TINGGALKAN JEJAK ANDA

Saat ini, pada saat saya menulis blog ini, saya berdiri menggunakan komputer/internet gratis di lobby hotel Alia Matraman. Saya berada di sini karena mendengar salah seorang saudara saya dari Timor Leste bermasalah. Dia sedang berada di pos polisi. Masalahnya saya tidak tahu. Saya berusaha untuk tidak mendekat ke pos pilisi, yang leteknya persis di samping hotel ini. Saya menghubungi seorang sahabat dari Timor Leste, yang bergabung dengan Indonesia. Tetapi dia merasa dia berdiri mengangkang satu ri Timor Leste dan Indonesia. Dia juga diam saja. Tetapi karena dia punya relasi, saya minta invisible hand untuk bantu.

Membuat tulisan ini adalah sekedar memberi bukti daan data bahwa saya pernah berdiri di tempat ini pada jam ini 9.00 WIB. Lalau saya ingat teman-teman yang mengnjunngi blog ini. Saya sangat sendang bila anda sellau meninggalkan jejak langkah anda  pada saat mengunjungi blog ini.  Satu dua kata tanggapan menjadi bukti nyata sebuah jejak anda yang pernah melewati tempat ini. Terima kasih…..

Posted in Uncategorized | 6 Comments

Tula Jaji Sebuah Kontrak Tabu Menyakiti

Mata hari bersinar lemah. Angin bertiup agak kencang. Ada tanda-tanda akan hujan sore itu. Sebuah perahu dikayuh merapat ke pantai. Seorang melempar jangkar dan tak seberapa lama tiga laki-laki menceburkan diri ke laut. Mereka berenang menuju pantai.  Ibu-ibu dengan segera mengejar ayam mereka menjauh dari rumah dan ayam-ayam beterbangan menuju kebun pisang di samping kampung. Ketiga orang bercelana basah yang baru turun dari perahu leluasa berlari mengejar ayam dan berusaha menangkapnya. Ibu-ibu ramai berteriak memaki dan menyiapkan air untuk disiramkan pada lelaki yang sedang mengejar ayam. Ada ibu-ibu berusaha memegang sapu mengejar lelaki yang terus memburu ayam.  Sementara kaum laki-laki berdiam saja di rumah sambil merokok atau terus bekerja tak peduli. Ketiga orang asing itu  sempat menangkap beberapa ayam. Mereka kembali berenang menuju perahu dan segera menarik jangkar dan melanjutkan perjalanan kearah Timur. Mereka adalah orang-orang dari Boba yang sedang melakukan perjalanan menuju Ende.  Perbuatan menangkap ayam atau memanjat kelapa seperti yang dilakukan di pantai sebelah timur Maundai  ketika kami  pulang dari Gereja Maunori tanpa dimarahi atau ditindak balas dengan kekerasan.

Suatu malam gelap. Piet Mbawo dari Mauromba melintas di tengah kampung Wodowatu. Kakinya tersandung batu dalam kegelapan malam. Piet segera menyanyi dengan kata kata magis,  pu.i ata udi, da.u ata wodowatu, d.t. ata tonggo. Puki dasumiu ta udi bedo wodo watu eeee….. Kedua tangannya segera mengangkat ujung kain sarungnya untuk memudahkannya menapak dan berlangkah cepat. Semua orang sekampung sudah tahu itu Piet Mbawo. Dia tidak peduli di dalam kampung itu ada mertuanya. Karena memaki adalah ulah menggoda dan terkdang menyakitkan tetapi tidak boleh dibalas dengan kekerasan. Orang akan maklum itu adalah tula jaji.

Tula jaji ada kaitan dengan perjanjian (tase dare) atau sumpah adat, yang dilakukan oleh para leluhur dari kedua kampung adat. Isi perjanjian adalah warga kedua kampung harus tidak boleh saling menyakiti (ma’e papa kebha ede weki mae papa nggena). Warga kedua suku adat boleh saling mengambil hasil kebun sebanyak kebutuhan dalam perjalanan bila sangat membutuhkan. Selama itu untuk mengatasi kebutuhan mendesak dalam perjalanan boleh saja mengambil hasil kebun atau ternak (khusus ayam).  Pelaku karena tahu tidak bakal disakiti, mereka sering melakukan sambil mengejek dan mengundang amarah. Masing-masing tahu bahwa mereka tidak boleh saling memukul (dhepa dhunda weki apa wadi papa kebha toa). Aktivitas mengambil hasil kebun dan ternak ayam disebut tula jaji (mengambil berdasarkan perjanjian).

