Jao

Jao Atakeo anak rantau dari tanah Keo.  Saya dilahirkan di Maunori. Sejak berusia 4 tahun berpindah ke Mauromba. Sekolah SD di Romba. SMP SMA di asrama dingin  Mataloko. Kemudian masuk  sekolah asrama  Ledalero. Jao  selalu merasa bagian dari kampung halamanku Mauromba. Disana saya dipanggil Tali. Terasa menginjak bumi kalau ada orang sekampungku menyapaku TALI.  Jao   TALI ATA LOMBA

Tulisan tentang adat dan budaya kampung halaman di Nagekeo, khusus untuk wilayah Mau hanyalah catatan saja. Meramu menjadi tulisan yang bagus tentu butuh waktu. Sementara kesibukan harian tidak memberi cukup waktu untuk menulis. Dari pada hilang ditelan waktu, semuanya saya catat seadanya.  Kalau Tuhan menghendakinya semua dapat menjadi bahan tulisan yang lebih lengkap.

Jadi mohon maaf kalau semuanya saya catat seadanya. Belum diedit dari segi bahasa maupun ejaannya. Ini adalah catatan seadanya.  Besar harapan saya semoga semua catatan ini berguna bagi yang berminat mendalami budaya nagekeo, khususnya Nagekeo selatan yang disebut ata Ma’u.

136 Responses to Jao

  1. agust says:

    Setuju,,,harus ada trade marknya,,,Beda dan unik,,kata ata pu`u mena boa ,,,Surprisingly Different`,,,

    @agust: terima kasih atas komentar ini. Kita bisa katakan itu Jepang. Ini Korea atau itu Jawa atau Demak dan Palembang. Saya juga ingin dengar orang bilang itu dia :sao teda ata Nagekeo.

  2. tanagekeo says:

    Tulisan-tulisan saya tidak berpedoman pada cara menulis yang baik. Yang saya tulis adalah beruapa apa saja yang ingin saya katakan. Terkadang terlalu panjang. Tetapi saya tidak peduli. Ini semua hanya merupakan jalan untuk menimba pengalaman mencatat atau menulis apa yang saya ingin katakan dalam tulis. Saya lagi belajar menulis dengan menulis dan menulis. Terima kasih kepada siapa saja yang sempat mampir di pojok omong-omong ini.

  3. tanagekeo says:

    Sebuah Catatan Perjalanan Saya Menuju Keo

    Suatu malam saya ditelepon seorang teman. Mikhael mengatakan dia menjemput saya. Dan setelah jauh dari rumah saya dia katakan maksudnya. Dan malam itu saya bertemu dengan seorang calon bupati, dr. Don Bosco. Sejumlah putera Nagekeo berkumpul di kantornya Primus. Saya waktu itu melihat potensi ada pada dokter muda itu. Dan saya menjanjikan bahwa Keo Tengah tempat kelahiran saya akan memberi dukungan maksimal. Saya kenal banyak kepala desa, para guru dan tokoh masyarakat. Keo Tengah itu adalah penyatuan kembali dari sebuah paroki yang telah terbagi, yaitu Maunori dan Mundemi.

    Saya sangat tidak tertarik dengan dunia politik. Saya lebih tertarik pada dunia usaha. Karena sejak kecil orang tua saya tidak menghendaki saya bekerja sebagai birokrat tetapi lebih senang bekerja swasta dan berwiraswasta.

    Dari pertemuan malam itu, saya menjadi terlibat dalam politk. Untuk kepentingan dr. Don saya bertemu dengan Yacob Nuwa Wea mantan Menakertrans. Beliau menyatakan dengan tegas menolak dr. Don jadi bupati karena di anti pemekaran. Saya bersikukuh dan terus mengontak beberapa tokoh di Keo Tengah untuk dukung dr. Don. Ada yang menanyakan apakah saya berkeinginan jadi wakil bupati dan saya katakan tidak.

    Saya makin terlibat dalam politik dan mulai membangun sense poltic saya tanpa saya sadari.
    Ada peristiwa lain yang membuat saya terus berada dalam jalur ini. Karena suatu keperluan saya berhubungan dengan salah satu pasang calon bupati dari kabupaten Sikka yang gagal. Kepada seorang teman, gagal suskses urusan dengan mereka, saya ingin cari hikmah. Mungkin ada sesuatu yang saya petik dalam hal ini. Dan saya ternyata terus terlibat dengan politik.

    Ada pasangan calon bupati drh Lukas Tonga dan Bruno Buu. Saya tidak banyak simpati pada Lukas Tonga karena dari segi ketokohan dan karisma kepemimpinan kurang mu cul dalam figur yang satu ini. Saya mendukungnya karena ada Bruno Buu, yang saya kenal dari kecil. Awalnya saya minta Bruno tidak naik karena saya berada dalam kelompok lain. Dan saya minta tidak terlalu mengeluarkan banyak biaya. Namun Bruno tetap maju. Saya menghubungi dr. Don yang menyambut dengan mengatakan biar saja.Hal ini saya anggap sebagai sikap menganggap enteng lawan. Saya anggap ini sikap arogan. Dan saya tidak suka dengan sikap demikian. Akhirnya saya menghubungi seorang Valens Daki Soo. Dia tahu saya begitu gigih mendukung Don dan berani bertentangan dengan yacob Nuwa Wea. Ketika saya ingin melepaskan dukungan saya, saya hubungi Valens dan teman-temannya. kami bertemu dan saya katakan bahwa saya tidak ingin menjadi orang yang plin plan. Saya mau mendapat dukungan atas sikapku tetapi beralasan. Dan saya menerima masukan dari beberapa tokoh muda pengamat PDIP di lapangan.

    Saya bertemu berkomunikasi dengan Bruno dan Lukas. Dan saya menyatakan siap mendukung karena Bruno. Saya berkomunukasi dengan para tokoh. Pertama saya menelpon pak Bene Geju, waktu itu ada di Denpasar. Saya kemudian menghubungi kepala Desa Worowatu. saya juga menghubungi beberapa tokoh di Keo Tengah.
    Saya semakin jauh terlibat. Saya semakin berpolitik.

  4. nando says:

    slam kenal,ngao ata nasawewe,ndia jakarta.
    ->nando: modo jao sena kau meno ena blog te. Jao ata lomba. Tanggal 22 Juli – 16 Agustus jao mena nua. Nambu te reta nua mboo mbu. Cengkeh, vanili, kakao, nio jadi sumber joi. Tana watu reta nambu te negha subur wado. Jao jeka Niondoa, Mabhapisa. Mena Lomba ta puu ha dera tu’u ke’u nambu te muku nere. Muku ramu negha tau tii wawi. Imu koo ka tado. Ta kura pedi koo pale nee joi. Salam

  5. agst-amekae says:

    salam kenal juga,,Tanakeo mo nanya Pak Jacob Nuwa Wea sekarang dimana yah,,apa pensiun dan walo mena boa atw kemana beliau, soalnya pernah saya ketemu beliau sewaktu handle rombongan presiden RI semasa cabinet Mega, dan beliau sempat ngobrol lama di lobby hotel tempat saya bekerja. Banyak advice yg baik dari beliau,I’m proud of him.
    Cheers,,

    @Agust: Terima kasih atas kunjungannya ke situs Tanagekeo. Pak Jacob Nuwa Wea sekarang di rumahnya di luar kota Jakarta,Wilayah Jawa Barat. Dia setiap hari membutuhkan bantuan orang lain. Duduk di kursi roda sambil menonton TV dan menjawab telepon. Dia selalu menyapa ramah siapa saja. Banyak orang telah menikmati kebaikan hatinya. Semoga Tuhan memberkati dan mendapat kesembuhan.

  6. tanagekeo says:

    Dera te jao simo telepo puu mena Mbay. Pak Baltazar telepo jao. Imu papa luka nee jao wuda ta mudu nambu imu koo nee rombongan perindustrian Nagekeo studi banding penyulingan minyak cengkeh.
    Imu sodho imu nee ana ngara Us Panda ta kuliah Aba di Jakarta. Us Panda kema poa, kuliah au du.
    Pak Baltazar sii jao papa luka nee ana imu. Pak Baltazar ata Kodiinggi pero papa weki nee Pak Bene Geju guru jao nambu SD mena Lomba.

  7. acbar says:

    Ini jao mo tanya bagaimana perkembangan daerah nagekeo setelan pilkada, apakah sudah dilantik apa belum bupati dan wakil juga menyangkut tes PNS yang barusan berlangsung apa sudah ada berita kelulusan. trims atas jawabannya.
    @achbar: Terima kasih atas kunjungannya. Sampai sekarang Bupati terpilih belum dilantik. Mengenai wakil bupati dan tes PNS saya juga tidak tahu persis. Modo, utu ria.

  8. tanagekeo says:

    Numai jao simo telepo puu ena ana mahasiswa. Imu ana koo pak Baltazar. Jao papa luka nee pak Baltazar nee rombongan pegawai perindustrian Nagekeo dalam urusan minyak cengkeh. Puteranya mahasiswa bernama Us Panda. Us Panda katanya kuliah sambil kerja. dia kerja di kios kecil. saya meyakinkannya lebih baik kerja di tempat sederhana dengan kesempatan kuliah daripada kerja di tempat bagus tanpa kesempatan melanjutkan studi. Karena pendidikan yang baik menjanjikan masa depan lebih cerah. Semoga!!!

  9. Arkalaus Ake says:

    Salam kenal saya putra Nagekeo tepatnya mai Romba. Sudah sebulan setelah pencalonan bupati yang baru, saya ingin tahu bagaimana dengan perkembangan kinerja yang sudah di berikan masyarakat Nagekoe kepada bupati yang baru terpilih ini. Mudah mudahan sesuai dengan program yang dicanangkan sebelumya.
    Salam Kenal teman teman semua khususnya dari Romba yang ada di Jakarta. Bravo Nagekeo

    @ ARKA: Jao punu utu ria kau tudi nee ono blog jao. Jao mogha ata Lomba. Ata Lomba liwu ndia Jakarta. Jao ta demba doe ndia. Mae ngasi mona papa mbeo. Jao Lomba nua mena. Sao rede wawo ae koe made rade, puu ha dera nee puu wona. Kami muri puu ena uta wona ke. Ata udu mbuju eko lomba mbeo mbeja. Jao ta maso doe sekola seminari Mataloko. Jao ndewe nde punu nee ana koo guru Bene nambu kema sope dau Makasar. O ya mengenai kinerja bupat baru, belum ada. karena belum dilantik. Dan belum bertugas. Setahu saya mereka sedang kerja keras merancangkan yang terbaik bagi Nagekeo. Modo tabe woso.

  10. tanagekeo says:

    O mbeja miu bapa ine, embu mame, ine weta nee kae ari, minda woe ta fonga papa luka nee wadi ta fonga pata papa dede, wuku todo papa dhu, mai tuli sara nua kita ena forum JAO nee SOJA SADHA. mai papa sadha jengo, papa ade ona tau papa mbeo koo weki. Moo ngara wesa poa nee wengi rua kita wado nua ata mae bhesi mbemi kita sodho kita negha lenggi jangga ede koo punu negha ngguu ngga. Modo tabe woso, jao Tali ata Lomba.

  11. Arkalaus Ake says:

    Miu Mae ngasi .. trimakasih koo informasinya, jao mai mena romba sape, sao wee kepala desa bapa hermanus gale tapi negha ebho pinda ndia bali. kau mbeo ana koo bapa bene, berarti kae emil yang lagi nee project dau makasar, imu mbeo jao kami kae ari dan kami nee perkumpulan malesama yang ada ndia bali. jao nee mindawoe dauh jakarta, nee yamin, adi, fasih,kanis. trimakasi ngara mbeo imukko info tee kami ndia. Bravo Nagekeo.
    @Arka: Ndia Jakarta ata Lomba: Ana bapa Nodu, Jao (Tali) Piet, Albert, Yasin. Hubert, Ana Bapak Yoakim Anton, Kanis, Om Haji, Yamin, Fasi (fai nee Mia ana koo kae Bar Uma), Adi (negha wado) Ramli ana koo Om Usman Bake, Anak koo OM hasan Tenda, Ane imu ta fai an fai koo Yamin, Anak koo Bapa Dami Jogo, Ibu Sinta,, kami ndia liwu mere. Sama ha nua. Ke de ta Lomba. Dae wadi ata Mauara. Bhodo nambu te mona mbai liwu ka. Nagara kita ta Keo Tengah (Maunori) liwu mere. Modo salam woso. Kema ria. Jao napa wado reta nua moo ndii dau Bay. Utu ria, tabe woso.

  12. Arkalaus Ake says:

    Modo trimakasi koo informasinya, jao mbeo nee imu koo, mudah mudahan kita papa tei wado suatu saat nanti. Miu moo wado tau apa dau mbay, moo bisnis atau kema jadi pagawai negri?
    Jao sangat support miu karna dau nua perlu tenaga kita yang pernah di rantau utk bisa mentransfer ilmu atau pengelaman supaya koo sumber daya kita mena nua lebih terbuka.
    Modo ngara kau nee nomor mobilekoo yamin tolong info ti i jao kami sama sama smp mena romba. maaf miu ana koo sai, jao bapa negha mata, kami kaeari nee kae gaspar waja, eja koo kanis,bapa kae ari. salam untuk semua keluarga di jakarta. jao sempat baca tadi ada informasi pasto yang di bunuh dau nua, koo bisa sadis sekali ata kita mena nua.

  13. Yuliana T. Lagho says:

    @salam kenal..Ine jao turunan puu rade Romba&Nuamuri dan Ame jao puu Riti&Mbae@

    NUA ROMBA #Embu Bhoko…
    *Ea Bhoko=> luka sira embu : Arsa So’o, Embu Hj. Usman Teguh( Bp.Hj. Abu Bakar, Bp Absah, Ine Rini ), Embu Bhala ( Bp. hendi, Bp Mathias)….
    *Ari Bhoko => luka embu Martina Poi ( Mame Felix, Mame Tinus, Ine Rosa, Ine Agus Bude, Klara Wea ine jao )..Embu Rua luka Bp. Gasa So’o ( Kak Sius, kak Evi, Kak Maria, kak Nida, Kak Agus ) dan Embu Tolo( Kae Niel dll.)

