Posted by: tanagekeo | October 3, 2009

Nai Sa’o Syukuran Rumah Orang Keo

Begitu sering saya berkomunikasi dengan keluarga di kampung Mauromba. Rata-rata seminggu 3 kali saya menelpon, menanyakan keadaan dan terkadang hanya sekedar berbasa basi melepas kangen kampung halaman. Hujan emas di ibu kota , gerimis dan hujan batu di kampung sendiri, lebih baik di di kampung sendiri.  Saudara saya Anton mengatakan dia sedang di dapur (ena pupu dapu).

Orang  laki Keo tidak biasa berurusan dengan dapur dan masak-mamasak. Kalau mengatakan bahwa dia berada di dapu (ena pu’u dapu) artinya dia sedang sibuk memasak dalam perhelatan adat kampung. Saya segera membayangkan sebuah kuali berukuran ekstra besar ditunjang batu lonjong sebagai tungku penunjang kuali. Tungku itu pasti cukup lebar untuk memudahkan orang menyorongkan kayu bakar kedalam tungku di tempat terbuka. Disekitar tempat masak ada banyak orang laki berdiri, duduk di batu atau berjongkok merokok  sambil bercanda menunggu semuanya tanak. Ibu-ibu sibuk memasak nasi di sebuah panggung khusus. Dan sebahagian lagi menyiapkan begitu banyak piring nasi serta gelas. Maklum di desa kami masih belum populer dengan gelas air mineral.  Untuk pesta besar harus ada orang yang khusus merebus air minum.

Salah satu yang paling khas dalam acara seperti ini adalah sayur khas orang Keo, yaitu muku loto. Muku loto adalah buah pisang mudah yang di kupas kulit hijaunya kemudian dipotong-potong dan dimasak dicampur dengan jeroan hewan kurban. Pada acara hari itu ada seekor kerbau disembelih dan sudah pasti jeroan kerbau dibersihkan dan dipotong direbus dengan buah pisang mudah. Buah pisang muda yang telah lama direbus diulek-ulek  (ghe’u)hingga hancur menyerupai bubur. Rasanya sangat khas setelah bercampur bumbu dan jeroan hewan  begitu mengundang selera orang Keo untuk makan. Ini cita rasa  masakan Keo tradisional. Saya masih sempat mencicipi beberapa kali ketika berkunjung ke kampung. 

Semua kegiatan masak-memasak ini ternyata berkaitan dengan pesta sykuran rumah baru (nai sa’o) om Herman Gale Watu.  Om Herman sudah menyimpan niat bahwa bila rumahnya selesai akan dibuat pesta kecil. Sebuah janji yang harus dipenuhi.  Ketika saya berada di kampung banyak orang bergotong royong mengaduk semen untuk cor  atap teras rumah. Om Herman patut menaikkan syukur karena ini baginya merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Nai Sao pesta syukuran hanya dibuat oleh orang-orang yang mampu. Pada umumnya orang segera mendiami rumah walau belum semuanya rampung. Membangun rumah permanen  pasti memakan biaya besar dan tentu tidak semua orang bisa memikulnya. Saya masih ingat sebuah pesta nai sao (masuk rumah baru ) yang paling besar adalah rumah orang tua teman saya Yoakim Koba di Pauleka. Begitu banyak ine weta, ane ana yang diundang membawa hewan. Begitu banyak hewan ternak berupa kambing, domba kuda  dan kerbau memenuhi kolong rumah panggung yang begitu besar.  Pada acara nai sao tidak saja orang sekampung yang diundang. Tetapi umumnya yang diundang adalah  warga beberapa kampung adat yang berada dalam “udu mere eko dewa” (kampung dalam batasan yang luas). Masyarakat Keo mengenal juga apa yang disebut “udu go’o eko bhoko (kampung dalam batasan sempit), satu kampung saja.  Orang Keo selalu menyebut batas paling atas disebut udu (kepala) dan batas akhir disebut eko (ekor). Penyebutan batas kampung selalu disambung dengan sesatu yang menonjol, apakah itu nama lokasi lahan atau tanaman besar. Orang Mauromba menyebut udu mere eko dewa (batasan luas) dengan udu mbuju eko lomba. Batas atas gunung Mbuju dan batas akhir Romba persis di bibir pantai. Ada cara lain menyebut batas kampung seperti udu pau jawa eko dokamboa (batas atas pohon mangga Jawa dan batas akhir kampung kecil tempat banyak pohon randu (mboa).