Mengapa perjanjian (tase dare) yang menghasilkan keputusan tula jaji terjadi. Saya sudah menanyakan sejumlah orang yang lebih tua di kampung Mauromba.  Sejak kapan perjanjian tula jaji itu ada, dan mengapa. Katanya pernjanjian ini sudah beberapa generasi dilakukan ketika penduduk masih sedikit. Ada hubungan kekerabatan dan saling mengasihi. Tula jaji diawali oleh hubungan persaudaraan dan saling mengasihi. Untuk melanggengkan tali kasih persaudaraan kedua kampung mengadakan perjanjian (tase dare). Tujuannya adalah  agar anak cucu kelak terus menjaga hubungan baik ini.  Perjanjian diadakan didalam kampung dengan disaksikan udu eko (warga kampung) ude mere eko dewa (seluruh masyarakat luas).

Sekarang kita saksikan ada tula jaji antara Udi Bedo Worowatu dengan Mauromba dan Mauromba dengan Boba. Sampai sekarang masyarakat terus menjalankan kebiasaan itu sampai kini.  Perjanjian (tase dare) dilakukan antara dua kelompok adat. Isi perjanjian adalah menetapkan bahwa dua kelompok warga tidak boleh saling menyakiti ( dima ma’e papa dhepa apa wadi papa kebha toa). Dasar perjanjian ada rasa saling mengasihi dan mengharapkan bahwa kerukunan dan tali kasih ini berlanjut hingga turun temurun. Perbuatan tula jaji sendiri kini lebih bersifat kelakar menguji kesabaran. Dicaci -maki tapi tidak bolehdibalas dengan a marah. Diburu ayamnya dan diambil kelapanya oleh orang asing dibiarkan sambil memendam perasaan. Sabar kita tula jaji…..

Posted in ADAT & BUDAYA | Tagged , , , , | 4 Comments

SUDU DHU REPA NGGENA

Ada cerita dari teman orang Batak. Kalau tamu datang malam hari, bila tidak ada pilihan, tangkap saja ayam tetangga buat menjamu. Belakang baru bilang sama yang punya.  Membayar atau memberikan gantinya adalah urusan kemudian. Semuanya dapat memaklumi.  Saya tidak tahu apa masih berlaku sampai sekarang.

Dalam budaya orang Negekeo ada istilah sudu dhu repa nggena (memenuhi ukuran jengkal dan depa yang diperlukan) hampir mirip dengan budaya Batak. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat yang masih kuat mematuhi hukum adat. Sebagai masyarakat adat, orang Nagekeo merasa terikat dengan keluarga besar (kae ari sao tenda) dan kelompok masyarakat luas (nua oda ne’e udu eko). Dalam kehidupan harian  masing-masing mengurus diri dan keluarga kecil sendiri. Tetapi dalam berbagai urusan masing-masing merasa terikat satu sama lain. Ada ikatan kekeluargaan yang sangat solid.

 Sudu dhu repa nggena adalah perwujudan sikap hidup masyarakat komunal. Rasa kekeluargaan yang mengarah pada rasa memiliki bersama. Apa yang dimaksudkan dengan sudu dhu repa nggena? Sudu dhu repa nggena berarti ukuran sesuai dengan yang dinginkan. Budaya sudu dhu repa nggena biasa dikaitan dengan keperluan membangun rumah.

 Rumah adat orang Nagekeo, teristimewa di wilayah pesisir selatan terbuat dari pohon kelapa. Tiang-tiang rumah terbuat dari batang pohon kelapa, yang hanya dikupas kulitnya dan dirapihkan seadanya. Pengikat antar tiang adalah balok-balok, kuda-kuda dan ring-ring atap semuanya terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di belah dan dibersihkan dengan menggunakan kapak atau parang. Untuk membangun sebuah rumah membutuhkan banyak pohon kelapa, yang sudah berusia tinggi. Hasil kebun sendiri sering tidak mencukupi kebutuhan pembangunan sebuah rumah.

“Sai ta ponggo ?” (siapa yang menebang pohon). Sebuah pertanyaan bernada kesal. Pemilik lahan sering dibuat kesal ketika menyaksikan ada pohon kelapa atau bamboo yang sudah ditebang tanpa ijin. Kemudian baru tahu dari orang lain bahwa yang menebang seorang dalam kekerabatan keluarga besar. Pohon kelapa dan pohon bamboo sering diambil seperlunya tanpa ijin. Pohon-pohon itu ditebang karena ada kebutuhan. Orang bisa memotong atau mengambil apabila menemukan sesuatu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan (sudu dhu repa nggena) untuk pembangunan.