    NUA NUAMURI # Embu Lengga…
    *Djawa Lengga=> luka embu Igi Isa, embu Gaspar Gero, embu Daniel Panda, embu Mery Goo.
    *Nena Lengga vs embu Rangga=> luka embu Matias Piru ( embu jao),embu Nggode, embu Meo, embu Dhiwa, embu Panda..

    PUU MBAE#
    Embu Bude VS Embu Go’o=> luka embu Wuda Go’o ( Bp Baltasar Mbeko,bapa jao ), Embu Digo Go.o ( Bp Fitalis wala, Bp Bene Bude, Sr. Ancilina, dll ) embu Ema Go’o ( bp. Karel Kalo, tanta Ese dau Mbay ), embu Linus Taa Go.o ( tanta Nika,dll)

    Te ine ame jao mera mena Riti….jao mera ndia Bali…Sai mbeo nee ine ame, kae ari ta baca silsilah jao te mbeo kita koo weki, mai kita papa kontak wado…Untuk kae Sius, kae Evi ta mera ena Jakarta salam puu ine bapa mena nua…

    Ine somba jao. Jao mbeo ata peka ke. Ine jao ata Lomba. Dhi la ine jao, Oka Nggolu, Nggido Nggolu (embu koo Severinus Rangga) Denggu Nggolu (Ine koo Yoseph Geo Mundemi, Dhema fai koo ari koo Pater Zakarias Se reta Bhela) Mena Lomba Nuwa Oka mame jao, mena Ipi Mbuu Kaka Uwa Tuku ( Embu jao ta aki Taa Gudhu, Ito Gudhu (Guru Mill Jaganio), Tuku Gudhu (Uwa Tuku) Haji Abubakar ke minda woe pawe koo bapa jao.

    Dhi la bapa jao, ta ine ke Wea Munde( Ine koo Bapa) Lengga Munde (Embu tenge koo pater Kris Sambu) Boo Lengga ( Ine koo Piet Lelo, Wea /fai koo Napa Nena)
    Dhi la bapa rada ta bapa: Dombo sina (bapa jao ana ta fai doe, nee weta imu ine koo Pius Dipu, Sefa fai koo Niko Muta) rade Dere Noo Sina (Bapa soo Noo) Rede Mabhapisa Wudu Sina (sira pak Fasi)

    Jao puu doe roko-roko tuli ata mae mbeo ngar jao, bhodo jao tei nge liwu ata kita maso ena blog te. Modo te tau papa luka. Kita ngada papa sodho sara kita. Ono mogha sira ta Jawa ngada papa punu sara ko’o imu ko’o. Modo tau kita mogha bhide ke. Utu ri’a (terima kasih) tabe woso, jao ama miu weki ria do modo. Kema pawe.

  14. tanagekeo says:

    K I T A N G A D A P A P A L U K A
    Maaf judul diatas dalam bahasa daerah yang artinya kita bisa saling jumpa. Ketika memulai blog ini saya terus menyembunyikan identitas pribadi. Saya berusaha tidak menjawab via e-mail. Pertama karena saya agak ragu apakah akan menarik minat pengunjung. Dari hari ke hari ternyata saya terpaksa membuat satu tulisan secara rutin dalam blog ini. Bukan karena untuk mau gagahan, tetapi hanya mau menyatakan masih ada napas untuk sekedar menyapa pembaca.

    Hari ini menggembirakan saya dengan sekitar 60 kunjungan sampai saat ini. Saya juga jadi semangat mengisi blog ini. Tetapi yang lebih menyenangkan dan mendorong saya adalah semakin banyak pengunjung yang merasa menemukan forum untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Keo, khusus bahasa nagekeo pantai selatan belahan Ghoe Wodo Wata nuka mena jeka Nagadodo.

    Saya terinspirasi menulis dalam bahasa daerah dan sambutan sangat baik. Ini forum kita orang Nagekeo. Mengapa kita tidak menulis dalam bahasa Nagekeo. Karena saya ata Lomba, jadi jado punu sara ata Mau. mae ngasi bhide sira ta Ghoe Rade nee tata Papa Rede. Miu ngada tulis sara miu, jao dhewo sara Mau. Mona odo. Mai kita ngada papa luka. Utu ri’a (terima kasih) nee tabe woso, jao ama miu weki ri’a do modo. Wadi ha ndeka tabe woso.

  15. Arkalaus Ake says:

    Untuk weta Yuli, jao a.ki koo asty, mi mae ngasi jao de mbeo sejarah koo keluarga miu puu mena romba, embu usman,embu arsad dan embu jao ake feni imo koo tedu kaeari tenge, cuma embu ta nggae rua masu islam dan embu jao tetap katolik.
    Ngara kau punu om gaspar soo nee ema jao, om ferans imu koo weta nala. jao nee sius,maria,evi,agus, niel kami biasa papa tei waktu dau mau ara. wktu sius mendi ngawu jao nee keluarga mbana dau mau ara. wkatu jao masih smp. Modo yuli napa kita arisan papa teu wado salam,mai ana jao brian and david dalung gtt. arke sek.
    @Laus nee Yuly: Jao punu utu ria (terima kasih) kita ngada papa mbeo. Laus mbeo sira reta nua. Anto Rangga, Lud Ade, Margo. Kami ha bapa. Mia dau Aeramo, Jao, Cyrillus (alm ndia Jakarta,) Piet, Albert mbeja kami ndia Jakarta. Negha ke Yasin, Hubert mogha ndia Jakarta. Jao sena mere dheko rada te kita ngada papa luka. Papa sodho mindawoe kae ari ine weta mai papa luka nee buka situs thttp:/tanagekeo.wordpress.com .
    Jao wengi pira reta nua. Jao dede Bele Hasan Tenda ndia Jakarta. Kanis Feto kae koo Yuvens Sera mogha dhatu ndia. Dae wado. Sira ta pesa-pesa ta odo pa ndia liwu lao. Kami ta ndia liwu mere. Puu ha dera kami datu Boui Joi tau papa luka. Nambu te negha mona. Tungga ata Witumauara. Bhodo negha kura mbai aktif.
    Tabe woso, utu ri’a(Terima kasih).

  16. Yuliana T. Lagho says:

    jao sena ree ngada gabung ena blog te…terima kasih woso…utu ria ..he..he..

    Oda nala jao kae Arke…kita kumpul arisan ngge wuda,bhodo nggedhe mbeo kita nala weta…jao sengaja tulis mbeja ngara koo embu kajo, karena turunan nuka rade wena kita nggedhe papa mbeo….te sai mbeo kita dhodho puu embu kajo ta sama…apalagi bhida jao dhadhi nee mera jeka tamat sekolah SD mena riti, nggedhe mbeo weki puu rade romba,mbae,nuamuri…

    Tanta Sefa fai koo bp Niko mutha mena nangaroro jao mbeo pawe, biasa papa dhu…ana kae doe ke…Hil sama-sama nee jao mulai smp kartini…sma syuradikara..kuliah yogya..jeka tamat imu wado pns di nangaroro, jao kema ndia bali..
    @Yuli: Sefa ke weta jao. Ine imu weta tenge ko’o bapa jao. Niko mogha. Kami dhatu ha kajo. Sira ede papa mada lagu sada. One Blog te jao sedia”soja Sadha” oda ee jao dheko ke kita ngada papa sadha jengo nee tau papa ade d\nee papa mbeo weki. Bhodo the dheko “JAO” simba dimba deta pu bhide ke.
    “PATA PEDE” jao moo nggae pata pede koo ine embu. Jao tuli wado. Poa wengirua wado reta nua kita dhatu ngada papa dhewo nee sira ta ameka’e faingga’e. Jao amaria mbeja kita weki ri’a do modo. Mbana dheko rada. Ama ine embu kita sipo ri’a sagho modo. Ke sama ke. Utu ri’a (tks). Tabe woso

  17. Arkalaus Ake says:

    Ngara kau koo ana koo bapak Arnoldus Rangga, jao mbeo tugga ta ari kau waktu kami mena nua sama sama sekolah mena romba, anto,huber yasin, margo,mia sedangkan miu waktu kami goo
    mi negha dau jakarta. Bapa Nodus waktu mai dau jakarta wengi emba sempat eru ndia kae emil dan jao iku t antar koo barang keramik woso ngata. jao dhetu ingat . salam untuk kae ari semua khusus nya Kae kanis feto fuu kunggu, yufen, ngara nomor koo yamin kau info tii jao. Jao mona mbai mbeo hubungan keluarga, coba miu papa ade nee sira ta mbeo kalau jao bapa jao
    Rangga Ndetu, kae imu Sius Ndetu( ana bapa sius
    nee kae Gaspar imu ana koo bapa almarhum desa lama, bapak koo sira, kani dau miu. Modo miu ena kema papa pawe,and mae ngewo salam tii anto atau huber,yasin teman sepa bola dau lapangan romba.

  18. Arkalaus Ake says:

    Nee weta Yuli miu rua kae ari ta ndii ndia bali.
    Jao mona mbai mbeo sejarah koo keluarga kita, cuma ema jao ema Medho dan, om ferans siu perna punuh jao nee keluarga tenge ndii mena riti, Jao waktu sekola mena ende ndii mena sao koo om gaspar nee odo weta maria sama a sao.
    Ine ema jao a rada nee ine ema miu, jao mena romba tunga waktu kecil smp setelah ke e kami dau roda.dheko om. Jao,edy tomas a ema, bapa pesa, bapa jao mata terus kawin lagi nee ana imu sira thomas rofin. Modo kita negha papa mbeo jadi wesa poa wengi rua kita ngada papa punu ena ana kita. Moda miu rua fai aki kema papa pawe tau jaga modo nee keponakan ena sao.

    @Lau ne’e Yuli: Ate jao sena mere. Te rada ko’o Ngga’e tau kita ngada papa luka ne’e papa mbeo. Ede mona papa tii pati ko’o joi rea, ta mbeja kita mona mogha, kita ngada papa mengga ade tau mbeo ko’o weki. Papa sodho ne’e sira ta pesa. Modo , utu ri’a (tks), tabe woso.

  19. tanagekeo says:

    MAI MAE TAKU TULI OO SADA MODO. WEDU PA NUKA ENA. TE DOKA ODA KITA.

  20. iron pita says:

    ada kerinduan untuk berkumpul dan menemukan suasana reta nua..tapi lewat blog ini bisa menjadi pelepas rasa itu…

    salam kenal….
    thx yang telah membuat blog ini sehingga kita bisa bertemu

  21. tanagekeo says:

    @ Iron, Jao punu utu ri’a (tks) tudi ena blog te. Jao moo ade kau puu nua emba. Mae ngasi. Kita reta oda dhoma ade kau ana koo sai. Mae ngasi. Jao ata lomba one mena. Sao made rade, rede wawao sao koo Bele Usma Bake. Jao rasa te kau negha mbeo.

  22. iron pita says:

    jao ata niondoa,…
    anak ko’o bapak matias pita
    skarang nambu kuliah ndia jogja…

    @iron: Modo, kita papa luka. Te jao moo nuka reta nua. Jao napa nggae bapa kau.Miu dhatu ari ana. Jao negha ndii ndia jakarta mbudu tedu iwa witu. Tee jao moo wado ndii reta nua. Jao pero kae ari nee pater Poly Rangga. Bapa jao kae koo bapa Frans Taa. Embu kami Dombo Sina. Sekola modo modo. Mae ghewo untuk bersosialisasi nee minda woe puu tana pesa. Kita wado ngesi mendi odo mbeo. Nggere wado kema lewam ndia Jawa ha iwa. Nee oda mbeo lema mberu wado. Modo sama ke. Jao dhei ria kau tudi ena blog te. Tabe woso nee jao ama miu weki ria do modo…..

  23. nando doke says:

    kamu feo deko bhida ko eko
    daka dedo imu dhatu mbeo
    nagekeo kami mona ghewo
    mbana deo kami dhatu meno.

    salam kenl ngao ata nasa wewe ndia jakarta. ngara ngao nandus wawo doke. ngar nee ata keo ndia jakarta,tlng tlpn ngao. ngao iwa tedu ndia jakarta mona pernah luka ata kita. no hp ngao ;081385108647. salam tii keluarga besar ngekeo yg ada di makassar. terutama om Antaon wangge,kae Engel dosi dan semua ata nagekeo.

  24. Sr. Syrila, SPC says:

    Dera ka’e ta pawe, ta odo ka’e nggedhe tulis identitas ka’e hoo jelas di blog ini. Oh iya, jao ari kak Valens DS, sedang kuliah ndia Yogya (Sastra). Kae baca blog te jao merasa sena, krn jao seperti berada reta nua, khususnya Maunori nee Nangaroro. Yah, jao sangat senang dan jao bangga nee tulisan kee ttg ata kita yg sdg berjuang dan bergelut di bidang politik utk kemajuan daerah kita, termasuk kae Valens. Jao harap sukses selalu e dan Tuhan sll memberkati usaha dan perjuangan kae dan semua yg terlibat demi perkembangan dan kemajuan daerah kita Nagekeo tercinta. SUKSES KAE. Kae, jao mo ade ha go’o ttg upacara adat kita “Peo Enda” utk mata kuliah Foklor (tradisi rakyat). Ngara kae mbeo ttg peo, tolong masukkan di blog ini e, utk tugas kul.
    Terima kasih woso. modo lema.

  25. paul says:

    nagekeo sebagai kab baru..belum banyak yang di kenal dari kab ini.itolong di expose dari wilayah,pemerintahan,kekayaan alam,kebudayaan,wasata,dll

    Terima kasih akan kami usahakan.

  26. tanagekeo says:

    TErima kasih atas kunjungan ke blog ini. Dan usulannya akan diperhatikan.

  27. ross nembo says:

    salam kenal Om…
    Om,..te nga’o ros ata udiworowatu.bapak nga’o kanis ndua.nga’o kliah ndia bandung..te de smester 6..
    saya senang bergabung dalam blog ini.trimakasih woso bagi yang membuatnya…

  28. ross nembo says:

    salam kenal…
    Om,..te nga’o ros ata udiworowatu.bapak nga’o kanis ndua.nga’o kliah ndia bandung..te de smester 6..
    saya senang bergabung dalam blog ini.trimakasih woso bagi yang membuatnya…

    Ross jao ata Lomba. Embu jao nee embu koo Ame Goo Ndiwa rade Tudi Wado, ke kae ari. Jao ana koo Nodus Rangga wea . Wea Munde, Sira Ame Goo, Jawa Lengga Munde

  29. sidharta says:

    Saya mohon bantuan mendesak untuk mencari saudara ADHA STEFANUS sebagaiCalon anggota DPRD No.1 Dapil Nagekeo I,Kabupaten Nagekeo.Karena pesanan Saudara ADHA STEFANUS sampai saat ini belum diambil (berupa kaos partai demokrat,kalender,brosur,dll).Dan total biaya Rp 20 juta belum dibayar kan sama sekali.Untuk balasan di Email ini,sidhartadesain@yahoo.co.id atau hubungi saudara ANDY SEN LAY di no.Telp(031) 5316171 Atau Fax. (031) 5316171.Kami semua amat memerlukan ongkos pemesanan tersebut,karena sangat bernilai bagi kami dan sangat kami butuhkan.Terimakasih atas bantuan POS KUPANG dan PARTAI DEMOKRAT NAGEKEO – NTT.Dan Tuhan ALLAH membalaskan kebaikan saudara2 sebangsa yang telah membantu.Amien.