Dalam sebuah perhelatan adat termasuk acara nai sa’o (masuk rumah baru) tuan rumah biasanya mengundang kerabat besar, kae ari sa’o tenda dan ine weta ane ana. Yang menarik adalah mereka yang diundang khusus ini akan datang dengan membawa barang berupa hewan berupa kambing, domba atau kuda dan kerbau. Akhir-akhir ini kuda kerbau sudah semakin langkah dibawa, karena harga semakin tak terjangkau. Pada saat ine weta ane ana kembali dari acara ini, mereka dibekali sesuatu sebagai imbalan atas bawaannya. Yang jelas mereka semua akan menerima satu keranjang (mboda) berisi demba wawi (jelai daging babi), beras serta kue cucur.  Semua ine weta pasti diberikan paket khusus ini. Bukan daging, beras yang penting, tetapi ini menunjukkan perhatian  dan kasih.  Bila ada keluarga yang tidak mendapatkan bingkisan khusus ini, maka tuan rumah akan menjadi buah bibir dalam keluarga besar. Keinginan untuk mendapat perhatian juga datang dari para tamu. Sebelum kembali mereka bahkan tidak malu menanyakannya. Ada yang sampai meneteskan air mata bila tidak mendapat bagiannya. Karena itu berarti tidak mendapat penghargaan.  Setiap pesat adat orang Keo, tidak melulu sebuah syukur dan keramaian. Tetapi lebih dari itu adalah saat orang mempererat kembali kekerabatannya. Ada pengakuan dan penerimaan dalam sebuah lingkaran sosial.

Posted by: tanagekeo | October 2, 2009

Duka Andalas Derita Kita

Rasa kantuk malam itu terlambat tiba. Aku terpana memandang layar kaca seorang diri. Sumatera Barat remuk diguncang gempa. Begitu banyak orang kebingungan.  Tangis pilu ibu anak menyayat hati. Bangunan porak poranda. Berita ini berulang kali ditayangkan melalui breaking news.

Siapa pun akan sedih. Dalam empati kemnanusiaan universal tersisip dalam ingatan akan seorang sahabat akrab. Saya berusaha mencari nomor telepon seorang sahabat saya Yoakim Koba, asal Pauleka, Mauponggo, Nagekeo. Kami hidup bersama selama 9 tahun dalam asrama di Mataloko dan Ledalero.  Buku telepon rumah kami sudah diperbaharui dan tidak  tercatat nomor telepon Yoakim.  Telepon genggam saya sudah beberapa kali diganti, dan sangat disesalkan nomor telepon sahabatku tak terekam disana.  Sehari setelah gempa aku menghubungi sahabat  Rm Anton Sae Pr di Nele, Maumere  dan dia memberikan nomor telepon yang dicari.  Saya coba berusaha berkali-kali menghubungi Yoakim melalui telepon tapi tidak tersambung. Sebuah pesan s ngkat bahwa saya ikut bersedih dan mohon berita dari sahabatku ini. Berita balasan  akhirnya datang. “Makasih teman, anak putriku yg bungsu kenamusibah meninggal karna kena pecahantembok gedung org, usia 19 thn 6 bulan smester 3, saktif di gereja. Kami lain slmt. Sy di kamps,mbl hancur, kepala sy kena dikit, Gdng kuliah lantai 3 roboh, Rumah aman, Yg lain hancur parah. Mhn doa. Mkasih.”

Tidak terdengar ada yang saling menyalahkan. Pemerintah melalui  Wapres Yusuf Kalla tegas menyatakan tanggap darurat tiga bulan ketika Presiden SBY masih belum  tiba di Indonesia.  Presiden memberikan skala prioritas lebih tinggi pada penanganan masalah kemanusiaan dalam musibah gempa Sumatera Barat, daripada acara pelantikan Dewan. Sebuah keputusan bijak. Presiden untuk rakyat dan berada di tengah rakyat. Karena itu patut diangkat jempol kehadirannya ditengah penderitaan rakyatnya.

