum kebagian kamar di rumah saya. Ketika dijemput dari bandara dan singgah di rumah adik saya Albert, puterinya berusia 4 tahun mengatakan kepada mama, “jangan tidur itu kamar aku”! Mama memang tidak bisa menginap di rumah itu karena bila siang semua anggota keluarga pergi ke tempat kerja. Dan mereka menuju rumah adik saya Yasin di Bekasi karena isterinya tidak bekerja. Dan saya pikir pasti mama harus menghadapi sikap aneh dari cucu-cucunya yang lain seperti Dito dengan berbagai kelakuan aneh diluar dugaan. Kalau hanya mengharapkan kehadiran anak sopan dan tenang pasti mama akan kecewa. Tetapi mama sudah siap untuk menghadapi semuanya. Mereka cucu-cucunya. Mama sudah berhubungan dengan saya melalui telepon dan menanyakan keadaaan buyutnya di rumah yang lain lagi. Mama boleh bertamasya dari rumah ke rumah, itulah kebahagiaan dan menjadi kado istimewa buat dikisahkan bila nanti kembali ke kampung.

Posted in ALBUM KENANGAN | 1 Comment