  30. JULIO FRLOPEZ PUTRA KOBAKUA says:

    makasi tuk blok nage.
    salam kenal buat semuanya saya jufen anak nage, wolowae kalo tepatnya di kobakua sekarang lagi kulia di kediri jatim, mungkin semua orang nage ada yang tdak tau kobakua tapi adanya blok ini aku mau perkenalkan nama kampungku.

  31. JULIO FRLOPEZ PUTRA KOBAKUA says:

    buat P. Nando doke salam kenal kalo ada waktu kita kapan2 bkita maen ke jakarta.

  32. Salam kenal. Saya putra nagekeo, kampung liwo. Saya senang karena Eja mengekspose tentang Nagekeo lewat blog ini, sehingga saya dan pengguna internet semakin mengenal dan terus mengikuti perkembangan Nagekeo. (www.babomoggi.com)

  33. itha mutha kasi says:

    paman,te ne itha anak ko mama sefa.paman,ngao mo terima kasih ne paman.pas ngao ne ka hil tiba bandara ndia ende kami dijemput mobil ko paman n bapak pater kris.sira paman mona wado lihat kubur bapak.mesu mama mea,ngara miu te nala2 demba pasti mama rasa terhibur.ngao masih kuliah ndia yogya.

  34. tanagekeo says:

    to Itha: Saya sungguh berduka dan prihatin dengan semua yang saya tahu. Tapi ingat Ngga’e so’o mbeo. Jao rencana wado bulan Juli dan saya kan kunjungi Nagaroro. Modo.

  35. tanagekeo says:

    JAO INGA DERA TE 2 JULI 2009 PESTA PERAK KOO PATER PHILIPUS TULE.
    Mai mbeja kita doa woso mo’o imu weki ri’a ne’e do modo. Imu mbana dheko rada mo’o jadi tau pastor jeka tama tana.

    Saya masih ingat bahwa setelah Bapa Gaspar Gero dan beberapa orang lagi masuk seminari mataloko terakhir adalah Bernardus Kodo dari Ua. Sesudahnya ada masa kosong yang lama. Tidak ada calon seminari dari paroki maunori.
    Baru pada tahun 1963 ada tiga calon dari paroki Maunori. Vitalis Ranggawea dari SD Romba, Ludovikus Aja Fernanders dari SD Mundemi dan yang ketiga adalah Yeremias Miki dari SD Tariapo (Wodo Wadha).
    Sesudah itu hampir setiap tahun ada calon dari paroki Maunori.
    Imam pertama Piet Wani SVD(almarhum) dan menyusul Philipus Tule SVD.
    Sekarang sudah banyak imam dari paroki Maunori.

  36. Ulyn says:

    Slmt jumpa lg bt k’iron pita.gmn kbrx.ni sma ulyn,ankx bpk zakrias..k’iron kpn wisuda?

  37. Kadir ata Daja says:

    Ngedo, Bheda,kau tau jao lita ndia warnet, wengi kita papa luka ro, jao rindu ngedo. ide emba sira pa guru ne no’o tres. jao te negha ana ado ka. tapi tidak membuat saya patah arang tuk menapki terjalnya hidup. mae ngewa ro jao dae tau blog jao, te nomor Jao kalau moo kontak jao sms lema, jao tei foto koo pa guru jao lita ro, te kau ena emba, wengi kita papa luka, nagekeo kere kita ngedo, jao moo wado, ambu si’e ne teka dengi nio, funu mbapa, ne’e e’a nio. napa jao ne blog mburu kau kunjungi, tapi jao mona mbai madi bhs inggris, kalau bhs keo ede ata inggris pasti kala….hehehehee

  38. tanagekeo says:

    @Kadir, jao sena kita ngada papa luka ena doka da’e te. Nagekeo kere mbeja ana emba ta mbana nembo. Kuwu si’e, funu mbapa negha mona. Ae mesi nuka woso ka. Mesjid (Langgar) odo mena Daja bukti ae mesi nai.

    Daja, Bengga telah maju sejak ada SMP dan SMA. Isolasi sedikit terbuka, bah kan sekarang rada oto dhu Kedi Mali.

    Jao pale dhei, ata Lomba Daja mbo’o mbu. Muku, uwi kaju, ka tado. Ata lomba wesi wawi wai muku dan uwi kaju. Jawa negha ne’e udhe.

    Rada oto dhu Daja wawo, Lomba wawo jeka ridi eko. Pengga tado ora nua. Bhodo ke negha re’e tengge.
    Mai wado sai nuka reta nua, mendi oda mbeo.. tau papa pela ne’e sira ta mera mena ena nua oda. Sira ta tau dida dika ta mbanga anga…..

  39. tanagekeo says:

    Minda woe ka’e ari, ine weta…. Mai kita papa luka ena blog te. Ngge ndeka nambu kita wado reta nua daru nine-ine nee bapa-bapa ta ade kita. Ai.. kau luka mona ne’e weta kau oo.. ari kau…ta dau.
    Jao tei negha nge liwu ngada papa luka minda woe ka’e ari dheko blog te. Mai sodho minda woe kae ari mai kita papa sadha jengo, papa mengga ade, papa kesa wiwi papa pela oda mbe’o…..
    TABE WOSO, JAO PUNU UTU RI’A, TERIMA KASI WOSO..WOSO… KITA NGADA PAPA MEBE’O…..

  40. tanagekeo says:

    Jao sena ngada papa luka. Mae ghewo sahda jengo ena Blog-bolg ana ata wili mau.. Keo Tengah.
    tanagekeo.wordpress.com/atakeo.wordpress.com/krisbheda.wordpress.com
    /mosadaki.wordpress.com/ doches.wodpress.com
    MAI PAPA SADHA JENGO, PAPA LUKA WEKI, PAPA BAGI NGAI RENDE… PIDI PATA TA RI’A……

  41. tanagekeo says:

    Nu mai du 18 July 2009, jao simo telepo pu’u ena ASWAD ana koo Abu, pu’u Mauwedu. Aswad sekola pesantren ridi Bogor. Mesu imu mo’o sodho alamat imu, bhodo telepo mata.
    Wengi pira imu oa pulsa. Jao tii pulsa, bhodo ndeka pesa imu telepo jao dheko telepo ta pesa wadi. Jao negha ke mberu mbeo ke telpo koo minda woe imu.
    Nambu te woso ana goo kita puu wili mau ta maso pesantren. Kita ama imu koo ta sekola agama, mendi weki ria, pela agama dheko rada…

  42. tanagekeo says:

    Hari Minggu 19/7/2009 malam, saya mendapat sms dari Ance, putera Antonius Mere (Toni) orang Mauromba, beritanya buat saya segera menelponnya. Dan saya mendapat konfirmasi berita Anton Mere sedang dirawat di rumah sakit Ende. Dia sekarang mendapat pertolongan pasokan oksigen.

    Saya prihatin dengan berita itu, saya langsung menghubungi Anton Rangga Wea di Romba. Ternyata mereka belum dapat berita.

    Orang Keo kalau sudah ke rumah sakit berarti kondisi sangat serius. Saya percaya Tuhan akan campur tangan dalam penyembuhan saudara kita ini.
    Mohon doa dari saudara-saudara teristimewa yang berasal dari Mauromba, semoga dia segera sembuh.

  43. bennysianipar says:

    kepada siapapun yang membaca surat ini saya minta tolong diberikan alamat atau no telepon sekda nagekeo yang waktu itu memesan barang berupa kaos jaket training dan kaos sepakbola, tg dibordir logo pemkab nagekeo didada kiri dan dibelakang dibordir SPIRIT OF NAGEKEO ,Hingga saat ini pembayarannya masih kurang 4 jt lebih, dan tambahan kaos yg disuruh bikin lagi (70 pcs) juga belum diambil dan dibayar, orang yang disuruh mengambil (kalau tidak salah namanya Mickhel) susah sekali dihubungi, teakhir dihubungi dia mengatakan belum cair oleh pemesannya(sekda nagekeo kalau tidak salah ). saya minta tolong kepada siapa saja yg membaca surat ini agar memberitahu kepada saya dinomor 08161831049 atau 021-6491400, semoga Tuhan yg maha kuasa membalas budi kebaikan saudara,terimakasih.

  44. Negara ini sudah 63 tahun merdeka, akan tetapi sebagian warga penduduk negeri ini juga termasuk orang keo belum 100 % menikmatinya… saya mungkin tidak merasa aneh kalau saya tidak keluar dari kampung…. ketika saya melihat daerah lain dengan perkembangan pembangunan yg begitu pesat baru saya sadar bahwa kita orang keo memamng belum 100 % merdeka. karena kemerdekaan yg hakiki adalah terpenuhinya 3 kebutuhan pokok manusia……..akan tetapi tidak bagi orang keo saat ini…. mari kita sebagai org keo, mari kita merdekakan kampung kita dari keterbelangan serta kemiskinan………..

    @Kadir, jao setuju bahwa kita ata keo dhatu reu dewa ne’e oda muri ta ri’a pawe. Pu’u rede udu kedi jeka a’i ndeli mesi, oda muri, sao tenda, ka minu, ngai rende dhatu ena da’e. Perobahan pertama adalah ngai rende. Mbeja kit ta dora nama nua, kita tungga nggae tuka. Mai kita wado. Mo’o ata nua, mbeja sira ta mera ma’e sodho kita tungga mbo’o ta mbana. Mbo’o me’a. Mai sai kita wado. Ngara wengi kau mo’o wado kita papa sodho. Mai kita to’o papa jogho, wangga sama. Kita perlu secara bersama mencari cara untuk memperbaiki nua oda kita. .

  45. Sr. Giovani Misc says:

    selamat siang om, senang juga mendengar cerita om tentang bapa, jao ana koo bapa bene yang ketiga, mungkin om mona mbeo jao tapi jao kenal om lewat bapa dan juga ka emil dibali. jao sekarng tugas di malang, jao berharap lewat tulisan ini kita lebih saling kenal. oke sukses selalu buat om sekeluarga

    SR. GIOVANI: Jao mona mbeo papa luka ne’e suster. Jao selalu bangga menjadi murid guru Bene. Imu tu’u mbe’e guru. Memberi contoh dalam kehidupannya. Guru Ben adalah guru kesayangan saya.

  46. Rusdianto says:

    trima kasi woso : atas blog yang dibangun untuk persaudaraan, kami india jakarta keluarga besar romba mengharapkan adanya silaturahmi yang inten walupu8n via blog ini.

  47. yanto romba says:

    mbeja kita ta romba ndia tana rantau mai kita papa sodho informasi supaya kita papa mbeo No Tlp (02196919040

  48. tanagekeo says:

    @yanto” Jao dede ngara kau. Bhod dae mbeo papa luka. Ngara jao mona sada kau ana ko’o bele Hasan. Jao weingi pira luka om Beka ridi Boawae.. Terima kasih kau buka blog ini. Jao sengaja tuli wado hal-hal sepele yang ada di kampung kita. Onda tau lembo laku… ee wado nua oda.

  49. yanto romba says:

    jao setuju mere, kae tau blog te, bhide kita ta mbana dora nggae muri ena tana ata, kita mae ghewo koo nuaoda ta tau mbi mbeka kita, kae kalau ngada jao ono kae posting tentang sejarah kampung romba, bhide datu nee gamba nua oda kita pati maso ena blog kae supaya rasa rindu kita terhadap kampung halam sedikit terobati, sebelumnya mohon maaf dan terima kasih.

  50. tanagekeo says:

    Yanto terima kasih terus mengunungi blog te. Jao mema sengaja tulis hal-hal kecil tentang nua oda kita. Muingkin tidak istimewa. Tetapi sebagai pengobat rindu. Saya rencana meLaluI blog te menampung bebagai aspirasi ana goo kit ta mbana dora nama nua. Kita ta dika teki dapu dero, mbeja kita ma’e tungga mbo’o ta mbana. EE mogha sira ta mera, ta juru tau dida dika mbanga anga. Sira ta tau ama kita mbana dheko rada, sira mogha ta ama ha ndeka kita ngada papa sadha luka wado.

  51. imelda wea says:

    Selamat papa luka. bhida emba keadaan kae? Salam tii semua keluarga.

  52. tanagekeo says:

    Imel, kami ndia semua sehat. Vera negha nee ana ta fai. Salam untuk semua.

  53. imel says:

    Kae’, jao’ dheko senang, atas kelahiran ana ko Vera. Berarti jao negha nee’ embu yo, hahaha. Salam tii’ Vera sekeluarga. Bhida emba nee’ Emy nee’ Metha? Kami ndia sehat-sehat.

  54. bonefasius tango says:

    te ne’e jao fassi ata daja, ngedo miu ghewo ka ne’e kami o kae? jao sena ngada papa luka ne’e kae mereka maskipun hanya lewat via email saja. salam untuk semua ana2 maunori ta nee ena.

  55. tanagekeo says:

    @ Bone: Terima kasih ari somba. Sempat papa luka ena soja te. Jao ata Tali ata Lomba nua mena. Rede wawo sa’o Bele Usma Bake. Kau poro puu sao ta emba. Ma’e ngasi ana ko’o sai. Mai papa sodho ne’e papa mbe’o ko’o weki.