Setiap ada musibah pasti ada usaha penggalangan dana. Sang Presiden tidak tanggung-tanggung, beliau menyatakan siap menerima uluran tangan negara sahabat. Semoga setiap orang yang terlibat dalam segala hal yang berkaitan dengan bantuan sosial ke Sumatera Barat sungguh bekerja tanpa pamrih. Karena sering terdengar bahwa sejumlah bantuan disunat dan salah sasaranya. Kepentingan pribadi, golongan harus di sisihkan demi orang banyak. Karena masalah Sumatera Barat adalah masalah bangsa, duka andalas adalah derita kita semua anak bangsa. Doa kita semua semoga Tuhan memberikan kententeraman hidup abadi bagi yang meninggal dan ketabahan dan kesembuhan bagi semua saudara  yang  terpaksa hidup penuh derita karena musibah ini.

Posted by: tanagekeo | September 22, 2009

Ndu’a Ma’u Diskrimnasi Ala Keo

“Ata ndu’a kau… “, seru Ndoa pada Siga yang tidak bisa mendayung perahu dengan benar. Gaya potongan rambut yang pendek pada bagian bawah lingkar kepala disebut sebagai mode ata ndu’a. Karena orang-orang pesisir biasa memotong rambut dengan membiarkan jambang  pendek terjaga rapih.

Ungkapan diskriminatif ata ndu’a  (orang dari daerah ndu’a) sudah tidak banyak terdengar saat ini. Pada tahun 60an cap ata ndu’a sangat umum di daerah Keo, khusus Keo Tengah. Ndu’a dikaitkan dengan gunung, pedalaman, terpencil bahkan ada kesan bodoh.  Ma’u dikaitkan dengan pantai, pinggir laut, perahu dan akses luas antar pulau dan mengenal kapal barang dan perdagangan. Orang pesisir khusus wilayah Keo sampai Tonggo sudah memiliki perahu, sope, joko (jukung) dan lambo (perahu berlayar ganda).

Ata Ndu’a dan ata Ma’u jelas berbeda. Secara georafis ata ndu’a mendiami wilayah pedalaman dan ata ma’u mendiami pesisir pantai. Orang-orang Ndu’a karena letak perkampungan yang berada jauh dari pantai tidak memiliki akses ke luar daerah. Pada masa itu  tidak ada jalan raya dan alat transportasi. Mobilisasi  orang dan barang dari tempat ke tempat dilakukan dengan jalan kaki atau berkuda.

Ada Ndu’a rade dan Ndu’a rede. Ndu’a rade adalah wilayah sebelah barat Ngadu Poso dan Ndua rede adalah wilayah antara Kota Keo sampai Wajo.Yang memberi cap ata ndu’a adalah orang-orang Ma’u (pesisir). Perbedaan ndu’a dan ma’u tidak saja berdasarkan lokasi. Tetapi juga berbagai komoditi dagang memberi cirri pada keduanya. Orang Ma’u memiliki hasil garam, ikan, kelapa dan tuak, daun lontar untuk mengisap rokok  serta kerajinan anyaman. Penduduk wilayah Ndu’a rade memperoleh kelapa, minyak goreng,  tuak, garam dan bakul-bakul, tikar-tikar besar berbahan daun lontar dari orang Ma’u.

Orang Ma’u membeli semua kebutuhan pokok dari ata Ndu’a berupa, beras, jagung, pisang dan ubi. Sampai tahun 60an perdagangan masih sangat tradisional yaitu barter. Peredaran uang sangat terbatas. Kopra merupakan hasil bumi yang pling banyak menghasilkan uang, Budidaya tanaman kepala yang paling luas adalah wilayah ata Ma’u.   Garam dapur biasa diproduksi oleh orang Ma’u dengan memasak air laut. Sambil menunggu masakan air laut menguap dan menambah lagi air kedalam wadah masak, kaum ibu menganyam tikar atau bakul.