Sudu dhu repa nggena sebuah kebiasaan adat yang sudah mulai ditinggalkan sejalan perkembangan kesadaran hidup ekonomis.

Posted in ADAT & BUDAYA | 3 Comments

Ine Tanda Penjaga Lingkungan Orang Mauromba

Di salah satu lembah dari lahan luas kebon kelapa kami ada rumpun bamboo yang sangat luas. Saya masih ingat kami memiliki rumpun bamboo yang luas, mungkin yang paling luas di dua lokasi yang berbeda. Karena itu ayah saya didaulat sebagai ine tanda (pemuka adat yang mengawasi peraturan khusus). Peran ine tanda adalah menerima dan menampung informasi serta menegur orang yang melakukan pelanggaran atas peraturan-peraturan khusus yang berakitan dengan pengawasan lingkungan.  Orang tidak bisa seenaknya mengelola apa lagi merusak lingkungan, meskipun itu adalah tanahnya sendiri.

Ada kearifan lokal di Keo Tengah untuk menjaga dan mengelola lingkungan. Masyarakat diatur oleh ketetapan bersama untuk jangka waktu tertentu. Masyarakat disadarkan untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Kelestarian lingkungan selalu dipandang dari seberapa jauh keadaan lingkungan, yang  memberikan gambaran kemakmuran. Ukuran dilihat dari dua jenis tanaman yaitu kelapa dan bamboo. Masyarakat adat mempunyai  peraturan  untuk melindungi lingkungan. Yang dimaksudkan dengan peraturan adalah larangan-larangan bagi warga dalam mengelola lingkungan. Peraturan itu ditetapkan dan dimulai dengan sebuah pertemuan adat yang diadakan di salah satu lokasi terbuka di luar kampung, yaitu sebidang tanah (ku), yang disebut ku tanda. Pertemuan untuk mengadakan penetapan waktu larangan dan mengeksekusi sanksi-sanksi (denda adat) disebut pebhu tanda (perkumpulan untuk menerapkan waktu dimulainya masa menjaga lingkungan. Pertemuan diawali dengan warta atau pemberitahuan untuk mengadakan kapan dan tempat pebhu tanda. Di kampung kami setiap  pengumuman didahului dengan memukul gong besar (nggo mere). Perintah berkumpul disebut beku. Pada waktu pebhu tanda (pertemuan) setiap keluarga menyumbang beras dalam ukuran yang ditetapkan, yang akan dimasak di tempat pertemuan (ku tanda). Lauknya adalah daging babi, diambil dari para warga yang melakukan pelanggaran adat.  Pertemuan pebhu tanda hanya dihadiri kaum lelaki termasuk anak-anak. Kecuali alat masak seperti kuali besar tidak ada alat makan. Piring senduk tidak ada. Piring nasi dibuat dari tempurung kelapa untuk kuah, dan nasi ditampung di daun lontar muda. Daun-daun lontar dari satu pelepah ditekuk dan diikat ujungnya. melengkung seperti alat musik sesando. Senduk dibuat dari batok kelapa. Semuanya serba darurat.

Ada masa orang tidak boleh memanjat kelapa kecuali beberapa pohon untuk keperluan sayuran (nio ae uta). Pohon kelapa yang lain dibiarkan saja berbuah sampai tua, biasanya selama 1 bulan. Pada saat itu orang tidak boleh mengupas buah kelapa, menjemur dan menjual.

 Salah satu tanaman yang paling diperhatikan pengawasan adalah bambu. Untuk menjaga agar tanaman bambu tidak musnah, ada masa semua orang dilarang memotong bambu. Walau ada keperluan untuk pembangunan, selama masa larangan orang berusaha untuk menahan diri dan hanya menggunakan bamboo yang ada. Siapa yang melakukan pelanggaran, memotong bamboo pada masa larangan akan dikenakan sanksi. Sanksi biasa berupa babi besar yang disembelih pada saat akan memulai masa larangan (tanda). Ada dua macam tanda ada tanda nio (kelapa) dan tanda peri (bamboo). Para pengawas peraturan disebut ine tanda.

 

 

Posted in ADAT & BUDAYA | 4 Comments

Sampah Barang Elektronik di Korea

Barang Elektronik tersusun rapih. Bukan dagangan tetapi sampah. Foto diambil di salah satu jalan di Changwon, kota indah dan paling nyaman untuk pejalan kaki.

Partner bisnis asal Korea Selatan,  pak Ahn In Kyu mengajak saya makan malam di rumahnya, di sebuah apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Setelah makan kami mencari salah satu tempat minum, menikmati bir sambil ngobrol bisnis di salah satu tempat minum tak jauh dari lokasi. Kelapa Gading menyajikan semuanya. Kelapa Gading yang dahulunya penuh rawa tertutup hijaunya tanaman kangung dan  jadi tempat resapan air, kini  telah disulap menjadi kebun beton warna-warni penuh pesona, pemandangan kota paling mutakhir di Jakarta. Yang menarik di wilayah ini adalah tidak Nampak para gelandangan dan peminta-minta di jalan.

 Ketika di rumah teman saya ada sebuah TV baru berlayar datar berukuran besar. Saya menanyakan mana yang lama. Sudah rusak dan dibuang, kata pak Ahn. Membuang barang di apartemen hanya dengan masukkan saja sampah  kedalam sebuah ruangan khusus yang sekali waktu diturunkan untuk dibuang. Orang Korea biasa membuang barang-barang elektronik rusak. Mereka tidak pernah mau repot dengan mencari tukang servis alat elektronik.

Kalau kita berjalan-jalan di kota-kota di Korea Selatan, ada tumpukan barang-barang eletronik, seperti pajangan dagang sangat rapih di pinggir jalan (lihat foto). Barang-barang itu bukan barang dagangan. Tetapi adalah barang-barang yang sudah tidak terpakai, karena ada kerusakan. Ada beberapa tenaga kerja asal Indonesia mengambil barang-barang itu teristimewa televisi. Dengan sedikit kotak-kutik sudah bisa dimanfaatkan buat menikmati berita dan nonton sinetron. Maklum anak Indonesia terkenal trampil dan ulet.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pili Dimara Memperoleh Tanpa Kerja Keras

Suatu pagi, kira-kira jam 6.30 WIT ada bunyi ledakan di tanjung sebelah barat kampung kami. Orang-orang pantai seperti kami segera berlari menuju sumber ledakan. Dari jauh kelihatan sebuah perahu tanpa layar sedang mengapung disana. Orang segera mencebur dan berenang ke dekat perahu. Saya yang masih kelas 4 SD juga ikut berenang. Kami semua memperebutkan ikan-ikan korban ledakan bom. Saya kembali ke darat dengan dua ekor ikan lumayan besar. Begitu saya sampai ke darat dua orang polisi pamong praja dari Kecamatan berdiri dekat kami. Perahu sudah menghilang dikayuh menjauhi lokasi. Mereka takut ditangkap. Polisi menanyakan saya dengan keras: “Siapa yang bom? Cepat jawab”, saya katakan tidak tahu. Waktu itu ada bapak Yoakim Pita Mbeu, kepala desa kami berdiri tak jauh dari situ. Saya ketakutan sambil menjawab tidak tahu, kedua tangan saya menyorongkan dua ekor ikan ke arah polisi. Polisi tidak mengambil ikan, dan saya membawa ke rumah lalu ke sekolah. Ini pengalaman traumatis saya di hadapan polisi. Polisi memang selalu memburu para pembom. Tetapi tetap saja masih ada yang melakukan itu di wilayah pantai kami.

Ketakutan menghadapi polisi setelah ada bom meledak di laut tidak hanya menjadi pengalaman saya sendiri. Saudara saya Cyrillus bercerita sambil tersenyum dan menahan tawa. Seorang bapa,orang kampung dari Maunori dibuat ketakutan. Dia sedang memegang beberapa ekor ikan di pantai Dowo Noli.. Polisi membentak menanyakan siapa pelaku ledakan. Sang bapa gelagapan dan langsung bilang dalam bahasa gado-gado: “Tidak pak, ini saya pili dimara.” (Tidak pak ini saya pungut di bibir pantai). Beberapa orang menyaksikan situasi ini. Cerita pili di mara menjadi buah bibir orang Maunori. Suatu saat ada darma wisata siswa Sekolah Guru (SPG) Boawae ke Maunori. Mereka menginap di salah satu rumah warga. Dalam bicara santai ada seorang siswa mengungkapkan kegembiraan sambil bilang ini pili dimara ko. Bapa Ndode hadir juga. Bapa Ndode muka merah. Dia langsung angkat bicara dengan nada marah agak membentak:” ngedo, pata puki ta ine te simba mona pota”. -terjemahannya bisa tanya pada  Ine Ema, orang Worowatu yang tinggal di Mauromba. Suasana sempat hening, tapi tak lama kemudian larut kembali dalam sukacita gaya anak sekolahan. Ungkapan pili dimara sampai kini masuk dalam kosa kata harian berarti mendapatkan sesuatu tanpa kerja keras, gratis atau pro deo. Terima kasih pada bapa Ndode.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Apa Hubungan Telur Paskah dan Perayaan Paskah

Dito ponakan paling culun

Om apa hubungan telur paskah dan perayaan Paskah, kata Dito keponakan saya dari seberang telepon tadi sore.  Saya sadar sudah begitu banyak kali merayakan Paskah selama hidupku, tetapi belum pernah merasa terusik mencari arti telur paskah. Saya bilang sama Dito tunggu sebentar. Saya lalu merujuk pada kamus pintar om Google. Dan saya memanfaatkan salah satu sumber yang kutemui. Saya lalu jadi sok pintar sama ponakanku yang culun itu. Bertanya dan merasa tidak tahu tanda sebuah kecerdasan. Karena hanya orang bego yang merasa tahu segala. Berarti si culun Dito masuk kategori orang pintar minimalis. Paling kurang sadar bahwa ada yang dia tidak tahu. Saya ternyata juga tidak tahu. Berikut ini contekan mentah-mentah buat sumber referensi ilmu telur paskah.

Telur paskah

Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dimana telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru. Dewa musim Semi, yang bernama “Eostre” adalah dewa yang disembah pada perayaan “vernal equinox”. Nama dewa ini juga yang akhirnya dipakai untuk menyebut hari Paskah, “Easter” (bahasa Inggris).

Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus karena hari Paskah memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim Semi. Perayaan musim Semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin. Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah.

Membagi-bagikan telur pada hari Paskah akhirnya diterima oleh gereja selain untuk merayakan datangnya musim Semi, juga karena telur memberikan gambaran/simbol akan adanya kehidupan. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yesus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Umat Kristen sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.

Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa Utara dan di Asia. Tetapi, di Eropa Selatan dan juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Tradisi

Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.

 Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut Dingeier (telur-telur yang dihutang). Sehingga berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka.

Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.

Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin/pengemis

Hiasan

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Kasdim, Suriah dan Yunani, umat saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak.

Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah. Permainan Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakutelur paskah Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dimana telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru. Dewa musim Semi, yang bernama “Eostre” adalah dewa yang disembah pada perayaan “vernal equinox”. Nama dewa ini juga yang akhirnya dipakai untuk menyebut hari Paskah, “Easter” (bahasa Inggris). Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus karena hari Paskah memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim Semi. Perayaan musim Semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin. Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah. Membagi-bagikan telur pada hari Paskah akhirnya diterima oleh gereja selain untuk merayakan datangnya musim Semi, juga karena telur memberikan gambaran/simbol akan adanya kehidupan. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yesus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Umat Kristen sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah. Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa Utara dan di Asia. Tetapi, di Eropa Selatan dan juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer. Tradisi Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah. Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut Dingeier (telur-telur yang dihutang). Sehingga berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka. Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri. Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin/pengemis Hiasan Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Kasdim, Suriah dan Yunani, umat saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.

Permainan

 Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Suriah, Irak, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu. telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai telur kemenangan. Permainan ini amat digemari di Amerika Serikat lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.

Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.

Di Rusia dan Ukraina dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.

Serba-serbi

Telur paskah yang termahal di dunia adalah hasil kreasi dari seorang seniman asal Perancis Peter Carl Fabergé (1846 – 1920) harga per telurnya tidak ada yang di bawah sepuluh juta dollar AS. Pada perayaan Paskah 1884, Faberge membuatkan telur hias dari emas dengan dibubuhi intan dan berlian untuk Tsar Alexander III. Telur hias itu dibuat sebagai hadiah bagi permaisuri Tsar. Faberge membuat telur hias kurang lebih sebanyak 54 butir. Sekarang, delapan butir di antaranya raib. Sisanya dikoleksi oleh orang-orang terkaya di dunia, termasuk Ratu Inggris dan anggota Kerajaan Monako

sumber : http://id.wikipedia.org  /macsman.wordpress.com

Posted in ALBUM KENANGAN, Uncategorized | 1 Comment