  56. akaflores says:

    Papa luka,ma’e ngasi kami te ko’o de rapa ne’e ko’o ngawu dhau te ko’o mona mbai mbe’o. Salam kenal kami te umu ari jadi tungga mbe’o ta ngara miu tp ko iru nia miu kami mona mbeo.Jao abu bp jao ngara dula pu’u maunday.Te kami ndia sorong

  57. Aba says:

    Kombe ka’e te jao abu ata maunday bp jao ngara dula salam kenal.E

  58. tanagekeo says:

    @Akalflores n Aba : Mai papa luka ne’e papa mengga kita ena da’e te. Jao ama woso miu ta ari-ana ta de mai rade mai. Miu ta sulu fu muda ngi’i ti’i sira ta bapa, ne’e ka’e ame wesa mai. Tana watu deta da’e, kita ata mbi ada. Kita mona todo mbi singi rete ra’i.
    Mbeja kita nggae ta mbeda, kese ne’e peni wesi tau mbi mere mesa kapa. Rada ta emba? Ngae oda mbe’o, belajar dan belajar itulah syaratnya.

    Tabe woso pu’u ena jao. Ja’o ana podu ko’o bapa Dula Lida. Bapa jao ine ka’e ari ne’e bapa Jawa Lengga Rede Tudiwado. Kami ta Wea Munde, sira ta Lengga Munde.

  59. Abu ora says:

    Papa luka wado jao abu ka’e somba ngara bp dula lida maunday nde ke bp jao.Te jao de kulia wado di STAIN Sorong.Jao ana ta no 4, Mudu jao oa mf uru ko kami ta de rapa ko ngawu dhau peka te jd kami tuligeli lewo2.Ta tuli mudu ke kamirua ne ongga us rangga ana ko’o bp guru sefrinus rangga niodede ke.Jd tabe woso ena kae kami taku ka’e ngewa lo kami ta negha bhindo bhando ko ae ngasi ena dae te.Maklum kae kami menga de rapa dheko pata kae si kami tetp bljar. Kae jao ta mbeo tungga anto rangga,margo ne’e bp nodu ne mama mena lomba.Bhide sira kae te kami mona mbeo idisai.Jd bsr hrpan kami ari miu kae wado si tau maju koo dae dondo ko ineembu reta.Kami ari akan susul,kami ndia sorong papua barat te liwu mere ata kita.Jao weta imukoo mungkin kae mbeo ta dora peka ndia te<alber ora,ely ora,manyu meo mbodo negha wado reta lomba bp hrmanus ne mbupu,sipri guru,ibrahi jogo,nober ana ko embu niga de'e,didimus mite,fery bhonde,ma liwu mere kami ndia te peke pu'u lomba jeka ghoe rade,kami nee prkumpulan nagekeo sorong ngara SAMA FONGA. Modo ndeke juu ena te dera ta pesa mberu kita papa luka wado.Tabe woso

  60. tanagekeo says:

    Salam saya buat ari-ari Abu dan kawan-kawan dari Keo Tengah yang ada di Papua Barat. Jao sena ata kita woso kai Papua, sebuah negeri masa depan. Kerja sambil kuliah banyak orang menginginkan itu. Tetapi sayang tidak semua bisa mendapatkan kesempatan baik itu. Abu selamat belajar tabe woso ti’i mbeja miu ena. Mendi weki ri’a.

  61. Muhammad Natsir Pua Upa says:

    Salam kenal,
    Saya sedang berlanglang buana didunia maya tidak sangka kalau bisa ketemu dengan blog nagekeo. Selamat buat anda yang telah meluangkan waktu untuk membuka tali silaturahmi ini. keep in touch ya.
    Saya dari tonggo tapi tidak pernah lama tinggal di Maubare, sekarang tinggal di Bogor.

  62. tanagekeo says:

    Tabe woso Natsir. Kita pasti papa mbe’o. Jao ata Mauromba. Ja’o ka’e ko’o Cyrilus nore Narogong, kai mbana ka tuka ine.Tabe woso pati fai ana kau.

  63. Muhammad Natsir Pua Upa says:

    Astaga ini kae Vitalis, ka’e ko’o eja Cyrilus (almarhum) haki ko’o adek Hilde Go’o.
    Ide jao hebo peka iwa pap ruka nee kae, jao kezo peka alamat ko kae, jao ono wazi alamat ko’o kae.
    Jao mera re Bogor alamat jao: Jl. Arimbi V/5 no5 Bumi Indraprasta- Bogor no HP jao 0812 9397746. Jao tanggal 7 April baru sampai di Bogor.

    Jao ono HP koo adek Hilde kalau kae datu, hebo peka jao iwa papa ruka ne’e adek Hilde.

    Kapan kapan kita bisa ketemu, saya jarang ada dirumah soalnya, kalau kae bisa kasih nomor HPnya kita bisa ngobrol ngobrol.

    Salam pati ata fai dan anak anak semua.

  64. tanagekeo says:

    Natsir, jao sena kita papa sambu wado, napa jao telepo so. Terima kasi woso

  65. Bert@ says:

    Jao mogha kturunan Romba. Walaupun kita hidup di daerah orang yg serba ada, but,,,,,,,,,,,,,,,,,, kampung halaman kita tetap is the best……………

  66. tanagekeo says:

    @ Bert@: Jao sena sadha ena blog te. Kita mbe’o tana Lomba,tana tu’u watu alu. Sebuah gambaran kemiskinan dan keterbelakangan. Tetapi kampung halaman itu adalah ibu pertiwi. Seburuk apa pun wajah ibu, dia adalah yang terbaik. Tak ada alasan untuk berkecil hati lahir dari sebuah dusun sederhana. Itu yang terbaik bagi setiap orang.

  67. HENNY says:

    Henny ***haiii………….met siang…….kita ata nagekeo juga ne, senang sekali ngada papa luka ndia te,,,,bagaimana dengan kab.nagekeo sekarang?tetap semangat e . . . bengun nagekeo ke arah yang lebi baik. good lucck

  68. HENNY says:

    salam pati ata Riti yang sekarang bertugas di mbay tapi lebih khusus ne ti,i nala jao Marchello Mosa, kayanya nala jao te betah sekali di mbay e e e e e, , ,tau ria – ria nee ko univ.PGRI miu ena.moga tetap maju.

  69. mery m goo says:

    nga’o te ndia mbay, nga’o kema ndia kantor bappeda nagekao…salam ti’i kaka sedi n kaka emil.nga’o ana ko’o bapa sarus minggu katanya guru sira kaka pu’u sd

  70. mery m goo says:

    te no hp nga’o 085239171641………salam pu’u mama melda ne’e bapa sarus ti’i ka emil, ka suster geovani, ka’da wea

  71. Henny says:

    Ja’o mau tanya, ena nagekeo SK CPNS negha keluar atau dae?kami ndia Maumere SK dae keluar, kami reke jeka bosan.sebenarnya Ja,o kepengen sx mengabdi ena tanawatu kita nagekeo, tapi nasib ja’o lebih beruntung ndia maumere.Nagekeo Tetap ada dalam hati kami anak rantau.moga sukses,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,untuk ata Riti ta datu ena mbay, ja’o ti’i salam kengen mbeja miu.

  72. tanagekeo says:

    @Henny: Mae ngasi jao mera ndia Jakarta. Pata pede ide peka ke, jao mona mbeo. Jao mogha mona pegawai negeri. Jao ata biasa, ta dika teki dapu dero. Ndii mera mona jena ha da’e. Kema dera te tau ka wesaa poa….

  73. Henny says:

    Henny Ame……kema apa saja yang penting halal untuk pusi tuka ne’e odo muri kita.kita mera ndia nua oda tana watu ata tapi ine ame embu kajo selalu mendampingi kita kapan saja,imu koo mona wedu kita mbana me’a. ngara kita mbana dheko rada modo kita akan berhasil, yang penting tau bawa diri ena nua ata,. .. . . . . . semoga sukses…..TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA……..

  74. meri goo says:

    sk da’e nggedho……..mindawoe kami ta reke jeka bosan…

  75. tanagekeo says:

    @Meri: Mae ngasi kami kuli swasta, tuka wangga guni, mona mbeo SK PNS. Yang penting negha ne’e kema ne’e wadi rada jadi PNS.

  76. yani sea says:

    salam untuk semua mampir di blog ini, sempga blog ini menjadi media bagi kita semua yang berasal dari nagekeo, menjadi forum komunikasi bersama, sharing ide dan gagasan dari putra-putri nagekeo di mana saja berada skaligus menunjukan kepedulian kita terhadap nagekeo tercinta. salam dari yani sea, batam, asal wekaseko.

  77. albert jata says:

    terus berbagi kae talli….terima kasih, banyak yang saya dapat dari blog ini. ide cerdas dari kae….

  78. tanagekeo says:

    @Albert: Jao sena sadha ena blog te. Blog te tau jadi tende dewa tau bhobdhu ndii. papa luka kae ari, ine weta, ane ana. Mbeja kita ta tuka nua toda oda udu mere eko dewa……Tabe woso.

  79. muhammad says:

    indonesia bebagai macam budaya dengan adat istiadat dan beraneka rangam bahasa, semua tiu satu dengan indonesia sebagai bahasa kesatuan. senang membaca bahasa dalam blog ini sebagia pengingat untuk tidak lupa dengan bahasa sendiri karena saya juga merupakan putra nagekeo. tempat lahir Mbay Aeramo. besar di Bogor dengan memulia SD-PT di sukabumi.blog ini merupakan tempat interaksi dan komunikasi bersama teman-teman dari sebrang.

  80. tanagekeo says:

    @Muhammad: Terima kasih woso ari tama one blog kita. Mai kita papa luka dan papa mbeo weki. Boleh tahu Muhammad punya orang tua berasal dari mana? Karea jao Tali ata Lomba, Keo Tengah.
    Salam banyak … alhamdulillah…kita papa sambu

  81. Maunoro says:

    senang dengar bhasa mau

  82. muhammad sarifien says:

    thx to./ buat saudara n teman2 yang udah berbagi cerita dan menerima pertemananku. ortu jao berasal dari mau, bpk dari mauara dan ibu dari maunday…..sy ga tau kpn kami transmigrasi ke mbay krna sy di lahirkan di mbay.
    salam buat tmn2 kl ada Fb minta alamtnya.
    bagaimana dengan perkembangan mbay saat ini, karena dengan usia bayi mbay berusaha menjadi salah satu negri yang mungkin menciptakan mbay jadi indah dan kota yang akan di huni oleh orang2 intelek.

  83. Paskalis M.B. Ledo Bude says:

    Saya senang bisa masuk ke web ini. Saya juga putra Nagekeo. Saya merupakan putra pertama Bapak Edmundus Ledo Bude dan Ibu Clara Seme. Kami berasal dari Ma’unori dan saat ini tinggal di Mbay. Saya sudah lama tinggal dan bekerja di Jakarta. Saat ini saya berprofesi sebagai praktisi dan konsultan di bidang komunikasi penyiaran dan manajemen SDM. Saya mendoakan agar semua saudara / saudari dan keluarga besar Nagekeo di mana saja berada senantiasa sehat walafi’at dan selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.

  84. tanagekeo says:

    @Paskalis, jao sena mere, kita ngada papa luka ena doka dae te. Jao ata Lomba, bhodo jao dhadhi rade Maunoli. Weta jao dau Mbay Maria Go’o(Mia) dau Aeramo aki imu Yose Dhosa ata Nuamuri.
    Mai mbeja kita ta dika teki dapu dero, papa luka, papa mengga esa, papa mbeo weki.
    Jao rasa ine ne’e bapa kau mbe’o jao, bhodo jao negha ebho mere mera ndia Jakarta. Ata woso mbeo jao uru jao ana seminari ne’e jeka mena Ledalero. Modo doa woso, ja’o ama miu kema modo ne’e kema tei ghawo luka….. Tabe utu mbeja ana wili ma’u

  85. Paskalis M.B. Ledo Bude says:

    Jao ucapkan terima kasih woso untuk respons pu’u keluarga jao. Tapi jao mohon maaf, jao kurang lancar seru bahasa kita. Tolong ti’i jao alamat email, supaya kita ngada komunikasi. Te alamat email jao : paskalis_elbe@yahoo.com

  86. kanisius siga says:

    ngao ta ata lewa,udu nangge eko mbeda.te ngao moo punu ena woe supaya ngada ekspos tentang profil ” UDU NANGGE EKO MBEDA”

    Udu nangge eko mbeda adalah pemekaran dari udu songa wawo eko kadho wati,dengan istilah adat :udu songa wawo ta ine puu dan eko kadhowati ke ta ame kamu.
    udu nangge eko mbeda terdiri dari 4 suku. yaitu 1.suku ndena mosa. 2. suku gidi ora. 3. suku tule rani. 4. syku se meo.

  87. muhammad sarifien says:

    selamat malam Mbay…….!!!! apa kabar ine baba, kae ari dan semua .orang Mbay…. untuk teman2 yang disana dan di tanah rantau dalam jihad menuntut ilmu…jangan lupa memberikan dorongan atau motivasi agar sungguh2 dalam memberi perubahan yang lebih baik kepada Mbay…pemuda dan pemudi sebagai penerus dan fondasi bangsa mari kita lupakan sejenak sejarah nenek moyang kita yang sebagian besar terkebelakang dalm pendidikan, kita yang mengakui ata nagekeo kita seharusnya tingkatkan kualitas dalam bebrbagai bidang…khususnya kepada pemerentah yang telah mewakili ata nagekeo jalani tugas dan kewenangan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku….siapa lagi yang akan membawa nama baik dan perubahan nagekeo..? siapa lagi yang bisa kita banggakan..? apa yang telah kita lakukan selama ini…? perubahan apa yang telah kita berikan kepada ata nagekeo..? mau menunggu sampai kapan…? terima kasih kepada wakil rakyat nagekeo yang sedikit telah membawa nagekeo dalam pemekaran….salam dari jao Muhammad Sarifien…Aeramo-Mbay_Nagekeo.

  88. tanagekeo says:

    @Muhammad Sarifien, terima kasih sudah mampir di blog ini. Omong tentang Nagekeo, semua kita anak Nagekeo pasti merasa terlibat. Saya selalu katakan dalam pertemuan bisnis terbatas, Nagekeo itu masih padang lalang. Turun dari Gako sederetan rumah, sepajang jalan dan selebihnya hutan. Ada bukit gersang bersemak alang-alang, yang sesekali dibakar oleh masyarakat untuk mendapatkan rumput segar baru buat hewan merumput. Dari bukit itu saya selalu melihat ada kekuatan besar di Nagekeo. Jauh iujung langit ada pelabuha Marpokot. Sawah sejauh mata memandang. Kota Mbay masih tak jauh beda dengan kota kecamatan.
    Tak usah berkecil hati Nagekeo harus berubah dan dia harus menjadi yang terbaik. Itu adalah tanggungjawab kita semua anak Nagekeo. KITA BISA

  89. muhammad sarifien says:

    SPIRIT OF MBAY….KITA BISA….. terima kasih juga kepada sahabat yang telah memberikan waktu dan kesempatan dalam renungan Mbay, kalau bisa libatkan orang banyak dalam pertemuan seperti itu dengan menunjukan semangat ata nagekeo untuk merubah dan menata Mbay dengan baik seperti kota kecil lain yang sudah kita lihat indahnya. semua itu dengan proses yang panjang, butuh waktu dan financial untuk merubah. tidak ada yang tidak bisa dan kita semua bisa, dengan meningkatkan pendidikan, sosial, budayah dan ekonomi yang lebih baik untuk mendukung serta mengurangi melek huruf. yakinlah dengan seperti itu akan sadar dan tahu apa yang kita lakukan untuk Mbay. tetaplah semangat dan berjuang yang tak pernah kenal lelah.. salam dari saya muhammad sarifien untuk semua toko dan pejuang dalam membangun Mbay yang lebih baik. semoga kita sukses……..amin.

  90. frederikus loy ria says:

    DAMAI TUHAN SELALU BESERTA KITA…….., TERIMA KASIH YG SEBESAR BESARNYA ATAS BANTUAN DAN KEBAIKAN BAPK VITALIS TERHADAP SY DAN KELUARGA. SMOGA TUHAN SELALU MEMBERKATI SEGALA USAH BAPAK.

  91. HENNY says:

    lakukananlah dengan hati nurani agar Mbay tetap damai dan masyarakat selalu merasa aman.ma’e kema tau dheko odo fonga kita karena ada saatnya ine ame ata mere dede nee ide koo ana embu.

    @HENNY: Jao setuju, mai mbeja kita ndi’i ii mera naru, muri papa pawe ne’e ka’e ari sa’o tenda, ne’e udu nua toda oda, udu mere eko dewa.

  92. muhammad sarifien says:

    NAGEKEO TEMPAT LAHIRKU…MEMEKARKAN NAGEKEO IMPIANKU…MEMAJUKAN DAN MEWUJUDKAN NAGEKEO KEDEPAN ADALAH TUGASKU….SPIRIT OF MBAY KITA BISA……

    buat tmn2 yg tau……apa yg terjd dengan nagekeo dalam pemekaran saat ini….bagaimana dgn pendidikan, ekonomi, sosial dan budya saat ini…

    apa yg menjdi agenda pemerentah kita utk 5 tahun kedepan dalm membangun Mbay dengan tugas yg telah dipercayakan oleh rakyat kepada mereka….

    bagaimna nasib para petani saat ini dengan ditutupnya pengairan sawah…. berapa lama perentah melakukan perombakan terhadap bendungan……..kpn para petani akan merasakn letih lelahnya dengan hijau dan kuningnya padi… apakh ada bantuan dari pemerentah kapada para petani….

    sejauh mna kinerja pemerentah dalam mewujudkan Mbay dan khususnya kepada rakyatnya…….

    mari kita bangun bersama dan mewujudkan Mbay yang lebih baik dari hari kmrn, bulan kmrn dan tahun kmrn……. ciptakan kesejahteraan jauhilah dari hal yang merugikan pihak lain….

    tidak akan terwujud impian yang diharapkan kecuali smw kita bersatu untuk maju, mendahulukan kepentingan umum.

    Mbay yg kami harapkan adalah Mbay yg berbedah dengn Mbay yg doeleo……… thx SPIRIT OF MBAY…

  93. tanagekeo says:

    @Muhammad Sarfien: Terima kasih negha maso ena blog ola kita. SPIRIT menjadi kata kunci kita. Hanya yang punya semangat akan punya daya juang. Mari kita nyalakan spirit itu.

    Krpada seorang sahabat saya, calon kuat untuk orang nomor satu Negara Matahari Terbit Timor Loro Sae, saya bilang bahwa Indonesia dibangun atas kekuatan Semanagat “SPIRIT OF FREEDOM”. Dan saya menjadi sadar bahwa mereka adalah irqng-orang terpelajar, memiliki kemampuan berpikir dan berwawasan. Kemampuan komunikasi dalam bahasa asing membuat mereka tidak kalah pamor dengan bangsa mana pun di dunia.

    Beberapa minggu terakhir ini saya berjumpa dengan sejumlah orang yang punya kenangan dan catatan istimewa dengan Founding Father, Soekarno. Sebuah foto Soekarno dan John Kenedy dalam sebuah mobil terbuka yang tergantung di dinding rumah seorang perwira tinggi sungguh mempesona.

    Adakah spirit yang sama ada dalam diri putera-putera Nagekeo untuk kelak dibilang the founding father of Nagekeo Baru. kita bisa mari kita satukan semangat dan tekad untuk membangun Nagekeo dengan cara kita masing- masing.

  94. muhammad sarifien says:

    trima kasih kapada sahabat kami yang udah membuat kita berkumpul dan berbagi cerita serta pengelaman…..

    setujuh dengan apa yang dikatakan bahwa nagara kita merdeka dengan semangat yang kuat yang dibangun dengan dengan kekuatan “SPIRIT OF FREEDOM”

    mengambil dari pengelaman yang ada kemudian kita jalankan dengan kemampuan dan ilmu atau dengan orang-orang yang berkompoten dan intelektual yakinlah untuk mewujudkan impian itu kita bisa…………

  95. DONYS says:

    Pak Yakob, tolong bapak saya…

  96. tanagekeo says:

    @Muhammad Sarifien: Mari ajak teman-teman kita berbagai cerita dan pengalaman untuk bangun Nagekeo. Tabe woso…

  97. tanagekeo says:

    @DONYS: Jao mona mbe’o Donys pu’u nua emba. Kau oa daka Pak Yakob. Ma’e ngasi masalah kita mona mbe’o. Mesi kita mbeo apa ta kita ngada papa daka, kita ngada sodho minda woe ka’e ari. Kalau Pak Yacob yang dimaksud Bapak Yacob Nuwa Wea, kini beliau dalam keadaan sakit. Mai mbeja kita mbuju ngaji, oa ena Ngga’e Ndewa reta tau ri’a weki, ta’u fe’a ate tau wangga oda lo ta Bapak Yacob alami. Modo tabe woso…

  98. Damianus Goa Dengi says:

    Salam kenal .
    Rasanya seperti pulang kampung , gara – gara salah googling , malah ketemu rumah . :-)

    Ngao ata Pautola .

    Kaget .
    Itulah hal pertama ketika membaca blog ini .
    Karena , kembali merangkai keping – kepingan adat , juga ingatan masa kecil .

    Terlebih membaca tulisan dalam bahasa daerah yg walau tak fasih , terasa sangat dekat .

    Saya putra dari Fidelis Dengi , cucu dari Yosep Djawa Bhala , kepala desa Pautola yang dulu berada dalam kecamatan Nangaroro .

    Sebagian masa kecil saya ada di Pautola juga Mbay . Pernah bersekolah di SD Pautola ( dekat kapela ) . Nama teman sekelas yang masih saya ingat sampai saat ini adalah Ambrosius Goa & Pius anak mame ngao Benyamin Wawi .
    Beberapa saudara bapak masih ada yg tinggal di kampung . Ine Lisa Ngode dan Safe Rua .
    Yang lain terpencar . Pernah juga saya tinggal di Airamo , Mbay , tidak jauh dari SDN Airamo , tinggal di rumah Petrus ( Piet ) Lela .
    Semoga ada yg kenal dengan mereka dan dapat berbagi info dengan saya .

    Sejak tahun 1984 kami meninggalkan Flores , kembali ke Lombok . Ibu saya berasal dari sana .
    Walau berada diperantauan , tapi kami tidak jauh dari adat Flores , adat Bajawa , karena tinggal di pemukiman yg sebagian besar berasal dari Flores .
    Dengan demikian , untuk mendengar percakapan dalam bahasa Nagekeo , sangat tidak asing .
    Walau menjawab dengan terbata .
    Mengetahui sekelumit tentang tanah leluhur .
    Kembali membaca tulisan dalam bahasa yg pernah saya gunakan , rasanya obat kerinduan puluhan tahun .

    Terima kasih .
    Maju terus Nagekeo .

  99. tanagekeo says:

    @Damianaus Goa Dengi: Pautola dan Mauromba dipisahkan oleh bukit kedikoto. Tapi ata Pau dan Mauromba merupakan satu kesatuan. Hamente (Gemente) Pautola dengan seorang Kepala Mere MUhammad Saleh Ria di Mauromba. Masa itu belum ada kepala desa.

    Kalau disini ada bahasa daerah, tidak ada niat lain daripada sekedar usaha untuk menghidupkan kembali kosakata daerah, khusus bagi ka’e ari yang berada lama dirantau.

    Nambu bapa jao mata reta nua, ata nua pidi jao jadi kepala soma. Ja’o ngesi punu, tingo dede, pidi pata mosa nua daki oda.
    Jao pidi ae ngasi mosadaki. Ternyata ada kearifan luar biasa. Orang kampung kita selalu berbicara menggunakan jurubicara dan moderator. Mona to ndo’o wo lewo. Ade lema, oa lema mberu punu.

  100. tanagekeo says:

    RUMAH TINGGALKU DISATRONI MALING
    Sabtu 4 September 2010, pada jam 19.15 WIB kami keluar dari rumah untuk mengikuti pertemuan doa. Ada pendalaman Kitab Suci. Anak saya yang masih tinggal bersama kami, belum pulang kerja. Malam Minggu dia pulang diatas jam 22.00WIB.

    Ketika kami pulang dari acara, pintu pagar terbuka. Pintu rumah terbuka. Sebuah laci lemari palstik berada di depan Televisi. Kamar tidur utama, yang lebih luas biasa dipakai anak-anak dan tamu, berantakan. Semua laci lemari plastik dikamar itu diangkat dan diacak-acak barangnya di atas tempat tidur.
    Sebuah lemari pakaian tiga pintu semua barang diturunkan. Laci dibongkar. Setelah semuanya dikeluarkan papan penutup paling bawah dicungkil. Maling mungkin berpikir kami menyimpan barang berharga di bawanya. Saya memanggil teman tetangga kami pak Yulius Mukin yang baru pulang dari pertemuan Kitab Suci. Bersama istri kami panggil ke rumah. Malam ada 7 orang datang dengan 3 sepeda motor.
    Rumah kami diobrak- abrik. Ada sedikit uang yang hilang. Kamar saya dan istri tidak dimasuki. Sebuah laptop diruang kerja, sebuah kamera di tas kerja tidak menarik perhatian tamu jahat itu.

    Sampai saat ini masih belum ada sebuah kesimpulan. Dari cara mencongkel pintu dapat dipastikan tamu kami profesional. Mereka hanya mencari barang berharga, logam mulia dan itu yang kami tidak punya.

  101. mery Goo says:

    kasian ka’e…tapi tidak apa2 yang penting k’e sek sehat2.

  102. Tanagekeo says:

    @Mery Goo: Terima kasih atas sympatinya. Jao ata Keo, Ata Lomba biasa pene usu mona. Puu de doe jao demba ndia Jakarta, pate pene tempat kontrak jao wengga dimba, mona tutu. Jao nambu-nambu rasa dunia bhide ena nua. Sao usu mona. Pate mbenga dimba.

    Dimana hartamu di situ hatimu. Itu yang yang membuat kita tidak bisa tenang. Jao fonga bhade, ena emba ate ngai kau, ena ke ngawu kau. Ata kita soo pita. Sodho ata bhada atau orang kaya itu dengan istilah bhanda ngai. Kaya jiwa, kaya akal, untuk membedakan dengan bhanda ngawu kaya harta, katre kata orang betawi.

    Bhanda ngai, kaya akal, kaya hati itu yang membahagiakan. karena kebahgiaan dan ketenangan tergantung dari suasana hati. Bhanda ngai, ate bhala, simo pama papa ria pawe nee liwu.

  103. muhammad sarifien says:

    semangat baru telah hadir dalam diri orang nomor satu nagekeo bpk bupati Nani Aoh. sabtu 09 Sept 2010 Gereja Jakarta jadi saksi bisu dan kami sebagai saksi hidup di hari yang sangat indah dan istimewah buat orang nomor satu nagekeo itu. bpk bupati telah dipertemukan oleh Tuhan dengan kaum hawa yang menjadi pasangan hidupnya.

    kami sebagai masyarakat sangat bangga dengan bpk bupati yang kami harap dengan semangat barunya semoga bisa lebih semangat lagi memimpin rakyatnya khususnya orang nagekeo dengan memberikan pelayanan yang baik kepada masyaraknya melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi serta meningkatnya daya beli dalam perkembangan nagekeo.

    semoga dengan semangat baru juga, kami harap semua agenda dan tugas yang diembannya semoga terealisasikan demi mewujudkan nagekeo yang indah.

    tunjukan semangatmu melalui pedulimu terhadap rakyatnya dengan membangun fasilitas2 yang dapat di jangkau oleh masyarakat luas.

    tujukan semangatmu bahwa nagekeo bisa mendatangkan para investor untuk menunjang perkembangan akonomi yang lebih baik.

    tunjukan semangatmu sesuai dengan visi dan misi nagekeo.

    tnjukkan kerjasamanya dengan bawahannya yang lebih semangat lagi. tingkatkan sarana kesehatan demi terciptanya hidup sehat, kecilnya angka kematian, tingkatkan pendidikan demi terciptanya anak bangsa yang cerdas serta hilangkan melek huruf.

    ingatlah bahwa kedudukan tak selamanya kita dapat, seiring dengan kepercayaan rakyat dan kinerja yang bagus buat kita tetap diatas.

    ingatlah semua itu akan berakhir mungkin
    dengan faktor umur, kinerja dan kepercayaan yang sudah tidak memungkinkan kita lagi.

    tunjukan jasa besarmu sebagai pahlawan yang berjuang demi rakyat dan bukan demi kedudukan. siang dan malam terus berganti, seiring dengan pergantian waktu pekerjaaan kita akan semakin berujung.

    jangan kita tinggalkan sblm selesai angenda kita dalam perkembangan untuk nagekeo.

    salam sejahtera buat bpk bupati semoga hidup semakin lebih baik.

    ingatlah kita orang nagekeo.

  104. frumentius somerpes says:

    numai wengi rua ke dera ko’o sumpah pemuda. ja.o tungga e………..ja’o te mo’o tau apa ti’i tana ne watu ta negha ti’i ja’o muri sena, piki ri’a ne’e e pawe. tungga j’o oa ena ine ame embu kajo ta mata mudu ri’a do’e, ta mbe’o doa mona doa. ja’o oa woso-woso, sipo ri’a sagho modo mo’o kema tei ghawo luka. ndewa reta ngga’e rade, pati ja’o ati ri’a rende mbara mo ngara ja’o negha ne’e paka ja’o ngada tau waja nga ko’o sa’o mere tenda dewa, udu go’o eko bhoko ne’e udu mere eko dewa

  105. Tanagekeo says:

    @frumens: Jao sena, ate jao gai gode, datu ari ana, kae ari ta udu mere eko dewa koo tana Udu Mbuju Eko Lomba, fonga papa wuku, papa gati moo tau tii ria pati pawe tii ine tana ame watu kita. Numai jao piki ngara fonga mbeja kita papa kupu ede ha suku tali tai kema sao koo Nggae mena Watunggehga. Jao nega tefa dula negha. Nambu te jao menga nggae luma. Bhod jao oa monga mbeja kita ana koo Daja Lomba mai ha bui guwi papa kesa daka. jao fonga simo pama tau mendi ria mere ngara koo miu ari ana…..

  106. Tanagekeo says:

    @frumens: Jao sena, ate jao gai gode, datu ari ana, kae ari ta udu mere eko dewa koo tana Udu Mbuju Eko Lomba, fonga papa wuku, papa gati moo tau tii ria pati pawe tii ine tana ame watu kita.

  107. Paskalis M.B. Ledo Bude says:

    Kami Sekeluarga Mengucapkan

    SELAMAT NATAL 25 DESEMBER 2010
    DAN BAHAGIA TAHUN BARU 1 JANUARI 2011

    Kepada Semua Saudara & Keluarga Besar yang Berasal dari Satu Kabupaten “NAGEKEO” Flores, NTT.

    Semoga Moment Natal (Kelahiran Tuhan Yesus Kristus) ini Menyelamatkan Kita Semua.

    Salam,

    Paskalis M.B. Ledo Bude
    Lucia Nitung Kangai
    Primus Apolinaris Ledo Bude

  108. Brams Sunarno says:

    Selamat Natal buat semuanya.. Jao mai Nanggaroro.. senang mengunjungi blog ini.. salam kenal ya..

  109. Tanagekeo says:

    @Paskalis dan Bram, jao mogha mengucapkan Selamat Natal… Saya teringat Natal di Maunori ada Maria dan Yoseph yang kelelahan mengetuk pintu: Sai ata ke…, tanya dari dalam rumah. Joseph nee Maria…, jawab yang mengetuk pintu. Dan menyusul permintaan oa sao.
    Ada Natal di Mataloko, setiap kelas membuat gua Natal dan parade lagu Natal sedunia, juga lampion buatan setiap kelas bergelantungan di muka kelas.
    Saya juga pernah merayakan Natal di Mauromba, sunyi, sepi, miskin dekorasi, hanya sebuah gua dimuka altar sebelah kiri pastor. Disana makna Natal dan gambaran kemiskinan Joseph dan Maria menjadi nyata.
    Natal di Jakarta kali ini Gua Natal beratap rumbia, ada tempat sampah dan pondokan dengan latar belakang kota Jakarta cemerlang. Terserah kita yang memaknainya.

  110. otak tumpul says:

    salam saudara2 dong’ keo di flores ni’ asal dari mana ” apakah dari timor atau dari mana ! dan raja nagekeo ne’ yang pertama namanya NUSI KEO atau bukan. tank’s

  111. Tanagekeo says:

    Keo adalah nama kampung kecil di pesisir selatan Nagekeo, Flores. Nagekeo sendiri terdiri dari 3 wilayah adat Nage, wilayah adat Keo dan wilayah adat Ute Toto. Pada masa pemerintahan Belanda hanya ada satu raja yang berkedudukan di Boawae.

    Kesimpulan sementara saya Nagekeo Flores tidak memiliki keterkaitan dengan Timor.
    Namun kalau ada orang tua-tua di Timor yang punya anggapan ada relasi adat, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk menelitinya. Orang Timor Leste sampai hari ini masih beranggapan turunan mereka sampai Flores. Mereka (Timor Leste) beranggapan kapal Nabi Noeh terdampar di sana…..

  112. Maundai boys says:

    Slam knal te jao,MANSHUR,ata maundai,bpk jao,ngara jae..embu jao ngara ibrahim ndoa,,!

  113. @emon says:

    Kpan nua kita maju,……dari dulu sampe sekarang te ada perkembangan.mudah mudahan ada figur yang baru……..yang mau membangu keo tengah. I LOVE FULLLLL MAUNORI,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  114. Tanagekeo says:

    @emon: Terima kasih sudah mampir. Kecamatan Keo Tengah memang terlalu melempam. Sebagai kecamatan baru, masih banyak yang perlu dikerjakan. Belum ada kejutan luar biasa. Bisa dibandingkan dengan Nangaroro yang sudah ada penataan kampung, ibukota kecamatan lumayan baik.

  115. Aristo Pua Mbey says:

    SALAM KENAL…………..

  116. GIU HILARIUS says:

    Salam jumpa buat semuanya….. kampung halaman masih ku ingat. Semasa kecil saya dibesarkan oleh kakek dan nenek … karena hidup sebagai yatim piatu.
    Sekolah SDK Tonngo, SMEPK Tozupazo-Mbay sekarang SMPK Tozupazo. Menamatkan SMEA Negeri Dili Timor Leste. Bekerja di Departemen Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ende sebagai Account Representatif. Bagaimana kalau bisa kerja di Direktorat Jenderal Pajak ? Lulusan SMA sederajat dan dididik oleh lembaga keuangan Direktorat Jenderal Pajak setelah lulus testing. Pada lamaran tidak melalui Kantor atau pihak lain. Nilai rata-rata 7,00. Ayo…. manfaatk teknologi kalau ada penerimaan dan nilai adik-adik memenuhi syarat langsung mendaftarkan diri sesuai petunjuk. Ayo….. bersaing nasib siapa yang tahu.

  117. sareagnes@78yahoo.com says:

    ngao sr.agnes sare,spc,saya senang dengan adanya web ini,karena kita bisa saling kenal. buat kae vitalis sek.apa kabar.

    terima kasih woso.

  118. Tanagekeo says:

    Weta jao Sr. Agnes, terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Sudah agak lama saya tidak mengupdate blog sejak menggunakan Facebook. Saya juga menulis catatan Pengalaman Kampus Universitas kehidupan di sana.
    Mari kita saling doakan.

  119. muhammad sarifien says:

    napa jadi sepi ya………..

  120. GIU HILARIUS says:

    Adik-adiik yang mau mengadu nasib, kalau nilai ujuan akhir rata-rata 7,00 kesempatan penerimnaan STAN (Sekolah Tinggi Akutanasi Negera) setiap Tahun menerima pendaftaran mahasiswa yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan dididik untuk tenaga funsional pemerinksa pajak. Info lebih lanjut hubungi http://stan-prodip.info/

  121. said mardjuki says:

    orang-pics baru anda? http://bit.ly/Hi4NH6

  122. remigus says:

    poa om…. jao ana koo unde rade kalo ide emba kabar om sek di jakarta. jao te ndia malang

  123. marten mite says:

    kombe mbeja hakita,ja,o sena ne,e ko wab te mo, o kita papa kesadaka ne,e ko odo tona ngena.jao marten pu,u nua konge ta mera ndia bekasi.modo si..

  124. baca tuli luli ame ka’e te pawe mogha….ondo tau inga pa nua oda ha ndeka-ndeka. Ada unkapan: Love will save the homeland and heritage, but only people who understand and know the history …! What do you think …? he he he he

  125. fransika ata pautola says:

    nga’o ta ata pautola”””””””de demba pu’u rade desa pautola ,nuka ndia kota ta ngara makassar,,,,,,,,,,mai kita papa dhawi dima mo’o membangun desa kita ta negha re’u kita lela,,,,,,,,ma’e tungga kita lela ko’o nu’a oda kita ,,,,,, tetapi kita harus ingat wado sesuai ta ine bapak ta negha pose na’u negha.dengan adax blok ini agar kita bisa saling mengingatkan mukin yang selama ini banyak yang kita ta negha ghewo ine bapak ta negha pese nau,,,,,,,,,,,,mari kita saling mengingatkan………………FRANSIKA

  126. KANIS says:

    KOMBE MBEJA MIU,TENEE KANIKOWE PUU DAU MERAUKE,KITA NEGHA EPO MERE MONA PAPA LUKA,

  127. atanagekeo says:

    Terima kasih Ine Fransiska, kaua negha dhato dhu ena da’e te. Jao tuli tungga tau lembo ghewo.
    Jao ama ri’a, miu muri pawe ena bhonga ombo ata. Ine embu ta mata mudu re’e do’e sipo ri’a sagho modo.

  128. atanagekeo says:

    Buat saudara saya Kanis Kowe, jao sena kita ngada papa luka. Jao ama pata pede, nggua mbapu ta jao tuli te dhatu ne’e guna. Tabe woso utu mbeja miu ena Merauke.

  129. Saran dari saya dalam penulisan budaya dan adat Nagekeo sebaiknya ditambah dengan daftar nama-nama secara terstruktur (Silsilah keluarga sepanjang anda mengetahui asal usul dari nenek moyang) agar generasi anak cucu dapat mengenal lebih akrap kalau seandainya mereka saling bertemu di tanah rantauan. Alasan saya terutama bagi generasi anak cucu bila sudah berada di tanah rantau sudah tidak mengenal lagi saudara-sauadaranya bila saling kawin dengan suku-suku lain diluar Pulau Flores bila bertemu pada saat kapan dan dimana mereka berada.
    Sekian nanti ditambahkan kalau ada tanggapan dari anda !
    dari : Kanisius Kaka, SE.MM

  130. Ja’o ata Mauara, Desa Witu Romba Ua, Kecamatan Keo Tengah. Ja’o nggedho Pu’u Mauara bulan September tahun 1977 dheko Sope ko’o sira ta Daja nambu wua nio tau teka kai Bima. Sira ta Daja tu ja’o nuka Labuan Bajo. Bulan Januari 1998 ja’o maso wado SMP kelas 3 di Labuan Bajo. Ja’o maso SMA Negeri Ruteng tahun 1979, nggedho SMA tahun 1982. Te’e Ja’o Ndia Palu.

  131. Ralat : Ja’o ata Mauara, Desa Witu Romba Ua, Kecamatan Keo Tengah. Ja’o nggedho Pu’u Mauara bulan September tahun 1977 dheko Sope ko’o sira ta Daja nambu wua nio tau teka kai Bima. Sira ta Daja tu ja’o nuka Labuan Bajo. Bulan Januari 1978 ja’o maso wado SMP kelas 3 di Labuan Bajo. Ja’o maso SMA Negeri Ruteng tahun 1979, nggedho SMA tahun 1982. Te’e Ja’o Ndia Palu.

  132. labuanbajo says:

    Buat keluarga yang orangtua atau nenek moyangnya berasal dari Mauara. Dari Kanisius Kaka. Alamat saya Kantor Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XIV Jln. Prof Moh Yamin No. 51 Palu HP. +6285241174178 Alamat Rumah Jln Anoa I Lorong Damai No. 115 B Palu. Jao nambu susun ngara-ngara keluarga ine ame, embu kajo kita pu’u Mauara. Ngara woso jao ta nggedhe mbe’o. Ngara miu mbe’o ngara ine ame nee embu kajo miu, ngada sms dheko hp jao.

  133. labuanbajo says:

    SEJARAH NENEK MOYANG DI KEO TENGAH
    Menurut cerita para leluhur mengatakan bahwa nenek moyang sesuai urutan yang paling mendahului yang sempat diingat adalah Embu Sadhu Mbe’e dengan istrinya Embu Pau asal dari kampung Pajo Reja. Pasangan ini sehingga dicatat dan dimasukan kedalam silsilah keluarga besar Mauara karena dalam turunannya pengaruh kawin mengawin sehingga berkembang pesat anak cucunya berkembang pesat di Mauara sekarang ini.
    Riwayat Embu Sadhu Mbe’e kawin dengan Pau melahirkan anak bernama Ndana. Selanjutnya embu Ndana kawin dengan Leku Bhoko dari Jawawo melahirkan 2 orang anak bernamaTuku Ndana dan Gudhu Ndana. Tuku Ndana mendapat suami bernama Nggajo Nanga melahirkan 5 orang anak masing-masing bernama (1) Gati Tuku suami dari Nida Tolo melahirkan Mado, Wea, Rangga dan Jawa. Veto. (2) Veto Tuku belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi yang jelas dari keluarga ini yang lebih tahu persis di Kampung Giriwawo. Kemungkinan orang di Giriwawo adalah keturunan dari dari Veto Tuku. (3) Ndiwa Tuku kawin dengan istrinya bernama Ngode Bude melahirkan 3 orang anak bernama Ndore Ngode, Badia Ngode dan Keka Ngode. Ndore Ngode (Romba) kawin dengan Goo melahirkan Ndiwa dan Tuku. Ndiwa Goo kawin dengan Ngode melahirkan Nggajo Ngode dan Gabriel Ngode (Nama-nama ini sumber datanya masih belum lengkap, mohon masukan dari sumber yang mengetahuinya). Hanya Tuku Goo turunannya adalah Usman Bake dan Guru Tuku. (4). Mite Tuku mengenai anak dan istrinya belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi adalah keturunan dari Bapak Blasius Biku. (5). Ude Tuku kawin keluar (nuka sa’o) di Wuji dan data keturunannya belum diketahui dengan jelas. Kelima nama embu tersebut menurut om Goris Djae mengatakan mereka-mereka tersebut tinggal terpencar sesuai dengan hak warisannya masing-masing.

  134. labuanbajo says:

    RIWAYAT SILSILAH KELUARGA EMBU RITU DEA
    DI MAUARA, KECAMATAN KEO TENGAH
    OLEH
    KANISIUS KAKA, SE.MM

    Silsilah keluarga ini teknik penulisannya diambil berdasarkan garis keturunan garis lurus ditambah dengan hubungan suami istri karena ada kawin masuk (status perempuan mengikuti suami pada keluarga ini) dan kawin keluar perempuan (ana weta) mengikuti suami ke tempat lain. Kalau ditinjau dari hukum adat status hak phhak perempuan (ana weta) mereka harus keluar dari keluarga ini, namun pengaruh hubungan darah untuk mengenal lebih dekat kendatipun hak pusaka mereka berada ditempat lain maka dalam buku ini masih tetap dicatat. Bagi perempuan yang masih bertahan pada keluarga ini apabila statusnya untuk menduduki hak apabila garis keturunan garis lurus tidak ada anak laki-laki yang diberikan hak untuk memegang ahli waris.
    Berdasarkan hasil penelitian yang penulis telusuri ternyata turunan keluarga Embu Ritu Dea sudah banyak dan kebanyakan sudah tidak mengenal satu sama lain terutama generasi anak cucu semakin bertambah. Dengan adanya perkembangan teknologi semakin canggih akibat jodoh dengan suku-suku lain terutama bagi generasi anak cucu yang merantau sudah tidak kembali lagi ke kampung halaman nenek moyangnya, maka dirasa perlu untuk saling menginformasikan data keluarga baik melalui HP atai facebook agar dapat terhimpun. Bertambahnya generasi anak cucu di daerah-daerah lain kebanyakan sudah tidak mengenal lagi dari mana seharusnya nenek moyang mereka di Mauara. Faktor lain pengaruh budaya dan adat di Mauara masih berpegang pada warisan nenek moyang, untuk turunan garis lurus kebanyakan tidak mau kembali lagi ke Mauara dan rasanya mereka merasa lebih nyaman mencari hidup di daerah orang lain.
    Dalam kitab cuci yang penulis kutip dari injil Lukas Pasal 2 ayat 1 sampai ayat yang ke 7 dijelaskan bahwa Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah untuk mendaftarkan diri masing-masing di kotanya sendiri. Untuk orang-orang yang keluar dari Mauara apakah sampai saat ini sudah mengikuti jejak perintah Kaisar Agustus, seperti pimpinan Mosadaki untuk memerintahkan orang-orang yang berasal dari Mauara untuk kembali mendaftarkan diri ke kampung halamannya masing-masing. Tentu hal ini menjadi tanda tanya karena persediaan warisan nenek moyang di Mauara apakah mampu untuk menampung keluarga-keluarga yang sudah berada di Perantauan.
    Berdasarkan penulis telusuri ternyata banyak keluarga-keluarga turunan Embu Ritu Dea sampai saat ini sudah tidak mengenal lagi satu sama lain, maka untuk itu terdorong penulis untuk menginventarisir generasi anak cucu Embu Ritu Dea kemanapun mereka berada agar bisa saling mengontak dan mencaritahu hubungan darah mereka dari status nenek moyang yang sama.
    Berdasarkan data keluarga yang kami himpun yakni Ritu Dea kawin dengan Embu Tolo melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Embu Kami Tolo, Embu Wadja Tolo dan 1 orang anak perempuan bernama Embu Nida Tolo. Dari ketiga anaknya Embu Ritu Dea ini masing-masing Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 2 orang anak bernama Embu Wadja Mbupu dan Embu Wea Mbupu. Mengenai Embu Wadja Tolo kawin dengan Embu Ue Sangu melahirkan 5 orang anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Sedangkan Embu Nida Tolo kawin dengan suaminya Embu Gati Tuku (cucunya Embu Sadhu Mbe’e) melahirkan 3 orang anak bernama Mado Nida, Rangga Nida dan Djawa Nida.
    Riwayat Silsilah Keluarga Embu Kami Tolo dan istrinya Mbupu.
    Sehubungan penjelasan tersebut di atas, pertama-tama penulis menelusuri anak cucunya Embu Ritu Dea yang dimulai dari turunan Embu Kami Tolo dilanjutkan dengan turunan Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo. Setelah hasil telusuri kelihatanya hubungan perkawinan antara turunan Embu Kami Tolo jarang terjadi (papa mada wado) dengan turunan keluarga Embu Wadja Tolo atau keturunan Embu Nida Tolo.
    Berdasarkan data yang penulis telusuri biasa hanya terjadi hubungan perkawinan antara turunan Embu Wadja Tolo sendiri atau turunan Embu Wadja Tolo dengan turunan Embu Nida Tolo. Untuk turunan Embu Kami Tolo data anak cucunya sebagian kami sudah catat dan data ini kami peroleh pada aanak cucunya sendiri. Untuk penulisan ini pertama-tama kami telusuri silsilah keluarga Embu Kami Tolo yakni Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Embu Kami Tolo kawin dengan Embu Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu belum sempat kami peroleh data keluarganya, sedangkan turunan Embu Wea Mbupu generasi anak cucunya seperti pada tabel berikut ini.
    Selanjutnya saudara kandung dari Embu Mado Nida seperti Embu Rangga dan Embu Jawa menurut pendapat keluarga Benediktus Babo Goo di Gilikoli dan keluarga Eo Goo Tonggo sewaktu berbincang-bincang di Rantedosa Ambai mengatakan bahwa embu Rangga keturunan sampai dengan keluarga embu Sawo (Haji Ibrahim) dan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli. Penulis menanyakan jalur keturunan sampai dengan Embu Sawo (Haji Ibrahim) dan jalur keturunan embu Jawa sampai dengan keluarga Jago Beku di Maukeli beliau belum mengetahui jalur ceritanya. Untuk itu sangat diharapkan kepada para pembaca tulisan ini bila mengetahui jalur ceritanya mohon informasikan kepada penulis agar dalam penyusunan ini lebih lengkap dan generasi penerus dapat mengenal status keluarganya kemanapun mereka pergi ke tanah rangauan. Untuk itu status kedua Embu Rangga Nida dan turunan Embu Djawa Nida masih ditelusuri asal usul sampai anak cucunya sampai turunan terakhir. Untuk itu disarankan kepada pembaca tulisan ini mohon berikan masukan yang positif tentang data keluarga dan disampaikan kepada kami untuk dilengkapi.
    Riwayat Silsilah Keluarga Embu Nida Tolo dan Suaminya Gati Tuku
    Nida Tolo adalah anak dari Ritu Dea mengikuti suaminya di Jawawo (nuka sa’o) dengan Gati Tuku melahirkan anak Mado, Rangga dan Jawa. Neneknya Gati Tuku bernama Sadhu Mbe’e dan istrinya bernama Pau asal Pajoreja. Sadhu Mbe’e kawin dengan Pau melahirkan anak bernama Ndana. Selanjutnya embu Ndana kawin dengan Leku Bhoko dari Jawawo melahirkan 2 orang anak bernamaTuku Ndana dan Gudhu Ndana. Tuku Ndana mendapat suami bernama Nggajo Nanga melahirkan 5 orang anak masing-masing bernama (1) Gati Tuku suami dari Nida Tolo melahirkan Mado, Wea, Rangga dan Jawa. Veto. (2) Veto Tuku belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi yang jelas dari keluarga ini yang lebih tahu persis di Kampung Giriwawo. Kemungkinan orang di Giriwawo adalah keturunan dari dari Veto Tuku. (3) Ndiwa Tuku kawin dengan istrinya bernama Ngode Bude melahirkan 3 orang anak bernama Ndore Ngode, Badia Ngode dan Keka Ngode. Ndore Ngode (Romba) kawin dengan Goo melahirkan Ndiwa dan Tuku. Ndiwa Goo kawin dengan Ngode melahirkan Nggajo Ngode dan Gabriel Ngode. Mungkin masih ada saudaranya yang belum sempat diketahui dengan jelas. Hanya Tuku Goo turunannya adalah Usman Bake dan Guru Tuku. (4). Mite Tuku mengenai anak dan istrinya belum tahu jelas hanya menurut om Goris Jae mengatakan untuk mendapatkan infomasi adalah keturunan dari Bapak Blasius Biku. (5). Ude Tuku kawin keluar (nuka sa’o) di Wuji dan data keturunannya belum diketahui dengan jelas. Mengenai turunan dari Embu Mado Nida karena dia kawin lagi dengan saudara sepupunya Embu Goo Ue dan mengenai anak-anaknya sebagiannya sama dengan cerita Jalur Embu Ude Ue tersebut di atas yakni Embu Mado Nida dari Jawawo kawin dengan Goo Ue di Mauara melahirkan Dhima Goo, Dhae Goo, Ue Goo dan Babo Goo (saudara se ibu dengan Ora Nena). Sehubungan dengan bagan tersebut di atas, pertama-tama penulis menelusuri anak cucunya Embu Ritu Dea yang dimulai dari turunan Embu Kami Tolo dilanjutkan dengan turunan Embu Wadja Tolo dan Embu Nida Tolo. Setelah hasil telusuri kelihatanya hubungan perkawinan antara turunan Embu Kami Tolo tidak ada yang saling mengambil (papa mada dhato) dengan turunan keluarga Embu Wadja Tolo atau keturunan Embu Nida Tolo. Berdasarkan data yang penulis peroleh kebanyakan turunan Embu Wadja Tolo selalu berpasangan dengan turunan Embu Nida Tolo atau saling mengambil (papa mada dhato) antara turunan Embu Wadja Tolo sendiri atau turunan Embu Nida Tolo sendiri. Untuk turunan Embu Kami Tolo nama-nama keluarganya sebagian kecil sudah kami ketemu langsung dan mewawancarai dengan mereka. Untuk penulisan ini pertama-tama kami telusuri silsilah keluarga Embu Kami Tolo yakni Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan 2 orang anak yakni Wadja dan Wea. Menurut cerita dari anak cucunya Embu Kami Tolo mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Rumah adat Witu (Sa’o Sumbu). Berarti Embu Kami Tolo sebenarnya juga menduduki hak di deke Embu Ritu hanya jalur keturunan sampai anak cucunya masih ditelusuri. Berdasarkan data yang kami peroleh bahwa Embu Kami Tolo mengambil istrinya bernama Mbupu melahirkan 1 orang perempuan bernama Embu Wea Mbupu dan 1 orang laki-laki bernama Embu Waja Mbupu. Embu Wea Mbupu melahirkan 6 orang anak bernama Rendo, Rangga, Monda, Ngula, Ae dan Ora. Sedangkan Embu Wadja Mbupu belum sempat kami peroleh data keluarganya, sedangkan turunan Embu Wea Mbupu generasi anak cucunya seperti pada tabel berikut ini.. Selanjutnya Embu Wadja Tolo mengambil istri bernama Ue Sangu melahirkan anak bernama Ude Ue, Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue. Embu Kami Tolo mengambil istri bernama Mbupu melahirkan anak bernama Wea Mbupu dan Wadja Mupu. Mereka berdua kakak beradik menduduk di hak pusakanya Embu Ritu Dea. Sedangkan Embu Nida Tolo adalah anak perempuan dari anaknya Ritu Dea kawin dengan Gati Tuku suaminya di Jawawo. Embu Wadja Tolo kawin dengan Embu Ue Sangu (belum diketahui jelas asal dari Embu Ue Sangu) melahirkan 1 orang anak laki-laki bernama Ude Ue dan 4 orang anak perempuan bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue dan Ea Ue (Pihak anak weta).
    Dari kelima anak ini 1 orang anak laki-laki bernama Ude Ue adalah anak laki-laki garis keturunan lurus dari Embu Wadja Tolo yang diberi hak untuk menetap yaitu menduduki dan mengolah tanah hak warisan ayahnya. Untuk keempat anak perempuan ini masing-masing bernama Pati Ue, Goo Ue, Wewo Ue mereka adalah kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) antara lain Embu Pati Ue mengikuti suaminya Embu Djogo Ndara dan posisi anak cucunya berada pada keluarga Embu Djogo Ndara. Mengenai Embu Goo Ue kawin keluar mengikuti suaminya (nuka sa’o) mengikuti suaminya Embu Djari Ndara melahirkan anak bernama Ora yang sekarang Embu Ude Ue mengangkatnya menjadi anaknya sendiri. Selanjutnya belum ada cerita yang jelas dari leluhur (pihak ine embu) tentang Embu Goo Ue, apakah setelah Embu Djari Ndara meninggal atau cerai, hanya posisinya Embu Goo Ue kawin lagi dengan Embu Mado Nida di Jawawo menurut cerita dari orangtua dulu, warisan anak cucunya Embu Mado Nida sebenarnya di Jawawo. Sedangkan Embu Wewo ada 2 suami yakni (a). Suami pertama dengan Embu Piru Bhala melahirkan Embu Wudu, Embu Soo, Embu Wae, Embu Meo. (b). Suami kedua dengan Embu Bheda Mema melahirkan Embu Ndero, Embu Kaka, Embu Tolo dan Embu Wini. Sebenarnya anak-anak mereka hak warisan mengikuti ayah mereka masing-masing.
    Embu Ea mengikuti Dewa Tonggo dan mengenai perjalanan hidupnya penulis mengetahui jalan ceritanya), demikian juga Embu Pati Ue mengikuti suaminya Djogo Ndara perjalanan hidupnya penulis juga mengetahui jalan ceritanya.
    Untuk jelasnya riwayat dari kelima anaknya Embu Wadja Tolo masing-masing seperti berikut ini.
    1. Turunan Embu Wadja Tolo.
    Dari kelima orang anak ini status hak pusaka yang diwariskan oleh Embu Waja Tolo adalah 1 orang anak laki-laki bernama Embu Ude Ue (mera da’e) dan 4 anak adalah pihak anak perempuan (nuka sa’o) masing-masing dengan penjelasan sebagai berikut :
    1.1. Status Embu Ude Ue.
    Mengenai Embu Ude Ue mengambil istri sah bernama Nena (belum diketahui jelas asal dari istrinya) dan hasil perkawinannya tidak mempunyai anak. Oleh karena mereka tidak mempunyai anak seperti yang telah disebutkan di atas , maka untuk melanjutkan keturunan garis lurus yang seharusnya dipegang hak warisan oleh anak laki-laki, maka Embu Ude Ue mengambil anak dari saudara perempuannya bernama Goo Ue yang bernama Ora dan diberi nama Ora Nena untuk yang dijadikan sebagai keturunan yang sah. Ora Nena sebenarnya adalah anak dari suami istri bernama Jari Ndara dan Goo Ue melahirkan anak Ora yang sekarang disebut Ora Nena karena Embu Ude Ue mengangkat menjadi anaknya sendiri (ana mera da’e Embu Ude Ue), maka nama Ora Goo namanya dirubah menjadi Ora Nena.
    Selanjutnya Embu Ora Nena mengambil istri bernama Kutu dan Mbojo dan hasil perkawinannya ternyata juga tidak mempunyai anak. Oleh karena tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena.
    Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.
    Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat “Sao Sumbu”. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Pius Ritu (Goo Ea) dengan anaknya Beka Bhoko melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.
    Selanjutnya berdasarkan cerita dari mulut ke mulut dari para orangtua mengatakan bahwa Ora Nena kawin gelap dengan hambanya sendiri (vai wado ne’e O’o imu) dengan Dombe Ugha melahirkan anak bernama Enda. Hal ini menjadi problem dalam rumah tangga Ora Nena karena pihak anak weta yang lain menggunakan kesempatan agar mereka juga masuk memegang warisan Embu Ude Ue, sebenarnya semua mereka adalah turunan dari pihak anak cucunya Embu Wadja Tolo termasuk dari pihak perempuan.
    Menurut hukum adat yang berlaku di kampung Mauara mengatakan bahwa status Dombe Ungha ini adalah tenaga yang sehari-hari membantu pekerjaan Ora Nena yang istilah bahasa setempat mengatakan bahwa Dombe Ugha ini besar kemungkinan bukan anak sah Ora Nena karena statusnya hamba (O’o), karena yang mengawini Dombe ini juga termasuk Kei Kamba dan Dhae Keka dengan masing-masing memiliki anak.
    Berkenaan dengan hal tersebut di atas, andai kata Embu Ora Nena mempunyai anak kandung dari istri yang sah (Embu Kutu dan Embu Mbojo), maka otomatis anak cucu dari pihak anak perempuan yang lain semuanya tergeser dan tuntutan anak cucu dari pihak perempuan dari Embu Ude Ue tidak dipenuhi, karena garis keturunan yang diberi hak ahli waris adalah pihak anak laki-laki, sedangkan pihak anak perempuan setelah kawin yang disaksikan oleh mosa daki, mereka harus keluar mengikuti suami. Hak warisan yang mereka akan peroleh ditempat yang baru dimana mereka diberikan hak ahli waris dari garis keturunan pihak suami.
    Untuk membantu pekerjaan rumah tangga Embu Ora Nena, dia dibantu oleh beberapa pembantu adat dan pada jaman leluhur mengatakan hamba (O’o). Peran seorang hamba dulu dianggap rendah dan belum tentu harta warisan diberikan kepada mereka, oleh generasi penerus malahan mereka diusir.
    Peran pembantu pada jaman sekarang lebih kreatif untuk melayani tugas-tugs roda perputaran ekonomi, karena pimpinan (baik Kepala Kantor atau Direktur perusahaan) tidak akan lancar tugas-tugasnya kalau tidak ada pelayanan yang efektif.
    Jaman sudah berubah antara dulu dan sekarang, yang sekarang dianggap anak turunan dari pihak pembantu atau hamba (O’o), malahan posisi saat ini yang dulunya dianggap turunan hamba (O’o) sekarang posisinya berubah dan menurut pengamat penulis yang dulunya status nenek moyangnya O’o dan malahan sekarang usahanya banyak yang berhasil. Sebaliknya Nenek moyang mereka dulu dianggap orang terhormat malahan nasibnya sekarang tidak karuan.
    Keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) sendiri tanpa melalui proses hukum adat yang berlaku (tau nee ngawu), oleh anak cucu laki-laki dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakuinya/menyetujuinya agar keturunan Embu Ora Nena yang berasal dari budaknya (O’o) diberikan hak terutama menjadi pimpinan (kepala soma). Sesuai hukum adat (mera ena nua orda) kalau anak yang dilahirkan tidak melalui proses hukum adat (tau nee ngawu) maka anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (ana kombe me’re). Permasahan yang dihadapi ditingkat anak cucunya dari pihak Embu Waja Tolo baik Embu Ude Ue yang mengangkat Ora Nena menjadi anaknya, maupun pihak anak perempuan dari Embu Waja Tolo sebagai berikut :
    Permasalahan :
    Pertama dari salah satu sisi anak yang dilahirkan Ndombe secara biologis adalah anak hasil hubunganya dengan Ora Nena (anak kandung), tetapi kalau dipandang dari hukum adat anak yang dilahirkan dianggap tidak sah (nua ggedhe mbeo).
    Kedua, anak laki-laki yang dilahirkan dari pihak anak perempuan (ana weta) dianggap tidak sah kalau tidak dibuat dengan hukum adat kampung (mbeo nua) karena status anak perempuan adalah kawin keluar (nuka sao).
    Ketiga, dari pihak anak perempuan (anak weta) tidak mengakui keturunan dari pembantu (O’o) sebagai anak sah karena Dombe Ugha selain berhubungan dengan Ora Nena, dia juga berhubungan dengan Kei Kamba dan Dhae Keka masing-masing mempunyai anak (tidak tentu suaminya yang sah), sehingga dari pihak anak perempuan (anak weta) mencari kesempatan yang baik untuk ingin masuk mendapatkan warisan tersebut.
    1.2. Status Pati Ue.
    Embu Pati Ue kawin keluar mengikuti suaminya Jogo Ndara melahirkan anaknya 1 orang perempuan bernama Djou Pati. Selanjutnya Djou Pati kawin dengan suaminya asal Maumere melahirkan Wanggo, Pi’o, Ndona, Nembo, Mbupu dan Wuda (untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga.
    1.3. Turunan Goo Ue.
    Jalan ceritanya sama dengan penjelasan turunan Embu Ude Ue mengangkat Ora Goo menjadi Ora Nena. Embu Goo Ue, pertama kawin dengan Jari Ndara melahirkan Ora yang sekarang diberi nama Ora Nena. Cerita ini merupakan kelanjutan dari cerita tersebut di atas dan sebagai tambahan Embu Goo Ue kawin dengan Embu Mado Nida melahirkan empat orang anak yakni Embu Dhima, Embu Dhae, Embu Ue dan Embu Babo. Mereka berempat saudara kandung seibu dengan Embu Ora Nena).
    Embu Mado Nida dan Embu Goo Ue statusnya masih saudara sepupu satu kali yakni anak weta mada ana nala. Kalau hukum Gereja sekarang sudah dilarang model perkawinan yang mempunyai hubungan keluarga terlalu dekat, mengingat pada zaman saat itu sumber daya manusia masih kurang dari pada tidak ada keturunan terpaksa biar saudara dekat (papa mada wado) tidak menjadi masalah karena dapat diatur dalam hukum adat (nua mbeo).
    Status hak warisan Dhima Goo dan Embu Dhae Goo sebenarnya di Jawawo karena bapaknya berasal dari Jawawo (embu Nida nai aki nee embu Gati Tuku melahirkan anak yakni Embu Mado Nida). Mengingat Ora Nena merasa diri tidak mempunyai anak dia memanggil Dhima Goo dari Jawawo untuk menduduki di hak pusaka (ku lema) Mauara bersama dengan istrinya Embu Dhima Goo bernama Tolo Eju. Sewaktu mereka dipanggil Embu Ora Nena ke Mauara Embu Dhima Goo membawa bersama keponakannya (ana podu) dari Embu Tolo Edju bernama Embu Wea Bhoko bersama dia ke Mauara di tempat warisan Embu Ora Nena.
    Untuk membuktikan permasalahan tersebut di atas, semasa Embu Ora Nena masih ada menurut para leluhur (ine ame embu kajo ta punu) mengatakan bahwa anak laki-laki pertama dari Dhima Goo bernama Tomas Ude dijodohkan dengan mama Kristina Noo dari Sa’o bele nua Mauara pada saat mama Kristina Noo masih dalam kandung mamanya dan mengatakan bahwa kalau lahir anak perempuan menjadi milik bapak Tomas Ude dalam hal ini kalau sudah besar kawin dengan Bapak TomasUde. Sesuai hukum adat yang berlaku di Mauara mengatakan bahwa untuk menduduki tempat (ndi’i mera da’e) harus dibuat dengan hukum adat (tau nee ngawu), maka untuk itu Ora Nena mengurus istrinya bapak Tomas Ude sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Demikian juga anak laki-laki kedua bernama bapak Andreas Meo diurus oleh Embu Mbojo (istri sah Embu Ora Nena) kawin dengan mama Mere Nggua mengurusnya hal yang sama dengan caranya berbeda. Semasa hidup Embu Mbojo, keluarga bapak Andreas Meo tinggal bersama dengan Embu Mbojo dan mengurus makan dan minum (ka pesa) bersama dengan mama Goo Ue sampai embu Mbojo meninggal. Pada saat itu mereka tinggal di Kuwulaja dekat pantai menuju Mauponggo. Bapak Andreas Meo dengan istrinya mama Mere Nggua melahirkan 2 orang anak perempuan bernama Albina Tolo dan Anastasia Noo. Setelah mama Mere Nggua meninggal, bapak Sedangkan bapak Andreas Meo kawin lagi dengan mama Petronela Sobha melahirkan 2 orang anak laki-laki bernama Primus Jodo dengan Marius Ritu.
    Mengenai bapak Hendrikus Nggajo sudah masuk rumah tangga baru tinggal bersama dengan embu Mema Teku (istri dari embu Dhae Goo) saudara kandung dari Dhima Goo. Embu Mema Teku ini adalah anak dari embu Bheda Mema (saudara kandung dari embu Ora Teku (orangtuanya bapak Benyamin Nggadi). Dia kawin dengan Embu Dhae Goo melahirkan anak perempuan 1 orang bernama Goo Mema. Menurut perkiraan penulis bahwa embu Dhae Goo ini andai kata mempunyai anak laki-laki juga menduduki hak yang sama dengan embu Ora Nena karena dilahirkan dari rahim yang sama. Embu Mema Teku ini dimasa tuanya dia menyusui dan merawat anak-anak dari Bapak Hendrikus Nggajo yang berlokasi di rumah Eko Witu. Embu Mema Teku ini pada saat memasuki ajalnya dia diurus oleh mama Marta Muwa (istri dari Bapak Hendrikus Nggajo) di rumah adat Sa’o Sumbu sampai embu Mema meninggal di rumah adat dimaksud. Pada saat itu yang tinggal menjaga rumah adat dan merawatnya dengan baik adalah bapak Rangga Wea dengan istrinya Bhoko Ude beserta anak-anaknya. Yang lucunya anaknya Bapak Rangga Wea bernama Maria Beka dijodokan dengan anaknya Bapak Susu Ndana hasil perkawinan dengan mama Ea Tolo anak dari embu Dhima Goo bernama Pius Ritu (panggilan sehari-hari bernama Goo Ea). Hasil perkawinan anaknya Bapak Yosep Rangga dengan anaknya mama Ea Tolo melahirkan anak bernama Magdalena Nena dan Severinus Ngguwa.
    1.4. Status Wewo Ue
    Setelah di Mauara Embu Wea Bhoko dikawinkan dengan Embu Kaka Wewo saudara sepupunya Dhima Goo (ine kae ari). Kalau dipandang dari Jawawo status embu Wea Bhoko di pihak anak karena dia adalah anak dari kakaknya Embu Tolo Edju, sedangkan kalau dipandang dari Mauara status embu Kaka Wewo adalah setingkat dengan embu Dhima Goo dan embu Ora Nena.
    1.5. Turunan Ea Ue.
    Embu Ea Ue kawin keluar mengikuti Dewa Tonggo melahirkan anaknya 1 orang laki-laki bernama Ritu Ea, dan 2 orang anak perempuan bernama Edju Ea dan Ndana Ea. Selanjutnya Embu Ritu Ea kawin dengan Embu Ua Mere melahirkan anak perempuan bernama Daki Ua, Mbeu Ua Ora Ua Asa dan Nggua Ua. Cerita dari leluhur tentang status Embu Ea datanya belum masuk pada penulis sangat diharapkan kepada para pembaca dapat melengkapinya namun untuk keturunan Embu Ea Ue untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel Silsilah Keluarga tersebut di atas

  135. labuanbajo says:

    Ja’o pu’u nua Mauara ana ko’o bapa Nggadjo Tolo ne ine Muwa Ndenda, nambu te ja’o ndia Palu. Ja’o mbade nggedho pu’u Mauara uru sekolah nggedhe dhu jembu ne’e nggadhe sai ta oko mo’o sekolah. Nambu nde ja’o negha kelas 3 SMP tahun 1976 Maunori de wuda rua, Pak Guru Aloysius Tao ngara aja ta mbani mere. Imu lake joi sekolah mo’o baya wengi (kapan bayar). Ja’o sodho belum bisa menempati janji, mengingat latar belakang tidak ada yang membantu. Apa jawab pak Guru Aloysius Tao, a.. apakah tidak bisa menempati janji ? Ja’o taku imu mo’o bhobha terpaksa ja’o sodho “hari senin depan”. Yang ditanya pada saat itu adalah hari selasa, berarti minggu berikut otomatis saya harus melunasi uang sekolah. Sekolah jalan terus sampai hari sabtu dan pada saat itu tinggal di Asrama. Setelah tiba hari ha..a uang sekolah mau dilunasi dan saya merasa diri belum ada uang dan sekaligus takut dipukul, terpaksa pada hari senin saya keluar tanpa pamit, angkat peti pakaian (sekarang koper pakaian) pukul dan kembali ke Mauara. Ena Ngadu Ndai ja’o luka ne’e pak Guru Bernadus Mau, dia bertanya berulang-ulang “wado ta ide emba”. Saya hanya menjawab “mona odo”. Saya tidak menceritakan tentang kekejaman dari pak Guru Aloysius Tao. Selama 2 tahun saya berhenti dsekolah di SMP sebelum tamat. Selama iwa rua ja’o biasa wi kamba luku sawa rade Kuwudaja. Oa djoi ta moo maso sekolah, sira ena nua sodho ta joi mona penga. Bulan September 1977 dheko nee Joko sira ta Daja imu koo wua teka nio rade Bima nambu ke ja’o dhadu e..e dheko ne’e sira Beka ne’e Ali ta ai imu jepa, biasa ata niu imu Ali Jepa (Maaf saya tidak tahu nama lengkapnya). Kombe wutu dera wutu ambo ne’e Joko nggere dhu rade Labuan Bajo. Rade Labuan Bajo ja’o nggere maso wado SMP tau mbeja ena kelas 3 SMP Labuan Bajo.
    (Cerita masih dilanjut……)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s