 
 Istilah Ndu’a dan Ma’u memang memberikan cirri yang membedakan. Tetapi tidak dalam pengertian diskriminatif negatif. Orang-orang wilayah sebelah barat Ngadu Poso juga menyebut ata Ma’u atau Yoga Ma’u untuk penduduk wilayah timur Ngadu Poso. Mereka memahami akan kebutuhan pokok yang dipasok oleh yoga Ma’u atau ata Ma’u. Demikian juga orang-orang sebelah utara di sekitar Raja dan Kota Keo menyebut ata ma’u tanpa perasaan diskriminatif. Dalam pengamatan saya justeru orang Ma’u yang sering memberikan cap diskriminatif pada istilah ata ndu’a. Tetapi sejak ada pembangunan jalan raya, semuanya berubah. Istilah ndu’a dan ma’u  yang terkesan diskriminatif tinggal cerita. Wilayah-wilayah ndu’a justeru lebih maju karena mempunyai lebih banyak komoditi yang menghasilkan uang dari pada wilayah ma’u. Kata ndu’a seolah lenyap dan yang tinggal adalah ma’u karena tetap di pesisir, yang dikaitkan  dengan kegersangan, dan kekurangan produk pangan.

Posted by: tanagekeo | September 15, 2009

Mati Setelah Empat Menit Berkomunikasi

Orang Mauromba harus naik perahu motor ke Ende, atau ke Nagaroro diteruskan naik truck ke Ende untuk sekedar menelpon atau kirim telegram. Bapa saya selalu ke Ende dan menghubungi kami melalui kantor telkom. Untuk hemat biaya bisa dilakukan collect call (biaya ditanggung yang menerima telepon). Ini tentu cerita lama. Saat ini orang sudah bisa menghubungi anggota keluarga diperantauan dari rumah atau tempat tidur.

Berkomunikasi via telepon di Keo Tengah sudah umum. Yang menjadi masalah saat ini khusus di Keo Tengah sambungan telekomunikasi segera putus setelah empat menit. Sampai sekarang masih belum jelas alasannya.  Telepon selalu putus dan meminta kesabaran untuk menghbungi kembali. Keo Tengah tidak sendirian tetapai hampir sebahagian besar wilayah Nagekeo  masih jauh ketinggalan dalam bidang prasarana baik jalan raya, listrik maupun telepon.

Posted by: tanagekeo | September 15, 2009

Kaka Kodi Sebuah Keindahan Yang Terabaikan

BARU JKT 829Terik matahari siang  menerpa ubun-ubun. Aku memarkir kendaraanku di pelataran parkir Plaza Cibubur. Tanpa rencana tenda pameran tanaman hias di depan Plaza Cibubur  di area parkir sekejap merampas perhatian saya. Dari sekian banyak tanaman hias yang menarik, saya lebih terpikat dengan beberapa pot tanaman. Harganya Rp. 250.000 per pot yang  membuat saya kaget.  Ini anggrek macan, kata penjaga pameran.  Saya memegang daun dan kembangnya. Lalu saya berkata ini adalah tanaman yang disia-siakan di Keo Tangah. Ini adalah kaka kodi. Kaka Kodi demikian nama untuk tumbuhan yang menumpang pada pohon kodi (lontar). Disebut kaka kodi, karena tanaman ini menempel (kaka) pada kulit batang pohon lontar (kodi). Tanaman ini terkadang dianggap mengganggu para penyadap nira lontar ketika mengikat batang bambu aur sebagai penapak  untuk memanjat pohon lontar.

Nilai tidak tergantung pada benda, tetapi lebih pada siapa melihat dan menghargainya.  Demikian pun halnya keindahan. Keindahan  menyangkut selera.  Kata orang urusan selera tak bisa diperdebatkan.  Hal yang biasa  biasa saja dapat mengundang decak kagum bagi orang lain.  Kaka kodi  (anggrek macan dan anggrek bulan)yang dicabik-cabik  dan dihempas ke tanah oleh pengiris tuak di Romba naik pentas dan dihargai orang kota.  Sambil terus mengingat pesan penjaga pameran  agar bawa saja sebanyak-banyaknya, saya terus menuju gedung mencari makan siang ditengah banyak orang berpuasa.  Kaka kodi, nggela, kewi tua, kuwu tua dan Mauromba tak henti  terngiang di kepala. Semuanya jauh tertinggal di sana.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories